
Author POV
Ayyana tak juga habis pikir, tentang Dania yang bisa tahu apartemennya.
" Mantan istri Pak Raihan, bisa tahu kamu di apartemen ini Ayy, kali kemaren dia ngikutin kamu, " ucap Rosa, alisnya sempat dikerutkan.
" Selama aku kerja di rumah orang tua Pak Raihan, dia sikapnya padaku tak jauh dari Clara cs, apalagi Aliandra lebih lengket padaku daripada ke bundanya, ia semakin memusuhi ku, " ucap Ayyana datar.
" Ngapain mereka enggak nyatu saja lagi, kan, Liandra butuh figur seorang ibu, " ucap Rosa.
" Aku seide juga dengan mu Sa, dan kuperhatikan Dania berkehendak sama untuk kembali ke Pak Raihan, cuman beliaunya malah kayak enggak mau didekatin," cerita Ayyana.
" Kali Pak Raihan pengin cari cewek lain, atau bahkan ada hati ke kamu Ayy, " seloroh Rosa sambil tersenyum.
" Uuuhhh ada ada saja kamu, masak sih sama mahasiswinya yang dari awal sudah bikin beliau kesal, " ucap Ayyana, lalu berdua keluar dari apartemen menuju lift.
" Cuman kan, sekarang tak membuat kesal lagi, bukankah beliau klo ada acara dengan klas kita, beliaunya selalu ngikut, dan maunya bila nyanyi minta kamu yang nyanyi, beliau seperti suka kalau mengorgen lalu kamu jadi penyanyinya, " ucap Rosa terkekeh, dan kebetulan di lift hanya berdua sehingga Rosa bisa leluasa menggoda Ayyana.
" Sa, bukankah yang lain enggak ada yang mau nyanyi, " tandas Ayyana kesal, sehingga tangan nya ia gerakan untuk nabok Rosa, hanya Rosa telah siaga.
Mereka telah sampai ke mobil milik Rosa.
" Kamu yang nyetir Ayy," pinta Rosa.
" Ok siap Non," jawab Ayyana. Lalu Ayyana meluncur keluar apartemen menuju kampus.
Ayyana apabila bersama Rosa serta kawan yang lain, menjadi terhibur, hati sedih bisa terobati.
Dan sejauh ini jati dirinya yang telah jadi istri adik Pak Raihan masih belum diketahui oleh Rosa maupun teman lainnya.
Sekampus yang tahu hanya Pak Raihan saja kalau Ayyana telah menikah dengan adiknya.
Semalam Ayyana sempat menghubungi Bibi di kampung, iseng iseng tanya tentang bi Yeyen, Bibi maupun Paman baru ingat tentang Yeyen, karena sejak kedua orang tua Ayyana wafat Paman sama Bibipun tidak mengetahui keberadaan Bi Yeyen, sehingga mereka berjanji mau mencarinya, dan mereka berpikir juga kalau Bi Yeyenlah yang membawa Calla.
" Ayy, kamu setelah berada di apartemen, jadi suka diam, " seloroh Andina. Teman pertama yang dikenalnya ini, suka memperhatikan sikap Ayyana.
" Menurut ku setelah bekerja di rumah Pak Raihan, kayak sering murung, " ucap Rosa, matanya menatap lekat ke wajah Ayyana yang sedikit kusut, karena semalam tidur hanya sebentar.
" Aku hanya kangen sama keluarga, kalian kan, sudah dapat cerita dari Paman serta Bibi tentang kedua orang tua ku, serta adikku yang belum bisa ketemu, " jawab Ayyana semakin tambah berduka.
" Ayy, maafkan kita kita ini ya, abis ucapan ku malahan kamu jadi ingat pada adikmu, kamipun tidak tinggal diam ikut bantu nyariin Calla, terutama klo aku pulkam, atau di media," ucap Andina, matanya berembun membayangkan kesedihan Ayyana.
" Enggak ada kuliah lagi kan, jam ini, yok ngumpul di apartemen yang kutempati, kita masak masak, abis bahan mentah banyak di kulkas, dari pada rusak klo kelamaan, " ucap panjang Ayyana.
