Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 63 Tinggal berdua di apartemen


__ADS_3

Calla POV


Semua serba putih, pohon pohon kecil bergelantungan hiasan alami berwarna putih persis kayak kapas, dan bentuknya sangatlah lembut, sementara anak anak riang bermain main sambil berlari kesana kemari pakai papan beroda, mengingatkan ku saat kecil mengarungi kebahagiaan bersama orang tua angkat yang ikhlas menerima ku seperti anak sendiri.


Disaat musim salju Papa serta Mama selalu mengajak untuk bermain kayak mereka, membuat bola bola salju lalu melemparkannya, kadang Mama bergurau dengan Papanya saling melempar bulatan salju, juga melemparkan padaku sehingga aku membalasnya. Tak sakit sebenarnya cuman asyik saja karena sambil menggerakkan tubuh di saat di luar dingin membeku.


Aku ingin bergabung dengan mereka pagi ini biar otak yang lelah bisa fresh.


" Ma, mainan kayak mereka yuk," ajakku ke Mama yang lagi menghangatkan tubuh di depan perapian.


" Atau kita nyusul ke apartemen Ayyana, kan, kemaren mereka berniat mainan salju, " ucap Mama antusias.


" Ok Ma, cuman aku males menghubungi mereka, Mama gimana? " balasku. Dan Mama bersedia, maka lagi lagi kami bertiga menuju ke apartemen Ayyana, sekalian supaya ikut breakfast bersama.


Aku selalu menunggu ajakan Ayyana tentang test dna, tetapi ia terasa bosan berkata tentang test dna, karena sampai sekarang saat sedang menikmati makan pagi, ia tidak lagi bicara tentang test dna.


Oklah aku mending diam juga, apalagi hati ini belum tergerak untuk mengakuinya sebagai kakak kandung, hati ini hanya merindu pada bu Yeyen ibu kandung ku.


" Ayy, kalau ke Amsterdam kembali bawa donk bu Yeyen sekeluarga, " saat aku menikmati sup di sebelahnya, keceplosan agar Ayyana mengajak Bu Yeyen. Dia hanya melebarkan mata lalu kembali menikmati sarapan paginya.


" Uuups dia seperti tidak bergeming atau bahkan tidak tergerak hatinya untuk membantuku yang kangen dengan keluarga, " batin ku, sampai rasa kesal muncul di hati.


Habis makan bersama bersiap siap untuk menuju ke hamparan salju.


Dan perasaan ngiri muncul di hati melihat kemesraan Ayyana dengan Raditya.


Apalagi ia sikapnya telah berubah pada ku, dia lebih banyak waktunya bersama Raditya, tidak kayak saat pertama datang.


Dan entah dorongan apa aku tergerak untuk melempar bola salju pada Ayyana.


Dia yang tidak siap menghindar terkena pecahan salju yang lembut, cuman tangan Raditya langsung memeluk tubuh Ayyana.


" Hmmm, laki laki itu sangat mencintai Ayyana, kayak Papaku pada Mama, " batinku terasa ingin punya pelindung kelak yang kasihnya sama kayak mereka.


Cuman aku sekarang belum kepikiran tentang kekasih, abis usiaku masih sangat muda, juga masih suka bermain dengan teman.


*


Author POV


Ayyana terasa hidupnya lengkap, hatinya yang percaya kalau Alena adalah Calla adiknya, ikut bersama bermain di areal salju di taman, yang rata rata diramaikan anak anak beserta keluarga di hari libur ini.


" Strategiku tidak lagi mau mendesaknya untuk test dna, kali sekarang membuat dia berubah sikap yaitu selalu ingin bermain main denganku, " batin Ayyana, tetapi ia tetap waspada karena takut kalau itu hanya siasat belaka.

__ADS_1


Hampir satu jam berada di taman yang berubah ketutup salju, cuman mulai menipis, maka kami terus bubar, apalagi Hanifah, Hafid serta Marwah hari ini mau terbang ke UK kembali, sedang Ayyana akan menikmati kebersamaan yang membahagiakan di Eropa daratan dengan naik kereta hanya bersama Raditya.


