Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 45 Ayyana dibawa oleh Clara


__ADS_3

Author POV


Gerimis membasahi lingkungan kampus, tetesan airnya jatuh di daunan membuat daun daun bergoyang goyang, apalagi diterpa oleh tiupan angin sore, Ayyana telinga serta mata memang fokus pada perkuliahan, tetapi otak tak bisa menyinkronkan, membuat materi tidak ada yang masuk ke otak, pikirannya diliputi kegelisahan.


" Aku seperti orang yang tidak mau balas budi pada kebaikan orang tua Raditya, beliau sudah memberiku kemewahan tetapi yang dipesankan padaku untuk menjauh dari Raditya tak dihiraukan, aku malahan memanfaatkan kemewahan yang diberikannya, " dan dalam hati ingin meninggalkan apartemen dengan segala barang yang diberikan, tetapi tetap hatinya tak bisa menghindar dari keluarganya terutama Pak Raihan.


" Atau aku pergi ke kota lain saja, kali bisa pindah kuliah disana, tetapi kalau pindah data data minta ke kampus, tentunya Pak Raihan tetap tahu keberadaan ku, mending biar tak diketahui oleh Pak Raihan, aku kuliah mulai awal lagi, " gumannya, sambil bernafas dalam karena terasa sesak di dada.


Kuliah Pak Hermawan sampai dua jam akhirnya selesai, dan rata rata semua mahasiswa yang beragama Islam telah menjalankan kewajiban Ashar, memang Pak Hermawan selalu memberi waktu sebelum kuliah dimulai.


Sepanjang keluar ruangan Ayyana tak banyak bicara, ia tak seceria kayak sebelumnya, membuat teman yang lain ingin mengorek hatinya.


" Ayy, kok beda banget sih sore ini, " seloroh Rosa.


" Apanya yang beda? " tanyanya, sempat menelan saliva.


" Ya, jadi diemin kita donk, " jawab Andina sekenanya.


" Maafin, aku agak sedikit sariawan, " bohongnya.


" Bener nich, atau si duren itu yang membikin kamu jadi sariawan, " seloroh Bella dengan ketawa lirih, yang lain ikut tertawa, karena mereka berusaha percaya pada ucapan Ayyana, tetapi sebenarnya dihati kecil mereka hanya memiliki kepercayaan 20% saja.


" Iihhh ngapa sih kalian, " tangan Ayyana mentonyor Bella pelan.


" Diam tuh yang diomongin lewat, " ucap Rosa, melihat Pak Raihan berjalan dengan menggandeng tangan Liandra, cuman Pak Raihan tidak memperhatikan Rosa cs, sebab menuju ke arah berbeda.


" Ayy, kita jadi enggak enak hati, abis Pak Raihan tak dekatin kamu, " seloroh Lisa, yang paling pendiam diantara lima sahabat, tapi sering bikin ucapan kejutan.


" Bener kata Lisa, ayo cepetan naik mobilku saja, " ajak Rosa, lalu berempat melangkah cepat menuju mobil Rosa, Ayyana tidak bisa mencegah mereka, ia juga ngerasa ingin sendiri biar tak dijadikan bahan candaan terus, takut kesulut emosi.


Ayyana bisa bebas dengan menarik nafas panjang, dari sejak ketemu Dania semakin tambah pikiran, dan bayangan kemarahan orang tua Raditya terus menghantui pikirannya.


" Ayy, kamu wanita yang tak tahu diuntung, harusnya dengan fasilitas yang diberikan, kamu harus menjauh dari Raditya," kalimat itu yang terus ada diotaknya.


Ia melangkah gontai sendirian, menuju mobil yang terparkir di tempat khusus untuk para mahasiswa, yang sangat sejuk oleh tetumbuhan.


Di lingkungan kampus yang sangat luas, ditanam berbagai jenis tumbuhan kayu, sehingga tidak pernah terasa panas, para mahasiswa betah duduk duduk bergerombol dibawah pohon, terutama saat cuaca panas, mereka kebanyakan memanfaatkan waktu untuk membaca buku, ada yang berdiskusi maupun belajar kelompok.

