Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 34 Makan malam di rumah Kiara


__ADS_3

Raditya POV


Sepeninggal Kiara aku menyempatkan chat Ayyana, sayang Mami masuk ke kamar sehingga tak bisa menvicallnya.


Mami hampir satu jam berada di kamarku disusul oleh Aliandra, membuat semakin betah saja berada di kamarku, oleh karenanya ku manfaatkan untuk membuka laptop meneliti pekerjaan kantor dengan tetap duduk di kasur.


" Ditya, kok Kiara belum datang, " suara Mami seperti tersendat di tenggorokan, ada kegelisahan tersirat jelas di wajah yang mulai muncul kerutan.


" Biasanya ngobrol sama Maminya, atau diajak pergi, Mi, " jawabku sekenanya.


Ngobrol dengan Mami tak membosankan sebenarnya apalagi ada si kecil Liandra, yang dilakukannya tak membuat membosankan, ia tetap membuatku kehibur, apalagi ia sangat mempedulikanku, dengan cara cara yang dilihatnya sendiri saat Ayyana merawatku.


" Oom, tante Ayy sudah enggak ngerawat Oom lagi ya, biarin aku yang bantu bantu Oom," ucap Liandra tangan mungilnya menyapu nyapu kaki yang masih bersepatu besi sebagai penyangga.


Ucapan Liandra tentang Ayy menjadikan hati ini merindunya.


Dan aku hanya bisa tersenyum tipis sambil melirik pekerjaan di depannya.


" Hmmm, anak sekecil ini serasa telah begitu dekat hatinya dengan Ayy yang baru mengenal sama waktunya denganku, " batinku yang menjadi lara oleh kerinduan pada keikhlasan Ayy.


Waktu telah bergulir, telah menjelang Magrib, aku mendengar suara Kiara di ruang tengah, kamar sengaja masih remang, aku yang cukup lelah baik lahir serta batin, setelah Mami dan Liandra keluar kamar lebih banyak rebahan di kasur, dengan memiringkan tubuh menghadap jendela kaca, sesekali mata memejam tetapi bayangan Ayyana selalu muncul di mata.


Dan sampai Kiara masuk lalu melempar tas di kasur aku masih saja rebahan di kasur.


" Mas, kamu jadi malas, kerjanya hanya tiduran, terutama setelah mengenal si culun, kan, bisa dimanfaatkan untuk mengecek pekerjaan pabrik, " ucap lantang Kiara, alis menekuk dengan tanpa senyum terlukis dibibir.


Aku masih saja tak menggerakkan tubuh, rasanya menjadi getir hati ini setiap kali mendengar kata katanya. Telinga ini mendengar langkah kakinya mendekat dengan selalu menarik nafas panjang, dan tangan kecilnya menarik tubuhku yang tak berselimut.


" Mas, bangunlah, " tandasnya kesal. Aku masih males membuka mulut, cuman menggeliatkan tubuh, lalu berusaha bangkit.


Aku disuruh cepat karena Maminya menunggu untuk makan malam di rumah Kiara.


" Mas, jangan lelet kayak gitu," gertaknya kembali, aku masih males membuka mulut untuk sekedar merespon ucapannya yang lebih banyak menyentil.


Seperti biasa dengan susah payah aku mengurus diri, dengan pelan tetapi pasti, telah selesai berdandan lalu berangkat menjadi tuan besar karena duduk di kursi mobil sebelah kiri, disebelah Kiara yang menyetirnya, dan ini pertama kulakukan selama bersamanya.


***


Author POV


Sementara Raditya berkumpul dengan kedua orang tua Kiara untuk makan malam bersama, Raditya didepan keluarga Kiara tidak menampakkan kegelisahannya terutama dengan kondisi kaki yang belum 100% pulih, juga hatinya yang telah condong pada Ayyana, ia seperti biasa ngomong dengan santai dengan Papinya Kiara, dan yang sering dibicarakan tentang bisnis. Sedang Kiara hanya asyik makan yang sesekali terdengar bunyi denting sendok, dalam hati ingin mengorek tentang tante Renita, tetapi kalau ke Papinya ia merasa kurang tega, bisa terjadi Papinya akan berduka dan puncaknya tidak diperbolehkan berteman sama Dio.

