
Raditya POV
Pagi menyapa
Jemariku meraba ponsel di kasur, lalu berselancar untuk melihat notifikasi yang ada di layar kaca pada benda pipih. Hati ini sangat kecewa karena tak jua ada pesan dari Ayy.
" Ayy, akankah kamu tak mengenal ku lagi, " batinku yang sangat terluka oleh rindu dengan keteduhan wajah Ayy sehingga kalau ia ada bersama ku serasa hati ini sejuk, ditunjang dengan keikhlasan hatinya merawatku, walau awal aku sering membentak juga bersikap dingin tetapi Ayy tak juga putus asa, paling hanya menjawab sedikit konyol, tetapi itu karena keculunannya.
Pagi ini sudah sekitar satu pekan di rumah, aku menjalankan rutinitas sendiri dari mulai siap bersih diri di kamar mandi sampai ke ruang makan, lalu berangkat kantor bersama sopir setia, yang sempat beberapa bulan terganti oleh Ayy. Dan begitu sulit hati ini melupakan bayangan Ayy, lalu tangan ini mengambil ponsel hanya untuk melihat balasan chat Ayy, cuman tetap saja zonk.
" Kalau Ayy kuliah, tak akan membuka ponsel," batinku berusaha untuk berpikir yang baik baik, abis aku percaya Ayy telah merasakan getaran hatiku.
" Tuan, sudah siang, " lamunan ku buyar setelah mendengar ajakan Darno sopir setiaku.
Seperti biasa Darno sibuk membawa tas kerjaku, lalu membuka pintu mobil sambil membantu sampai aku bisa duduk di kursi sebelah supir.
" No, habis Ashar aku antar ke apartemen dekat kampus Mas Raihan, " pintaku, Darno tak banyak bertanya, ia hanya mengiyakan permintaan ku.
Waktu terus bergerak maju, walau kerasa sangat lamban, dan selama di pabrik aku memang sangat sibuk sehingga tidak banyak termangu menunggu waktu untuk menemui Ayyana.
Aku yang sudah diberi tahu oleh pengawal kalau Dania telah tahu keberadaan Ayyana, tidak menjadi hati ini menciut, karena ia akan tetap diawasi, sekalipun ia punya apartemen yang sama dengan Ayyana, aku tetap tidak mengkhawatirkan keselamatan Ayyana. Waktu belum menunjukkan jam pulang kerja, aku telah menghubungi Darno untuk segera membawa mobil di depan ruang kerja.
" Tuan, kita langsung menuju apartemen? " tanya Darno, aku hanya menatap bola mata Darno, sampai ia gelagapan, seperti merasa bersalah dengan pertanyaannya.
" Kamu nanti di basement, No," kata ku untuk menetralisir suasana tak nyaman di hati Darno.
" Iya Tuan," jawabnya pendek.
" Aku di basement telah di jemput sama Hendra dan istrinya, " kataku tanpa Darno menanyakannya.
*
Saat berada di lorong apartemen, hati ini berbinar melihat wajah cantik alami nan sejuk. Ayyana wajahnya berubah memerah melihat kedatanganku yang bagi dia hal yang tidak terduga, karena sampai sesore ini ia belum membaca chatku.
Setelah aku masuk ke dalam dan duduk di sofa, Ayy tetap melaksanakan tugas merawatku.
" Mas, jangan buat Papi, Mami sedih donk," ucap Ayyana, lalu ia melepas lingkaran tangannya sedang jemariku yang sedang mengelus punggungnya berusaha untuk tidak melepaskannya.
" Bisa saja kamu ngomong seperti itu Ayy, sementara kamu tak punya hati, " jawabku dengan kedua tangan ku pererat merengkuh tubuhnya.
" Justru aku tahu diri Mas, apalagi aku hanya sebagai perawat sementara, dan yang telah dirawat sudah tak perlu bantuan, " jawabnya panjang, ia ingin melepaskan diri dari dekapanku, cuman tanganku semakin kenceng merengkuhnya, ia tidak bisa melepaskan diri, kali refleks abis kepalanya ditelungkupkan ke dadaku, kesempatan untuk mengecup lembut pucuk kepalanya dan akupun seolah tak ingin melepas tubuhnya.
