
Author POV
Kabut tebal masih menyelimuti lingkungan di balik apartemen mewah Raditya.
Ayyana dengan menahan sakit menuju ke kamar mandi hanya menggunakan piyama yang disediakan oleh Raditya.
" Uuufff," Ayyana menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa sakit, lalu tak perlu berkeluh kesah lama di kamar mandi terus menuju ke dapur.
" Mas, mumpung masih hangat, diminum dulu biar enggak lesu kayak abis nanam kentang saja, " seloroh Ayyana tersenyum.
" Emang baru nanam kentang, sampai keringat bercucuran nich, " jawab Raditya mulai nakal kembali, dengan jemari tangannya mencubit lembut bagian tubuh Ayyana, dan membuat Ayyana tak karuan, sampai mulutnya keluar keluhan.
" Mas, aku masak dulu, abis tuh kamu kayak kelaparan banget, " ucap Ayyana manja, saat tubuhnya mau di angkat oleh Raditya.
Ayyana berlari kecil menuju dapur, sedang Raditya menikmati teh hangat dengan roti kering yang ada di meja.
" Bikin sup nich aku Mas, biar hangat di perut, " ucap Ayyana karena Raditya telah memeluk tubuhnya dari belakang.
" Cuman habis makan sup, kita berselancar yuk, " pinta Raditya.
Otak Ayyana menunjukkan keculunannya.
" Ok, cuman aku belum bisa bermain di salju kayak mereka Mas, " ucapnya, lalu mengambil mangkuk untuk diisi sup.
" Kamu sudah pinter kok, Ayy, " ucap Raditya lalu menciumi tengkuk leher Ayyana yang terbuka, karena rambutnya ia cempol, dan Ayyana membalikkan kepala lalu dengan sedikit mulai berani mengecup bibir Raditya.
' Mas, makan dulu, " Ayyana tersipu malu karena ia telah berani mendahului mengecup bibir Raditya, sampai wajahnya merah, dan untuk menutupinya ia membalikan tubuh menghadap kompor terus mangkuk yang masih dipegang, diisi dengan sup.
Dengan meletakkan di nampan dua mangkuk sup di bawa ke meja makan, keduanya menikmati sup.
" Ayy, aaa, " Raditya menyuapkan ke mulut Ayyana, dengan mata menatap nakal.
" Uuuuppp, mesti ada maunya kamu Mas, " ucap lirih Ayyana.
Raditya tertawa, lalu menarik kepala Ayyana untuk diletakkan di dadanya, dengan lembut lagi lagi dikecup berulang ubun ubun kepala Ayyana.
" Kamu harus nemani aku Ayy, jangan ke apartemen kakakmu, " tandas Raditya, nafasnya mulai memburu.
" Mas, nanti bisa bisa aku dikira diculik donk, lalu saudaraku lapor polisi, " ucap Ayyana manyun bibirnya, melihatnya membuat bibir Raditya di dekatkan, lalu,
" Cup, " keduanya saling menempel bibir, terus berlanjut.
" Ayy, aku dipijitin ya, abis kamu mintanya, nanti Mas, bentar lagi... " tangan Ayyana menutup mulut Raditya biar tidak kebablasan ngomongnya.
" Mas, hati hati bicaranya, di filter donk, " ucap Ayyana nyengir.
" Oh ya Mas, benarnya aku pengin jalan jalan ke kota, kemaren sih udah mengunjungi beberapa tempat, " ucap Ayyana kembali.
" Ok siap tapi janji pulangnya, harus ngasih hadiah, " tandas Raditya.
" Mas, kok aku enggak mikir, klo aku bulan depan isi gimana? " Ayyana menjadi bingung.
__ADS_1
" Sudah kukatakan, kan, ada aku suaminya," elus tangan Raditya keperut rata Ayyana lembut.
" Udah jangan mikir yang membuat sedih, kita disini harus melupakan masalah, kita nikmatin kebersamaan ini, " tandas Raditya.
Di luar masih tetap berkabut, dan berkali kali baik Hanifah maupun Marwah menghubungi Ayyana, tetapi tak ada jawaban, membuat mereka ditempat kerja gelisah.
