Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 7 Ayana Menangis


__ADS_3

Ayana POV


Ruang 9 mulai panas seiring dengan waktu merangkak maju, masih hening ruang ini karena Pak Raihan masih ada di kursi kebesaran sedang memasukkan laptop ke ransel.


Aku tak mempedulikan lagi pada kesibukan Pak Raihan, juga teman yang lain dengan membantu mencopot kabel pada laptop seperti saat aku masih berseragam abu abu putih, selalu saja membantu guru yang mengajar pakai media yang sama dengan kuliah.


Lalu tidak sengaja aku melihat aktivitas Pak Raihan yang mau keluar dari ruang 9, matanya yang tajam bagai mata elang bersibobok dengan mataku, sempat jantung seperti mau lepas.


" Iihhhh, kok orang nya nakutin banget sih Pak Raihan, matanya kayak nyimpen dendam padaku, " tiba tiba aku menjadi takut dengan cita citaku yang bisa kandas oleh sikap yang membuat Pak Raihan tak berkenan, tak ku sadari keringat dingin mulai membasahi tubuh. Telapak tangan kasar ku tekkan lalu untuk mengatasi kegalauan hati meletakkannya di wajah.


" Uuufff," dadaku mengap mengap oleh sikapku padanya dari sejak kemaren sampai tadi serasa ada di depan mata.


" Akan kah cita cita ku kandas oleh kesalahan pada Pak Raihan?" di batok kepala penuh dengan bayangan tentang sorot mata Pak Raihan, menimbulkan ketakutan, tetapi aku yang terbiasa hidup dengan berbagai kesulitan, harus mampu mengatasinya.


Dan tidak ingin kegelisahan dihati ke tiga teman baruku tahu, oleh karenanya aku tetap menjadi diriku sendiri, yaitu tegar, kuat kalau bisa jangan menangis.


" Ay, ke kantin yuuk," ajak Rosa yang disetujui Lisa dan Aninda, aku dengan uang terbatas juga tak terbiasa ke kantin sejak sekolah, menolak ajakkan Rosa.


" Sa, aku enggak ikut ya, kebetulan aku juga bawa cemilan, mau nich," aku membuka ransel, untuk menunjukkan cemilan yang dibawa di bungkus plastik.


" Aku tadi pagi belum sarapan Ay, jadi ingin makanan berat, ayoo lah, nanti aku yang bayarin," aku tetap menolak ajakkan Rosa, akhirnya mereka bertiga ninggalin aku di taman depan kelas sendirian sambil makan cemilan.


" Ayana, nanti di ruang 12 ya, kita kesana sekalian," ada dua teman baru cowok cewek ikut duduk di kursi kursi yang kududuki, aku tak lupa nawarin cemilan pada dua teman baruku yang telah mengenalkan diri yaitu Bella dan Oda.


" Enaak Ay, buat sendiri? " tanya Bella, sambil mengunyah makanan khas kampung.


" Iya, bibi yang buat, aku ngebantu," walau Bella tidak tanya, aku menjelaskannya.


" Kalau kamu pulang, aku pesen ya Ay, bisa untuk cemilan di kamar," pintanya.


" Hari Jum'at aku pulang, ikut saja ya ke kampungku, kalau akhir pekan banyak orang kota menuju villa, " Bella yang anak dari Jawa Timur tertarik pada ajakkan ku.


" Aku boleh ikut Ay, nanti pakai mobilku saja, " ucap Oda, aku diam, di hati ada perasaan tidak nyaman dengan kedua manusia di depan ku, takut kalau keduanya bukan hanya sekedar teman, nanti bermasalah.


" Ya sudah aku enggak ikut nginep di rumahmu, aku ngumpul saja sama keluarga, cuman kampung mu agak jauh Ay, " cerita Oga, aku mengangguk.


Mata kuliah berikut Agama, dan semua telah masuk ke ruang 12, aku duduk berjejer dengan Andina dan dua teman lainnya.


Lingkungan yang rindang dengan banyak pohon pohon besar, siang di luaran sana tentulah panas tetapi di lingkungan kampusku tetap sejuk, apalagi jatuh dimusim kemarau, lebih terasa dingin.

__ADS_1


" Ay, sama Andin, ikut aku sekalian pulangnya," ajak Rosa memaksa.


" Sa, pingin jalan karena ingin menikmati suasana kampus benarnya," ucap Andina, aku mendukung kata katanya.


" Besok ya, mobil aku parkir di depan sana, ok," aku sama Andina mengalah, aku di antar sampai depan gerbang kost.


Aku turun lewat pintu sebelah kanan, sambil nawarin Rosa sama Lisa mampir ke kost ku.


" Besok besok Ay, aku main ke kost mu," ucap Rosa sambil membuka kaca pintu, Clara yang baru pulang dari kampus, melihat aku diantar oleh mobil mahal dengan sopir yang lebih cantik dari Clara, iapun melengos.


Aku tetap berjalan di belakang nya dengan melambatkan langkah kaki.


Saat di anak tangga ia berusaha menghalangiku naik ke atas.


" Mba Clara, maaf aku mau lewat," pinta ku pelan.


" Ciumi dulu kaki ku, baru kamu boleh naik tangga," jawabnya dengan kaki bersepatu kets ia naikkan ke wajahku.