" Ayy, aakkuu tak ingin jauh darimu, " sedikit tergagap ucapan ku serta lirih sehingga nyaris tak terdengar oleh Ayyana. Walau ia semakin kencang mendekapku bahkan baju di bagian dadaku terasa basah menembus kulitku.
Hampir seperempat jam kami melepas kerinduan, lalu ia mengajak makan.
" Mas, aku menghangatkan sup dulu, " aku yang telah duduk di kursi meja makan ditinggal.
" Ayy, aku pengin lihat cara masak donk, " ia menuruti permintaan ku lalu tubuh ini dibawa ke dapur yang satu lokasi dengan meja makan.
Aku ikut membantu memasukkan sayuran ke panci, dan ini pertama kulakukan, serasa kebahagiaan menyelimuti hati.
" Hidup sederhana, menjadi orang biasa punya kebahagiaan tersendiri, " gumanku tersenyum tipis.
" Mas, harusnya ganti baju, nanti kena kuah tuh baju kerjanya, " ucap Ayyana, menatap lembut padaku, aku membalas tatapan wajah sejuknya, ingin rasanya menciumnya, atau terus mengecup bibirnya yang merah alami, cuma aku ragu kalau ia menolak, bahkan bisa ditampar wajahku ini.
__ADS_1
Aku yang dihadapan para pegawai disegani, bisa terjadi di depan Ayy karena kecerobohanku, menjadi pesakitan, oleh karenanya tetap harus menata hati untuk tidak ceroboh.
" Mas, kok enggak jawab sih," selorohnya dengan tersipu.
" Hmmm tambah cantik kamu Ayy, " batinku.
Aku masih belum punya keberanian untuk menyanjung padanya, rasa kekagumanku masih selalu dalam hati, atau hanya dalam bentuk chat lewat aplikasi ponsel.
" Enggak apalah, kan, bisa dicuci, " jawabku sekenanya.
" Abis aku takut klo kuahnya nempel di baju dan sulit hilang, " jawabnya enteng.
Lalu dia mengajak duduk di kursi meja makan.
" Ayy... " aku hanya menatap kedua bola matanya yang terlihat berbinar, karena bibir ini masih juga sulit bicara sesuai gejolak hati.
" Mas, enggak enak supnya kah? " tanyanya menunduk.
" Bukan, bukan itu... " kataku tak berani meneruskan.
" Lalu apa Mas? " tanyanya tetap menunduk dengan pelan menyendok sup untuk dimasukkan ke mulut.
" Aku ingin tetap ada kamu, " ucapku, dalam hati berharap Ayyana tahu yang ku mau.
Dia diam seperti bingung mau menjawabnya.
" Ayy, bisakah kamu kayak dulu lagi? " tanyaku.
" Mas, aakkuu akan merawatmu sesuai kesepakatan tertulis, sampai kamu bisa jalan, " jawabnya, hati ini berbinar.
" Berarti aku akan berada di apartemen bersamamu? " tanyaku berharap ia tidak berani menolak.
" Aku selalu membutuhkan bantuan mu setiap hari Ayy, " lirih ucapan ku, kali ia enggak mendengar karena tidak berani memperhatikan ku.
" Mas, cuman aku tak punya keberanian untuk tetap merawat mu kali ini, Mas tahu sendiri, kan, aku sudah berada di tempat terpisah, " ucapnya panjang.
" Ok lah, setiap hari untuk makan siang aku tetap kamu kirim, juga setiap sore pulang kantor aku minta di jemput kamu, " mulai berani aku bicara panjang.
" Insyaallah Mas, selama enggak tumbuk sama kuliah, " jawabnya hati hati.
" Harus Ayy, kamu harus mengutamakan kewajiban, " matanya melebar menatap ku, dan wajah imutnya menghipnotis ku untuk menyentuhnya.
" Mas, kamu jangan nakal, " ucapnya dengan menjauhkan kepalanya dariku, sempat terbersit kekecewaan dihati, bahkan wajah ini kayak memanas oleh penolakannya.
" Ok, sorry, aku tak bisa mengontrol diri, " jawabku berusaha menjauhi.
