Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 32 Menerima tawaran Pak Faisal


__ADS_3

Kiara POV


Taman yang sejuk oleh banyaknya pepohonan yang ditanam tertata rapi, sehingga aku terasa kerasan duduk duduk di temani oleh Pak Faisal sambil menyendok bakso yang telah tersaji di meja taman.


" Enak, kan, Non baksonya? " tanya Pak Faisal.


" Iya Pak, lumayan kok," entah apa yang membuat aku tergerak berada ditempat seperti ini, walau lingkungan bersih, tetapi bagiku sangat asing, dan aku sendiri baru pertama makan di lokasi kayak gini.


" Aneh, kenapa kok aku mau diajak Pak Faisal makan di tempat seperti ini, " batinku terus saja berkata dengan kalimat sama.


" Non, kalau kamu ingin tahu, untuk ekonomi ku hanya mampu makan ditempat kayak gini, " ujarnya sambil mengunyah bakso.


Aku mencoba untuk tersenyum mengimbangi tertawa renyahnya, dan iapun mengulang kata kata yang sama yaitu tentang tempat ia beli jajanan.


" Oh ya, Non, aku ingin cerita tentang Papinya Dio, cuman harus mencari tempat yang jangan banyak telinga mendengarnya, " ucapnya dengan mata menatap tajam padaku, seolah sedang menyelidik pada reaksiku.


" Gimana Non, tertarik untuk mencari tahu tentang Papinya Dio? " tanyanya.


" Eeee, selama aku punya waktu Pak Faisal, " jawabku, hanya untuk mencari kata kata penolakan secara halus, karena aku masih perlu tahu tentang Pak Faisal, benarkah ia teman Papiku? atau bisa jadi orang yang ingin memanfaatkan materi orang tuaku.


" Ok, aku tahu kamu masih ragu tentang ku, boleh kita berfoto lalu kirim pada Papimu, " dan aku menurut pada idenya untuk berselfie berdua di tempat ini, tetapi tidak secepat itu aku kirim foto berdua pada Papi.


" Pak Faisal, Papi kalau sibuk tak mungkin buka pesanku, jadi biarlah nanti aku mau menemuinya, dan aku pengin tahu reaksi Papi saat putrinya tak sengaja ketemu teman akrabnya, " jawabku datar.


" Waoo, tentu ia akan seneng Non, lalu langsung menghubungiku, " ucapnya riang.


Aku tidak menanggapi reaksi Pak Faisal, kini aku bangkit untuk membayar bakso.


" Non, sudah tidak nyaman di tempat ini?" tanya Pak Faisal.


" Iya Pak, aku ingin segera menemui Papi, mau cerita tentang pertemuan ini, atau Pak Faisal ikut sekalian menemuinya," ajakku basa basi dan berharap Pak Faisal menolak ajakkanku.


" Maaf Non, aku sebentar lagi ada janji ketemu sama teman juga, lain kali aja ya, " jawabnya.


Setelah membayar bakso, aku berpamitan menuju tempat parkir, sementara Pak Faisal telah dijemput temannya di tempat ini.


" Non, kamu tidak bingung, kan, jalan menuju tempat parkir?" tanya Pak Faisal, matanya menatapku sedikit ada kekhawatiran.


" Iya, cuman agak jauh dari sini, " jawabku lalu kaki dengan pakai sepatu kets berjalan meninggalkan Pak Faisal yang sudah bersama temannya.


Melewati taman di ibukota yang telah tertata rapih, sehingga banyak menarik orang orang untuk sekedar duduk duduk di akhir pekan, aku tak perlu khawatir karena banyak orang yang ada di taman di siang ini.


" Mereka sangat bahagia menikmati suasana yang sejuk, beda dengan ku, uang berlimpah tetapi belum juga hati ini menemukan kebahagiaan," batinku, tak berarti tidak ada rasa syukur, hanya saja aku selalu diliputi kebimbangan terutama tentang pasangan hidup.


