
Author POV
Malam semakin larut dengan udara dingin yang bagi Ayyana sangat menusuk tulang, apabila tidak pakai penghangat ruangan atau tak pakai baju penghangat.
Ia masih dihubungi Raditya lewat vidcall.
" Kamu ke Belanda nya kapan? "tanya Raditya disana, ia lagi mikir untuk cari jalan keluar agar bisa bersama Ayyana, tetapi baik pihak Kiara juga keluarganya tidak terjadi adanya permusuhan, dengan kata lain masing masing bisa menerima takdir yang telah digariskan.
" Mungkin lusa, karena Calla besok tidak bisa, ada janjian yang lebih penting, " cerita Ayyana didepan layar ponsel dengan bibir menyungging senyuman, membuat Raditya semakin tidak bisa menahan rasa kangen, dalam hati ingin secepatnya berubah malam, ia mau bikin kejutan buat Ayyana.
Telfon diakhiri oleh Ayyana, dengan alasan pengin istirahat, padahal ia mau ngobrol dengan kedua kakaknya setelah sekian lama ketemu.
" Mba, aku kayak mimpi, bisa datang menemuimu di negara yang sangat jauh, " ucap Ayyana dengan tubuh digelayutkan pada kedua kakaknya yang sedang rebahan di kasur.
Tangan Hanifah mengelus pucuk kepala Ayyana lembut, dengan mata berkabut.
" Hmmm, kalau gini kita ingat saat kecil, saling berebut makanan, " ucap Marwah.
" Cuman aku yang sering kebagian paling kecil, " protes Ayyana merengut, persis kayak saat berebut.
" Kan, kamu aja yang tidak cekatan ngambilnya, tapi kami tidak tega, akhirnya malah kamu yang dapat banyak, abis aku sama kakak terus memberinya, " ucap panjang Marwah.
" Abis, ibu klo ada pesanan bikinnya hanya dilebihin dikit ya, sementara kita selalu dipaksa membantu, padahal kita masih ngantuk, dini hari orang lain masih terlelap kita sudah bangun bantu ibu mengais rejeki, " kenang Hanifah.
" Ternyata didikan ibu serta bapak yang disiplin kita jadi anak mandiri, dan tidak kaget melakukan pekerjaan, karena sudah terbiasa sejak kecil bekerja dan bekerja, " ucap Hanifah.
Malam semakin larut, ketiganya masih belum juga mengantuk, demikian Ayyana rasa penat dalam perjalanan hilang setelah ketemu kedua kakaknya yang sejak kecil keduanya mengganggap adiknya.
Sampai dini hari mereka bertiga ngobrol, dan setelah Ayyana berkali kali menguap, sementara saudaranya masih ngajak ngomong, tetapi kantuknya tak bisa terbendung sehingga hanya bisa jawab, " eh eh eh, " lalu hanya muncul mimpi yang tak jelas, sedang Hanifah serta Marwah ikut nyusul tidur.
Di akhir pekan ini, Hanifah serta Marwah yang libur kerja sengaja bangun siang, dan niatnya nanti mau ngajak Ayyana keliling kota.
" Mba, enggak kepikiran ngajak Paman sama Bibi, klo diajak tentu seneng lihat dunia yang beda dengan kampung kita," ucap Ayyana yang sangat menikmati hamparan salju.
" Cuman klo musim dingin kayak gini Bapak sama Ibu kali enggak mau diajak keluar, kan, orang orang disini lebih banyak berada di rumah, " kata Hanifah menerawang jauh ke kampung halaman membayangkan kedua orang tua.
" Kan, orang tua kita dah biasa berada di daerah yang hampir sama dengan disini, terutama klo musim selain musim dingin, " ucap Marwah.
__ADS_1
" Iya juga, sehingga kayak kita saat pertama kesini tidak begitu kaget, paling kagetnya saat musim kayak sekarang, " ucap Marwah.
Hampir seharian bertiga menikmati suasana diluar, karena diliputi rasa suka cita, sehingga udara dingin tak dihiraukan, sedang Ayyana selalu mengabadikan kenangan di negeri yang baru diinjaknya.
