
Ayana POV
Cuaca pagi hari yang cerah, kami berempat melewati jalan berpaving, dengan kanan kiri di tanami pepohonan, menjadikan udara di pagi ini serasa bersih dari polusi, aku berjalan dengan menghirup udara tanpa kekhawatiran, sebab di kerongkongan nyaman.
Dan selama aku kuliah tak ada satu teman di kelas yang bersikap seperti Clara dan beberapa orang di kost.
Untung Clara dan teman teman satu kost kelompoknya Clara, tak satu klas denganku, mereka kakak kakak kelas, sehingga nafasku tidak menjadi sesak, cuman di prodi ini aku juga berhadapan dengan Pak Raihan, yang sampai tadi belum bisa bersahabat denganku, tetapi lebih parah adiknya si Raditya, ia semalam sampai pagi ke kantor terus saja kalau minta bantuan dengan membentak, terutama saat berdua, walau di rumah aku sudah terbiasa mendengar suara keras Paman sama Bibi, tetapi mereka bukan membentak bentak kayak Raditya, cuman aku tidak tega meninggalkan dia dalam keadaan tidak bisa jalan, apalagi aku dinikahi.
" Ay, jangan melamun saja, kamu tuh pakai baju yang membuat tambah cantik malah sedih gitu," celetuk Bella, sedikit kaget dengan suaranya.
" Kayak enggak pede ya Ay, lihat tuh semua mata mengarah padamu, terutama para cowok, sampai Rosa cemberut terus ke kamu," kata Lisa nyengir, Rosa tambah kesal dengan ucapan Lisa.
" Hai, Ay, awas kalau kamu nerima cowok lain, karena aku tak mau kakakku kecewa, apalagi sampai sakit hati," bisiknya.
Aku sempat bengong dengan ancaman Rosa.
" Rosaaa, pliss, aku...." hampir saja tidak mampu mengendalikan mulut bocorku.
Detik lalu menit terus bergerak maju, mata kuliah kesatu usai, semua keluar mau pindah ke ruang 9, jam berikut, mata kuliah Pengantar Ekonomi 1, dan aku mengikuti tidak seperti biasanya, agak kurang bersemangat, mungkin otakku mulai terkontaminasi oleh kejadian tadi malam, bagaimanapun aku tetap berpikir tentang statusku, terutama kelak setelah aku di depak oleh Raditya paling lama 1 tahun, aku akan menyandang status janda di usia yang masih sangat muda.
Aku menjadi tertekan dengan statusku kelak dan tanpa kusadari kedua telapak tangan ku tutupkan ke wajah.
Ingin sekali menjerit keras dengan pernikahan sementara ini, hanya untuk merawat seorang CEO dari Adiwangsa grup aku di culik dan dipaksa menikah.
Aku meruntukki ketidak berdayaanku.
' Ay, jadi tambah cantik dan modis malah tak seceria sebelumnya? " bisik Andina disebelah.
" Apa capek mungkin kamu Ay, kerjanya full mungkin, sehingga kamu menjadi lelah," ucap Andina lagi, aku menunduk lesu.
Jam mata kuliah berakhir, ruangan riuh oleh para mahasiswa yang siap siap keluar sambil ngobrol.
Pukul 12.00 tepat mata kuliah diakhiri sehingga, dengan gerakan cepat melangkah keluar mendahului tiga teman.
Mereka pada bengong, tetap tak perduli dengan mereka, karena harus cepat cepat menuju ke kantornya.
Dalam kegelisahan, ponsel terus bergetar.
Sambil berjalan cepat, tangan meraih ponsel yang diletakkan di saku tas ransel.
Drrrt drrrt
" Assalamu'alaikum, iiiyyaa, ini aku sudah di mobil mau keluar," mendengar suara tegas, tidak bisa di bantah sama sekali, hatiku menciut.
" Aku mau masuk mulut singa, " gerutuku, dan tak menyadari kalau ponsel belum ditutup.
__ADS_1
" Hai, kamu ngatain aku singa, akan aku laporkan ke kampus agar kamu dikeluarkan," sambil menyetir punggung lengan ku tempel ke jidat.
" Uuhhh, mulutku....,kini nasibku akan berakhirkah? " kekalutanku merasuk di hati, tetapi aku tetap harus fokus di jalanan.
Kampus yang tidak jauh dari kantornya, sehingga hanya membutuhkan waktu seperempat jam pada jam jam sibuk ini untuk sampai ke kantor Raditya.
Setengah berlari setelah turun dari mobil ditempat parkir dekat kantornya, aku masuk ke ruang nya, ia telah menunggu di depan pintu.
" Maa...., " belum selesai aku ngomong langsung dipotong.
" Ini sudah jam berapa? " tanyanya ketus, matanya melebar dengan wajah memerah menahan marah.
" Kalau begini, aku kenyang perutnya, tidak jadi makan di luar," ucapnya setelah pintu di tutup dari dalam, aku hanya menunduk.
" Teerruuuss, Tuan, mau maakaan apaa, atau aku cari kan ya, " kuberanikan diri untuk ngomong, aku tentu tidak tega kalau melihat dia tidak makan siang.
" Terserah kamu," dengan wajah dingin ia membelokkan kursi rodanya lalu tangan kanannya menjalankannya.
Aku tanpa disuruh keluar membuka pintu lalu ke mobil.
Pikiranku hanya menuju ke kost, aku masih punya gurameh di frizer juga ada kangkung.
Mobil kuarahkan ke kost, dengan berlari masuk kamar, dan aku bersyukur tidak dihadang Clara, sehingga tidak terhambat saat menuju ke kamar.