Disaat Raditya cacat hati ini ingin berpaling pada Dio, tetapi di hatiku sudah terlanjur tumbuh sayang pada Raditya.


Sementara Dio walau aku tahu Papinya melarang untuk bersama ku, tetapi dengan sembunyi sembunyi ia berusaha menemuiku, dan sejauh ini memang masih tertutup rapih, terutama Papinya Dio belum tahu kenekatan Dio padaku.


" Kiara! " aku terperanjat saat buka pintu mobil, Dio menahan pintu yang akan ku tutup.


" Di, kamu tahu aku ada disini? " tanyaku kaget.

__ADS_1


" Kemanapun kamu berada, aku selalu tahu Ki, " jawab nya santai.


" Tolong Di, jangan ganggu aku, aku sudah jadi istri lelaki lain, " sergahku.


" Hmmm, sejak kapan kamu mau diperistri oleh lelaki cacat kedua kakinya, " seloroh nya dengan bibir dicebikan.


" Dia cacat karenaku Di, jadi tolong jangan ganggu aku, " kilahku.


" Aku tahu, kamu tidak mau merawatnya, kan, bahkan Ditya telah menikah dengan gadis culun yang mau merawatnya, " jawabnya, matanya ia sipitkan.


" Ki, sudahlah akhiri kebimbangan mu, menikah lah dengan ku, terus kita lari keluar negeri, " desaknya.


" Lho, aku kan, sudah menikah, " jawab ku.


" Itu hanya menikah siri saja, apalagi Raditya sudah pindah hatinya ke gadis culun itu, " ucapnya dengan tangan ku dipegang erat.


Aku sempat gelagapan. Dan rasa takut ku muncul dengan membayangkan Papi datang menyeretku.


Papi sangat lah tidak suka kalau aku bersama Dio.


Terlintas di otak kalau aku tertarik pada tawaran Pak Faisal yang mau cerita tentang Papinya Dio.


" Mungkin aku perlu tahu sesuatu yang ditutupi oleh Papi sampai menentang keras pabila aku bersama Dio, demikian pihak Papi Dio," batinku.


" Di, aku tak ingin di cutat dari nama keluarga, apalagi aku anak satu satunya, kalau kamu tak masalah karena memiliki saudara, sehingga orang tuamu tidak sangat bersedih pabila kamu terusir dari keluarga, " kataku panjang lebar.


" Karena kamu takut tidak bisa hidup seperti putri Sultan, kan, sebenarnya aku bisa membuatmu tetap hidup kayak sekarang, " ucapnya berharap.


" Mengertilah Di, aku tidak bisa dijauhi orang tua, " ujarku lalu aku bersiap menutup pintu mobil, dan Dio tidak bisa menahan ku terlalu lama.


" Ok Ki, aku tetap akan berjuang, " ujarnya, sedang aku telah menutup pintu mobil lalu menstaternya.


Kulihat dari kaca spion rasa kecewa mendalam di wajah Dio, aku yang selalu dalam bimbang menjadi iba melihatnya. Dan terlintas kembali untuk tahu cerita dari Pak Faisal.


Sampai di rumah akupun menghubungi Pak Faisal, lalu disepakati untuk bertemu di taman kota.


Saat aku sedang chat dengan Pak Faisal, Mami mendekati.


" Putri Mami lagi sedih," ucapnya iba.


" Iya Mi," jawab ku pendek dengan mata berkaca.


" Kamu sedih karena Raditya akhirnya berpaling darimu, kan, " ucap Mami.


" Diantaranya begitu Mi, " kataku.


Kebimbangan ini sangat menekan hati, sampai aku di usia sekarang selayaknya sudah berumah tangga.


" Mi, tolong kalau Mami tahu hubungan yang tidak baik Papi sama Papinya Dio, kali ada sebab lain, karena aku lihat Papi seperti duka serta luka sangat dalam padanya, " pintaku hati hati. Mami melengos mendengar kata kataku, seolah tidak berkenan apabila aku mengoreknya.


