
Raditya POV
Aku ingin tahu tentang teman teman di kost, karena sering ia mengganti hijab maupun baju atasan, bahkan pernah lengan tangannya membiru, seperti dipukul dengan kayu, dan kali ini jari telunjuk agak membesar serta memerah, jelas ia merasakan sakit, cuman selalu ditutupi.
" Ay, jarimu terkilir? " tanya ku, sambil menatap lekat wajah juga dua bola mata indahnya, ia hanya diam dengan menunduk.
Aku merasa ada yang tidak beres lagi dengan nya, pernah orang ku suruh untuk menanyai tentang Ayana di kost dengan menemui satpam serta yang punya kost, mereka sekata kalau cewek yang bernama Clara dengan dua temannya tidak suka pada Ay.
Hari ini aku masih memohon pada Mami, kalau Ayana tetap mengantar ku, dan dengan berat hati Mami membolehkannya, dan selalu berpesan,
" Ingat perusahaan kita ditangan mu, Kiara hanya memberi batasan sampai kamu bisa berjalan dibantu Ayana, juga kasihan Mas Raihan, ia sangat kecewa saat tahu kalau Mami memaksa Ayana yang dalam setiap ia memberi kuliah selalu jadi perhatian nya di nikah kan dengan mu," ucap Mami tadi malam dengan tegas.
Siang ini aku memaksa Ayana ke butik, dia sedang ganti baju di ruang pas, dan aku setelah berbincang dengan Mba Ira pemilik butik, lalu berjalan dengan dua kruk menjauh dari Ira untuk menghubungi Adnan agar menyiapkan dua pengawal saat berada di kost serta menceritakan tentang kondisi Ayana.
Adnan selanjutnya menuju ke kost nya malah oleh satpam di beri rekaman CCTV tentang aniaya Clara cs.
Jarinya yang membesar itu terjepit railing tangga saat Ayana didorong sekuat nya oleh Clara.
Dari cerita bibi serta paman yang ikhlas merawatnya, aku semakin iba mendengar kisah hidupnya, sejak kecil ditinggal kedua orang tua bahkan terpisah dengan adiknya sampai sekarang. Ayana di sekolah sampai kuliah ada saja cewek yang membully.
" Mas, ayoo sudah nich kupakai sekalian bajunya, " ucap istriku, yang bisa membuatku gila kalau ia akhirnya ku lapas, hanya untuk Adiwangsa grup tidak oleng.
" Kiara, jangan salahkan aku kalau hatiku kini tertambat nama Ayana Diandra Qamira, namamu telah tereliminasi di hatiku, karena yang kubutuhkan wanita kaya hati bukan kaya harta," gumanku di hati, sambil tak bisa kedip mata ini melihat wanita bening sebening salju di Kutub yang ada di depanku, dengan menggunakan baju disain baru dari disainer langganan keluarga.
" Mas Raditya, aku puas hasil karyaku sangat bagus di pakai istrimu, mesti kamu tambah lengket ya, " Ira yang suka memuji sambil mengacungkan jempol, aku ingin memeluk istri ku erat di depan Ira, tetapi aku tahu mesti Ay menolak dengan memundurkan tubuhnya.
Kami mohon diri, sementara Ayana supaya beli celana atau rok maupun dress gamis menolak, dengan alasan sudah terlalu banyak bajunya.
" Mas, ada kok beberapa baju yang belum sempat di pakai, " katanya sambil menjalankan mobil dengan kecepatan standar, aku sekarang lebih percaya kalau yang nyupir Ayana.
" Mas, aku terus pulang ya setelah nganter kamu ke kantor, Aliandra katanya sedang panas, manggilin aku terus, " ucapnya.
" Aku ngikut pulang saja Ay, " pintaku, abis terbersit dihati, ini trik Mami biar Ay tak berlama lama denganku.
" Mas, kamu ya kayak Aliandra," ceplos Ay, tetapi ia kayak nyesal ngomongnya, sampai kutatap wajahnya memerah.
" Abis aku enggak ingin jauh jauh dari istri cantikku, " aku mulai berani ngomong yang ada di hati, wajah memerah tambah semakin merah, kaya udang di rebus, aku menyunggingkan senyum di bibir.
Dan aku tahu konsekuensi ngikut pulang, tentu Mami merengut dan bisa bisa setiap hari Ayana hanya boleh dekati aku kalau bersama yang lain, bahkan saat aku sedang dibantu memakai celana di jaga ketat oleh keluarga.
Aku pun berpikir, kalau hanya di jadikan mesin, apalagi nanti setelah Pradipa dan Adiwangsa merger, bayangan ku tidak akan salah.
__ADS_1
Tetapi apapun yang aku katakan Ayana tak mampu menolak.
Jadilah Ayana mengarahkan mobil ke rumah.
" Ay, besok siang aku makan masakanmu saja," pintaku di jalan.
" Mas, nanti deh kalau aku sudah pindah kost, " jawabnya, matanya serius pandangan ke depan.
" Enggak papa donk masak di kost, sekalian mau ambil barang yang masih di kost, kan, sayang nya aku belum berani naik tangga, pengin ngikut," kataku, Ayana sambil nyupir tersenyum, dari sebelahan manis senyumnya membuat pengin ngecup, cuman ia tentu menghindar.
Jalan yang tidak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan, tidak menghentikan semangat Ayana menjalankan mobil, demikian dengan cuaca yang sangat terik menyengat di siang ini, walau di dalam mobil tetap sejuk.