Butuh waktu satu jam menyelesaikan memasak sampai memasukkan ke 3 mangkok besar dari beling, baik nasi, gurameh asam manis sama oseng kangkung, lalu ku tutup dengan plastik press dan ku letakan satu satu ke tas plastik, tidak lupa bawa piring sama sendok.
Drrrt drrrt
Clara membuka pintu kamar, cepat menjejakkan kaki ini ke tangga turun.
" Uuufff, selamat dari bullyan si Clara," dan saat di bawah aku di cibir oleh beberapa penghuni kost.
" Ohh, cewek culun itu ya, sekarang jadi simpanan Oom Oom, makanya tuh, penampilan dah ngerubah, " aku tak mempedulikan hinaan itu, karena yang lebih penting Tuan Raditya.
Dengan bedak di wajah telah luntur, aku yang telah sampai di parkiran depan kantor Raditya, membuka pintu mobil lalu berjalan menuju pintu yang tertutup.
Thok thok
" Masuk, " aku membuka pintu, ia tetap sibuk dengan laptopnya, hanya melirikku sebentar, lalu kerja lagi di depan laptopnya.
Aku membawa tas plastik ke ruang khusus untuk tempat makanan, lalu mengambilkan nasi untuk nya.
" Tuan, makan dulu," aku telah berada di belakang kursi roda nya untuk mendorong ke meja tamu.
Ia hanya diam saja saat ku dorong kursi rodanya, kebetulan ia sudah tak lagi memeriksa pekerjaan di laptop, mungkin ia telah lapar.
__ADS_1
Ku sodorkan nasi dengan lauk yang masih hangat, lalu ia makan dengan sangat lahap, sampai menambah lagi.
" Beli dimana? enak aku suka, besok siang lagi ya, " pinta nya.
" Beesook, ayam goreng ya Tuan, " ucapku.
" Beli dimana? " dia mengulangi lagi.
" Aannu, di warung dekat kostku, " jawabku bohong.
" Ngantri beli sampai satu jam?" tanya nya tetap dengan wajah dingin.
" Iiyaa, karena warung bukan cepat saji, paling besok aku dari kampus mampir ke warung dulu ya Tuan, " bohongku lagi sambil berkedip kedip matanya.
" Hmmm, kamu sekalian makan biar habis sehingga tak mubazir," ia sangat menikmati masakan ku, seperti Rosa, sering mengajak ke rumah nya hanya untuk sekedar bikin nasi goreng atau masak lauk.
" Aku sisanya saja Tuan," kataku.
" Aku sudah kenyang kok, " ucapnya, lalu aku menuangkan nasi yang tinggal beberapa sendok ke piring satunya. Dan aku menghabiskan semuanya, sedang duri duri ikan ku masukan ke plastik untuk dibuang ke tempat sampah.
" Tadi pakai uang mu, sini aku minta nomor rekening, dan besok porsi nasi di tambah, biar kamu enggak sedikit makannya, nanti jadi enggak bertenaga yang rugi aku, karena kamu harus kuat," katanya panjang lebar, cuman yaitu tetap dengan wajah dingin sedingin es juga selempeng balok.
Dia belum menjalankan kursi rodanya, masih tetap ada diantara kursi tamu, sementara aku sambil menyuap nasi kepikiran tentang pekerjaan ini yang belum menyampaikan pada bibi sama paman, aku masih takut dengan mereka, tetapi yang jadi masalah aku harus setiap weekend pulang kampung, belum lagi Celin yang selalu menungguku.
" Tuan, aku setiap akhir pekan harus pulang kampung, " dengan hati hati aku mengutarakannya.
" Kamu bisa bilang ke mereka, kalau pekerjaannya, tidak ada libur akhir pekan, kalau kamu ingin nengok bibi aku harus ikut, "mataku terbelalak mendengar ucapannya.
" Kamu keberatan kalau aku ikut, " ngomong nya tetap saja wajahnya dingin.
" Aaa nuu.... iya begitu, " jawab ku hanya karena bingung mau jawab apa? sehingga sekenanya, dan berharap ia tidak marah.
" Ay, kalau kamu pulang siapa yang merawatku? " kata Raditya.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu, cuman aku bisa mengalihkan karena makan ku selesai sehingga aku membawa piring ke wastafel yang ada di ruang ini, lalu mencucinya.
" Ay, aku ingin keluar ruangan mau ke halaman depan ruang produksi," pintanya, aku menuju stang kursi roda lalu mendorong keluar.
Dan Pak Adnan menyusul kami dengan berjalan disebelah kanan kursi roda Raditya, mereka berdua ngobrol, aku menulikan telinga, merasa bukan urusan ku.
Kursi roda ringan saat di dorong, sehingga aku tidak banyak mengeluarkan tenaga.
Sementara mata sesekali melihat lingkungan pabrik yang sejuk oleh banyaknya pepohonan berdaun hijau, dan di bawah pohon pohon terdapat kursi kursi tanam yang tidak akan lapuk karena terbuat dari batu alam.
Cahaya matahari yang sedang menyengat panasnya, tidak terasakan, karena kehalang oleh pohon pohon besar yang menaunginya.
__ADS_1
" Ay, belok lewat jalan ini, mau duduk disitu," aku membelokkan kursi dan menghentikannya.
Karena tak ingin mengganggu obrolan kedua petinggi perusahaan ini, aku menyingkir duduk dikursi tanam, dibawah pohon yang sangat sejuk udaranya.