
Author POV
Rosa serta teman yang lain duduk saling berdekatan dengan Ayyana, mereka begitu iba dengan nasib yang menimpa Ayyana, karena mereka sangat percaya dari foto foto yang dikirim dikelompoknya, jelas jelas Ayyana akan dibawa ke suatu tempat dan mereka percaya di dalam mobil Ayyana dapat siksaan.
" Ayy, sebaik itukah kamu pada mereka yang mau mencelakai?" bisik Rosa lirih, mumpung Pak Yanuar belum memulai perkuliahan sehingga dimanfaatkan untuk menanyai Ayyana.
" Apa sih Sa, otakmu tuh jangan dikotorin dengan hal hal yang tak baik, " Ayyana tetap tidak ingin buka mulut.
Mereka terdiam setelah perkuliahan dimulai.
Sehari ini Ayyana melalui dengan tak banyak bicara, hanya karena masih tidak nyaman dengan make up yang tidak terbiasa, terutama kalau ada yang memperhatikannya, maka ia lebih baik menunduk.
Tentang peristiwa perlakuan Clara cs, berusaha untuk membuang kesedihan artinya ia belajar menyingkirkan sakit hati, ia masih tetap berdoa agar mereka berubah jadi baik, syukur menyesal.
" Ayy, sore tak ada kuliah lagi? " suara bariton sempat mengagetkan Ayyana, Pak Raihan telah ada di antara Ayyana serta teman yang lain untuk menuju ke tempat parkir mobil. Semua agak kaget, karena tidak menyadari keberadaan Pak Raihan.
" Pak, maaf kami enggak nyadar klo bapak telah berada diantara kita, " ucap Rosa sopan.
" Kalian terlalu serius, sampai tidak memperhatikan aku, " ucap Pak Raihan tersenyum.
" Cuman aku pesen, agar selalu waspada ke Clara CS, terutama Ayyana, " ucap Pak Raihan kembali.
Raihan tetap masih menunggu Ayyana serta teman lainnya masuk ke mobil, sebelum meneruskan langkah menuju ruang kantornya, walau ia tahu Hendra dan istrinya sekarang tak mau jauh jauh dari Ayyana.
*
Raditya POV
Berjalan dengan bantuan kruk di temani Adnan, sahabat baikku sejak SMP tidak merasakan lelah.
" Pak Ditya, jangan jauh jauh kelilingnya, abis tak bawa kursi roda, " ucap Adnan yang selalu sabar mengikuti ku.
" Kita duduk saja di taman, Pak Adnan, " pintaku, dan kami panggil Pak apabila di lingkungan pabrik kalau diluar biasanya cuma panggil namanya saja.
" Pak Raditya, hari ini mau tidur di pabrik lagi? " tanyanya, bola matanya terus mengawasi ku, seperti mau menanyakan hal penting.
Tidur di pabrik sebenarnya aku berharap Ayyana akan memperhatikan ku, tetapi hati ini kecewa karena Ayyana tetap khawatir dengan hubungan pernikahan berdasarkan perjanjian yang hanya sementara.
" Mas, aku tidak ingin membuat kedua orang tuamu kecewa, apalagi aku diberi fasilitas yang luar biasa mewahnya, dan semua ini telah atas namaku Mas, aku tidak berani kalau ingkar janji, " selalu saja kalimat itu yang jadi jawaban kalau aku desak supaya tetap bersamaku.
" Ayy, aku bisa membatalkan perjanjian yang kita tandatangani dulu, dan kalau kamu tak ingin keberatan semua yang diberi oleh orang tuaku bisa dikembalikan,' kataku.
__ADS_1
" Mas, aku setuju kalau semua dikembalikan, tapi menunggu kamu telah sembuh kurang dua bulan lagi, insyaallah sudah bisa berjalan tanpa bantuan kruk, cuman bukan berarti aku setuju dengan pelanggaran perjanjian awal saat kita nikah, " jawabnya panjang lebar.
" Maksudmu? " tanyaku.
