
Author POV
Udara yang sangat dingin tidak dirasakan oleh Ayyana, ia berkali kali mendesak pada kedua kakaknya tentang wafatnya Ayah Bunda.
" Ayy, aku juga tidak tahu itu, bukan kah kita saat itu masih kecil, sehingga tidak mendengar berita itu, kita tahunya kan, kecelakaan, " ucap Hanifah sedih.
" Bapak serta ibu kita sampai sekarang juga tak pernah cerita, beliau hanya nyuruh kita agar selalu mendoakan, terutama kamu Ayy, " ucap Marwah sedih juga, apalagi ingat saat Ayyana kecil sering murung.
" Iya mba, makasih selalu memberi semangat padaku, tanpa kalian semua aku sudah entah menjadi apa, mungkin gilaa atau telah mengakhiri hidup, " ucapnya dengan tangis lirih, Calla mendengar bincang bincang mereka hanya hatinya tidak tergerak untuk punya rasa iba, ia tetap saja berpikiran apapun yang Ayyana lakukan hanya ingin cari simpatik padanya.
" Uuufff, acting saja cewek ini, paling hanya ingin membuatku mengakui sebagai adik nya, no way, " gerutu Calla sengaja pakai bahasa Indonesia, membuat hati Ayyana semakin terluka.
" Kekerasan hati Calla hanya bisa dilunakan oleh pengakuan bi Yeyen, " batin Ayyana, yang telah percaya kalau cewek bernama Alena adiknya Calla.
Masih saja mereka berada di luar dengan diterpa udara dingin, demikian sikap yang ditunjukkan oleh Alena terutama pada Ayyana, masih tetap kaku.
" Alena, bolehlah kamu belum bisa mengakui Ayyana sebagai saudara kandung, habis tidak ada bukti paling tidak test dna, tetapi kami percaya kalian masih ada ikatan darah, karena bi Yeyen masih saudara ibunya Ayyana, " ungkap Hanifah pelan, bibirnya menyungging senyuman.
" Calla, benar kata mba Hanifah, aku juga enggak memaksa kamu untuk mengakui sebagai kakak kandung, " tandas Ayyana dengan mata berembun.
Tetap Calla tidak bereaksi, dan males menanggapi lalu ia bermain main sama orang tua angkatnya, serta menunjukkan kalau ia lebih bahagia bersama keluarga angkatnya.
Waktu sudah sore, maka Hanifah sebagai yang dituakan mohon pamit untuk segera ke Bandara, dan matanya tidak sengaja melihat tempat parkir mobil.
" Uuff, mobil itu tetap mengikuti kita," ucap lirih Hanifah dengan perasaan sangat gelisah.
Dan Ayyana tidak begitu memperhatikan karena ia dapat telfon dari Raditya.
" Ayy, aku nyusul, abis enggak kuat nahan rasa kangen, " ucapnya di depan layar ponsel, ia sengaja menvidcalnya, cuman Ayyana tidak begitu memperhatikan background di layar ponsel Raditya, Ayyana masih kepikiran oleh sikap Calla yang tidak mau berakrab akrab dengannya.
Tetapi ia tetap memberi senyuman manis, paling tidak rasa duka hati menjadi terobati oleh suara Raditya.
" Ahh, kamu jangan membohongi aku donk Mas, " ucapnya lirih, ia tidak ingin komunikasinya terdengar oleh yang lain, makanya ia menjauh dari mereka.
Tetapi Hanifah serta Marwah berusaha waspada sehubungan dengan menguntitnya mobil hitam di dekat tempat berkumpul.
Sementara Ayyana yang terluka oleh sikap Calla, menjadikan hatinya butuh sandaran, satu satunya ialah Raditya yang bisa menguatkannya.
" Kamu enggak percaya, aku tuh tahu tentang keberadaan mu, " jawabnya tersenyum manis.
" Please Ayy, jangan lama lama menjauhiku, membuat aku tidak semangat kerja klo enggak ada kamu, " bilangnya lagi, dan ia sudah berani untuk mengungkapkan isi hati, dikala dirundung rindu.