" Mba, aku mau ijin sebentar pulang, aku tidak nyaman hatinya, abis Ayyana enggak ngangkat klo di telfon juga tak bales chatnya," ucap Marwah menemui Hanifah, karena tempat kerjanya sama lokasinya.
" Kamu sudah ijin? " tanya Hanifah.
" Sudah, di bolehkan tapi di beri waktu setengah jam, " jawab Marwah dan ia harus mengganti jam ijinnya.
Dengan tergesa gesa dari tempat kerja menuju apartemen, menyetir mobil sendiri yang sudah punya modal nyetir sejak di kampung.
" Ayy, please bales donk chat ku, " jerit batin Marwah, hatinya sudah tidak menentu bingungnya.
Sampai di pintu apartemen, dengan tangan gemetar memasukkan kunci ke lobang kunci di pintu.
" Uuuffff, kok ya sulit banget nich kunci masuknya, " gerutu Marwah sambil panggil panggil Ayyana serta membunyikan bel pintu.
" Enggak ada jawaban, apa ketiduran sampai lelap tuh anak, " gerutunya lagi.
Ceklek
Pintu telah terbuka, jantung terasa copot didapati kamar kosong, ia mencoba mencari barang barang Ayyana berupa koper baju.
" Koper masih ada, " dengan masih tetap gemetaran ia menuju toilet tidak ditemukan juga, iapun menghubungi Hanifah.
Sementara Ayyana mengambil ponsel saat ada panggilan dari Hanifah.
" Halo mba, maaf tadi aku lupa belum sempat menghubungimu, ini aku diajak teman, pokoknya jangan mengkhawatirkan aku, nanti sore mesti pulang deh, abis kan, aku bosan di kamar terus apalagi di kunci dari luar, " suara Ayyana, terpaksa bohong, ia masih saja belum siap kalau saudaranya tahu tentang dirinya.
Raditya merengut dibilang teman.
" Teman, aku teman, teman yang mengobok obok kamu, " tangan Raditya memeluk erat tubuh Ayyana.
" Mas, lepas donk, " keceplosan sampai Hanifah dengar disana.
" Ayy, kamu lagi apa? itu sama teman cowok kan," tandas Hanifah tambah galau.
" Itu cowoknya temanku Mba, yang ikut nimbrung, dia memang suka ngeprank, biar mba tambah gelisah, " ucap Ayyana bohong lalu ia menyudahi telponnya.
" Ayy, pinter kamu ngebohong ya, ngapain bilang aja terus terang bersama suami, sudah waktunya donk keluargamu tahu kalau kamu telah bersuami, " tandas Raditya merengut, ia memang sejak hatinya terpaut pada Ayyana selalu mendesak agar terus terang pada Paman, Bibi maupun kedua kakaknya.
" Sudah kukatakan bilang donk yang sebenarnya pada mereka, atau nanti aku mau ngomong pada kedua kakakmu itu, " tandas Raditya kesal, dan ia memang akan bicara terus terang pada mereka, dengan harapan Ayyana akan disuruh bersamanya disini.
Dan tanpa ragu Raditya merebut ponsel Ayyana lalu menvidcall Marwah.
" Halo, mba Marwah kamu ingat kan, wajahku, " suara Raditya di depan layar licin milik Ayyana, sedang Ayyana mundur ke belakang, sempat tubuhnya panas dingin.
" Ooohh, kamu ituu... aahh, Ayyana... " tangis Marwah tak bisa terbendung setelah melihat wajah lelaki di layar ponselnya, yang ia lihat di Belanda.
__ADS_1
" Iya mba, aku si penculik Ayyana, sekarang dia ku sekap di apartemen ini, " Raditya mengarahkan kamera ke arah Ayyana yang dalam keadaan panik juga.
" Ngomong donk Yang ke kakakmu, " ucap Raditya tangannya dilingkarkan ke leher Ayyana lalu menempelkan bibir ke pipi Ayyana.
" Mba Marwah jangan khawatir, Ayyana sudah syah jadi istriku," ucap Raditya memeluk erat tubuh Ayyana, membuat Marwah bengong lihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Raditya.