" Aku akan kembali kost, Mas, dan hubungan kita tetap diakhiri, " jawabnya, kutatap matanya ada embun serta bibirnya bergetar.
" Ayy, aku tahu ucapanmu tidak sampai hati, kan," desakku, tangan ku ini kemaren saat bincang bincang di apartemen di sentuhkan ke pipi halus tanpa make up.
" Hmmm kulitnya kayak kulit bayi, membuat tidak tahan untuk mengecup, " kepala ini ku dekatkan kembali dan tetap saja ia menghindar.
" Pak Raditya! " aku terkaget dari flashback bersama Ayyana saat tersadar Pak Adnan melambai lambaikan tangan di depan mata.
" Uupps jadi banyak melamun, mesti ngebayangin sama si gadis lugu, bersahaja, " seloroh Adnan.
Aku tertawa terkekeh dan kelakuan ku ini hanya bisa dengan Adnan, maupun teman teman sekolah saat mengadakan reuni.
" Oh ya Nan, untuk sementara klo ada reuni aku tidak mau hadir dulu, terkecuali kaki ini dah normal kembali, " kataku.
" Kan ada aku, tetap berangkat donk besok hati Minggu, sudah banyak yang kangen lho sama kamu, Tya, " dan disaat membahas mengenai reunian maka kita hanya panggil nama saja.
" Besok lah klo kaki ini dah sembuh, biarin aku sekalian syukuran, akan kuajak nginep di villa Bogor, " jawabku.
Pekerjaan menumpuk terus bincang sama Adnan apalagi kalau bicara reuni teman sekolah sangat menyenangkan, membuat rasa kangen pada Ayyana sedikit terobati.
" Aku kurang memperhatikan, kita kan, lagi sibuk sibuknya sampai tak perhatian pada mereka, " jawabnya datar saja.
" Bos, makan siang mau keluar atau dikirim Ayyana? " tanya Adnan.
" Coba nanti, cuman tadi Ayyana bilang klo kuliahnya sampai siang," kataku, kecewa sih, tetapi aku tidak ingin mengganggu aktivitasnya, bagaimanapun aku tetap mendukung pendidikannya, jelas aku harus menyingkirkan rasa egois.
Langit mulai mendung, Adnan mengajak masuk ruang kembali, lalu bangkit dari kursi taman yang setiap hari sebagai tempat istirahat para pekerja sambil menikmati bekal yang di bawa, tetatih kruk ini di jejakkan, dan dengan langkah kruk yang sudah lancar, bahkan kedua kaki sudah setiap hari dilatih untuk menapak, aku serta Adnan menuju kantor.
Kecewa hati ini sebenarnya, setelah sampai kantor Hendra sedang berada di teras, sambil menenteng tas plastik berisi box nasi.
" Mas, memangnya Ayyana enggak ada waktu untuk anter sendiri, " kataku, yang sudah kutahu kalau Ayyana kuliah sampai siang, cuman sikap Hendra agak aneh, ia malah pengin cepat cepat berlalu dari hadapan ku.
" Nan, aneh Hendra, seperti ada sesuatu yang ditutup tutupi, " celetukku.
" Ah, itu kan, kamu saja yang lagi sensitif, " seloroh Adnan juga sambil membuang muka.
Akhirnya aku mengajak Adnan masuk untuk menikmati makan siang, tadi dia juga telah ada kiriman dari istrinya.
__ADS_1
" Nan, kamu tuh paling bahagia aku lihat, punya istri cantik, tidak bermasalah lagi, " ucap ku, masakan Ayy, sesendok demi sendok kunikmati dengan hati.
" Aamiin, ya cuman sudah pengin punya momongan Allah belum kasih kepercayaan, " ucapnya sambil mengunyah makanan.
" Kan, baru nikah 6 bulan, " kataku datar.
" Penginnya langsung ada, " jawabnya datar juga.
" Uups, ada telfon dari Kiara, " sengaja ponsel ini hanya getar, sehingga tidak membuat pusing kepala, terutama oleh telfon maupun chat dari Kiara yang mendominasi ponsel satunya, ia sudah tahu kalau aku selama dua hari kemaren di apartemen bersama Ayyana.