__ADS_1
" Hmmm, berarti kamu ngebohongin aku kan, Mas, " ucap Ayyana lalu mengakhiri vidcallnya karena sudah diajak Hanifah untuk segera ke Bandara.
Kebayang wajah Raditya di depan mata, rasa kangen pun terasakan juga di lubuk hati, ia berangan disaat hati yang sangat terluka oleh ketidak pengakuan Calla padanya, datang penghibur hati yaitu Raditya, di negeri jauh Ayyana tak memikirkan tentang aral melintang pabila berhubungan dengan Raditya, wajah sendu Ayyana terpancar jelas, membuat kedua kakaknya menjadi iba.
" De, berdoa saja insyaallah suatu hari Calla akan tahu kebenarannya, apakah ia adikmu atau memang anak bi Yeyen, cuman kamu harus ikhlas klo Calla itu ternyata anak bi Yeyen, kita harus berjuang terus mencarinya, " ucap panjang Hanifah, dengan hati yang selalu saja gelisah oleh mobil yang terus mengikuti jalan mereka untuk menuju stasiun.
" Kita harus dalam formasi yang tidak sampai menjauh, " seru Marwah yang juga gelisah, mereka percaya mobil itu didalamnya sedang mencari kelengahan berdua, lalu orang didalamnya keluar dan menyeret Ayyana untuk dipaksa masuk ke mobil.
" Ayy, kamu nyadar enggak sih, tuh mobil yang mengikutin kita terus, " ucap Hanifah menggandeng erat tangan Ayyana.
" Iya mba, tapi aku kan, dikawal sama kalian jadi lebih tenang, " ucap Ayyana yang sedang kangen sama Raditya.
" Dasar kamu, makanya sering kecolongan sama si Clara, " ucap Hanifah kesal.
Sementara terbersit di otak Ayyana tentang makanan yang kasirnya bilang gratis.
" Uuupp, jangan jangan Raditya ada disini atau ia yang bayar makanan yang kupesan tadi, " batin Ayyana sampai ia mikir kalau mobil yang terus menguntit itu Raditya. Tiba tiba tergerak hatinya untuk menelpon Raditya. Tetapi ia sadar di kanan kiri ada saudaranya sehingga niatan itupun diurungkan.
Dengan terengah ketiganya sampai di stasiun, dengan hanya bawa jajanan khas Jawa yang tadi sengaja beli di tempat makan, dan lagi lagi gratis.
" Aneh mba, beli makanan gratis terus, " ceplos Ayyana.
" Aku kok kerasa ada yang bayarkan jajananku, jangan jangan memang yang nguntit terus itu Raditya dengan pengawalnya dua orang, uuuppp rasanya aku ingin bersamanya, cuman tak mungkin ku utarakan padanya," batin Ayyana, bibir sedikit tersenyum.
Dan setelah berada di pesawat pun ketiga cewek tersebut tidak menyadari sepesawat dengan orang yang mengikutinya, agak jauh memang duduknya.
Di pesawat Ayyana masih tetap kepikiran Raditya, ia memang lebih baik membayangkan Raditya dari pada Calla.
" Uuppp, aku harus buang duka hati, telah melintasi benua harus kubuat hati ini enjoy, satu satunya bergembira dengan kedua kakakku atau disaat sepi mikir pada lelaki yang telah mengisi jiwaku ini, kayak sekarang di pesawat yang semua penumpang tak banyak berbincang, hampir semua tenggelam dalam pemikiran masing masing, seperti ku mungkin, " batin Ayyana sambil menerawang membayangkan Raditya, lalu menggerakkan sedikit bibir indahnya.
" Uuuppp, dia persis kayak Raditya, " pekik lirih Ayyana lalu ia menutup mulut dengan telapak tangan kanannya.
" Benar aku hafal bentuk punggungnya, " batin Ayyana bermekaran, ia memang tak melihat wajah, tahu tahu melintas di lorong sebelahnya dan hanya mampu melihat punggung yang sangat kokoh, ia telah bisa berjalan dengan normal tanpa bantuan alat penyangga.
Ayyana berharap saat turun dari pesawat dia berjalan mendekatinya sehingga bisa bareng dengannya.