Wajah yang selalu memancarkan bahagia terlukis dalam keseharian setelah bersama dengan Raditya.


" Aku selama di Eropa tidak memikirkan masalah yang membelit di dada, benar benar fresh, apalagi Raditya selalu membahagiakan ku, " batin Ayyana, dan perasaan ini baru ia alami.


Demikian Raditya seperti sedang menikmati kesembuhan kakinya dari cidera, sampai ia kadang lupa baru beberapa pekan, melepas alat penyangga kaki.


" Ayy, aku seperti mimpi telah normal kembali kaki ini, " ucapnya sedikit manja, lalu tangan dilingkarkan ke pinggang Ayyana dan menciumi tengkuk lehernya yang masih ketutup mantel bulu, Ayyana biasanya hanya memegang punggung tangannya lembut.


Semburat cahaya mentari samar terlihat di langit, menandakan hari masih siang, dan redupnya langit karena ketutup kabut, lain kalau di Jakarta, apabila langit disiang hari kelabu karena ketutup awan, terutama saat musim penghujan seperti pada bulan ini, sehingga mentaripun sering tidak tembus ke bumi, dan biasanya udaranya panas, baru setelah hujan jatuh kebumi maka akan berubah dingin.


Beda disini karena kabut yang menutup alam sampai jarak pandang hanya beberapa meter, sehingga udara dingin sampai membeku.


Siang masih tetap terasa pendek, kakak kakak Ayyana telah terbang ke UK dan tinggalah berdua di apartemen.


" Ayy, begitu padat acara dari kemaren, sampai kita tak bisa meluangkan waktu bersama di kamar, dan sekarang serta selanjutnya bisa kita nikmati kebersamaan berdua sepuasnya, ok, kamu siap ya, dan wajib jaga kesehatan juga makan yang teratur, biar selalu fit, " ceramah Raditya, tangan terus menyusup ke tubuh Ayyana, membuat Ayyana mengeliat.


" Mas, cuman jangan terforsir banget lho, aku yang repot, abis klo gitu kamu minta dibikinkan minuman hangat lah dengan di kasih susu, madu, sementara mataku sudah tak bisa ketahan ngantuknya, " ucap panjang Ayyana, matanya mulai kedip kedip dengan tubuh yang terasa remuk, abis Raditya seperti kuda pacuan.


Raditya tertawa lihat wajah sayu Ayyana.


" Makanya kamu harus banyak makan vitamin biar tubuh selalu bugar, enggak kayak sambel terong saja, " canda Raditya yang juga kembang kempis.


" Udah Ayy, lemes banget nich tubuhku, abis kamu seru sih, enggak mau nyudahi lagi, mintanya nambah saja. Dah cepetan bikinin minuman rempah rempah ramuanmu, " mata Raditya tak bisa nahan kantuknya.


" Awas lho Mas, klo aku dah buat malah enggak di minum kayak dulu, " ancam Ayyana nyubit lengan kencang Raditya, lalu dengan tertatih tatih ia bangkit dari kasur yang hanya pakai baju tidak lengkap, menuju ke dapur.


Tangannya terampil meracik ramuan yang biasa dibikin di kampung Bibi Kasmanto.


" Hmmm, ternyata rempah rempah yang kubawa punya manfaat ganda, padahal untuk penghangat sendiri, eee tahunya jadi untuk kebugaran bersama suami, kayak mimpi aja aku nich pasrah ke suami, dan hati ini serasa enggak punya beban abis aku tlah nglakuin kewajiban sebagai istri, " batin Ayyana sambil mengudak udak ramuan yang lagi di rebus.


Sepuluh menit kira kira Ayyana merebus ramuan lalu membawa ke kamar dengan bau wangi kayu manis, cengkih ditambah daun jeruk, daun salam serta jahe merah, apalagi ditambah gula aren dan madu.


" Mas, nich udah mateng keburu dingin lho, " ucap Ayyana, sedang Raditya sudah mendekur lirih.