__ADS_1


Dan makan malam diakhiri, mereka lalu menyambung perbincangan di ruang keluarga, terutama Raditya sama Pak Zayn, Papinya Kiara, keduanya meneruskan ngobrol masalah bisnis yang digeluti, dan Pak Zayn berkali kali bilang agar Raditya bersemangat tentang kesembuhan kakinya, karena ia menginginkan perusahaan selanjutnya dikelola bersama oleh Kiara serta Raditya, dan seperti diskusi bersama dengan Ayahnya Raditya kelak akan dimerger.


Disisi lain dengan merger yang telah direncanakan, Raditya yang saat belum terkena musibah antusias mendukung, tetapi dengan kondisi kakinya sekarang menjadi goyah.


" Ditya, apakah kamu akan berbalik dari kesepakatan kedua orang tuamu tentang merger? " tanya Pak Zayn matanya menatap kedua bola mata Raditya penuh selidik.


Raditya terjengit sampai menaikan bokong dari tempat duduknya beberapa cm.


" Emmm, tidak Pak, cuman aku menjadi pesimis dengan kondisi kakiku, bisakah aku memegang tanggung jawab perusahaan yang semakin besar nantinya, " jawab Raditya dengan hati sedikit galau.


" Kan, nantinya bersama dengan Kiara, dan kalau kamu merasa berat, semua bisa di serahkan tanggung jawab nya pada Kiara, bagaimana Ki, kamu telah sanggup, kan, dengan tanggung jawab perusahaan? " kini mata Zayn diarahkan ke Kiara.


Kiara yang suasana hati sedang tidak nyaman, karena otaknya penuh dengan pemikiran selain kuliah, juga kegalauan antara Raditya dengan Dio serta masalah tante Renita. Sehingga dengan pertanyaan Papinya, ia sempat berlama lama menanggapinya.


" Ki, kamu tak kayak biasanya, kalau ditanya tentang perusahaan cepat menyambut penuh semangat, tetapi kali ini seperti ada yang dipikirkan, " batin Zayn, matanya yang kayak mata elang menatap tajam putri semata wayang yang duduk di sebelah Raditya.


Kiara yang ditatap penuh selidik oleh Papinya sedikit beringsut dari tempat duduknya.


" Sepertinya Papi kerasa kalau aku sedang tidak fokus, " batin Kiara mendengus lirih.


Melihat situasi yang kurang sehat, akhirnya bincang bincang tentang bisnis dialihkan ke bincang ringan, dan tak terasa malampun telah cukup larut, maka Raditya mengajak Kiara untuk undur diri.


Berempat menuju kamar tidur masing masing.


" Ki, aku kan, tidak bawa ganti baju, " ucap Raditya setelah ada di kamar Kiara.


" Ada kaos oblong sama celana kolor kok Mas, nanti aku ambilin," jawab Kiara.


Raditya menatap Kiara penuh dengan ketidakpercayaan, karena disini Kiara mau membantu kesulitan yang dihadapinya.


" Nih Mas, pakai sendiri, aku dah capek, seharian tidak istirahat, " ucap Kiara lalu menuju sisi kasur dan merebahkan tubuhnya.


Raditya sibuk melepas sepatu kaki lalu menggunakan celana serta kaos yang disodorkan oleh Kiara, baru merebahkan diri disebelah Kiara.


Sementara Ayyana di apartemen mewah, ia selama ini selalu bertanya tentang keluarga Ayahnya pada Paman serta Bibi, mereka tidak bisa menjawab, karena tidak tahu tentang saudara dari Ayah, mereka tahu hanya Yeyen, yang mengaku saudara dari ibunya Ayyana.


" Ingin aku mencari bi Yeyen, dia kok menjadi sulit dicari setelah kedua orang tua ku wafat, "batin Ayyana, malam ini ia berusaha mengalihkan pikirannya pada pencarian Calla beserta keluarga kedua orang tuanya, walau hati tak bisa dipungkiri tetap ada Raditya.


Dan malam itu ia berkomunikasi dengan Hanifah maupun Marwah, lalu ia mencoba kembali untuk menghubungi Calla, dengan memberanikan video call, sayang Calla masih sangat hati hati dengan tidak mau menerima sambungan vidcall Ayyana.