Setengah jam tanpa macet sampai rumah besar dari butik, di halaman di sambut oleh rengekan Aliandra yang sedang di pangkuan Omanya.
Ayana membuka pintu mobil lalu menuju ke Aliandra yang lagi memanggilnya.
" Kenapa sayang, nich tante sudah pulang, " Ayana menggendong dengan menciumi kening Aliandra.
Aku mendekat dengan tangan memegang kening dan bersenggolan dengan kepala Ayana.
" Panas, masih ada simpanan obat turun panas, Mi? " tanyaku.
" Kamu enggak ngantor, Ditya? " tanya Mami, dengan memberi isyarat agar mengurangi bersama Ayana.
" Ngantor kok Mi, cuman tadi ingin makan siang di luar, " jelas ku, rasa sedih menyeruak di dalam dada.
" Sudah Mami katakan berulang, kurangi ketergantungan pada Ay, demi Aliandra, Ditya! "tekan Mami.
Telinga ku ini selalu mendengar ucapan Mami yang sama setiap kali aku harus mengurangi kedekatan dengan Ay, diantaranya demi perusahaan, kasihan Mas Raihan dan Aliandra yang sangat lengket sama Ay.
Kepala menjadi pusing mendengar kata kata Mami.
Aku duduk di kursi ruang tengah, dengan rasa nyeri di hati, Papi sedang duduk juga di ruang tengah.
" Lian, lengket sama Ay, tubuh nya panas yang dipanggil selalu tante Ay, " ucap Papi.
Aku akhirnya memandangi wajah Liandra yang merah karena suhu badan setelah di termometer 38°, ia berada di ruang tengah karena tetap minta di gendong Ay.
" Sudah minum obat Ay, " hatiku sakit melihat kakakku pulang dari kampus langsung mendekati Ayana yang sedang mengendong Liandra.
" Barusan, aku minumin, " ucap Ayana, diantara keduanya seperti ada kedekatan, itu yang kulihat dari gerak gerik tubuh mereka.
__ADS_1
" Liandra boboan sama Papa ya, tante kasihan tuh jarinya sakit, " ucap Mas Raihan, matanya menatap sendu ke wajah istriku, ingin aku melihat jarinya karena kejepit railing oleh dorongan Clara.
Tangan mengambil kruk lalu berjalan mendekat ke Ayana yang sudah tidak menggendong Liandra.
" Ay, coba jarimu yang kejepit railing, " aku terkejut melihat membesar, sehingga aku harus membuat perhitungan sama Clara dengan menghubungi Adnan.
" Mas, sudah lah jangan buat masalah, kan, ini kejepit sendiri, bukan karena Clara yang melukai, " larang Ayana.
" Ay, kamu selalu dihina oleh Clara cs selalu diam saja, " kata ku kesal.
" Aku malas ngelayani Mas, ribet, " jawabnya, ia mencari minyak urut yang hangat lalu diurut urut sendiri.
" Sini aku yang ngurut, " pintaku, ia menolak.
" Malahan nanti nambah sakit, " jawabnya, sambil meringis, Mami yang sudah berada di dekat Ay, ikut mengelus jarinya.
" Coba, di iket pakai kain kassa yang dikasih minyak urut, " ucap Mami lalu menuju ke kotak PPPK dan kuminta.
Aku mengajak masuk ke kamar untuk membantu mengikatnya, sedang Mami serta Papi ikut masuk juga.
" Aahhh Mami sama Papi, aku tak bisa melepaskan Ay, jadi tolong beri kesempatan untuk berdua," gumanku.
" Ditya, kamu mau ke kantor lagi, diantar Darto, " ucap Mami, sehabis aku mengikat jarinya pakai kassa panjang, aku siap siap berangkat ke kantor, kutatap dalam dalam wajah cantik alami, sekilas Ay membalas lalu tersenyum.
" Sakit? " tanya ku.
" Agak mendingan Mas, " jawabnya, dan aku minta Ay untuk melepaskan celana panjang ku karena mau ke kamar mandi, Ay jongkok, tangan ku reflek mengusap usap pucuk kepala yang berhijab, aku tahu Mami menyebikkan mulut, menunjukkan tak setuju pada sikap serta perhatian ku pada Ay, tetapi aku seolah tidak mau melihatnya.
" Sudah Ay, biarin Ditya dilatih sendiri, tuh Liandra ngrengek," ucap Mami, dalam hati aku tentu kesel, ada saja cara Mami untuk menjauhkanku dari Ayana.
Aku hanya selalu memohon ada keajaiban yang berpihak padaku, agar Ayana sepanjang hidupnya bersamaku.
Aliandra digendong Mas Raihan dibawa ke kamarku, lalu diserahkan ke Ayana.
Perih melihat istri ku berusaha untuk dijauhkan dariku.
Aku melangkah ke kamar mandi dengan dibantu sepatu serta kruk di ketiak kanan kiri, dengan memendam kepedihan hati.
" Ay," selalu saja di hati memanggil nama, berulang dan berulang.
Lelaki dengan kondisi kaki yang belum normal, apalagi dirawat oleh seorang wanita yang awalnya dipaksa menjadi istri, dan aku percaya Ay saat itu hati nya sangat sedih, apalagi aku selalu bersikap dingin, ngomong nya selalu menyakitkan, walau beberapa hari kemudian aku sadar kalau Ay lebih peduli pada keadaan ku, karena yang kubutuhkan kepedulian.
__ADS_1