Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 26 Meninggalkan Rumah Besar


__ADS_3

Ayana POV


Aku memandang wajah Mami, beliau kentara semalam tak bisa tidur, matanya terlihat sangat lelah.


" Mungkinkah, kejadian tadi malam sangat membebani pikirannya," gumanku di hati, Mami dengan memegangi tangan Liandra, mengajak sarapan pagi, tetapi dengan alasan sudah siang, aku menolaknya, padahal aku menghindar dari Kiara atau Dania karena dua orang ini bisa memancingku untuk melakukan keributan, sementara keluarga mas Raditya serta Kiara sudah pada berdatangan.


Atau bahkan aku akan menjadi barang tontonan oleh keluarga, sebagai istri bohongan, istri yang hanya sekedar dijadikan perawat sementara, dan yang mengenaskan sebagai istri kontrak, lalu mereka semua mentertawaiku.


" Mami ambilkan nasi ya, " Mami menggandeng Liandra keluar kamar, sedang aku tetap menolak karena buru buru berangkat, dan sekalian aku mohon pamit dari rumah ini. Mami tahu perasaan ku juga mewanti wanti agar jangan ke kost dulu, karena takut Clara menyakiti, aku hanya mengiyakan.


Sebenarnya aku berniat tidak akan bawa mobil dan akan menuju kost kostan, tetapi aku terpengaruh juga dengan kata kata Mami, bukan berarti aku takut pada Clara cs, tetapi aku telah lelah dalam sehari dari siang sampai pagi ini dapat bully an dari mulai Clara, Kiara sampai Dania, tentu aku lebih baik menghindar dari masalah.


Terpaksa menerima tawaran dari Mami, mau bawa mobil dan menempati apartemen. Kebetulan aku pernah di ajak Rosa ke apartemen yang akan aku tempati, cuman beda lantai.


Dengan punggung mencangklong ransel berisi modul juga beberapa helai baju, cukup untuk ganti satu minggu, dan setiap akhir pekan di cuci, lalu di pakai lagi pada minggu minggu berikut, yang biasa kulakukan sejak sekolah. Demikian ransel laptop yang kutenteng di tangan.


Aku menjejakkan kaki menuju pintu keluar lewat teras kamar lalu melewati teras kamar mas Raditya.


Aku bersyukur semua keluarga telah berkumpul di ruang tamu, karena acara pernikahan mas Raditya tinggal menunggu menit akan di mulai, sehingga tanpa hambatan aku sampai ke garasi, kunyalakan kunci remote untuk membuka pintu, aku sendiri tidak tahu mobil yang mau ku pakai, karena saking banyaknya mobil.


Buru buru aku memasukkan tas ke bagasi lalu dengan cepat pula masuk ke mobil dan tancap gas standar saja.


Seperih apapun aku, otak ku tetap masih waras, walau kadang muncul keputusasaan, tetapi hanya sekedar keluhan untuk mengeluarkan beban di dada agar bisa lepas.


Aku melewati jalan di halaman depan yang penuh dengan mobil mewah, hatiku sebenarnya berdecak kagum dengan orang orang yang datang menghadiri hanya pernikahan siri, tentunya dua kali lipat dari yang hadir saat pernikahan dadakanku, katanya saat itu keluarga Kiara di stop untuk tidak hadir.


Dalam hati aku protes dengan nasibku ini, cuman aku tentu tidak bisa menolak takdir yang telah digariskan. Bahkan mas Raditya yang jelas jelas memilihku, hanya bisa pasrah apalagi kondisi kaki yang sedang dalam pemulihan.


Sebenarnya sangatlah sengsara hati ini, karena aku hanya sebagai istri bayangan mas Raditya, yang tidak memiliki hak apapun padanya.


Jadi memang sebaiknya aku tak perlu datang lagi ke rumah besar itu, akan nambah luka klo aku tetap bertahan dirumah itu, atau malah bisa bisa permusuhan antara mas Raditya dengan Pak Raihan terus berlanjut.


Biarkan aku pergi membawa luka hati.


Aku keluar dari pintu gerbang, berhenti di pintu satpam.


Mas satpam hanya tersenyum padaku, kali mau tanya takut salah atau menyinggung perasaan saja.

__ADS_1


Selesai di periksa satpam, aku menjalankan mobil menuju ke kampus, perutku sepanjang perjalanan tak bisa tinggal diam, berkukuruyuk terus, sementara di mobil tak ada minuman maupun kue, ini mobil baru di beli juga satu bulan yang lalu.


Jalan tetap saja ramai, aku tetap pelan menyetir, lalu kutengok jam di mobil.


" Masih ada waktu, mampir saja di rumah makan Padang dekat kampus, " gumanku.


Sampai juga ke jalan menuju kampus, lalu mencari rumah makan kesayangan para mahasiswa, kalau aku jarang beli, nyaris kena dihitung selama aku kuliah disini, karena sering masak sendiri tentunya lebih irit, apalagi bahan makanan dibawa dari kampung setiap akhir pekan, itu dulu sebelum 5 bulan yang lalu, karena setiap akhir pekan pulang kampung, sekarang nyaris belum pernah, tetapi aku setiap hari selalu memberi kabar ke bibi, biasanya dengan vidcall.


" Itu ada lahan parkir yang kosong, " aku siap siap memasukkan mobil di bantu juru parkir.