__ADS_1
Kata katanya hanya untuk mengalihkan perasaan melankolis, baik dirinya maupun Andina serta Rosa.
Seperti biasa berlima masuk mobil Rosa serta ada beberapa cowok yang mau nyusul pakai mobilnya Oda.
Setelah sampai di apartemen para cewek sibuk di dapur, sedang para cowok duduk duduk di ruang keluarga sambil ngobrol.
Hati Ayyana sangatlah kehibur dengan banyak teman, ia serasa tak punya beban, dan dapat bercanda.
Sementara Hanifah serta Marwah di UK berencana akhir pekan mau ketemu Calla di pusat kota, setelah keduanya mencoba mendesak agar Calla mau menyediakan waktu, walau kedua saudara itu juga harus hati hati pada orang yang mengaku bernama Calla.
Sedang Paman sama Bibi di kampung menuju ke rumah Yeyen, yang ada di kota.
Karena seingat kedua orang tua angkat Ayyana, Yeyen ada di kota, mereka pernah datang saat Yeyen menikah.
" Bu, itu kan, rumah orang tuanya, " ucap Pak Kasmanto pada istrinya, saat mereka berencana mendatangi ke rumah yang pernah dikunjungi puluhan tahun lalu.
" Ya, usaha Pak, siapa tahu Yeyen masih ada disitu, " jawab istrinya.
" Jangan jangan itu dulu bukan rumahnya, tetapi kontrak kayak orang tuanya Ayyana yang mengontrak di rumah juragan Karya, " ucap Pak Kasmanto datar saja. Istrinya hatinya sedikit menciut bahkan tangan kanannya memegang ubun ubun kepala sendiri, karena terpengaruh ucapan suaminya.
" Ya sudahlah, namanya usaha, siapa tahu puluhan tahun kita prihatin pada keadaan Ayyana yang yatim piatu juga terpisah dengan Calla, kali ini Allah menjawab doa doa kita, dan nanti setelah kita mendatangi rumah yang dulu kita datangi, ada titik terang, " ucap panjang Pak Kasmanto kembali, setelah melihat wajah istrinya yang terlihat pesimis.
Keduanya naik angkutan umum menuju ke kota dan sejak Marwah berada di UK, Bu Kasmanto sudah tidak boleh bekerja baik buka warung maupun menerima pesanan, paling untuk kegiatan sehari hari agar tak bengong bantu suami di kebun.
Mereka tak khawatir lagi tentang biaya, sebab dua bulan yang lalu Ayyana datang dengan Raditya, lalu Raditya saat itu punya ide ingin beli kebun di dekat rumah Pak Kasmanto, kebetulan ada lahan yang akan dijual.
Sementara kedua orang itu telah berada di jalan menunggu angkutan yang akan membawa ke kota, yang seingatnya masuk gang kecil, sehingga mereka nantinya harus jalan kaki sekitar 500m dari pangkalan angkutan umum. Bagi mereka tidak jadi masalah karena di rumah sudah terbiasa bekerja keras.
Angkutan yang ditunggu datang, keduanya bisa duduk bersebelahan, dengan agak berdesak, dan membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam, akhirnya sampai ke tempat yang dituju.
Keduanya berjalan dengan menenteng barang bawaan hasil kebun.
" Alhamdulillah, tidak hujan Pak," ucap istrinya.
" Iya, semoga bisa ketemu Yeyen, " jawab Pak Kasmanto berharap, istrinya mengamini.
Sampai di jalan kecil itu yang telah banyak berubah, sehingga sempat keduanya bingung, apalagi rumah Bu Yeyen juga tidak tahu, karena dulu mereka hanya duduk di tenda yang dipasang di jalan kecil ini, lalu Bu Kasmanto mencoba bertanya pada ibu ibu yang ada disitu.
" Maaf Bu, kami belum lama berada disini, jadi enggak paham sama orang yang namanya Yeyen, coba tanya Ibu Wulan, itu yang sedang duduk di teras, beliau asli kampung sini, " jawab ibu yang ditanya oleh istri Pak Kasmanto.
