Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 49 Silvi berada di ruang Pak Raihan


__ADS_3

Author POV


Masih tetap langit diselimuti awan di pagi ini, Silvi dari jarak 4 meter pada keberadaan Ayyana dengan Pak Raihan, menjadi memanas wajahnya, dadanya sesak menahan nafas yang terasa sulit dihembuskan, dan sesekali ia mengeram kesal.


" Tenang kamu Vi, dia kan, pecundang tentu dengan sabar kita akan berhasil menghancurkan si culun itu, yang bisa kau lihat sekarang, dia pakai bulu mata palsu, hahaha, " cerocos Clara, yang hatinya tambah culas melihat Ayyana tambah cantik.


" Oh ya, gimana tentang lelaki yang pesan cari istri? " tanya Mira yang baru datang sehingga ia tak dengar ucapan Clara dengan Silvi yang berniat merusak Ayyana.


" Kamu tak usah bawel Mir, kamu tuh kayak krupuk disiram air, terus mlempem, klo gitu mau kupecat kamu dari kelompok ku, " tandas Clara.


Wajah Mira memerah, dan dalam hati ia sebenarnya tak keberatan kalau Clara tidak mengajak lagi, ia mau fokus pada kuliah saja, dari pada ikut Clara yang hanya cari masalah, sebab ia juga takut kalau sampai berurusan dengan yang berwajib.


" Hancur sudah masa depan ku," batin Mira sambil celingukan cari Hana.


" Hmmm aku tahu kamu cari Hana, kan," dorong tangan Clara ke dada Mira.


" Hana tuh mau dijadikan ganti Ayyana, untuk dijadikan istri lelaki buta, cuman kaya, makanya Hana yang butuh uang tidak nolak, hahaha, " ucap Clara dengan tertawa ngakak, lalu Clara ngasih bagian pada Mira, tetapi Mira menolak.


" Ok, aku memang berharap kamu nolak uang ini Ra," Clara memasukkan uang ke dompet, dan mengajak Silvi pulang kuliah makan makan diluar.


" Mira tak perlu ikut, kamu dah aku pecat dari kelompok ku, silahkan pergi, dan nanti jangan coba coba kamu ikut ngerasain uang pemberian Hana, " tonyor Clara ke kepala Mira. Ia terus lari masuk kelas mencari tempat duduk di deretan belakang, sambil terus termenung dengan wajah murung.


Dan dalam hati ia akan belajar untuk sendiri dalam menapaki hari hari di kampus, ia juga tak mau cari masalah dengan Clara maupun Silvi, dan mencoba belajar menata hati seperti teman yang lain, untuk lebih fokus pada studi.


" Uuuhhh selama aku kenal sama Clara serta Silvi, aku selalu melupakan kewajiban, bahkan hampir setiap hari tidak menjalankannya," gumannya sedih, sampai bola matanya berkaca kaca, sementara teman cewek yang lain maupun cowok tak berani mendekati para cewek kelompoknya Clara, oleh karena temannya tidak ada yang mempedulikannya, mereka pada sibuk belajar.


" Apakah Hana mau berhenti kuliahnya? " Mira hanya bertanya pada diri sendiri di dalam hati.


Tak lama kemudian Clara, Silvi masuk, mereka sudah tak lagi mau duduk bersama Mira, lalu Sarah serta Dara datang duduk di kursi satu deret dengan Clara.


*


Raihan POV


Langit masih saja tertutup awan putih, aku semakin menjauh dari ruang 7, berniat mencari Hendra yang mengaku ada di dekat mobil Ayyana.


Dan awalnya aku yang ingin menjadikan Ayyana sebagai pengganti Dania, tidak tega menambah masalah baru bagi Ayyana, lebih baik aku belajar untuk mengalah pada adikku, ini tentu sangat berat bagiku, sebab selama ini Raditya yang menurutiku.


" Pak Raihan, aku disini, " suara Pak Hendra membuyarkan lamunanku.


