Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 16 Kumpul keluarga


__ADS_3

Author POV


Acara kumpul keluarga sampai menjelang malam, ada acara nyanyi nyanyi dengan diiringi orgen oleh Raditya, dan yang nyanyi bergiliran, Kiara juga nyanyi bareng bareng, ia tak berani menyanyi sendiri merasa suaranya cempreng.


" Papa, ayo nyanyi sama tante Ayana," rengek Aliandra sambil Papanya di gandeng ke dekat orgen juga Ayana.


Gara gara tadi siang Bu Riana memperlihatkan video nyanyi Ay dengan Pak Raihan ke Lian di kampus.


" Waahh, nich dipaksa supaya nyanyi sama Lian," ucap Raihan.


" Lian, tante duduk saja ya dibelakang Oom, kamu yang menggandeng Papa, ok ?" bisik Ayana ditelinga Lian, dengan wajah cemberut gadis kecil itupun menurut.


" Hmmm, suara Ay merdu aku menikmati banget lagu yang dinyanyikannya, juga Mas Raihan nyanyi bareng sama Ay, kok bisa kompak, jangan jangan Mas Raihan suka nyanyi bersama dengannya," batin Raditya, dahinya sampai mengkerut.


Ayana saat malam pengakraban mahasiswa baru di prodinya satu minggu yang lalu di paksa Rosa untuk nyanyi sama Wali Dosennya, Ay sering diajak Rosa ke rumahnya bersama Andina juga Lisa, biasanya berempat menuju ke ruang musik lalu pada nyanyi, makanya Rosa tahu suara Ay bagus, disamping itu juga bisa main guitar, karena mba Marwah pinter guitar sehingga Ay ikut ikutan belajar, apalagi saat nungguin Celin di villa yang mendatangkan guru orgen.


Ay selain otaknya cerdas juga terampil, semuanya itu karena didikan bibi dan paman yang menuntut kerja, kerja dan kerja.


" Uuufff, mas Raihan nyanyinya selalu saja ngelirik Ay, jangan jangan ada sesuatu diantara mereka, kan, mas Raihan Dosen Walinya, kok, hatiku tidak suka sih," Raditya menghembuskan nafasnya cukup keras.


" Ay, kamu nyanyi lagunya Didi Kempot, aku iringi pakai guitar," pinta Raihan mendekati Ay, dia sedikit merajuk.


" Kok, Pak Raihan beda, enggak kayak biasanya," batin Ay.


Walau tak bisa berbahasa Jawa, tetapi lagu yang di sodorkan sering di nyanyikan di rumah Rosa sehingga tidak merasa kesulitan.


" Waahhh, mahasiswi sama Dosennya kompak nich nyanyinya," ceplos Raihan, sambil tersenyum, ia dihatinya ada rasa tak menginginkan kekompakan pada keduanya.


" Sering nyanyi bareng mas, di kampus?" tanya Kiara sedikit manja ke Raihan, tetapi ia melirik ke Ayana dengan tatapan menghujam.


Ay tidak takut pada sikap Kiara yang selalu memusuhinya.


" Cocok kalau jadi Mamanya Lian juga kok, " lanjut Kiara, Raihan tertawa, dan Ay kaget lihat tertawanya Pak Raihan.


" Mengingatkan saat ia mentertawakanku," guman Ay.


Malam semakin larut, keluarga semua masuk ke kamar yang sudah disediakan, mereka datang dari jauh, Tante dan Oom dari Papanya saja datang dari negeri Belanda, karena Omanya asli keturunan Belanda, cuman hidup di Bogor, mereka semua orang orang sukses terutama dalam bisnis.


Ayana merasa rendah diri hidup di kalangan keluarga Raditya, sehingga ia tidak berani buka suara, kecuali karena disuruh nyanyi.


Ayana membawa Raditya ke kamar diikuti oleh Kiara.


Raditya membayangkan Ayana dan Kiara tetap menjadi istrinya, lalu keduanya bisa berjalan bareng kayak yang dilihat sekarang, tak sadar ia tersenyum senyum sendiri.

__ADS_1


" Mas, ngapain kok senyum senyum sih?" tanya Kiara yang memegangi tangan kirinya.


" Bayangin kamu sama Ay, berbaikan," ceplos Rahditya nyengir.


Malam ini suasana hati Raditya bisa cepat berubah.


" Maksudmu?" desak Kiara mulai kesal.


" Ya, seperti sekarang tidak saling memojokkan, Ay harus banyak mengalah ke Kiara," kata Rahditya, karena Ayana sebagai istri pertama yang dinikahi walau usianya beda jauh dengan Kiara.


Ay kesal juga dengar omongan Raditya.


" Apa apaan sih lelaki ini, kok ngomongin gitu," guman Ay.


" Terus Mas, mau mendua? nyadar donk Mas, kaki saja enggak bisa untuk jalan, " desak Kiara.


" Iya kan, Ay yang ngerawat, kamu jadi lebih ringan, coba kalau cuman kamu saja, tentu kecapaian jadinya, apalagi kamu juga tidak bisa merawatku kaya Ay," kata Raditya.


" Enggak Mas, mendingan wanita ini jadi istri mas Raihan, jadi kalau kamu butuh perawatan darinya lebih dekat.


" Ay tentu tidak mau kalau sudah jadi istri mas Raihan, kan, tidak boleh lagi bersentuhan denganku," kilah Raditya.


" Mas, kau harus menceraikan wanita ini, aku tidak mau di dua, di tiga ataupun di empat, titik!" serang Kiara di depan Ayana yang sedang membantu melepas celana panjang Raditya.


" Mas, kayak enggak ada laki laki lain yang mengharapkanku."