Pulang ke apartemen sudah sore, lalu kedua saudaranya menyuruh istirahat, karena besok pagi mau ke Belanda.
" Mba, tiketnya ku ganti, " pinta Ayyana.
" Kamu kerjanya gajinya besar Ayyana, " tandas Hanifah.
" Aku kan, dah cerita klo disana merawat CEO yang habis kecelakaan sampai hanya bisa berada di kursi roda, dan keluarga nya sangat baik padaku, " cerita Ayyana yang sering di kemukakan lewat grup keluarga Kasmanto.
Kedua kakaknya percaya dengan keikhlasan Ayyana merawat orang sakit, karena di kampung sudah terlatih merawat anak yang sama keadaannya, seperti tuannya.
" Jangan jangan CEO nya cinta ke kamu Ayy," celetuk Hanifah, Marwah mendukung ucapan Hanifah. Wajah Ayyana menjadi memerah, dengan agak gelagapan.
" Kan, bener nich praduga kakak, mesti CEO nya jatuh hati padamu, " tandas Hanifah kembali.
" Aahh kakak jangan mikir hal yang aneh, mana ada CEO jatuh cinta pada cewek kayak aku, yang tidak punya ayah ibu, bahkan saudara, hanya karena belas kasih dari kakak serta Paman juga Bibi, aku bisa hidup, " ucap panjang Ayy, ada embun dikedua bola matanya yang indah.
" Kamu kok jadi tambah halus perasaannya, enggak kayak Ayyana yang dulu, strong, kalau dibully teman bisa bela diri, " ucap Marwah matanya tak kedip mengawasi wajah Ayyana yang tambah cantik serta mempesona, terbukti saat di kereta maupun ditempat yang dikunjungi ada beberapa cowok yang berkali kali meliriknya, sambil berucap lirih " beautifull, " dan Ayyana sempat mendengar cuman ia tidak menghiraukannya, abis sudah biasa kupingnya dengar sanjungan.
" Dia belum percaya kalau punya kakak, kan, dia prinsipnya cari ibu kandung yaitu bu Yeyen, jadi penjelasan kita enggak direspon, " cerita kembali Hanifah, karena sudah diutarakan lewat telfon maupun chat pada Ayyana.
" Itulah mba, yang membuat aku sedih, sebenarnya sangat berharap klo bi Yeyen segeralah bercerita sejujurnya, " ucap Ayyana sedih, apalagi sampai sekarang bi Yeyen belum juga mau membalas suratnya.
" Klo aku lihat di postingan Calla, ada foto foto bi Yeyen dengan suami serta anaknya, " ucap Hanifah sambil menunjukkan agar Ayyana membukanya.
" Waooo, ia begitu percaya klo bi Yeyen adalah ibu kandungnya, " seloroh Ayyana, matanya tak kedip memperhatikan foto foto keluarga bi Yeyen, dengan menahan kesal di dadanya.
" Klo bi Yeyen selalu menutupi kebohongannya, tapi percayalah suatu hari insyaallah akan terungkap, kita berdoa saja semoga Allah membukakan hati bi Yeyen untuk cerita yang sebenarnya, Ayy, " ucap Marwah, di aamiinin oleh Hanifah dan Ayyana bebarengan.
Mereka berniat mau istirahat, karena pagi pagi harus bersiap siap ke Bandara, tetapi ternyata masih tetap ngobrol, padahal sejak kemaren malam juga saat jalan jalan keluar mereka terus ngobrol, kayak tak habis habisnya kata kata yang mereka bicarakan.
" Mba Hanifah, aku berharap tahun ini dah resmi nikah, jangan mundur mundur terus, Bibi sama Paman sering ngiri sama bu Dadang yang setiap hari nggendong cucu, " desak Ayyana, dengan mata di pejamkan karena sudah mulai ngantuk.
Hanifah tidak menjawab, iapun sudah memejam oleh rasa kantuk serta tubuh capek seharian cuci mata keluar demikian Marwah.
__ADS_1
Pagi menyapa
Udara dingin diluar dengan hamparan salju bagai kapas putih menutup seluruh alam di kota yang punya 4 musim.