" Mas, kamu sudah cukup lama disini, mau ke kantor lagi, kan, " ujarnya.
" Cuman kamu yang nganter Ayy, Darno tadi dah aku suruh ke kantor, " aku berbohong serta berharap Ayyana tidak menolakku.
Ia menyanggupi, mungkin karena rasa tanggung jawab merawatku.
" Ok Mas, klo sudah sembuh aku tak berani lagi, karena kontrak ku selesai, " ucapnya, kulihat ada gurat kesedihan di wajahnya, kali mikir tentang statusnya.
" Mas, klo kamu dah sembuh, status kita akan aku urus, " tiba tiba ia melanjutkan ucapannya dan sungguh membuat hati ini kayak ditusuk belati.
__ADS_1
" Ayy, aku akan menolaknya, " jawabku tegas.
" Kok, brarti Mas menyalahi kesepakatan yang pernah kita tandatangani, " selalu saja ia ngomong banyak.
" Waktu yang membuat aku mengubah kesepakatan Ayy, " jawabku memelas.
" Mas, sepertinya tidak segampang itu," ucapnya pelan.
" Akan aku perjuangan, dengan menerima konsekuensi dari langkah ku ini, " ucapku penuh semangat.
Bahkan kalau aku harus melepas perusahaan, akan kuterima.
" Mas, aku tak sependapat, bagaimanapun kamu harus lebih mengutamakan kedua orang tua serta keluarga besarmu, " ucapnya pelan.
" Kalau aku tersiksa, " jawabku, dadanya terasa nyeri.
" Kata mu, waktu yang akan mengubahnya, " jawabnya.
Dan iapun bangkit lalu mengambil piring serta alat makan lainnya di meja untuk dibawa ke wastafel. Aku sendiri hanya bisa diam dengan ucapannya.
Ayy membersihkan semua alat makan, aku tetap duduk di kursi sambil memperhatikan gerak gerik tubuhnya yang sangat cekatan dalam bekerja.
" Ayy, aku tidak akan ikhlas kalau kamu menjadi milik kakakku, " entah apa yang mendorong ku untuk ngomong seperti itu, cuman yang menggondok di dada selama ini bisa ku utarakan, sehingga terasa plong di dada.
Dia diam terpaku, mulutnya kayak terkunci atau ia sangat kecewa dengan kata kataku.
" Ayy, kamu seperti tak suka dengan ucapan ku tadi, kamu menganggapku sebagai penghalang cintamu dengan mas Raihan, kan, " desakku.
" Buukkaan itu Mas... " wajahnya memerah, dan tak mampu juga meneruskan ucapannya.
" Sudahlah Mas, mau aku antar ke kantor atau Mas menghubungi Darno supaya menjemput, " ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Ayyana mendekatiku, lalu jari kecilnya mengusap usap baju hem yang kupakai, kemudian memakaikan jas.
Kini aku seperti ada yang memperhatikan kembali, setelah selama satu pekan lebih tak terurus.
" Mas, Darno sudah sampai di basement? " tanyanya.
" Kan, tadi kamu yang akan nganter, " jawabku.
Ia menuntun ku keluar apartemen, lalu menuju basement, dan Darno sudah tak berada di basement, tadi aku menyempatkan chat padanya agar menuju ke pabrik.
" Tuh, Ayy, Darno tak ada, " ucapku, akhirnya Ayy menggandeng ku menuju ke mobil.
Hati ini menjadi berbunga kembali, karena disebelahku ada wanita yang selama ini dirindukan.
Ia tetap menyetir dengan kecepatan standar, melewati jalanan di ibukota yang tak pernah sepi.
Mata ini tak puas menatap wajah halus alami pada sisi kirinya. Ingin sekali aku mengecup lembut pipinya, cuman belum saja ada keberanian.
" Mas, aku hanya bisa nganter ke kantor, nanti pulang ke rumah sama Darno, " ujarnya.
" Enggak Ayy, kamu yang harus nganter, " tandasku tegas.
" Mas, mengertilah, jangan buat masalah jadi rumit, " ucapnya.
__ADS_1
" Akan aku atasi yang kamu katakan, " jawabku nyante.
Ayy lebih fokus pada nyetir karena jalan padat merayap.