" Oklah, aku harus menemui Pak Faisal sore nanti di taman, siapa tahu setelah mendengar cerita, kebimbangan pilihan tentang Dio serta Raditya akan berakhir, " batinku.

__ADS_1


Aku langsung masuk kamar lalu setelah membersihkan tubuh di kamar mandi tubuh yang penat direbahkan keatas kasur, mata ini dipaksa memejam.


" Uuuhhh sakit hati pada Raditya yang telah berpaling pada gadis culun sangat menusuk, " gumanku, dan mata ini telah berembun.


" Hati ini sangat luka kalau Raditya menduakan ku," gumanku lagi.


Sedang tentang Dio yang membuat hati ini bimbang, karena baik keluarga ku maupun keluarga Dio menentang keras, walau Dio dengan kenekatannya secara sembunyi selalu menemuiku.


*


Menunggu sore untuk bertemu dengan Pak Faisal serasa jam terhenti, hati ini sangat ingin tahu tentang permusuhan diantara Papi sama Papinya Dio.


Berkali aku membuka ponsel bukan untuk melihat notifikasi tetapi melihat jam, dan hari ini tak tertarik untuk menyentuh aplikasi media komunikasi pribadi maupun grup. Maka aku lebih banyak bengong atau hanya menatap setiap langit langit kamar.


Ceklek


Sempat tubuh ini bergerak karena kaget oleh kedatangan Mami.


" Ki, kamu tak baik berlama disini, segeralah pulang temui Raditya, " pinta Mami yang telah duduk disisi ranjang dekat kepala ku, tangan halusnya mengelus pucuk kepala ku.


" Apa dengan kamu berusaha menjauh dari Raditya, rasa sedihmu bisa hilang? " tanya Mami lembut, aku menelungkupkan kepala di tubuh Mami, dengan air mata meleleh di dua bola mata.


" Mi, aku tidak sanggup direpotkan oleh keadaan Raditya, " ucap ku sedih.


" Terus pabila Raditya ada yang lebih perhatian, kamu telah ikhlas? " tanya Mami.


Aku tidak mampu menjawab tetapi di relung hati serasa teriris iris, sakit juga perih, bahkan wajah si culun kayak ada di depan mata sedang mentertawakan kelemahanku, rasanya ingin kuku kuku panjang ini mencakar wajahnya yang sok polos.


Aku bangkit perlahan dari kasur, ingat pada janji dengan Pak Faisal.


" Mi, aku mau ke rumah Raditya, " kataku bohong, walau sebenarnya memang nantinya setelah ketemu Pak Faisal, aku langsung tancap ke rumah Raditya.


" Nah gitu donk anak Mami, klo menurut Mami, mending wanita culun itu selama Raditya belum sembuh tetap harus merawatnya, sesuai rencana semula, " kata Mami.


" Iya juga ya Mi, biar aku tidak kesal lihat kerepotan Raditya," jawab ku, tetapi dihati tidak rela lihat dengan mata kepala sendiri saat si culun menyentuh tubuh Raditya.


" Apalagi tiga hari lagi kamu mau ke Australia, kan," kata Mami.


" Ok Mi, aku nanti mau bicara sama Mami nya Raditya," kataku.


" Kamu tak perlu khawatir, abis su culun itu saat merawat Raditya, mertua mu serta Raihan juga Aliandra selalu berada di dekat nya, jadi aman, " ucap Mami.


" Aku berharap Mami juga setiap hari datang ke rumah Raditya, " pintaku.


" Ok, Mami ingatkan selalu, kamu jangan sampai berpaling pada Dio," tandas Mami dengan menarik nafas dalam.


" Mi, aku percaya tentu ada masalah lain selain yang selalu di cerita Papi dengan Papinya Dio," desak ku juga.


" Kalau kamu tahu tentu akan menjauh dari Dio, " kata Mami.


" Kalau gitu, Mami bisa cerita donk," jawab ku, tetapi Mami seperti tidak berkenan untuk menceritakannya, karena terus keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2