__ADS_1


Kala sore menjelang senja, langit tertutup awan kali ini, sudah tak ada lagi mahasiswa yang bergerombol di taman, Ayyana yang hatinya harusnya diliputi kebahagiaan, karena telah dua hari ini dikunjungi oleh Raditya, tetapi dibalik kebahagiaan itu ada rasa khawatir yang sangat dalam.


Sehingga dilema menghantui dirinya, apalagi dilema yang dihadapi bukan hanya dengan orang tua Raditya tetapi pada Pak Raihan, Dania serta Kiara. Belum lagi perundungan yang dihadapi oleh Clara cs, sampai detik ini mereka belum puasnya untuk mencelakainya. Setiap hari mereka mencari kelengahan Ayyana, seperti sore ini Clara cs yang sudah tahu jadwal kuliah Ayyana, sudah berada tak jauh dari mobilnya.


" Ini sore keberuntungan kita, tuh si culun ditinggal teman temannya, " ucap Mira salah satu pengikut Clara.


Mereka yang biasanya berenam tetapi sore ini Sarah sama Dara absen, dan berempat berjalan mendekat, mereka berencana untuk menyeret Ayyana, lalu telah menyiapkan mobil untuk dibawa ke seseorang yang sedang mencari mangsa yaitu akan di jual pada seorang lelaki kulit putih untuk dijadikan istri.


" Clara, bener kita nanti akan dapat bagian, " desak Hana, ia telah membayangkan akan dapat uang banyak, lalu ingin mengirimkan pada ibunya di kampung.


" Atau mending aku saja yang dijual ke orang asing itu dari pada Ayyana, toh dia sekarang jadi simpanan Pak Raihan, yang mendapatkan fasilitas mewah, " pikir Hana.


" Clara, sebaiknya kita pikirkan tindakan ini, yang aku dengar Ayyana di kawal bodyguard... " belum selesai ngomong dipotong oleh Clara.


" Ok, kamu tuh selalu jadi penghalang langkah ku, kalau ini gagal, kamu yang kujual," serang Clara dengan emosi memunjak. Clara memang sudah dapat DP dari lelaki suruhan orang asing.


" Kamu tega pisan Ra, mau menjerumuskan ku, " pura pura Hana bicara begitu, padahal hatinya sudah pengen kayak Ayyana yang bergelimang materi.


" Aku enggak menjerumuskan kamu, malah ngangkat kamu dari kemiskinan, " tandas Clara, bola matanya membuka lebar lebar.


Empat anak itu membuka mata lebar, karena jarak 7 meter dari persembunyiannya melihat Ayyana yang berjalan tak bersemangat.


" Siap kita ya, abis aku dah geram padanya, " ucap Silvi, giginya gemeletuk saking kesalnya dengan Ayyana yang selalu menganggap tebar pesona pada duren incarannya, yaitu Pak Raihan.


Clara sendiri sudah tak sabar untuk menghancurkan Ayyana, ia berniat tidak akan menyerahkan Ayyana ke lelaki yang memesannya, tetapi mau dibawa ke rumah kosong.


Sedang perjanjian dengan lelaki suruhan orang asing, ia telah menyodorkan Hana, tetapi Hana sengaja tidak di beritahu.


" Kalau Hana ku beritahu jelas tidak mungkin mau, padahal ia kan, butuh uang, karena lelaki yang ingin cari istri orang Indonesia, lelaki buta, " batin Clara.


Berempat mendekat ke Ayyana yang berjalan dengan hati resah serta gelisah karena kepikiran hubungannya dengan Raditya.


" Hai, si culun, jangan coba coba kamu berhubungan dengan lelaki incaran ku yaitu Pak Raihan, " serang Silvi menarik pundak Ayyana, sampai terhuyung ke belakang, Ayyana sedang tak siap menghadapi mereka, bahkan Ayyana sempat terkejut dengan kedatangan mereka, yang terus mepet ke tubuhnya.


Clara mengapit tubuh Ayyana, sedang tiga temannya menodongkan pisau kecil yang runcing.


" Kalau sedikit saja kamu bergerak, alat ini akan menggores ke tubuhmu, " ancam ketiganya.

