
Ayyana POV
Kini aku harus sendiri kembali di apartemen mewah, karena Rosa telah kembali ke apartemennya, dan agar aku tak banyak bengong maka berusaha membuat kesibukan dengan membersihkan seluruh ruangan dari mulai mengelap semua perabotan, menyapu sampai mengepel, karena sejak apartemen ini dihuni oleh ku maka semua tugas mba Marni dilimpahkan padaku. Memang aku sendiri yang memintanya, karena aku tidak ingin hanya berdiam diri, itu akan membuat aku sulit menghilangkan kesedihan hati, siapa tahu hari hari diisi dengan kesibukan duka lara akan hilang.
Dan tak lupa aku selalu berkomunikasi dengan bibi, paman serta mba Hanifah juga mba Marwah, kebetulan punya grup keluarga. Semua yang kulakukan hanya untuk menghilangkan bayangan mas Raditya, cuman masih sangat sulit wajah itu pergi dari kedua bola mata ini.
" Aku percaya dengan berjalannya waktu masalah yang sedang dihadapi ada jalan keluar, atau bahkan akan lebih indah pada waktunya, tidak hanya tentang perjodohan ku dengan mas Raditya tetapi adikku yang sudah bertahun tahun hilang, berharap bisa bertemu, " batinku sambil mengepel lantai dengan peluh bercucuran, karena AC sengaja tidak kunyalakan.
Ponsel selalu berbunyi dengan getar, aku tetap bekerja, sebab itu notifikasi sehingga tak perlu buru buru melihatnya.
Cuman dihati lebih banyak berharap itu notifikasi dari nomer mas Raditya.
" Uuufff, Ayy, kamu tahu diri donk, jangan berharap menjadi seorang putri, bukankah ingin mengenyahkan lelaki itu, kalau tetap mengharapkannya, tahukah resiko yang harus kamu hadapi, " hati ini terus saja berucap, dengan perasaan perih kayak diiris iris pisau, sehingga jari jemari ku yang terbiasa bekerja keras ditekan tekankan ke dada.
Semua telah bersih, kaki melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air mineral, karena tenggorokan terasa kering, serta mengambil beberapa biji buah anggur di kulkas.
" Bibi, Paman, aku jadi ingat kamu, tak pernah kita mampu beli buah seperti ini, sehingga nyaris tak pernah makan, kecuali aku di kasih sama Maminya Celin.
Hari di akhir pekan yang melelahkan harus kulalui di apartemen mewah, dan dengan langkah pelan kaki ini menuju ke kamar, lagi lagi tubuh ini kududukan ke lantai dengan kepala bersandar pada sisi kasur.
Masih enggan untuk meraih ponsel di nakas yang berkali kali berbunyi oleh notifikasi pesan, rasanya aku masih tertarik melihat langit siang hari disisi barat.
Sampai terasa penat tubuh ini, baru bangkit lalu mengambil ponsel di atas nakas.
Dan kuusap layar kaca, mata melihat notifikasi.
" Uuufff, pesan dari Mas Raditya mendominasi layar ponsel, juga panggilan," batinku.
Pesannya hanya bertuliskan " kangeeennnn, aku harus berjuang sendiri," dan tentu aku tak berani membalasnya, karena ada Kiara disampingnya.
Berkali kali aku baca pesan dari Mas Raditya, sampai mengabaikan chat dari Mba Hanifah sama Mba Marwah.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Panggilan video dari Mba Marwah.
" Assalamu'alaikum," suara Mba Marwah yang bening.
" Waalaikum salam, Mba," tubuhku ngelunjak karena sangat girang lihat wajah kakakku.
" Kemana saja sih kamu, bisa bisanya chat ku enggak ada yang dibaca, ada titik terang lho Ay tentang adikmu Calla, tuh baca kirimanku, juga kamu bersahabat sama Calla di fb, " desaknya disana.
Setelah diakhiri sambungan vidcall, maka dengan gerak cepat kubuka fb.
__ADS_1
" Emmm, Calla mengajak pertemanan dengan ku sudah lama, cuman aku tak sempat membukanya, sehingga aku belum mengkonfirmasi, " batinku, maka jari ini sebelum membalas pertemanan aku membuka buka dulu kirimannya, terutama foto foto cewek yang pakai nama Calla.
" Ada kolase fotoku dengan Calla, adikku kah? dia mirip sama diriku," gumanku lalu ajakan pertemanan, ku terima, dengan jari menyentuh kalimat konfirmasi. Jadilah aku berteman dengan Calla, dan aku berdoa semoga ini adikku yang puluhan tahun hilang, yaitu sejak kedua orang tuaku wafat.
" Hmmm, Calla lagi on, bahkan sedang menulis di kiriman foto ku bersama Rosa yang sedang sarapan pagi, ia bahasa Indonesia masih dicampur dengan bahasa Inggris," gumanku.
Selanjutnya hati ini sangat tertarik untuk membuka buka kiriman serta teman temanya.
" Calla sangat membatasi pertemanan juga kayak aku, dan lho ini ada foto bibi Yeyen bersama Calla kecil, dia saudara jauh ibuku yang sejak beliau wafat tak pernah bertemu, bahkan sampai sekarang aku juga tidak tahu bi Yeyen berada, " batinku lagi.
Aku menghubungi Mba Marwah serta Mba Hanifah, dan katanya Calla ingin datang ke UK menemui kedua kakakku.
Kami bertiga masih hati hati untuk mengutarakan sedang mencari adik yang bernama Calla, hanya untuk berjaga jaga saja dari orang orang yang akan memanfaatkannya, dan aku berpikir si profil bernama Calla juga tidak menulis pencarian keluarga, mungkin bersikap kayak aku, serta Mba Marwah juga Mba Hanifah atau memang bukan adik yang kucari.
