
Author POV
Raihan sehabis makan malam tak ikut berkumpul dengan alasan bermain bersama Aliandra di kamar, Mami tak bisa mencegah, apalagi Aliandra telah menarik tangan Ayahnya.
" Ditya, belum saatnya aku bicara tentang kedatangan mu di apartemen Ayy, tunggu waktu yang tepat, jadi sekarang kamu masih ku beri kesempatan untuk bisa menemui Ayyana, " guman Raihan, dengan mendengus lirih, matanyapun menatap tajam pada Raditya yang hanya mencebikan bibir. Sebenarnya hati Raditya getir pada sikap Raihan, demikian Raihan selalu menahan kesal pada Raditya terutama setelah tahu kalau yang menjadi istri sementara adalah Ayyana, mahasiswinya yang awalnya bikin Raihan kesal serta tertawa dengan keculunannya, tetapi setelah tahu kesehariannya, ternyata Ayyana selain cerdas punya kelebihan lain, yang tak kalah dengan mahasiswa dari keluarga klas atas. Apalagi sekarang setelah mau pakai baju kayak teman lain, terlihat jelas aura kecantikan yang tak di buat artinya ia sudah cantik dari sononya, maka Raihan semakin terpesona, selalu disaat memberi kuliah di kelasnya, sesekali mencuri pandang pada Ayy, bahkan sudah tak malu lagi apabila mahasiswa yang lain memergokinya.
" Ayah, kenapa tante Ayy enggak pulang kesini, Liandra kangen Yah, " Liandra kadang panggil Dady, Ayah atau Papa.
" Kamu pengin ketemu, besok ikut ke kampus sama Ayah, ya, " pinta Raihan yang disambut gembira sama Liandra dengan berjingkrak.
Sedang Raihan pabila mengajak Liandra ke kampus akan bisa dekat dengan Ayy.
" Ditya, aku tahu Ayy jadi istri kamu, tapi tak semudah untuk bisa memiliki Ayy, kamu akan menghadapi banyak hambatan, beda dengan ku paling hanya Dania, yang bisa ku singkirkan dengan hanya menyentikan jari, " gumanku.
" Dady, ayo donk mainan, ngapa kok hanya diam, " seloroh Liandra.
" Ok, Dady lagi mikir apakah besok kamu bisa bangun pagi? " ngomongnya berbohong.
" Ahh Ayah, kan, tante Ayy yang ngajarin aku bangun pagi ngajak Sholat, " cerita Liandra, Raihan tersenyum dan hatinya sangat senang, karena putrinya lebih suka bicara tentang Ayy ketimbang Dania, ibunya sendiri, bahkan Liandra tak pernah menanyakan tentang ibunya itu.
Malam telah larut, Liandra sudah ngantuk maka ia minta tidur di kamar Ayahnya.
*
Mentari pagi mulai mengintip di ufuk timur, Ayyana bangkit dari kasur lalu melakukan kegiatan yang biasa dijalankannya. Iapun ingat kata kata Raditya kalau mulai hari ini mau kirim sarapan pagi ke kantor Raditya.
Cuman ia bingung karena kuliahnya pagi, yang bersamaan dengan jam kantornya, maka Ayyana kemaren negosiasi sama Raditya, bisanya mengantar makan siang juga makan malam.
" Mas, bukankah sarapan pagi menjadi kewajiban bersama bagi keluarga mu untuk kumpul di satu meja? " tanya Ayyana hati hati.
" Bagi aku tak masalah Ayy, kan, kerjaku dituntut full, sehingga sebelum kaki ini patah aku sudah terbiasa makan diluar, " jawabnya, matanya redup menatap wajah cantik Ayyana, sampai tersipu dibuatnya.
Maka pagi ini Ayyana menuju ke dapur memasak bahan bahan yang ada di kulkas, dan ia juga dikabari sama Bibi kalau Paman hari ini ikut juragan kirim sayuran ke pasar dekat apartemennya, sekalian bawa ikan serta sayuran dari kebun.