" Tapi enggak enak hati sama kakak kakak ku, uuupp aku tetap harus bersandiwara, untuk tetap menutupi klo telah dinikahi sama CEO yang cakep, " batin Ayyana pura pura ketiduran, walau hati bergemuruh, oleh karenanya saat lelaki yang di kira Raditya kembali ke tempat duduk, Ayyana tidak tahu wajahnya, cuman lelaki itu saat dekat dengan tempat duduknya memegang sandaran kursinya yang sedang dijadikan senderan kepala Ayyana dengan posisi miring ke arah berlawanan.
" Aduuh ngapain aku tak memiliki keberanian pada lelaki yang selalu dirindukan, uuuppp benar benar hati ini kesiksa, " batinnya kesal pada diri sendiri.
Sampai ada pengumuman dari pramugari untuk bersiap landing.
__ADS_1
Beberapa menit pesawat telah mendarat sangat hati hati dengan cuaca yang ekstrim.
Semua penumpang keluar, Ayyana mencoba menengok kebelakang berharap tadi yang hanya melihat punggungnya benar benar Raditya.
" Uffff, ternyata hanya khayal ku saja, tak ada orang dengan etnis sama denganku, hampir semua yang keluar dari pesawat para bule, " batinnya seketika wajahnya berubah sedih.
" Akankah halusinasi ku saja, hanya karena aku merindunya disaat hati penuh rasa kecewa oleh sikap Calla, mungkin ini juga pelarian ku agar aku tetap semangat menjalani hidup, " pikirnya dengan raut wajah sedih.
Berjalan bertiga menuju kereta, masih saja kepala Ayyana di tengokkan ke kanan kiri, untuk mencari Raditya karena perasaannya ia tadi bareng di pesawat.
" Ayy, kamu kok, seperti nyari nyari seseorang, ingat Ayy tak nyadar klo kamu di Belanda telah diikuti tiga orang yang berwajah seram, " ucap Hanifah dengan perasaan masih tetap tidak tenang.
" Klo aku ngliatnya dua orang Mba, " jawab Ayy menjadi gusar juga, ia kebayang lagi tentang orang suruhan suami Hana, cuman tentu bukan orang sebangsa dengannya tapi paling orang bule.
" Mungkin yang satunya masih tetap di mobil, " jawab Marwah getir, ia bingung Ayyana besok di apartemen sendirian.
" Besok mendingan kamu ngikut aku kerja Ayy, dari pada sendirian abis kami khawatir ada orang jahat, " ucap Marwah kembali.
" Hari berikut ngikutin aku, pokoknya kamu tak boleh sendiri, " tandas Hanifah cocok dengan ide Marwah.
Ayyana tidak merespon permintaan kedua kakaknya yang over protektif.
Naik kereta bawah tanah maka tak melihat pemandangan hamparan salju, dan tahu tahu sampai ke stasiun yang dituju, lalu naik car online untuk ke apartemen.
Mereka lagi lagi tak sadar ada mobil yang mengikuti sampai ke apartemen.
Drrrt
" Ada notifikasi dari Raditya, " batin Ayyana, ia pengin sekali membukanya, hanya belum ingin rahasia diketahui oleh saudaranya.
Sempat Marwah menengok ke arah ponsel Ayyana, serta membaca nama pengirimnya.
" Raditya, " batin Marwah penasaran, ia ingin mendesak tentang nama itu.
" Hmmm, bukankah nama itu yang kata ibu beli tanah di kampung, ia kan, CEO dari perusahaan yang kata Ayyana habis kecelakaan dan dirawat oleh Ayyana, jangan jangan ia telah jatuh hati pada Ayyana," batin Marwah.
" Ayy, majikan mu tadi yang kirim pesan, " ucap Marwah.
" Iya Mba, beliau biasa suka nanyain kesehatan ku, " jawab Ayyana, biar tak banyak ditanyain, sehingga asal ngomong.
" Nanya kesehatan atau kangen, " selidik Marwah.
__ADS_1
" Ahh mba, beliau kan, ingin aku tetep sehat, biar bisa ngerawat terus donk, " ceplos Ayyana.
Lalu ketiganya menghambur ke kasur setelah masuk ke dalam apartemen, untuk melepas lelah.