" Aku mengerti kondisi Calla, ia tetap waspada terhadap orang yang mengaku keluarga, mungkin pikirannya ke hal yang tidak baik, atau hanya berjaga jaga agar tidak terjadi peristiwa seperti yang dialami, yaitu menjadi terpisah dariku, "batin Ayyana dan sampai larut malam ia belum tidur, hingga dini hari barulah bisa memejamkan mata.

__ADS_1


Ayyana terbangun dari lelapnya tidur dengan terkejut, ia bangkit tergesa gesa untuk menunaikan kewajiban yang sudah ketelatan, lalu menuju ke dapur untuk bikin sarapan pagi, ia memang belum terbiasa membeli makanan ke luar, masih suka memasak sendiri walau lauk kadang hanya telor.


Selesai di dapur baru membersihkan tubuh di kamar mandi sekalian menyiapkan diri ke kampus.


Waktu terasa lamban bergerak bagi Ayyana, karena bisa dihitung dengan jari berada di apartemen mewah, kayak setahun lamanya.


" Uuuhhh, kok jam seperti tak gerak sih jarumnya," keluh Ayyana, dengan berusaha menyibukkan diri bersih piring di wastafel dapur, lalu menuju ke kamar untuk ganti baju serta sekedar merias diri.


Thing thong


" Hmmm, Rosa mesti tuh, yang membunyikan bel, " batin Ayyana dengan berlari menuju pintu.


Jantung Ayyana serasa mau copot, yang berada di depan pintu bukan yang dibayangkan.


" Hai, wanita penjual diri, kamu jangan merasa bangga berada di tempat semewah ini," ucap wanita di depannya yang tak lain mantan istri Raihan yaitu Dania, dengan mendorong tubuh Ayyana secara kasar, sorot matanya tajam.


" Mba, sebaiknya kamu tak perlu mengganggu kehidupanku, kalau kamu ingin kembali pada Pak Raihan tak ada yang menghalangi, apalagi aku, " ucap panjang Ayyana tak gentar dengan menghindar dari serangan Dania berikutnya.


" Yang kamu ucapkan dimulut beda di hati, nyatanya kamu disimpan disini," serang Dania.


" Sebaiknya kita bicara baik baik, Mba, biar enggak salah mengerti, atau kamu tanya pada Pak Raihan tentang keberadaan ku disini, " jawab Ayyana datar.


Dan Dania tetap tidak percaya pada kata kata Ayyana, iapun masuk kedalam untuk menuju setiap ruangan bahkan membuka setiap almari untuk mengetahui isinya.


" Hmmm, tak ada apa apa di dalam almari, hanya baju si culun, serta buku buku kuliah di meja belajar," guman Dania terus berlalu dan tangannya mau ambil benda berharga hadiah pernikahannya dengan Raditya, tetapi dengan sigap Ayyana merebutnya.


" Mba, tangan kamu jangan dibiasakan menjamah yang bukan miliknya, bisa berurusan dengan hukum, " sergah Ayyana kesal.


" Apa, kamu nuduh aku tukang mengambil barang orang, " serang Dania, matanya melotot kayak mau keluar biji matanya.


" Kamu bisa mencerna enggak sih ucapan ku, apa ada tuduhan yang keluar dari bibirku, " ucap Ayyana lantang.


" Paling tidak bernada tuduhan," serang Dania tambah kesal.


" Itu perasaan Mba saja, " ucap Ayyana datar.


Thing thong


" Mba, tolong keluar dari apartemen, aku mau berangkat kuliah, " ucap Ayyana, setelah dengar bunyi bel dengan suara cempreng Rosa memanggil namanya. Dania dengan sedikit gugup gegas menuju ke pintu keluar, wajahnya memerah serta tubuhnya beringsut setelah melihat ada orang lain di depannya.


" Bu, pagi pagi tumben datang ke apartemen Ayyana," kata Rosa sambil tersenyum, iapun telah tahu kalau Dania itu mantan istri dosennya. Dania melengos tanpa mau membalas ucapan Rosa lalu dengan langkah panjang meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2