Drrtt drrrt
" Assalamu'alaikum, Sa, sudah bangun kamu, " suara Ayyana disini, setelah mengangkat ponsel karena terdengar getarnya, dan itu dari Rosa.
" Iya donk, aku masak Ayy, kamu sarapan di apartemen ku ya, " ajak Rosa disana, tanpa pikir panjang Ayyana menyetujui, lalu telfon oleh Rosa diakhiri.
Sedang Ayyana tak jadi meneruskan memasak, bahan bahan yang sempat di keluarkan dimasukkan kembali ke kulkas, lalu bersiap siap menuju kamar mandi.
Sementara Dania sejak tiga hari yang lalu telah pindah satu lorong dengan apartemen Rosa, bahkan tak jauh hanya dibatasi dua apartemen, tetapi Rosa belum tahu.
Dan pagi itu Dania yang sudah tahu apartemen Rosa, berniat untuk mendatanginya sebelum Rosa berangkat kuliah, atau menghadangnya saat Rosa mau berangkat. Ia ingin mempengaruhi Rosa serta teman teman dekat Ayyana agar tak lagi akrab.
Pukul 6.00 pagi Ayyana sudah selesai bersiap diri untuk menuju apartemen Rosa, ia sangat percaya diri walau telah tahu kalau selalu terancam oleh Dania, tetapi semua ia pasrahkan pada yang di Atas.
__ADS_1
Tek tek tek
Ayyana berjalan lewat lorong depan apartemen untuk naik dengan lift menuju apartemen Rosa.
Rosa di apartemen telah siap juga di kursi meja makan, kalau Ayyana datang tinggal buka pintu pakai remote.
Sedang Ayyana telah keluar dari lift berjalan di lorong dengan santai.
" Hai, manusia penjual diri, kau masuk ke mulut harimau, " pundak Ayyana tiba tiba ada yang menarik keras dari belakang, sempat Ayy mengaduh.
Ayy membalikkan tubuh, ia telah paham pada suara Dania sehingga tak begitu kaget.
" Tolong Bu, jangan ganggu kehidupan ku, " ucap Ayyana tidak gentar menghadapi ibunya Liandra.
" Kamu yang mengganggu keharmonisan keluarga ku, " serang Dania, matanya melotot kayak mau copot bola matanya.
" Ibu salah bicara, bukankah sebelum ada aku di kampusnya Pak Raihan, anda telah berpisah? " serang balik Ayyana.
" Dan, maaf Bu, aku tak ada waktu untuk melayani mu, " ucap Ayyana selanjutnya, lalu dengan langkah cepat Ayyana menuju apartemen Rosa, Dania tak bisa mengejar langkah Ayy karena tidak terbiasa jalan cepat. Nafas Ayyana sedikit terengah saat masuk ke apartemen Rosa, terus dengan cepat pintu ditutup, Rosa tidak tahu permasalahan yang dihadapi Ayyana.
" Ayy, kok, nafasmu terengah, apa kamu. lewat tangga? " melihat sahabatnya terengah Rosa bertanya.
" Iya, pingin olahraga, " Ayyana kepaksa berbohong.
Berdua duduk di kursi menikmati sarapan pagi, hasil olahan Rosa yang tak kalah enaknya dengan masakan Ayyana.
" Ayy, lain kali pakai lift saja, tuh nafasmu masih saja terengah, " ucap Rosa.
" Abis lagi ngetest jantung Sa, biar klo pulang kampung tak kaget, " seloroh Ayyana.
Kampung Ayy berada di daerah dataran tinggi yang tak rata permukaan tanahnya, dan sebenarnya ia telah biasa berjalan di tanah yang tak rata dulu sebelum di ibukota, sehingga nafas tetap tidak ngos ngosan kalau berjalan.
Sarapan pagi selesai, tak lupa Ayyana mencuci pecah belah di wastafel yang masih numpuk dari bekas memasak.
" Sa, klo habis masak, kayak aku donk alat alat langsung cuci jadi enggak numpuk, " seloroh Ayyana nyengir.
