Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 56 Calla membatasi ke Ayyana


__ADS_3

Author POV


Berjalan bertiga beriringan dengan masing masing menggendong ransel untuk menuju taman yang telah berubah putih.


Dan jarak beberapa meter ada mobil pelan mengikuti langkah tiga cewek yang tubuhnya panas dingin oleh perasaan gelisah dengan kekhawatiran pada Calla, yaitu mereka takut tak mau menemuinya.


Dengan sepatu khas musim dingin, Ayyana berjalan hati hati mengikuti Hanifah sedang Marwah ada disebelah Ayyana, perasaan Marwah lebih tajam yaitu ia melihat mobil yang semakin dekat pada mereka, cuman ia hanya berbisik pada Hanifah.


" Kali itu Calla beserta kedua orang tuanya, " ucap Hanifah lirih juga, tujuan nya agar tidak didengar oleh Ayyana, mereka tak ingin membuat Ayyana menjadi gelisah.


" Yang penting kita tetap menjaganya, siapa tahu dia suruhan Clara, yaitu Hana yang bersuamikan orang kaya, " bisik Hanifah, sedih hatinya, karena ada saja orang yang ingin mencelakai anak yang sejak kecil sudah yatim piatu, juga tak punya keluarga. Bi Yeyen yang dianggap sebagai keluarga malahan tega memisahkan Calla tanpa memberi kabar, sehingga tak tahu keberadaannya.


Kedua kakak angkat Ayyana diam tetapi tetap waspada terhadap mobil yang semakin pelan juga mendekat ke posisi mereka bertiga.


" Mba, dari tadi mobil itu ngikutin kita terus, kali Calla dengan orang tuanya, " ucap Ayyana berusaha menutupi kegusaran hatinya, ia terpikir pada orang suruhan Hana dan Ayyana percaya Hana tetap mendanai Clara cs karena dialah yang mencarikan suami tajir.


" Tuh Calla beserta Mami, Papinya, " ucap Marwah, matanya melihat kearah kanan ketiga orang itu sedang menuju tempat yang sama dengan mereka.


Hati Ayyana sulit dikendalikan debarannya, semakin berusaha menata hati semakin sulit untuk bisa tenang, bahkan ditempat yang sedingin ini tubuhnya jadi panas dingin.


" Mba, aku gemeteran banget, semoga aku kuat untuk tetap bisa mengendalikan diri, " ucap Ayyana, sampai bibir bergerak gerak kencang. Telapak tangan Hanifah serta Marwah menggenggam telapak tangan Ayyana satu satu, biar Ayyana bisa tenang hatinya.


" Kita tak bisa duduk, abis tempatnya bersalju, " ucap Hanifah.


" Kali ke toko roti yang dulu saja mba, didalam kan, hangat, " pinta Marwah, sedang Ayyana menurut saja, apalagi belum tahu menahu situasi di kota ini.


" Calla sikapnya biasa ya Mba, enggak kayak aku yang panas dingin," celetuk Ayyana manyun.


" Percaya pada yang diAtas Ayy, suatu saat akan dibukakan hatinya untuk mengakui mu sebagai kakak, " ucap Hanifah dengan mengencangkan genggaman tangan ke telapak tangan Ayyana. Sementara Hanifah serta Marwah tambah gusar dengan mobil yang semakin mendekat parkirnya ke posisi mereka.


" Uufff kita harus melindungi Ayyana, abis curiga banget pada mobil itu, sayang yang didalam tak bisa terlihat, kacanya sangat gelap, " ucap Hanifah lirih, tetapi Ayyana mendengar.


" Mba, kok ya ada saja orang yang memusuhiku, padahal aku tidak pernah menyakiti mereka, " ucap sedih Ayyana.


" Mereka ngiri pada kecantikan mu Ayyana, atau mungkin kamu ikut orang tuaku yang miskin, beda dengan Calla sudah cantik tetapi orang tua angkatnya bisa memenuhi, sehingga ia tidak bernasib kayak kamu, sering dihina orang, " ucap Marwah menunduk.


" Mba, kok bilang gitu, justru aku berterima kasih, Paman dan Bibi memberikan pelindungan sehingga aku bisa bertahan hidup, " ucap Ayyana.