" Ada telfon Pak Raditya, " suara Adnan membuat tangan mengambil ponsel di saku kursi roda.
Dan Adnan membantu membersihkan sampah bekas makanan.
" Aku keluar Pak," pintanya dengan membawa tas plastik berisi sampah.
Aku belum juga menyentuh tanda jawab dari telfon Kiara, sehingga bergetar terus ponselku.
" Ngapain Nan, bukankah ada pekerjaan penting yang perlu kita bahas sekarang? " tanyaku yang tidak ingin menerima telfon Kiara, karena kuping ini jadi panas oleh omelannya.
" Nanti saja Pak, aku tak ingin mendengar telfon kalian, " celetuknya terkekeh, lalu ia keluar dan menutup pintu.
Terpaksa aku mengangkat lagi telfonnya, yang hanya mendengar kemarahan lalu ancaman pada perusahaan yang kukelola.
" Mas, klo kamu masih tetap berhubungan dengan Si Culun, aku bilang ke Papi agar mulai bulan depan perusahaan mu tidak mendapat suntikan dana, " ancam nya, aku sudah tak takut pada ancaman ini, karena sejak aku terpuruk kakinya, justru saham naik, ini tentunya kerja keras dari Adnan serta pegawai pegawai lain oleh dedikasinya agar perusahaan semakin maju serta tidak tergantung suntikan dana dari Pradipa grup.
Yang di takuti hanya pada hubungan keluarga ku dengan keluarga Kiara yang menjadi tak sehat, bahkan bisa saja mereka menyusupkan orang ke perusahaan ku, yang pada akhirnya menjatuhkannya, maupun tindakan lain yang bisa merugikan perusahaan.
Pemikiran ini hanya untuk berjaga jaga, dan harus ku bahas dengan Adnan maupun orang kepercayaan yang lain.
" Mas, kamu sudah tidak memikirkan hubungan keluarga yang sudah terjalin sejak puluhan tahun, juga tidak mengingat budi baik Papiku, yang memberi bantuan pada perusahaan mu saat sedang diambang kehancuran..." ponsel langsung kuletakkan di meja, lalu membiarkan Kiara ngomong sendiri, untung tidak pakai video call.
" Kiara, aku awalnya tidak berniat meninggalkan mu, tetapi disaat aku butuh pertolongan malahan kamu seolah cuci tangan, itu saat saat yang sangat menyedihkan dikala aku terpuruk hanya mampu tergeletak di kasur, dan kamu selama kubutuhkan apakah pernah menengokku? bahkan saat aku mendesak untuk menikahimu, kamu menghindar, lalu menyodorkan untuk mencari wanita pengganti, bahkan kamu sampai mendesak pada Mami, untuk cari wanita yang mau menikah denganku dengan syarat wanita itu merawatku, " gumanku di hati, memang selama ini aku tidak sampai hati mengutarakan padanya, apalagi kondisi ku belum pulih 100%, dan aku hanya memohon pada yang di Atas ada jalan terbaik diantara aku serta Kiara, jalan terbaik itu tidak saling timbul rasa sakit hati, dengan kata lain hubungan keluarga tetap terjalin.
" Sudah cukup Ki, aku mau meeting, sudah ditunggu Adnan, " lalu ponsel kututup dengan ucapan salam.
Kini ingatan ku pada Ayyana, yang sejak sore kemaren sulit dihubungi, baik chat apalagi telfon.
Kabar tentang Ayyana hanya ku peroleh dari Hendra maupun istrinya.
Mereka selalu bilang baik baik saja, cuman lagi banyak tugas, apalagi mau ujian semester.
__ADS_1
Aku tahu itu hanya alasan Ayyana untuk menghindar dariku, hanya karena menjaga perasaan Mami.
Tetapi aku tidak tinggal diam dengan sikapnya, aku menugaskan pada Hendra serta istrinya untuk memperketat penjagaannya, karena aku tidak menginginkan dia meninggalkan ku.