" Astaghfirullah, Mba Clara, apa salah ku?" ucap ku, telapak tangan ku takupkan ke dada.


" Aku tidak suka saja ke kamu, yang bau busuk," aku menciumi lengan baju sampai ke ketiak, perasaan tubuhku enggak busuk, aku percaya kalau bau busuk, mesti di kampus teman teman apalagi Pak Raihan menutup hidung.


" Mba, aku bisa menyampaikan sikap mu pada yang punya kost, kalau disini aku dipersulit kamu," tak takutlah aku, kan, disini juga bayar.


Clara ku lihat mundur dengan punggung bersender ke dinding tangga.


" Uufff, dikiranya aku lemah? aku bisa lah membela diri," gumanku.


" Awas kau, aku malas punya tetangga kamar yang tengil kaya kamu," ia mengayunkan tangan, aku yang telah waspada dengan berlari naik tangga untuk menghindar dari tamparannya.


Mba Hanifah sama mba Marwah memperhatikan dari balkon atas tangga, cuman mereka tak melerai.


" Ay, Clara itu iri sama kecantikanmu, Mba jadi takut kalau kamu merubah penampilan, Clara akan semakin tak suka padamu," ucap mba Marwah panjang.


" Iya Mba, aku insya Allah akan kayak gini dulu, kecuali kalau sudah bersuami, juga atas ijin suami ya mba," kataku.


Siang berganti malam dan ini terus terjadi tiada henti, kini Mba Hanifah sama Mba Marwah sudah satu bulan meninggalkanku, rasa rindu pada keduanya sering menggaung nggaung di relung hati, cuman aku tidak bisa berbuat apapun kecuali saling kirim pesan atau telfon.


Sikap Clara padaku tak juga berubah, ia tetap saja tak mau bersahabat denganku, demikian Pak Raihan, selalu saja ada jalan untuk mengerjaiku saat beliau memberi kuliah, sebenarnya sedih hati ini di jadikan bulan bulanan pelampiasan kekesalan Pak Raihan.

__ADS_1


Dan pada akhirnya setiap kali ada jam kuliah Pak Raihan, aku selalu saja menunduk, dengan duduk agak menjauh dari pandangannya, pikirku ia muak kalau melihat wajahku.


" Ayanaa, maju ke depan, " gertaknya, dengan perasaan tak menentu, bahkan telapak tangan ku yang sekarang sudah mulai halus karena tidak lagi bekerja keras membantu bibi dan paman, berubah menjadi dingin, kayak habis masuk ke frizer.


Aku mulai terseok seok jalannya karena tak mampu mengatasi gemetar di kedua kaki.


" Lihat nich tugas yang kamu kirim lewat email, ku beri waktu jam ini harus sudah di kirim, di luar kamu kerjanya," dengan membawa laptop aku menuju ke taman depan, kebetulan tidak hujan sehingga aku bisa menyelesaikan tugas, lalu di kirim ke email Pak Raihan.


Sebenarnya aku ingin meluapkan kesedihan dengan menangis, cuman aku sadar kalau hanya bersedih saja nanti malah tak bisa menyelesaikan tugas, bisa bisa Pak Raihan tambah marah.


Malam ini di kamar kost, aku meluapkan kesedihan hati, ingat pada Pak Raihan tadi pagi.


" Beliau muak melihat wajahku, dan sebenarnya tadi pagi dosen itu mengusirku dengan cara menolak tugasku, haruskah aku keluar saja kuliahnya, menerima Mang Tisna untuk jadi istrinya, hiks hiks hiks," aku menangis mengeluarkan semua duka hati, dan kerasa lega seharian merasakan hati yang lara.


Di kampus tiga temanku masih tetap baik padaku, bahkan Rosa kemaren ngajak ke mall, lalu aku di pilihkan beberapa pakaian.


" Rosa, aku sebenarnya di belikan baju kayak gini juga sama Mba Hanifah, cuman aku malu makainya, karena tidak terbiasa," ucapku panjang, dengan ucapan terimakasih.


" Ay, kita bertiga sebenarnya kasihan padamu, selalu saja dikerjain sama Pak Raihan, belum lagi sama Clara," ucap Rosa, kulihat matanya berembun.


" Mba, aku orang tak mampu...." aku tak berani meneruskan kata kata lainnya.


Dan Rosa sangat kecewa karena pagi tadi aku tidak pakai baju yang dibelikannya.


Otakku melalang buana saat meluapkan kesedihan.


*


Di luar terdengar langkah kaki, semakin dekat ke balkon kamarku.


" Benar Pah, ini kamarnya," terdengar suara lembut seorang wanita.


" Benar Ma, lantai dua nomer 15," suara lelaki.


Dan terdengar suara ketukan pintu tiga kali, aku yang masih pakai baju rumahan berlengan pendek, dengan tergesa gesa menggunakan hijab besar lalu keluar.


" Kamu Ay kan? " ucap Ibu yang sama sekali tak ku kenal.


" Ay, ikut kami, bawa Identitas mu, "aku berusaha menolak ajakkan orang yang tak ku kenal di hadapanku.

__ADS_1


" Kamu enggak mau nengok keluargamu," ingatanku pada Bibi dan Pama, tanpa berpikir aku mengikuti kedua orang itu turun dari kamar, lalu aku naik mobil mewah.


__ADS_2