Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 12 Mengantar Tuannya


__ADS_3

Ayana POV


Mentari pagi kelabu mewarnai jalanan yang selalu sibuk oleh lalu lalangnya kendaraan di ibukota ini, dengan menjalankan mobil yang super nyaman, mata serta hatiku tetap fokus di jalan, walau sempat terlintas oleh kekaguman taman yang tertata rapih serta bangunan rumah berlantai dua yang sangat megah, tetapi saat aku sedang mendorong kursi roda di halaman tetap sadar juga siaga karena punya tugas baru yaitu merawat baby dewasa yang telah duduk manis disebelah kursi sopir.


Dan rasa kekagumanku tadi tentu tidak ku perlihatkan, apalagi ada dosen dingin di belakang punggungku yang sedang menggandeng Aliandra.


" Sayang, ikut tante ke kampus, nanti disana sama Papa, "mulut ku ini kadang sulit mengendalikan dorongan di hati.


" Iya Pa, aku ikut tante ya," Aliandra merengek.


" Tante repot, kan harus ngebantuin Oom yang belum bisa jalan, " ucap Pak Raihan.


" Hmmm, ia ternyata lembut pada putrinya," gumanku.


" Ay.... " aku sadar lagi mengemudi, walau sedang ber flashback, sehingga saat Tuan disebelah memandu jalan yang mau dilewati tetap mendengar.


" Lewat gerbang sana saja!" katanya tegas penuh nada perintah, aku tak sakit hati walau sebagai istri yang kutahu sebagai istri sementara sampai ia bisa berjalan kembali, lalu aku akan diceraikan dan ia mau menikah dengan Kiara sesuai rencana semula.


Aku membelokkan mobil ke pintu gerbang yang ditunjukan, melewati jalan di areal perusahaan yang sangat rindang dengan dipenuhi pepohonan berdaun hijau, kayak di kampusku, sehingga saat aku telah memarkirkan mobil dan keluar untuk membuka bagasi mengambil kursi roda, hidungku menghirup udara segar yang habis disaring oleh dedaunan dari pohon pohon besar di halaman pabrik.


Aku membuka lipatan kursi roda lalu ku dorong ke pintu yang sudah dibuka, dan merapatkan ke kursi mobil depan, dengan tangan dan lututnya, Tuan Raditya meletakkan bokongnya ke kursi Roda, lalu aku menarik kursinya dan menutup pintunya.


Lelaki yang baru memarkirkan mobil lari tergopoh gopoh mendekati kami.


" Nona, aku yang membawa ke kantornya, " ucap lelaki itu sambil sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada tuan yang sedang duduk di kursi di depan perutku.


" Adnan, biar Ay yang nganter sampai ke ruang saja, " ucapnya.


Dengan mencangklong tas kantornya, ku dorong kursi roda masuk ke ruang yang berbau harum juga rapih.


Selanjutnya aku berpamitan pada dua lelaki itu.


" Ay, di jemput tepat waktu, " perintahnya, mulut yang sudah mulai menganga, ku tutup lagi setelah melihat lototan matanya yang mengartikan tak bisa di bantah.


Aku mengulurkan tangan, yang disambut dengan uluran tangannya lalu reflek mencium punggung tangan Tuan Raditya.


" Aku berangkat ke kampus eee.... Mas, " ada aturan yang tadi malam ia buat diantaranya di depan orang aku harus panggil Mas padanya.


" Pak Raditya, istri mu cantik alami, jauh banget sama Kiara," sanjung Pak Adnan, matanya menyipit. Dan Raditya hanya menyebikkan mulut.


Aku berlalu dari ruang itu, dada yang semalaman mengap mengap setelah keluar pintu mulai longgar, serasa menikmati kebebasan dari mulut singa, apalagi nanti di kampus tidak ada dosen dingin, lempeng kayak papan triplek.


Berada di belakang setir, tidak pernah bangga karena bukan punya sendiri, aku duduk di dalam mobil mewah tahu dirilah, hanya sebagai sopir, yang mengantar jemput tuannya, dan perasaan ini tak hanya sekarang saja, bahkan sama Celin serta Rosa, aku tetap memposisikan sebagai sopir, dan memang kenyataannya hanyalah sopir dan itu beda banget sama Rosa saat nyopir, ia terlihat sekali sikapnya lebih meyakinkan sebagai pemilik mobil.

__ADS_1


Aku tadi malam sempat kirim pesan ke Rosa kalau aku telah dapat pekerjaan sebagai sopir pribadi bos besar, dan aku di kontrak mungkin sekitar satu tahunan serta disuruh menginap di rumah megahnya.


Dan tadi malam aku sempat tersenyum senyum baca pesan Rosa, yang menceritakan kalau Ardhan kakak cowok nya yang kuliah di UK minta nomor telponku.


Sempat terlintas di otakku, kalau Ardhan apartemennya disana dekat mba Hanifah dan mba Marfah, dari Map yang kulihat di aplikasi alamatnya berdekatan.