Dan ketiganya semakin dekat dengan Calla yang didampingi oleh orang tua angkatnya yang sudah bisa bahasa Indonesia walau belum lancar, karena mereka semangat belajar bareng dengan Calla.

__ADS_1


Dan ditempat yang sangat dingin berenam menghentikan langkah, masing masing berjabat tangan.


Ayyana tidak kedip memandang Calla, dan hanya bermodalkan pesan dari Bibi Kasmanto kalau Calla punya tanda lahir di lengan tangan kirinya.


" Semoga tanda lahir itu tidak dihilangkan oleh Calla, " batin Ayyana.


" Cuman bagaimana aku mau menanyakan tentang tanda lahir itu, abis tak enak hati saja, atau bisa bisa tersinggung, " batinnya lagi.


Sempat berenam diam, walau awal Hanifah yang dituakan menanyakan tentang kabar serta kesehatan.


" Hmmm, inikah Ayyana? " tiba tiba Nonya Cornelia buka suara diantara keheningan serta dinginnya udara. Ayyana sangatlah gugup hanya untuk sekedar mengiyakannya, sampai tergagap.


" Alena, kamu memang sangat mirip dengan Ayyana, " ucap Nyonya Cornelia dengan bahasa Indonesia terputus putus karena belum lancar.


" Iya Ma, di media pun semua comen sama dengan Mama, tapi banyak orang punya kemiripan dan belum tentu saudara, " ucap Calla sengaja pakai bahasa Indonesia agar Ayyana tahu.


" Nyonya, maukah ke tempat makan, biar kita lebih leluasa berbincang, " ajak Ayyana dengan suara tersendat di kerongkongan.


" Ok, memang di luar sangat dingin, apalagi kamu belum terbiasa di lingkungan yang ekstrim, " jawab Nyonya Cornelia datar.


" Iya Nyonya, lama lama perut bisa kram, " jawab Ayyana menyungging senyum dibibir.


Sejauh ini Alena masih membatasi diri dengan Ayyana, ia belum bisa mengakui Ayyana adalah kakak kandungnya.


" Kita harus jaga Ayyana, jangan sampai kenapa napa, " jawab Hanifah sedih.


Sambil berjalan pelan karena jalan licin oleh salju yang tak begitu tebal karena selalu dibersihkan.


Calla tetap tak mau berdekatan dengan Ayyana, sedang ingatan Ayyana terus saja berjalan ke masa kecil, gambaran foto foto kecil bersama Calla juga Ayah Bunda nya ada di depan mata demikian juga pesan bundanya setiap kali akan berangkat kerja setelah dititipkan ke rumah Bibi, agar tetap selalu sayang pada Calla. Iapun sesekali imenatap punggung Alena, ingin rasanya memeluk adiknya itu.


" Ayy, gimana hati kamu dengan Alena, klo memang dia adik kandung kamu tentu di hatimu ada ikatan walau sekecil apapun, " bisik Hanifah ditelinga kanan Ayyana.


" Iya mba, rasa hati ini adik di depanku kebayang saat bayi, yang setiap kali aku peluk, " mata Ayyana berembum dan dada menggondok, rasanya ingin menumpahkan dengan tangis.


Sampai di tempat makan yang menyediakan kursi, mereka bisa duduk satu tempat, cuman Alena tetap tak mau mengakui Ayyana sebagai kakaknya.


" Kami selalu menepati janji, dengan kesediaan untuk bertemu dengan kalian, tetapi jangan berharap kalau aku mengakui kamu sebagai kakak kandung," ucap Calla dengan wajah dikerutkan. Ayyana yang duduk disebelahnya hanya melebarkan mata dan dalam hati hanya memohon pada Allah, bahwa cewek yang duduk disebelahnya benar Calla adiknya.


Sementara Marwah semakin tambah gelisah demikian juga Hanifah, dari jarak beberapa kursi ada tiga lelaki yang selalu mengawasi, hanya saja Ayyana tidak memperhatikan selain ketiga lelaki itu duduk di belakang Ayyana, juga ia lebih fokus otaknya pada Calla.