Lalu aku duduk duduk di kursi taman dibawah rindang nya dedaunan dari pohon pohon besar yang di tanam rapi di areal kampus.

__ADS_1


Aku terus mendesak Pak Hendra maupun istrinya tentang Ayyana.


" Ok, Pak serta Bu Hendra filling ku kalau Ayyana itu ada yang menganiaya, adikku tidak tahu klo Ayy sudah sejak SMP jadi bahan bully, " kataku.


" Dan aku tahu kenapa anda tidak mau berkata jujur, jelas itu si Ayyana, kan, yang minta, terus kamu nurutin, " lanjutku kesal, karena kedua orang didepan ku malah semakin bungkam, akhirnya aku tak mau memaksa lalu undur diri kembali ke ruang kantor.


Di dekat ruang 9 sempat wajah ini ku longokkan untuk melihat Ayyana yang jam ini ada di ruang itu.


Bu Kristi tersenyum lalu mendekat ke pintu, aku menghentikan langkah.


" Pak, aku agak curiga pada Ayyana, sepertinya ia dalam gelisah, ia selama ngikutin kuliahku selalu menunduk lalu aku amati bulu matanya yang asli habis, itu yang dipakai bulu mata palsu semua, " ucap lirih Bu Kristi.


Aku tidak mau mengganggu beliau terlalu lama, terus kaki ini melangkah ke ruang ku.


Di taman aku ketemu Silvi dengan kelompoknya, kesal rasanya melihat sikapnya yang over padaku.


" Pak Raihan, lagi enggak ngasih kuliah kan, aku pengin ikut ke ruang bapak, " ucapnya, terus berjalan mepet ke tubuhku.


" Vi, sopan dikit donk, aku disini berstatus guru, jadi tak pantas berjalan bersebelahan mepet lagi sama muridnya, " tandasku. Ia tetap tidak tahu malu, malah terus mengikutiku sampai ke ruang.


" Bapak itu lebih milih gadis culun si Ayyana ketimbang aku yang lebih modis, " desaknya, dengan tanpa malu melenggak lenggokan tubuhnya yang pakai baju atasan berlengan pendek, pakai celana panjang ketat.


" Pak, aku melamar jadi asisten bapak ya, biar sering bersama Pak Raihan, " celoteh nya lagi.


" Uuups, yang lebih cerdas dari kamu disini tak kurang, masak sih asisten ku klo membantu ngasih kuliah lebih pinter dari yang diajarin, " ceplosku, ia cengengesan, tapi dasar anak tidak tahu malu tetap saja nekad masuk ke ruang ku.


Roni melotot matanya melihat Silvi melenggak lenggok di depannya.


" Mas Roni bisa deh jadi bodyguard nya Pak Raihan, terutama klo ada cewek culun dari kampung masuk dan merayu Pak Raihan, aku di kabarin, nich ku kasih nomer ponsel," dengan nada geniiit Silvi terus nyerocos. Roni hanya melebarkan bola matanya lalu ia sibuk kembali dengan laptopnya.


" Silvi tidak tahu malu, jelas jelas aku tidak tertarik padanya, kok ya nekad, " gerutuku di hati.


" Tolong Vi, keluar dulu, kami banyak kerjaan yang butuh konsentrasi, " pintaku kesal lihat lakunya.


" Ok Pak, aku juga lagi kosong, biarin aku duduk di sofa, silahkan bekerja, " sanggahnya lalu ia berjalan menuju sofa terus duduk dengan santai sambil memainkan ponsel.


Sepi di dalam ruang, hanya suara kursi roda yang kadang ku gerak gerakkan untuk mengusir ketegangan di dada oleh keberadaan Silvi.


Karena aku tak ingin terjebak oleh jeratan Silvi maka Roni yang ingin keluar kucegah.


" Bentar lagi Ron, jam 10.00 aku ke kelas kok," Roni tahu isi hatiku sehingga ia menuruti permintaan ku.

