
Author POV
Waktu terus melaju dengan cepat, Ayyana beserta Raditya berkeliling Eropa dengan menggunakan transportasi darat tanpa menyadari mereka bisa menikmati liburan musim dingin bersama dengan kebahagiaan tak terkira, yang bagi Ayyana ini selama hidupnya baru merasakannya.
Dan Ayyana bisa pulang bersama dengan Raditya ke Jakarta.
Kaki ia jejakan di Bandara, Raditya tidak setuju kalau Ayyana ikut mobil Rosa.
" Kita hadapi bersama, aku sudah siap Ayy, menerima konsekuensinya, jadi tidak perlu kamu takut dengan kebersamaan kita, " ucap Raditya, tangannya menggandeng erat tangan Ayyana.
" Kamu ingin baca chat Kiara, " terpaksa Raditya menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan chat Kiara.
" Ia saja sudah ikhlas melepasku, dan mohon maaf karena sikapnya membuat aku berpaling padamu, " ucap lirih Raditya dengan tangan melingkar di tubuh Ayyana. Hati Ayyana masih diliputi ketidaknyamanan, dan ia hanya ingin pulang kampung ke rumah bibi, kebetulan masih liburan.
" Apaan kamu Ayy, kamu tidak perlu cemas pada keluargaku, pokoknya akan kuhadapi masalah ini, kamu percaya, kan, padaku, " ucap Raditya untuk menguatkan hati Ayyana.
Karena kekerasan hati Ayyana yang kangen pada Paman serta Bibi, akhirnya Raditya mengantarkan ke Bogor.
Hujan terus mengguyur kota yang dijuluki kota hujan, mobil jemputan melaju dengan kecepatan standar, karena selain jarak pandang yang pendek oleh kabut hujan, juga jalan naik turun dan sempit yaitu hanya mampu untuk bersimpangan mobil kecil.
Sepanjang perjalanan yang diantar sopir, Raditya tidak ingin melepas tangannya untuk dilingkarkan ke pinggang Ayyana.
Raditya merasakan kalau Ayyana lah yang mengerti dirinya bila di banding Kiara.
Paman sama Bibi telah diberi tahu lewat telfon tentang kedatangan Ayyana, juga Hanifah cerita lewat chat kalau Ayyana telah menikah dengan Raditya.
Bibi telah menyiapkan jamuan, karena atas usul suami agar buat makanan untuk dikirim ke tetangga, sebagai pemberitahuan kalau Ayyana telah menikah.
" Bi, ini mau ada acara apa? " Ayyana melihat keluarga Bibi serta Paman juga para tetangga dekat sibuk di dapur terutama para wanita saat Ayyana dengan Raditya sampai ke rumah.
" Pengin syukuran saja Ayy, mumpung punya rejeki, " jawab Bibi dan setelah Ayyana beramah tamah dengan yang datang ke rumah, maka masuk ke kamar diikuti oleh Raditya.
Ayyana masih belum tahu maksud masak masak di rumah Bibi, setelah berdua membersihkan tubuh maka keluar menemui Paman serta Bibi yang sedang duduk di ruang keluarga berkumpul dengan para kerabat.
Raditya yang pandai menyesuaikan diri dengan berbagai kalangan tidak canggung untuk bincang bincang, dan Ayyana membuka oleh oleh berupa coklat, serta cindera mata untuk dibagikan pada kerabat.
" Pada ngumpul disini, aku tidak perlu nganter," ucap Ayyana tersenyum.
__ADS_1
Selanjutnya habis Ashar box telah tertata, dan para lelaki sekitar 20 orang berdatangan untuk kenduri.
Dan Ayyana baru tahu saat ustadz yang mimpin doa menyebutkan namanya serta Raditya.
*
Hari demi hari berlalu, Ayyana tidak bisa menutupi dirinya dari teman teman dekatnya kalau telah menikah dengan adik Pak Raihan dan Pak Raihan sebenarnya kecewa, tetapi dengan berjalannya waktu rasa kecewanya bisa hilang, ia berpikir tentang kondisi adiknya, apabila hidup bersama Kiara kurang perhatian walau Raditya telah sembuh kedua kakinya, tetapi tetap harus dijaga, terutama dalam tahun pertama pemulihannya.
" Bagaimanapun Raditya tulang punggung keluarga, memang Ayyana lah yang bisa menjaganya, toh Kiara juga sudah legowo, dia merasa tidak mampu seperti Ayyana, sedang soal jodoh tentu Allah suatu hari akan kirim yang terbaik buatku serta putriku Aliandra, " batin Raihan.
Kesempatan bagi Dania untuk meminta agar Raihan kembali padanya.
" Mas, demi Aliandra kita sebaiknya bersatu kembali, maaf kalau dulu aku meninggalkanmu, karena kebujuk Farhan, sungguh Mas aku nyesel ternyata kau tetap terbaik buat ku, " setiap kali Dania memohon bahkan sekarang tidur di rumah besar Pak Hardian dengan selalu mengantar jemput putri semata wayang yang sudah mau sekolah.
Raihan masih belum bisa menerima Dania, setelah ia bisa melupakannya, tentu Dania tidak putus asa, sampai ia belajar memasak biar seperti Ayyana.
Sementara Ayyana yang masih beranggapan kalau Alena adalah Calla, belum mau mendesak Calla untuk test dna, walapun orang suruhan Raditya telah memberitahukan tentang Calla dari mulut bi Yeyen, cuman Alena masih belum bisa menerima Ayyana.
Bi Yeyen pernah kirim pesan ke Calla sampai ia tega memisahkan dengan Ayyana, tetapi. hati Calla belum bisa percaya ucapan Bi Yeyen.