__ADS_1


Sementara dalam hati Mira salah satu temannya bingung, karena pesan lelaki suruhan orang asing itu, tak ingin wanita yang disodorkan sampai terluka.


" Ra, perjanjian batal klo cewek yang kamu bawa sampai terluka, dia harus dalam keadaan baik baik saja," pesan pribadinya dan Mira sempat ikut baca.


Ayyana diam lalu berusaha memutar otak, saat ia digiring menuju mobil.


" Ok, aku nurut sama kalian, tetapi aku ingin bernego, sebaiknya aku dibawa pakai mobilku saja, abis bila pakai mobil sewaan, nanti pihak kampus akan curiga, apalagi mobil yang kupakai sudah banyak yang tahu kalau milikku, " ucap panjang Ayyana.


" Waah waah, sudah bergaya nich si culun, bukankah itu mobilnya Pak Raihan, " serang Silvi kesal, sambil menekan dada Ayyana kencang, karena kaki Ayyana siap untuk menjaga keseimbangan maka tubuhnya tak bergerak.


" Kamu sudah tahu klo itu milik Pak Raihan? otak kalian harus dipakai untuk mikir donk, bukankah tindakan kalian tak ingin diketahui oleh pihak lain? ingat ya bila mobil ini masih berada di parkiran maka akan mengundang kecurigaan," ucap Ayyana, ia sebenarnya dadanya tak karuan, tetapi otak harus cepat cari jalan keluar dari tindakan keempat perempuan di depannya.


" Jangan banyak omong lu, pengin ku robek tuh mulut bawelmu, " serang Clara, tangannya diangkat untuk memukul mulut Ayyana, tetapi Mira mengingatkan dengan berbisik lirih.


Clara hampir keceplosan tentang keinginannya untuk menganiaya Ayyana.


" Ra, turutin permintaan wanita simpanan ini, " ucap Silvi, yang dalam hati ia akan meminta dengan paksa mobilnya dengan siasat Ayyana menjual padanya.


Sementara pengawal Ayyana dari kejauhan di dalam mobil merasa curiga, mereka yang diwanti wanti agar jangan terlalu dekat dalam pengawalan, terpaksa mendekatkan mobil ke mobil Ayyana yang sudah berjalan disetir oleh Silvi.


Sementara mobil yang disewa Clara disuruh mengawal di belakang, ini menjadikan Hendra agak mengalami kesulitan untuk menghadang mobil Ayyana yang disetir Silvi.


Tetapi tentu istri Hendra tak hilang akal, ia menghubungi para pengawal Raditya yang masih berada di pabrik, kebetulan Raditya akan pulang sampai larut malam nanti.


" Tolong Fer, jangan beritahukan dulu ke bos, " pinta istri Hendra lewat telfon ponsel, ia menggunakan ponsel Hendra untuk merekam laju mobil Ayyana yang disetir Silvi, dan mobil yang disewa Clara telah berhasil di salib oleh Hendra, sehingga posisi mobil Hendra berada dibelakangnya hanya berjarak satu meter saja.


" Mas, jangan memberi peluang ke mobil lain lho, untuk maju di depan kita, " ucap istrinya dengan tetap mengarahkan kamera ponsel pada mobil Ayyana.


" Kita kecolongan De, malingnya lebih pintar dari kita, " ucap Hendra, ia tentu akan dipersalahkan oleh Raditya.


Jalan yang padat merayap kesulitan bagi Silvi untuk menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, itulah membuat Hendra bisa ada dibelakang mobilnya.


" Bener tuh, Ayyana dibawa kabur, karena enggak masuk ke pintu gerbang apartemen, " ucap istri Hendra, lalu ia terus berkoordinasi dengan Ferdian yang bersama supir Raditya yaitu Darno.


Dari kamera ponsel yang dihubungkan dengan ponsel Ferdian dengan cara vidcall, maka Darno mengarahkan mobil sesuai arahan dari Ferdian.


" No, mobil Ayyana ada dibelakang stasion hitam! " seru Ferdian.

__ADS_1


" Berarti posisi kita ada di depannya? " tanya Darno lalu melambatkan mobil, agar mobil stasion menyalip mobilnya.


__ADS_2