Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 37 Raditya ke apartemen


__ADS_3

Author POV


Puluhan burung putih terbang di langit menjelang senja, dan memanjakan mata untuk melihatnya dengan rasa takjub.


Ayyana pun sangat bersuka ria setelah bisa nyambung dengan orang yang ia anggap itu adalah adiknya yaitu Calla. Ia bangkit mendekati jendela sambil memperhatikan langit orange di ufuk barat, dengan bibir mengulum senyum.


" Rasanya aku pengin terbang kayak burung bangau di langit itu, lalu aku dapat menjumpai adikku, saling peluk, atau aku segera menemuinya," batinnya, ia sesaat bisa melupakan Raditya, dan lebih fokus pada adiknya.


" Emmm, aku belum pernah ke luar negeri, kalau Rosa hampir setiap liburan, kali semesteran besok ia ke UK, nengok kakaknya, " batinnya, lalu ia chat ke Rosa. Dan betapa gembiranya kalau Rosa mau mengunjungi kakaknya, maka Ayyana disuruh siap siap melengkapi dokumen yang diperlukan untuk bepergian apabila mau bersamanya.


" Sa, cuman aku kalau disana ke apartemen kakakku, " pesan dari Ayyana lalu menceritakan ada titik terang tentang keberadaan adiknya.


" Kok bisa Ayy, adikmu ada di tempat jauh, " pesan dari Rosa.


" Itulah yang belum bisa kuceritakan sekarang, karena masih kemungkinan, tetapi kalau memang dari hasil test DNA benar adikku, aku berusaha tak mengungkitnya, yang penting perjuangan selama ini terutama keluarga Paman telah berhasil menemukannya, " pesan dari Ayyana.


" Benar deh, ambil aja sisi positifnya, klo adikmu tentu lebih terjamin ikut orang tua adopsi, " pesan Rosa.


Keduanya mengakhiri chat, karena waktu menunjukkan Maghrib lalu melaksanakan kewajiban, tak lupa sujud syukur dilakukan Ayyana serta doa kalau Alena itu adiknya yaitu Calla.


Sementara Raditya bisa berhati lega, setelah tak ada Kiara, ia telah kembali ke Australia dengan PR tentang perseteruan Papinya sama Papinya Dio, yang sudah terjawab oleh pemberi tahuan Pak Faisal, cuman Kiara masih belum mampu bicara pada Papinya.


Raditya malam ini berniat menghubungi Ayyana, hanya kedua orang tuanya masih mengajak berbincang di kamar.


" Pi, aku ngantuk, besok mau meeting," ucap Raditya, tetapi yang ada di hati rasa kangen pada Ayyana, karena selama ada Kiara hampir satu pekan tak bisa chat apalagi ketemu.


Ia punya ponsel khusus untuk menghubungi Ayyana dan Kiara tidak tahu.


Kedua orang tuanya keluar kamar, setelah beberapa kali Raditya juga menguap.


Ia mengantar dengan menggunakan kursi roda pada kedua orang tuanya sampai ke pintu kamar, lalu di kunci dari dalam.


Diambilnya ponsel yang tersimpan di tempat khusus, lalu menghubungi Ayyana.


" Assalamu'alaikum, Ayy, aku kangen, besok aku datang ke apartemen kamu, " pesannya.


Ia menunggu chat dibaca, dengan berkali kali layar ponsel dilihatnya.


" Please Ayy, buka donk pesan ku, " batinnya, ia tak sabar menunggu centang biru, lalu berharap dibales.


Dan Raditya sambil rebahan berkali kali mengusap layar ponsel lalu melihat chat ke Ayy.


" Mungkin Ayy sudah tertidur, semoga besok pagi di buka, lalu membalas chat ku, " guman Raditya, lalu matanya ia penjamkan, agar bisa tertidur.

__ADS_1


Sementara di luar kamar di rumah besar Raditya sudah sepi, hanya suara detak jam dinding, juga binatang malam serta di jalan masih terdengar deru mobil, lalu iapun tertidur, dengan otak yang selalu penat, baik oleh urusan pabrik maupun rasa kangen pada Ayyana.