" Ay, kamu ngomong apa? awas kalau sampai ngomong lagi kayak gitu, mulutmu ku...." Raditya tidak meneruskan kata katanya, karena Ayana buru buru ke kamar mandi.


Raditya kesal hatinya melihat Ay tidak menghormatinya, ia merasa di rendahkan olehnya, sehingga ia sangat geram.


Ayana ke kamar mandi mau ganti baju baby doll, biar lebih tidak kesulitan untuk merawat Tuannya.


Saat Ayana masuk ke kamar lihat Kiara menggunakan lingeri yang mempertontonkan tubuhnya, sehingga ia cepat cepat mengambil busa di kursi kayu yang untuk tidur dirinya, akan diboyong ke teras.


" Ay, mau dibawa kemana?" sergah Raditya kesal.


" Apa otakku harus terkontaminasi dengan perbuatan kalian," balas Ayana tak kalah sengit juga.


" Ay, kamu sudah berani sama suami? tidur di dalam!" tandasnya kesal.


Ayana yang terbiasa patuh kalau sudah dibentak, akhirnya mengembalikan kasur ke kursi kayu panjang, lalu ia merebahkan tubuh dengan menyelimutinya rapat rapat.


Ayana sudah sangat ngantuk, maka ia tidak mendengar kedua orang yang belum syah sebagai suami istri tidur di satu ranjang.

__ADS_1


Suara Adzan terdengar sayup sayup ditelinga Ayana, ia yang masih menutup dirinya dengan selimut, mengerjap ngerjapkan matanya, lalu membuka mata dan bangkit, kedua kaki ia jejakkan ke lantai, matanya tak sengaja bersibobok dengan mata Raditya yang tubuhnya sedang di peluk sama Kiara, ia cepat cepat memalingkan wajahnya.


" Ay, aku mau duduk," pinta Raditya, ia menyingkirkan tangan kecil Kiara yang menggelayut di atas perutnya.


" Bentar, aku ke kamar mandi dulu," ucap Ayana, telapak tangan kanan ia tutupkan ke mulut.


Ayana cepat cepat menyudahi kegiatan di kamar mandi lalu menuju ke tempat tuannya berbaring.


" Biasanya duduk di kasur bisa sendiri, kenapa ia minta di bantu?" gerutu Ayana, dan matanya selalu dipejamkan.


" Uuppps, " tangan kecil Ayana yang terbiasa bekerja keras mengangkat tubuh tuannya yang lebih besar, sementara Kiara menggeliat tidak menyadari Raditya nantinya bisa saja lebih nyaman dengan Ayana yang selalu siaga menjaga seperti pada Celin.


" Mau ke kamar mandi, " pinta Raditya, Ayana telah merapatkan kursi roda di bed, setelah Raditya duduk di kursi, Ayana membantu memundurkan posisi duduk Raditya, dan kedua tangan Raditya selalu dilingkarkarkan ke leher Ayana saat kedua tangan kecil itu melingkar ke pinggang Raditya lalu mendorong ke kamar mandi, menempatkan ketempat biasa, dengan selalu bolak balik keluar masuk kamar mandi.


" Tuan, mandi bersih, benarnya tuan jangan lakukan dengan Kiara, abis belum resmi, " karena suasana hati Raditya sejak tadi malam lebih ke Ayana, ia tidak kesal dengan nasehatnya, malahan menurutinya.


" Bareng menjalankan kewajiban pagi Ay, " ajak Raditya, Ayana mengangguk, setelah mengantar tuannya ke kamar Ayana ke kamar mandi lagi, dan melaksanakan kewajiban bersama, sementara Kiara masih tidur dengan nikmat.


" Laptop nya Ay, dibawa kesini, " pinta nya, karena mau mengerjakan pekerjaan kantor di meja kerjanya.


Dan Ayana menuju ke teras dengan membawa modul mata kuliah hari ini untuk di baca.


Udara segar pagi hari yang menyeruak di teras, ia hirup kuat lewat hidung lalu dihembuskan kasar dengan mulut, sampai beberapa kali.


Sedang bintang timur yang sering ia lihat dipagi hari ikut menghiasi langit yang sudah muncul semburat sinar orange di timur.


Duduk di kursi membuka lembar demi lembar modul hari ini, otak yang kemaren siang sampai malam penat, di pagi hari serasa segar, karena ia bisa tidur dengan nyenyak.


" Ay, aku buatkan minuman teh hangat, sama ambil roti kering di toples lalu dibawa kesini," pintu kamar menuju teras di buka Raditya.


Ayana menuju ke dapur kering yang menyatu dengan rumah utama.


Dia dikejutkan oleh sosok tinggi di belakangnya.


" Ay, aku sekalian dibuatkan, " pinta Raihan yang sudah dibelakangnya, Ayana menuruti, lalu diletakkan di nampan dibawa ke ruang tengah, sambil mengambil toples.


" Gimana Ay, pengalaman tidur sekamar ngeliat tuanmu sekasur dengan wanita lain? " ucap Raihan tanpa senyum. Ayana sangat gugup dengan ucapannya, dan ia tidak mampu menjawab seolah mulutnya terkunci rapat lalu ia cepat cepat masuk ke kamar tuannya, apalagi Raditya telah memanggilnya, bahkan Raditya yang telah membuka pintu kamar melihat Ayana bersama dengan Raihan di ruang tengah sedang menyodorkan gelas teh.


" Kok, hatiku tidak suka lihat pemandangan itu, " gumannya lalu ia memutar kursi roda kembali ke teras dengan wajah memanas.


" Kamu itu tugasnya melayaniku," ucap Raditya kesal.


" Tapi ia dosenku tuan, " ucap Aruna.

__ADS_1


" Dosen kalau di kampus, kalau di rumah bukan dosenmu, bisa saja kamu abai padaku, " jawabnya ketus.


__ADS_2