__ADS_1


Jam serasa lamban bergerak, mata sering kuarahkan pada jam di laptop, hati menjadi tambah kesal melihat Silvi duduk di sofa seperti sangat kerasan di ruang ini.


Mata ini rasanya enggan untuk melihat cewek bermuka tembok di sofa.


" Lho, malah ia rebahan di sofa, " batinku kesal.


" Vi, tolong duduk nanti dikira Pak Raihan tidak menegurmu, ada CCTVnya di ruang ini, langsung terhubung ke ruang Direktur, " ucapku kesal. Roni juga menimpali.


" Ini bukan kamar jadi bukan disini kamu rebahan, " tandas Roni, ia juga ikut kesal.


" Cuman klo aku banyak duduk capek, kan, jam 10.00 Pak Raihan ngisi di kelasku," ucap manja Silvi.


" Biar sekalian kita keluar bareng Pak, abis aku lagi males bergabung sama Clara," ucapnya lagi, dan entah angin apa yang membisikkan ke otakku saat Silvi bilang Clara.


" Clara, dialah yang pernah satu kost dengan Ayyana, dan menurut cerita Rosa serta teman yang lain Clara beserta Silvi selalu membully Ayyana, jangan jangan kelompok pimpinan Clara yang membuat bulu mata serta alis Ayyana gundul, " gumanku.


" Vi, kemaren sore kelompokmu aku lihat bergerombol di taman dekat mobil Ayyana, " to the point bicaraku, memang sore kemaren saat Ayyana selesai kuliah, aku sempat melihat mereka.


" Bapak matanya selalu awas lihat keberadaan ku, " jawabnya enteng.


" Bukan begitu maksudnya, kan, kalian terus bangkit saat lihat Ayyana, " serangku, padahal aku hanya mengarang saja, karena kelanjutannya tidak tahu.


" Eeee aaanuuu, iiiyaa kan, sudah sore Pak, itu mah hanya kebetulan saja, " jawabnya tergagap, dan hati ini positif kalau Ayyana sore kemaren dianiaya oleh Clara cs.


" Ok ok, cuman aku jadi kepikiran kalau kalian berulah kembali, aku sebagai wali dosen kalian ikut malu apabila kelompokmu kesandung kasus hukum, " cerocosku, mata tak kedip menatap penuh selidik pada gestur tubuh Silvi.


" Bapak jangan asal nuduh donk, " serang Silvi, wajahnya mengencang.


" Lho, ya enggak nuduh donk, bisa kan kamu mengerti ucapan ku, " sergahku, dan dalam hati aku ingin mendesak istri Hendra untuk kirim video rekaman CCTV di mobil Ayyana.


" Udah lah Pak, aku mau keluar, abis disini bisa aku dituduh menganiaya Ayyana, sumpah deh Pak, aku enggak nglakuin, klo aku bohong taruhannya mulutku ini membusuk, " sanggahnya dengan nada keras, aku semakin tidak simpatik.


" Jangan bermain dengan sumpah lho Vi, paling tidak hati hati klo berucap yang tak baik, " kataku, Roni hanya tersenyum.


" Emang bener, makanya aku berani bersumpah mulut ini membusuk klo bohong, " ucapnya lagi tambah kenceng, bahkan wajahnya terlihat memerah, kali memanas, lalu dengan langkah cepat ia keluar dari ruang ku.


Aku tertawa lirih, dengan keberhasilan mengusir Silvi dari ruang.


" Bapak sukses ngusir cewek ganjen, " seloroh Roni tertawa juga.


Seterusnya kami di ruang tidak perlu menggosip si Silvi, kami mulai sibuk kembali dengan laptop.

__ADS_1


Sementara hati kecil ini percaya Clara cs lah yang menganiaya Ayyana.


" Kalau aku sulit mendesak mba Nina, kali Rosa tahu kejadian nya, bukankah sore itu mereka keluar bareng? cuman Rosa kemaren bawa mobil sendiri, " otak ini terus saja mengukir kata kata.


__ADS_2