" Kamu ingin tahu, aku bernama Raditya, dan meminta Ayyana untuk merawatku dengan syarat dia harus mau menikah dengan ku, " suara tegas Raditya, semakin Marwah tambah bengong, sampai mulutnya sulit untuk bicara.
" Sudah jelas kan, jadi aku meminta Ayyana selama disini harus bersama ku, " tandasnya lagi.
" Ta tapi, to tolong, aaku mau ngomong sama Ayyana, klo kamu benar Raditya, " tergagap gagap Marwah yang sudah dengar nama Raditya dari ibunya, cuman belum pernah tahu wajah Raditya sebelumnya.
" Ok, aku tak seseram yang kamu lihat kan, " lalu Raditya menyerahkan ponsel ke Ayyana.
" Awas kalau kamu bohong lagi, akan kubuka rahasia kita ke temen temen mu di kampus, " Raditya dengan kata katanya tidaklah main main, dan ancamannya akan ia wujudkan, maka Ayyanapun mengangguk.
Lalu ia menceritakan dari awal sampai dinikahkan dengan CEO yang kemaren sempat membuat kakaknya ketakutan.
" Ok, cuman biar aku percaya, aku harus menemui kalian di apartemen," ucap Marwah di depan layar licin.
Karena tidak jauh dari apartemennya, apalagi selalu terlewati kalau ke tempat kerja, sehingga Marwah dengan cepat sampai ke apartemen Raditya.
Ia di jemput oleh pengawal Raditya untuk diantar ke apartemen, dan saat pertama ketemu dengan dua pengawal itu, Marwah sempat takut, cuman terus di hubungi oleh Ayyana sehingga menjadi tenang hatinya.
" Mba, maafin aku selama ini membohongi keluarga, karena pernikahanku, awalnya hanya sebagai perawat bagi mas Raditya, tetapi ternyata Mas Raditya serius padaku, " tangis Ayyana setelah Marwah masuk ke apartemen Raditya.
Hati Marwah tak lagi diliputi ketakutan, bahkan iapun ikhlas ada yang melindungi Ayyana.
" Mas, kini kami sekeluarga lebih tenang, sebab Ayyana sering di bully oleh teman, kami yang berada ditempat jauh sedikit berkurang rasa khawatirnya, " ucap Marwah menunduk karena berhadapan dengan seorang CEO.
Karena waktu ijin hampir habis, maka ia segera pamit untuk berangkat ketempat kerja kembali.
Dan Ayyana meminta pada Marwah agar jangan diceritakan pada Rosa.
" Mba, aku belum siap," bisik Ayyana lirih, karena Raditya tetap didekat Ayyana.
" Tuh Mba, ia malu punya suami aku, makanya tetep di tutup tutupin, " protes Raditya, membuat Ayyana mencubit lengan Raditya.
Detik demi detik terus berlalu, siang yang pendek terganti oleh malam, karena tak terlihat semburatnya sinar mentari, walau saat siang ketutup juga oleh kabut, tapi terlihat bayang bayang cahaya mentari.
Hanifah dan Marwah tak keberatan kalau Ayyana menginap di apartemen Raditya, mereka tidak bisa melarangnya karena berdua sudah jadi pasangan halal.
" Mba, datanglah ke apartemen mas Raditya, aku dah masak kok, kamu kangen kan, masakanku, " pesan from Ayyana ke Hanifah, dan keduanya tak keberatan, setelah pulang kerja mereka mampir sambil nengok Ayyana.
Ayyana sendiri sudah mengganti sprei yang berantakan dengan sprei baru di almari saat Marwah mampir di siang hari tadi.
Berenam yaitu dua pengawalnya sekalian diajak untuk makan malam bersama.
" Hmmm, Pak Raditya beristri sudah cantik, masakannya enak lagi, makanya tak mau ditinggal, " seloroh salah satu pengawal yaitu Pak Ferdy.
Mata Raditya melebar, seolah ia tak suka dengar istrinya disanjung oleh orang lain.
__ADS_1
" Maaf, aku lancang menyanjung istri Pak Raditya, " ucap Pak Ferdy menakupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.