*


Ayyana POV


Aku terus mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh saudara angkat ku di negeri kincir angin, bersama Calla beserta orang tua angkatnya. Calla masih belum bisa menganggapku kakaknya, ia tetap ingin mencari bi Yeyen yang dianggap ibu kandungnya.


" Bi Yeyen, itu saudara Ibu kita, tetapi tidak sekandung, karena ibu kita anak tunggal, dan kakek nenek kita juga sudah wafat, " vidcall ku, cuman Calla belum mau menerima cerita ku ini, sehingga aku tidak mau memaksa dan dari ini aku ingin secepatnya menemuinya, lalu melakukan test DNA.


Mba Hanifah menasehati ku agar jangan memaksa Calla untuk percaya bahwa bersaudara.


" Ayy, sabar dulu, klo kamu memaksa padanya aku takut, ia tidak berkenan pada kita, lalu menjauhi, " pesan dari mba Hanifah.


Dan malam ini aku lebih fokus pada adikku, sampai akhirnya ketiduran, karena sudah larut malam.


Samar terdengar suara Adzan Subuh dari Mushola di apartemen, ku gerakan tubuh ini, agar otot otot menjadi lemas, lalu bangkit duduk di sisi kasur nan empuk, yang tak pernah membayangkan kalau bisa hidup di tempat semewah ini. Dan aku menjalankan pekerjaan rutin, sampai berangkat kuliah bersama Rosa.


Sampai aku pulang kuliah belum sempat membuka ponsel, hal ini sering kulakukan, abis chat biasa dilakukan oleh Rosa, Andina atau teman teman dekat yang lain, sedang kedua kakakku tentu sedang istirahat, sehingga jarang chat disaat disini pagi hari sampai menjelang Dhuhur.


Tentang Raditya, sudah satu pekan ini tak kasih kabar, ia sudah tidak ingat lagi padaku, cuman aku tahu selalu ada dua orang dengan tubuh kekar mengawasiku, juga di apartemen, cuman kali ini salah satunya wanita.


Aku tak berani tanya, abis keduanya berada di satu apartemen, persis depan apartemen yang kutempati. Aku percaya keduanya suami istri.


" Ayy, itu depan apartemen mu, suami istri sama sama bertubuh sport," ucap Rosa saat berpapasan di basement, aku menanggapi dengan senyuman semanis mungkin agar kedua orang itu yang lagi menatap ku tak kerasa jadi bahan omongan kami berdua.


" Kuahnya apa Ayy? " tanyanya, mulutnya berdecap decap, aku tersenyum lihat wajah kelaparannya.


" Aku menghangatkan kuah sop, kan tinggal ngasih bumbu sama sayuran yang telah siap masuk, " jawabku, dan tak terasa telah nyampe di depan pintu apartemen, lalu aku buka pakai kartu akses.


" Minum jus dulu di kulkas Sa," pintaku dan seperti biasa kami berdua sibuk di dapur, sedang Dhuhur sudah kami laksanakan di Mushola kampus.


" Ayy, aku sekarang jadi bisa masak kayak kamu lho, klo pulang ke rumah orang tua aku masakin, katanya seenak masakan mu, " bilangnya.


" Iya donk, gurunya Ayy," seloroh ku dengan tertawa.


" Ah kamu, muji diri selangit, " candanya.


" Abis, kamu enggak muji, jadi ya muji sendiri donk, " dan kami berdua tertawa sambil menikmati makan siang di meja makan.


Habis makan Rosa ku cegah pulang ke apartemen nya, dan waktu di manfaatkan untuk membahas tugas dari dosen hari ini.


" Tiduran siang disini saja Sa," kataku sambil nyodorkan baju daster batik.

__ADS_1


Lalu kami rebahan di kasur setelah menyelesaikan tugas.