Ayyana selalu berdecak kagum melihat pemandangan yang baru dilihatnya sepanjang menuju Bandara, ia mengabadikan dalam bentuk video hanya untuk pribadi saja tidak untuk di posting umum, karena tidak memiliki keberanian, disamping itu untuk menjaga diri dari orang yang tidak suka padanya.
" Jangan kamu posting Ayy, Mba takut klo Clara cs semakin kesal lihat kamu bisa menuju Eropa, " tandas Hanifah yang selalu mengkhawatirkan Ayyana oleh bully an orang.
" Iya mba, hanya disimpan saja untuk kenangan, kelak bisa diceritain pada anak cucu, " ucap nya nyengir.
Sampai di Bandara, lalu mengurus dokumen sampai selesai menuju ruang tunggu, dan tak lama masuk pesawat.
Jarak yang tidak begitu jauh sehingga sampai di Bandara negara yang dituju.
Naik kereta lagi lagi pemandangan yang sama dilihat oleh Ayyana yaitu hamparan salju bagai permadani putih.
" Mba, aku kayak hidup di dunia mimpi, betulkah aku sedang berada di negeri ini, " ucap Ayyana, matanya masih tak kedip menatap alam lewat jendela kereta, juga hati mulai berdebar kencang karena akan bertemu dengan Calla yang ia anggap adiknya walau belum 100%.
" Klo aku percaya 100% bahwa Alena sama dengan Calla, ya adikmu Ayy, dia tuh mirip kamu, dari rambut, bibir, mata dan lainnya, jadi klo Alena belum mengakui kamu sebagai kakak, kamu harus sabar ya, kan, intinya si Calla tuh percaya pada orang tua angkatnya yang diberitahu Bu Yeyen adalah ibu kandungnya, " ucap Marwah.
" Tapi ia kan, harus bisa mikir, dari foto foto keluarga bi Yeyen yang di posting di aplikasinya, tak ada mirip miripnya sama Calla, " ucap Hanifah, mulutnya ia manyunkan.
" Satu satunya desak pada bi Yeyen untuk mengakhiri kebohongannya, " ucap Ayyana kesal, karena di otaknya bahwa bi Yeyen memisahkan Calla dengannya karena dapat imbalan uang.
" Ngapain aku dulu enggak di jual sekalian pada ibu angkatnya Calla, biar enggak kepisah sampai sekarang, bi Yeyen benar benar tak punya belas kasihan padaku bahwa selama ini aku sangat menderita kehilangan adik, " batin Ayyana, matanya berkabut sedang dada terasa sesak ingat adiknya yang hilang, kadang di otaknya ingin menyusul kedua orang tuanya saja, apalagi hidupnya ada ada saja yang tidak suka padanya, karena keluarga Bibi Kasmanto lah yang selalu memberi semangat juga Ustadzah Kholifah, Ayyana menjadi semakin kuat kayak kakak kakak angkatnya.
Sampai di stasiun bertiga turun dari kereta dengan baju musim dingin.
" Kita jalan saja, enggak jauh kok tempat kencan dengan Calla, " ucap Hanifah, matanya menatap Ayyana yang terlihat berkaca kaca.
" Udah De, yang semangat, berdoa semoga Calla lambat laun percaya kamu klo kakaknya, " ujar Marwah memberi semangat.
Tetapi Ayyana malah tidak mampu membendung air mata yang sudah ditahan sejak menginjakkan kaki di negeri ini.
" Coba buka aplikasi hijau, kali Calla mengomentari kita bertiga setelah nyampe di Bandara, " pinta Hanifah.
" Hanya membaca saja," ucap Marwah, maka Ayyana menjadi pesimis.
__ADS_1
" Uuufff jangan jangan Calla tidak mau menemuinya, " batinnya sambil. mengembungkan pipi untuk mengurangi rasa gelisah.
Sementara Ayyana tidak menyadari ada yang mengawasi sejak dari Bandara, bahkan di kereta, karena ia merasa bersama saudaranya sehingga tidak kepikiran ada orang yang akan mencelakainya.