__ADS_1


" Mba, lihat tuh di depan kita, sepertinya ketiga lelaki itu yang tadi ngikutin kita pakai mobil, aku khawatir mereka suruhan Clara," bisik Marwah dengan tubuh mulai gemetaran. Hanifah mencoba untuk mencuri pandang pada ketiga lelaki itu, tetapi mereka tahu lalu mereka membalas dengan mata melotot, seperti berupa ancaman. Langsung Hanifah menunduk dengan hati gusar.


" Sepertinya kita dalam bahaya De, " bisik Hanifah dengan rasa takut.


" Atau kita menghubungi polisi, demi keamanan terutama pada Ayyana, sebab ia jadi sasaran utama, " bisik Marwah, masih tak ingin didengar oleh Ayyana.


" Cuman yang aneh saat Ayyana mau bayar makanan disini, kok, kasirnya bilang gratis, " bisik Hanifah.


" Kali yang bayar Nyonya Cornelia, " bisik Marwah, Hanifah mengangguk anggukan kepala.


" Mba, disini banyak juga makanan Jawa, " tiba tiba Ayyana yang dari tadi menikmati masakan khas negerinya dengan harga tinggi bersuara, hanya untuk menata hati dari kesedihan sikap Calla yang belum bisa akrab dengannya.


" Kan, tuh lihat yang jualan juga sebangsa dengan kita, " jawab Hanifah.


" Calla suka juga makanan khas negeri kami? " tanya Ayyana lembut, hatinya yang masih berdebar debar berusaha ia netralkan dengan tarikan nafas.


Calla hanya mendengus, serta lebih perhatian pada Mamanya disebelahnya.


Acara makan siang selesai, lalu untuk menghabiskan waktu Hanifah mengajak berenam menikmati suasana kota yang tetap bersalju.


" Mba, videonya jangan di posting, klo mau di posting wajahku di tutup, " bisik Ayyana, ia mulai gelisah melihat dua orang Indonesia yang asing baginya, terus mengawasi tanpa kedip.


" Calla, emangnya rumah makan itu selalu kasih gratis ke pembeli? " tanya Ayyana pelan. Calla masih enggan menjawab dan dari matanya ia tidak suka pada Ayyana, selain lebih cantik darinya juga menurutnya lebih beruntung secara materi.


" Tidak pernah ada gratis kalau beli makanan, " akhirnya yang jawab Nyonya Cornelia.


" Cuman tadi kok, kasir tidak mau dibayar, " ucap Ayyana polos.


" Nyonya Cornelia kali yang sudah memboking, " tebak Hanifah hati hati.


" Tidak, aku tidak memboking makanan," jawabnya jujur.


Sampai habis waktu bersama Calla masih tetap membatasi diri dengan Ayyana.


" Calla, aku di UK satu pekan, gimana kalau sesuai permintaan ku dulu kita test DNA? sekalian testnya di tempat kerja Mba Hanifah, " ajak Ayyana hati hati.


" Kalau untuk ke London juga test DNA tak sedikit biaya yang keluar, tak mau aku keluar dana untuk coba coba, apalagi test nya di tempat kerja Hanifah, bisa saja dimanipulasi, " tandas sengit Calla, dan dalam hati ia tidak mau melakukan test DNA.


" Sudahlah jangan paksa aku untuk mengakui sebagai saudara kandungmu, kali masih family bisa, karena ibuku masih bersaudara dengan kedua orang tua mu terutama ibumu yang mati terbunuh, " ucap Calla lagi dengan nada tegas. Ayyana sangat kaget bahkan seperti beledek menyambar dirinya, karena ia baru dengar dari mulut Calla kalau kedua orang tuanya meninggal terbunuh.

__ADS_1


" Kamu sampai tidak peka pada orang tua yang wafat oleh kesengajaan musuhnya yang sudah mengintai lama untuk menghabisi nyawa mereka, bahkan kamu juga terancam nyawanya, " tandasnya keras, Ayyana sampai bengong mendengar ucapan Calla, dan wajahnya memanas. Sedih hatinya mendengar kata kata Calla yang lebih menyentil hati, sampai ia tidak mampu menahan tetesan air mata.


" Mba... mba... betulkah nasib kedua orang tua ku seperti ucapan Calla? " ucap lirih Ayyana penuh kesedihan mengenang nasib tragis Bunda serta Ayah.


__ADS_2