" Bu, aku percaya ceritamu hanya karena takut pada ancaman Ayyana, sehingga kamu mengarang cerita kalau aku adik kandung Ayyana," pesan dari Calla ditambah emogi nangis.
" Tolong bu, aku belum bisa mengakui Ayyana sebagai kakak kandungku, aku hanya tahu dari cerita Mama bahwa kamu orang tua kandungku, aku merindukanmu bu, ingin sekali ketemu kalian, " balesnya. Tetapi Calla mengakui ada sedikit kesamaan ceritanya dengan cerita Mama serta Papa, yaitu saat bersama orang tua kandung tidak minum asi katanya tidak keluar, sehingga bertubuh kurus.
" Untung kamu bisa secepatnya ketemu kami, kalau tidak, jelas termasuk anak yang kurang gizi atau termasuk anak bergizi buruk, mungkin malahan tidak bisa tertolong," cerita Mama dan kalau ingat cerita masa bayinya dengan kemiskinan orang tua kandung menjadi miris, oleh karenanya ia berterima kasih pada Mama serta Papa yang telah menolongnya dari kemiskinan.
Calla seketika ingat pada orang bernama Dian yang jadi guide, dia juga berjasa padanya, tanpa dia tidak akan di bawa ke negeri Belanda.
" Ma, gimana liburan masih panjang, aku punya ide kalau menuju Jakarta? " tanya Alena berharap disetujui.
" Kenapa kemaren kamu diajak Ayyana sama suaminya enggak mau sih, sekarang setelah mereka pulang baru punya keinginan kesana, " ucap Mama tersenyum.
" Papa sih setuju, kangen juga ke negara tropis disaat disini lagi mendingin, Raditya siap kok dihubungi kalau kita pengin kesana, " ucap suami nyonya Cornelia.
" Klo gitu Papa yang menghubungi, " pinta Calla nyengir, sebab hatinya masih saja muncul rasa tidak suka pada Ayyana.
Sementara Calla berinisiatif untuk meminta foto Dian pada bu Yeyen, berharap punya simpanan fotonya.
__ADS_1
" Lena, tadi kamu bilang ingin cari Dian juga yang ikut berjasa ke kamu, Mama ada foto fotonya, cuman dah lama mungkin telah bladus, " ucap nyonya Cornelia, mengingat ingat album foto kuno yang tak pernah dibuka sama sekali.
" Sepertinya disimpan di brangkas, " ucap suaminya.
Suaminya menuju gudang bawah tanah, sebagai tempat penyimpanan barang barang kuno, lalu membawa keatas.
" Kamu ingat passwordnya sayang?" tanyanya pada istrinya.
" Waaah, agak lupa, coba kuingat ingat, " jawab istrinya. Dan Calla melihat benda itu sempat pernah mencoba membuka tetapi enggak berhasil juga. Nyonya Cornelia menuju ke kamar, untuk mengambil buku agenda, karena seingatnya password password berbagai tas disimpan di buku itu.
" Coba ini kamu cari Lena, " pinta Mamanya karena harus pakai kacamata.
Dan Calla bisa menemukan password brangkas kecil lalu dengan cekatan ia sentuh angka demi angka.
" Ma, ini ada klise sepertinya masih bagus, " Calla mencermati klise itu satu satu, lalu berniat untuk mengafdruk.
" Oh ya, itu dulu Bu Yeyen yang kasih, katanya disimpan saja, siapa tahu suatu ketika bermanfaat, " ucap Mamanya.
Sementara bi Yeyen yang dihubungi oleh Calla hanya bilang tidak punya foto Dian, hanya pernah ngasih klise pada nyonya Cornelia.
" Calla klise itu karena aku meminta pada bundamu untuk di afdruk, maklum saat aku minta foto foto kecil kamu bersama kedua orang tuamu juga Ayyana, bundamu hanya ngasih foto negatifnya, eee malah hari berikutnya bunda sama ayahmu wafat," pesan bu Yeyen dengan emot nangis.
" Kan, kata ibu, bundanya Ayyana dibunuh, " balas Calla yang masih belum bisa hatinya mengakui Ayyana kakaknya.
" Itu kecurigaan banyak orang, karena mobil yang menabrak menurut saksi mata dari arah berlawanan, posisinya tahu tahu mengkanan, lalu mobil itu terus melaju dengan cepat meninggalkan kedua orang tuamu, istilahnya tabrak lari, dan yang menolong tidak sempat mengejar mobil tersebut," cerita bi Yeyen di pesan balasannya.
Calla menceritakan akan ke Jakarta, dan ia meminta bu Yeyen sekeluarga ke Jakarta juga.
" Bu, soal biaya akan aku tanggung, " pinta Calla, cuman bi Yeyen masih keberatan, tetapi Calla merayu terus dengan iming iming uang juga, bahkan agar kembali lagi ke Bogor, bi Yeyen juga keberatan.
" Aku sudah krasan disini, abis sudah punya lahan sawit, apalagi jalan menuju kampung lagi diperbaiki, kamu saja yang datang ke kampung sambil ngajak Ayyana, " pinta bi Yeyen dalam chatnya.
" Coba klise nya Lena, Mama lihat, kamu malah hanya mainan ponsel saja, " seloroh Nyonya Cornelia, tangan putihnya mengambil klise dari Calla.
" Sini aku afdruk, " pinta Papa, kebetulan di ruang bawah tanah ada mesin afdruk, sehingga beliau menuruni tangga.
Setengah jam kemudian tuan Brian ayah angkat Calla naik keatas menemui dua wanita yang selalu ada dihatinya, sedang menunggu hasil fotonya.
__ADS_1
" Uupps hasilnya bagus Pa, waah ini kayak foto yang ada di postingan Ayyana, " celetuk Calla, hatinya masih tetap ragu.