Bu Wulan yang diberitahukannya memang sudah tua, dia pemilik beberapa rumah di jalan ini yang dikontrakkan, dan dari cerita ibu tadi yang ngontrak disalah satu rumah Bu Wulan, membuat kedua orang tua angkat Ayyana optimistis bisa ketemu Bu Yeyen.
Keduanya berjalan menuju ke rumah Bu Wulan. Setelah sampai Bu Kasmanto mendekatinya lalu bertanya tentang Bu Yeyen.
__ADS_1
Bu Wulan dahinya mengkerut, sebagai tanda sedang berusaha mengingatnya.
" Ini Bu, saya bawa fotonya, " ucap Bu Kasmanto, foto bersama Calla yang berasal dari media lalu dikirim di grup keluarga Kasmanto oleh Marwah, dan tersimpan di ponsel Bu Kasmanto, ia kebetulan tidak begitu gaptek.
" Emmm, nanti Bu, aku ambil kacamata dulu, " Bu Wulan masuk ke dalam untuk mengambil kacamata, karena tanpa alat itu, kurang begitu jelas gambarnya.
Bu Wulan keluar kembali, lalu melihat foto di ponsel, ia tetap masih mengingat ingat wajah yang ditunjukkan.
" Bu, aku ingat si Yeyen, dulu orang tuanya rumahnya di sebelah sana, ada lima rumah dari sini, tetapi sudah lama rumah itu dijual, itu lho yang jadi kost kost an, " ucap Bu Wulan.
Pak serta Bu Kasmanto hatinya mulai gembira, karena telah sedikit terkuak.
" Bu, kali tahu setelah dijual, mereka pindah kemana? " tanya Bu Kasmanto hati hati.
" Aku kurang tahu, Bu Yeyen beserta keluarga saat itu hanya cerita mau pindah di desa, " ucap Bu Wulan.
" Kali bisa ditanyakan ke kelurahan, bisa jadi masih ada arsip penduduk pada tahun itu, " ucap Bu Wulan kembali.
" Bu, mungkin kalau tahu, apakah Bu Yeyen membawa anak kecil yang seperti di foto?" tanya Bu Kasmanto lirih.
" Enggak ada anak kecil, dia cuman bersama suami, lalu membawa kedua orang tuanya pindah ketempat yang aku tidak tahu, " cerita Bu Wulan.
" Sepengetahuan ku, belum punya anak, " ucap Bu Wulan kembali.
Hati Pak serta Bu Kasmanto kecewa, tetapi mereka bertekad hari ini akan menuju kelurahan untuk menanyakan arsip kependudukan tahun itu.
Dan hasil kebun yang dibawa, akhirnya diberikan ke Bu Wulan, sebagai ucapan terimakasih kasih karena mau memberi informasi, tentu Bu Wulan sangat berterimakasih juga.
Keduanya mohon pamit, lalu menyusuri jalan untuk menuju ke kelurahan yang telah ditunjukkan juga alamatnya.
Singkat cerita mereka berhasil menemukan lokasi kelurahan, tentu dengan susah payah mencarinya, mereka sengaja tidak naik angkutan, tetapi jalan kaki.
Dan di kantor kelurahan ditemui oleh salah satu pegawai, setelah laporan dulu ke satpam.
Keduanya mengutarakan maksud kedatangannya, lalu pegawai kelurahan dengan ikhlas, mencari arsip kependudukan yang kebetulan telah dipindahkan ke file komputer, lalu oleh pegawai itu di print, dan diberikan ke Pak Kasmanto.
" Itu Pak, yang aku kasih stabilo warna hijau, kemungkinan Yeyen di data ini, sekeluarga pindah ke Sumatra, " ucap pegawai berseragam pemerintah.
Orang tua angkat Ayyana, gembira tetapi juga kecewa karena Bu Yeyen pindah ke tempat yang jauh.
Setelah dapat informasi, maka keduanya mohon pamit.
" Bu, tak semudah mencari kutu di kepala kamu ya, " seloroh Pak Kasmanto.
__ADS_1
" Ihhh, bapak, bukankah kepala ku tak berkutu, " ucap istrinya kesal.
" Hanya dijadikan ibarat saja kok, marah gitu Bu, " seloroh suaminya.