" Uuuhhh dasar sukanya ngerjain, seneng kamu Mas klo lihat aku malem malem sibuk di dapur, " ucapnya lirih di telinga Raditya, cuman ia sudah tidak berkutik karena kantuknya, bahkan ia telah berada di alam mimpi yang tidak jelas.


Dan Ayyana dengan pakaian tidak lengkapnya menelusup ke dalam selimut, matanya memejam karena dari tadi sudah menahan kantuk.


Sampai Raditya tengah malam bangun terus meminum ramuan yang terletak di meja nakas, Ayyana tidak berkutik tubuhnya meringkuk dengan seluruh tubuh sampai leher ketutup selimut.


" Hmmm, cantik banget kau Ayy, klo lagi tidur, waahh membuat tidak mampu nahan lagi nich lihat istri, " batinnya setelah minum habis satu gelas, lalu ia masuk ke selimut mendekap tubuh berkulit halus istrinya, berkali ia menciumi Ayyana dari ujung kepala, lalu tangannya merayap ke bagian lain, tidak membuat Ayyana bangun, hanya menggeliat dengan keluhan.

__ADS_1


" Masss... "


" Uuuhhh, kamu mimpi Ayy, buka donk matamu, nich lihat suami yang lagi nungguin kamu bangun, " ucap Raditya semakin bersemangat.


Mau tidak mau ditengah malam yang buta, diluar sepi semua orang berada di dalam rumah untuk menikmati istirahat malam, Ayyana membuka mata, kaget lihat pemandangan di depannya.


" Mas, kok ya enggak bosen bosen sih kamu," celetuknya yang hanya dibibir karena dihati iapun mau yang diinginkan oleh Raditya.


Berdua menghabiskan malam yang kelam, hanya tiupan angin malam yang terdengar dari dalam kamar berdua.


Sementara keseruan keduanya terus mereka rasakan, bahkan apabila ada gempa tidak akan menyulut untuk mengakhirinya.


Lelah keduanya setelah mengakhiri permainan, sampailah dipenghujung pagi mereka masih saja tertidur pulas dalam satu selimut.


Ayyana terkagetkan oleh suara gemuruh.


" Uuuppps, suara apa itu? hujankah? " ia menggeliatkan tubuh pelan agar tidak membuat Raditya terbangun, sambil konsentrasi pada bunyi riuh mendayu dari luar.


" Mungkin mirip suara hujan kalau di Indonesia, " batin Ayyana kembali.


Dan dengan menutup tubuh seadanya ia bangkit menuju kamar mandi, membersihkan dengan air hangat.


" Upps, terasa segar setelah diguyur dengan air hangat, " guman nya.


Ayyana masuk kamar hanya melilitkan tubuh dengan handuk, mata Raditya melotot melihat pemandangan di depannya karena ia telah bangun juga.


" Mas, ngapain melototin aku gitu sih, cukup deh, nich tubuhku kayak remuk dengan perlakuanmu yang seram, " seloroh Ayyana, lalu cepat cepat pakai baju, mau menyiapkan sarapan pagi.


" Mmmm, nyatanya kamu tak mau menyudahi," balas Raditya, tubuhnya ia dekap kencang.


" Makin cinta aja aku, " peluknya erat sambil mengendus bau wangi sabun tubuh Ayyana.


" Paling modus karena ada maunya, " ucapnya lirih dengan sedikit manja.


" Yaaa siapa tahu beruntung, " ucapnya terus saja tak puasnya menciumi Ayyana.


" Mas, udahlah mau pengin sarapan enggak? " tanya Ayyana berusaha melepas dekapan kencang Raditya.


" Bisa cari diluar donk, " jawab Raditya gemas.


" Mas, tuh dengar suara gemuruh di luar, kita mau nekat keluar?" ujar Ayyana matanya melebar menatap wajah memelas kayak anak kecil minta permen tidak dikasih.


" Ok ok, " ia mengendorkan dekapan tangannya, lalu ke kamar mandi, sedang Ayyana buru buru ke dapur, menyiapkan sarapan.

__ADS_1


__ADS_2