Aku mencoba men vidcall pakai aplikasi messenger di siang ini, tentu sudah bangun, karena kata mba Hanifah tadi matahari sudah muncul.
Lama tidak diangkat ponselnya, dan sampai satu menit belum juga diangkat sehingga kumatikan ponsel.
" Aku perlu ngomong sama mba Marwah, " batinku, lalu aku mencari aplikasi warna hijau, terus jari jari kecil yang sangat kuat menyentuh huruf demi huruf, kemudian sentuh kirim.
" Mmmm, mba Marwah langsung mengetik, " batinku.
Ternyata jawaban Mba Marwah sama dengan ku, profil Calla tak mau menerima vidcall. Sebenarnya sangat kecewa, tetapi aku jadi berpikir negatif tentang profil Calla, mungkin seseorang yang mau memanfaatkan Mba Marwah serta mba Hanifah, bisa bisa profil ini seseorang yang kami kenal, serta tahu masalah hilang nya Calla.
Kusudahi chat dengan kakak kakakku, karena mereka mau bersih apartemen, pekerjaan rutinitas di liburan akhir pekan.
*
Calla POV
Aku menggeliat dari tempat tidur, lalu bangkit perlahan dengan menggerakkan tubuh, yang biasa kulakukan setiap bangun tidur, biar otot otot menjadi lebih lemas. Dan kuraih ponsel di nakas, kemudian mengusap layar.
" Waoo, notifikasi pertemanan diterima oleh Ayyana, " batinku berbinar binar.
Drrt drrt
" Terima atau tidak ya," gumanku dengan tangan gemetaran, malahan keringat dingin terasa di telapak tanganku.
Aku masih belum siap untuk bertatap muka walau jarak jauh, sehingga memutuskan untuk tidak menerima vidcall Ayyana.
Disamping itu aku juga perlu hati hati, untuk menghindari pemanfaatan orang, juga belum tentu itu saudara ku, karena kata orang tua angkat, aku anak bu Yeyen satu satunya. Tetapi aku berpikir bisa terjadi mereka bertiga anak anak dari kakaknya Bu Yeyen.
" Alena, sudah bangun sepagi ini, kamu kayak lagi mikir, " ucap Mama tiba tiba, tanpa ku dengar suara pintu kamar dibuka.
__ADS_1
" Iya sedikit berpikir Ma, " akupun cerita tentang pertemanan diterima oleh Ayyana, dan Mama sependapat dengan ku, supaya hati hati, karena tujuannya mencari ibu, yang kutahu bernama Bu Yeyen.
" Kapan kamu mau menemui Hanifah sama Marwah di UK? " tanya Mama.
" Paling kalau liburan, dan aku belum langsung menuju sasaran untuk mencari orang tua kandung kok Ma, jadi harus melalui proses waktu, " kataku.
" Ok, aku salut sama kamu, " jawab Mama.
" Abis aku kasihan Mama sama Papa cari uang, hanya dihabiskan untuk keperluan ku saja, " kataku, lalu tubuh ku gelayutkan ke tubuh besar Mama, rambutku di elusnya.
" Mama, terimakasih kau telah membuat ku hidup lebih layak, juga kasih sayang kalian padaku, seperti layaknya anak sendiri, " kataku, air mata tak terasa mengucur dari dua bola mataku.
Mama tak mampu menjawab ucapan ku, hanya mampu mengelus elus rambut kepala ku. Kali ia juga menangis, sebab aku tak bisa melihat kedua mata birunya, walau aku menengadah tetapi mataku ini nanar ketutup oleh air mata.
Lalu jemari putih yang besar serta lentik ia usapkan di bola mataku.
" Sudah, yuk bikin makanan untuk sarapan pagi, " ajak Mama. Aku terbiasa membantu Mama di dapur, sehingga sudah bisa buat makanan, makanya Mama tak gelisah kalau pergi keluar kota bersama Papa.
*
Marwah POV
" Mba, Ayyana sekarang sudah tak lagi di rumah besar, ia disuruh untuk menempati apartemen, kelihatan mewah ya apartemen nya, " kataku.
" Sebenarnya kita bisa kirim uang untuk nambah bulanan, tetapi dasar dia tak mau diam," ucap mba Hanifah, terlihat ada duka diwajahnya, dia tentu kepikiran Ayyana selalu dapat perlakuan tak baik terutama oleh Clara cs.
" Mba, sebenarnya kita tak perlu khawatir, kan, banyak temannya yang melindungi, malah nich, majikannya kirim 2 orang untuk pengawal, " kataku.
" Syukurlah majikannya baik hati, " jawab Mba Hanifah, lalu ia sibuk beberes apartemen yang kami sewa.
" Oh iya Mba, itu yang teman baru kita Calla, dalam hati aku percaya adik Ayyana yang lagi kita cari," kataku.
" Aku juga sependapat, atau kita saja yang kesana, nanti kita atur ketemuannya," kata Mba Hanifah. Dan aku setuju pada idenya.
" Cuman kita harus waspada," jawab ku, Mba Hanifah mengiyakan.
Sambil ngobrol pekerjaan tahu tahu telah rampung, maka kami berencana mau jalan keluar, untuk mendinginkan otak yang selama sepekan sangat penat.
" Mba, kita jangan terlena cari uang terus, paling tidak mba Hanifah sudah mulai mikir pasangan," kataku.
Dan aku tahu, Mba Hanifah lagi didekati cowok dari Jawa Tengah yang kerja bareng.
" Iya donk," jawabnya singkat, abis cowok yang lagi diceritakan datang.
__ADS_1
Dan aku kadang nguping obrolan mereka, katanya kalau pulang kampung mereka langsung mau menghalalkan.