" Nah itu lho Ayy, aku yang belum bisa, coba nanti ku coba, atau mending beli mesin cuci gerabah, " ucap Rosa.
" Menurut aku enggak perlu, kan, enggak banyak alat yang kotor," jawab Ayyana.
Kedua anak ini memang cocok, mereka berbicara saling mengisi kekurangan, dan tak pernah ada yang saling beradu kata yang berakibat marah marahan, demikian teman teman yang lain, kadang sih saling ledek cuman tetap terjalin persahabatan.
" Ayy, dah kurang duapuluh menit lagi, kita brangkat, " ajak Rosa, lalu keduanya mencangklong ransel dan keluar menuju basement.
Sementara Dania belum bisa melaksanakan niatnya untuk mempengaruhi Rosa agar mau menjauhi Ayyana, karena saat keduanya lewat depan apartemen Dania, ia masih berpikir akan mempengaruhi disaat Rosa tak bersama Ayyana.
" Aku tahu, Ayyana dijaga ketat sama dua pengawal, agar rencanaku sukses, harus perhitungan," batin Dania, ia sangat kesal hatinya pada gadis culun, ternyata banyak yang mau berteman, juga banyak yang simpatik.
__ADS_1
Dania pun berusaha agar apartemen nya tak di ketahui oleh para pengawal Ayyana, apalagi oleh keluarga Raihan.
Dan Raihan di rumah telah siap berangkat ke kampus bersama Liandra, gadis kecil itu sudah bangun sejak Adzan Subuh.
Drrrt
" Ayy, Liandra kangen sama kamu, pagi ini aku ajak ke kampus, " pesan dari Raihan.
Seperti biasa Ayyana belum sempat membuka ponselnya, bahkan sampai di kampuspun belum juga menyempatkan mengambil ponsel di tas ransel.
" Ayy, Clara cs blum tahu, kan, apartemen kamu? " tanya Andina.
" Sudah kok Ndin, cuman, kan, sulit masuk ke apartemen," ucap Ayyana.
" Paling klo dia membully kamu bisanya pas ketemu di jalan, " ucap Rosa.
Dan yang ditakutkan oleh Ayyana kalau Clara cs telah mengenal Dania, lalu mereka bersekongkol untuk mencelakainya.
Tetapi Ayyana berusaha membuang pikiran yang tak baik dari otaknya.
" Ayy, dicari putri dari, " ucap Bella.
Semua teman satu kelas tahu kalau Liandra sangat dekat dengan putri Pak Raihan.
" Udahlah Ayy, mending kamu jadi ibu sambung Liandra, kasihan banget tuh, ia berlari cari kamu, " seloroh Ryan.
Ayyana menjemput Liandra yang tertawa riang karena pagi ini bisa ketemu Ayyana.
" Cuman, tante mau kuliah lho Dengan, " kata Pak Raihan yang sudah ikut gabung di teras depan ruang 9.
" Kan, jam pertama kuliahnya Pak Raihan, boleh kali Liandra ikut duduk di ruang, " kata Rosa tersenyum.
Pak Raihan setelah dekat dengan Ayyana menjadi dekat dengan mahasiswanya.
" Tapi enggak boleh ngeganggu lho De, saat di kelas ya, " pinta Pak Raihan.
" Ok, Pih, cuman tante duduk di kursi belakang ya, " pinta Liandra, matanya yang bening dengan pipi imutnya menjadikan yang dengar bicaranya sangat gemas.
Pak Raihan masuk kelas lalu mahasiswa yang tadi masih di teras ikut berjalan di belakangnya.
" Ayy, kamu lihat tuh si Clara cs, lagi melototi kamu, " bisik Rosa di telinga Ayyana.
Tangan Ayyana yang lagi menggandeng Liandra sempat menengok ke Clara cs yang ada di taman ruang 7.
" Ia kok tetap saja memusuhimu, padahal kamu dah nyingkir ya, " bisik Rosa kembali.
" Aku juga enggak ngerti Sa, semoga segera dibukakan hatinya, " ucap Ayyana, dan Rosa meng aamiini.
__ADS_1