Sementara Rosa telah mendekur lirih disampingku, dan aku hanya bisa memejamkan mata tetapi otak masih saja melayang ke Calla serta sesekali kerinduan pada Raditya muncul, ingin rasanya membalas pesannya satu pekan lalu, tetapi tidak punya keberanian.


Memang sampai sesiang ini aku belum buka ponsel, yang biasa aku lakukan dan ponsel selalu di silent sehingga tak pernah dengar notifikasi chat maupun panggilan, paling hanya getar, itu juga kalau sedang kuliah di matikan.


Sementara Rosa disebelah sudah lelap dialam mimpi, dan aku karena penat akhirnya tertidur juga.


Suara Adzan Ashar dari Mushola membangunkan kami berdua.


" Ayy, aku mau pulang, Mami mau datang katanya pengin tidur di apartemen, " cerita Rosa siap siap keluar dari apartemen.


" Kalau mau Mami kamu diajak tidur disini Sa, " pintaku berharap, dan ini serius karena kalau banyak teman otak tidak mikir lara hati terutama memikirkan Raditya.


" Nanti ku sampaikan, abis Mami katanya kangen masakan kita, atau kamu yang datang ke apartemen ku," ajak Rosa, tanpa menunggu jawabanku dia terus berlalu keluar, aku mengikuti sampai ke pintu.


Dan tubuh ini berjengit kala mata melihat Raditya berjalan tertatih tatih dari jarak tiga apartemen, dada berdesir kencang sehingga membuat rasa tidak karuan disekujur tubuh.


Aku tidak memperhatikan sikap Rosa yang berjalan menuju lift berpapasan di lorong dengan Raditya, memang mata ini lebih fokus pada Raditya yang dikawal oleh dua orang penghuni apartemen depan ku.


Mulut ini terkunci tetapi masih punya kesadaran untuk menghindar dari Raditya, dengan berusaha menutup pintu, cuman kalah oleh pengawal wanita yang sangat sigap menahan pintu agar tak tertutup.


" Non, Raditya ingin menemui, " ucap pengawal yang ku tahu bernama Mirna.


Aku hanya bengong, tak mampu juga mengucap kata, cuman dalam otak berdoa kalau Rosa tidak mengetahui.


Raditya masuk ke apartemen sedang para pengawal hanya mengantar Raditya sampai pintu lalu ditutup.


Aku menjadi gelagapan karena di dalam hanya berdua, tubuh ini berkeringat dingin, dan aku hanya mampu tertunduk.


Cuma otak ini sadar karena aku masih harus merawatnya sesuai kesepakatan yaitu sampai bisa berjalan tanpa bantuan sepatu, maupun kruk.


" Ayy, sore ini kamu tak ada kuliah, tolong aku antar ke rumah, " pintanya.


" Mas, bukankah diantar sopir? " tanyaku lirih, dan aku berusaha menjauh dari tubuhnya, karena tangannya merengkuh tubuhku.


" Kamu tuh dosa Ayy, klo menghindar dariku," ucapnya lemah.


Karena rasa tanggung jawab sebagai perawat yang halal, akupun mendekat lalu menerima tangannya yang meminta untuk di pegang, dan menggandeng menuju ke sofa di ruang tamu.


" Mas, mau makan?" tanyaku.


" Lauknya apa? " dan aku menjelaskan lalu ia minta duduk di kursi meja makan, maka aku mengangkat tubuhnya dengan cara yang biasa kulakukan saat di rumah besar yaitu melingkarkan tangan ke pinggangnya.

__ADS_1


Aku tak mau menatap wajahnya yang terlihat kuyu, karena tadi aku sempat meliriknya dan ada gurat kesedihan.


" Ayy, aku ingin selalu ada kamu, " sendu ucapannya, dengan bibir mengecup pucuk kepalaku, tangan kekarnya mengelus lembut punggung ku, sedikit membenamkan kepala ini ke dadanya yang bidang, lalu embun menyelimuti kedua bola mata ini, tentu berusaha kututup tutupi darinya, agar ia tidak melihat lara hatiku.


__ADS_2