" Terus terus terus, ya stop, " suara Pak parkir, lalu aku mematikan mesin, cepat cepat membuka pintu, kaki kujejakkan ke paving, lalu berjalan menuju ke kedai pesan nasi sama telor dadar khas Padang yang sangat tebal kesukaanku.


Sudah tak ramai pengunjung, karena sudah bukan jam sarapan pagi, sehingga aku bisa leluasa mencari tempat duduk,


dan pesanan datang.


Dengan menggunakan sendok, karena hanya berlauk pakai telor sama sayur, lalu menyuapkan sesendok demi sesendok ke mulut, walau lidah rasa hambar tapi perut harus diisi, sehingga aku paksa untuk tetap mengunyah, karena aku berusaha untuk menjaga kesehatan, walau psikis sedang tak sehat.


Aku di kagetkan oleh tarikkan tangan sangat keras sampai aku hampir jatuh dari kursi, untung nasi hampir habis.


" Hai wanita murahan, wanita penjual diri, hanya ingin kayak kita," kaki Clara semakin keras menginjak punggungku, aku berusaha meronta untuk melepaskan diri.


" Hai, kalian kok memperlakukan seperti itu ke sesama orang, lepas, " Clara yang merasa sudah puas menginjak punggungku, melepaskan kaki.


Dua orang yang aku tahu pengawal mas Raditya tahu tahu ada di rumah makan ini.


Pengawal yang satu menyeret ketiga perempuan itu untuk menjauh dariku, sedang yang satunya menolongku.


" Mba, ketiganya, jangan merasa bangga, tindakan aniaya kalian kami rekam dan kami punya banyak bukti penganiayaan kalian, dan bisa kami laporkan ke pihak yang berwajib," cecar laki laki berseragam hitam hitam.


" Hai, kamu jangan membela wanita rendah ini, wanita yang jual tubuhnya biar setara dengan kami, enyah kalian, jangan ikut campur dengan urusan kami, " serang balik Clara cs.


" Non Ayana, keluar, biar ketiga pecundang ini kami urus," pinta salah satu pengawal mas Raditya, tetapi ketiga cewek langsung pergi, dan aku menuju kasir untuk membayar makanan.


Dua laki laki itu berusaha mengejar, aku mencegahnya.


" Mas, biarkan saja mereka pergi, " cegahku, kedua pengawal itu menurutiku.

__ADS_1


" Maaf non, kami terlambat menolongmu, " ucap keduanya.


" Iya mas enggak apa apa, malahan aku berterimakasih, atas pertolongan anda, " aku gegas keluar, karena jam kuliah kurang 2 menit lagi.


" Uuufff, aku terlambat," aku menjalankan mobil agak cepat biar tidak terlambat terlalu lama, karena kalau sampai lebih dari 10 menit tidak boleh masuk ke kelas, selama dosen nya sudah berada di dalam kelas.


" Ay, baju punggung dan hijabmu bercap sepatu kets, pasti si Clara yang jahatin kamu, " seru Rosa geram, sambil nyuruh Andina memfotoku.


" Ay, sudahlah kamu tinggalkan kamar itu, aku takut mereka nekat bertindak melukaimu, " ucap Lisa, kedua sahabatku mengiyakan.


Sementara Rosa sudah tak lagi memaksaku untuk jadi kekasih kakaknya, karena dia sudah ada yang punya, walau Rosa tidak cocok dengan mba Silvi tetapi aku beralasan tak mau mengganggu mereka.


" Sa, aku kayak gini juga Clara enggak suka, nanti kalau aku bersama kakakmu tambah yang enggak suka padaku, aku tak mau Silvi memusuhi ku, " kata ku dulu.


Dan aku bersyukur Rosa menerima alasanku, sehingga status ku sampai sekarang tidak diketahui baik oleh Rosa, Lisa atau Andina.


" Aku bersyukur, kalian tetap baik padaku, " ucap ku.


" Lho alasannya apa kok kami harus membencimu Ay, tenang, kami ada dibelakangmu, " ucap Rosa.


Lalu kami menuju ke ruang, yang kebetulan Bu Riyana belum masuk.


Sementara teman yang lain memperhatikan punggungku lalu para cewek mendekati dengan membantu menyapu nyapu pakai tangan, baju sama hijab belakang yang kotor.


" Ay, laporin saja kepihak kampus, kan, banyak bukti, biar mereka jera lho," ucap Bella.


" Clara itu iri saja pada Ay, " ucap Tyas kesal.


" Iri, sampai bertindak brutal, itu jarimu kena apa Ay, jangan jangan di lukai sama Clara, " ucap Rosa tambah geram, aku diam saja, apalagi otakku sedang lelah oleh pikiran yang lebih berat.


Hampir sampai seperempat jam Bu Riyana belum masuk ruang, biasanya kalau lebih dari seperempat jam, di ganti sore hari.


" Bu Riyana, jam ini enggak bisa ngisi kuliah, diganti habis jam 15.00 nanti, "ucap Bima ketua kelas.


Karena hari ini kuliah cuma satu, juga hanya jam Bu Riyana, nanti sore, sehingga aku mengajak teman teman untuk menuju kostku, karena aku mau ambil baju, sedang kulkas sama alat elektronik yang lain besok mau di ambil oleh Paman, kebetulan jalan ke Jakarta.


Waktuku senggang karena besok libur akhir pekan.

__ADS_1


__ADS_2