Rosa kirim alamat Ardhan di nomorku atas permintaanku untuk mengobati rasa kangen pada kedua kakak angkat ku yang setiap malam disana menelponku.


Tadi pagi habis aku Shubuhan mba Hanifah menelpon ku, karena tadi malam aku kirim pesan dengan menceritakan nasib hidupku.


" Ay, aku malahan hatinya semakin tenang, walau nikah sementara tetapi sedikitnya setahun kamu ada yang melindungi," balesnya dengan memberi emot tertawa ngakak, aku kesal dengan ledekannya.


" Yang penting kamu hati hati jaga diri, kalau, apes apesnya Raditya sampai enggak bisa menahan gejolak sama kamu, kan, kamu sudah resmi secara agama dan negara," pesan from Hanifah.


Aku tak membalas karena waktunya mulai merawat tuan baby big.


" Eemmm, sambil bermonolog di dalam mobil, tak terasa sudah masuk ke jalan depan kost," gumanku.


Aku memarkir mobil di pinggir jalan dekat pintu gerbang pos satpam, membuka pintu mobil, menapakan kaki ke paving lalu berjalan setelah mengunci pintu mobil dengan remote.


" Mba Ay ini, kok mengubah penampilan, " seloroh Mas Seto satpam kost, aku nyengir saja, abis mau ngomong apa? juga aku tentu tidak ingin menceritakan pekerjaanku.


" Aku menganggap bekerja, tak menganggap kalau sejak tadi malam status ku berubah menjadi istri bos Adiwangsa Grup, " pikirku. Tadi aku saat nganter Raditya membaca pada Letter Timbul perusahaan.


" Hai, si culun semalam di bawa orang, untuk di jual jadi simpanan, makanya pagi ini berubah kostum," kata kata yang tidak etis diucapkan oleh orang berstatus mahasiswa.


" Hai, kamu nyadar enggak sih ngomongnya," sanggahku.


" Hoa, cuuuh, " dia sengaja berdahak lalu di semprotkan ke bajuku, aku tidak mau melayani cewek kurang kerjaan, dengan berlari naik tangga menuju kamarnya, baju atasan di rendam pakai sabun.


" Clara, kamu keterlaluan, salah ku apa padanya kok selalu memusuhiku," gumanku.


Aku pakai baju tunik yang dibelikan Rosa yang belum pernah ku pakai, setelah mencuci baju yang sengaja di semprot ludah, lalu pakai sepatu kets bekasnya Rosa.


" Thok thok, Ay.... " suaranya Rosa sama Lisa, aku yang sudah siap berangkat lalu buka pintu.


" Hai, Ay, cantik nian temanku ini," celetuk Rosa, tubuh ku di putar puter.


" Tiga bulan lagi Ardhan mau pulang, kakakku dah ingin jumpa sama kamu Ay, " seloroh Rosa, aku hanya tertawa terkekeh dengan ngebetnya Rosa yang selalu ingin menjodohkanku dengan kakaknya.


" Kamu bikin nasi goreng Ay, aku belum sarapan nich, " ucap Lisa megangi perut yang lagi bunyi.


" Ada nasi tu Sa, cuman lauknya sambal teri yang bawa dari rumah, ada telor asin juga tuh, " Lisa belum dikasih tahu kalau aku kerja.

__ADS_1


" Enaak lho sambal nya, rasa rasanya tanganmu yang bikin," tebak Lisa, aku mencebikan bibir dengan melebarkan mata.


" Lisa, lidahnya tuh punya keistimewaan, karena bisa merasakan rasa rasa masakan dari juru masak para chef," seloroh Rosa.


" Bisa jadi juri donk klo ada lomba masak," celetukku.


" Celanamu mahal tuh Ay," ucap Rosa.


" Majikan yang beliin Ros, aku mana bisa beli, pakai baju dari toko aja baru sekarang, karena banyak yang kasihan padaku, kayak kamu," jawabku.


Lisa sudah selesai makan dan ia mencuci piringnya, lalu bertiga turun, untuk berangkat ke kampus.


" Rosa, aku bawa mobil sendiri saja, abis aku harus cepet cepet kerja," kataku.


" Sudah dapat kerjaan ya Ay," ucap Lisa.


Di lorong bertiga ketemu Clara, ia memojokkanku.


" Hai, Rosa, kamu belum tahu ya, temanmu itu, kerjanya sebagai simpanan," aku menekan dadaku dengan tangan.


" Hai, Clara kamu selalu saja menfitnahku, " sanggahku kesal, sedang dua sahabat ku terbengong bengong.


" Iya lho mba, tadi malam teman mu itu di bawa oleh laki laki sama perempuan, modelnya seperti yang dikatakan Clara," tandas cewek penghuni kamar bawah.


" Rosa sama Lisa, kalian lebih percaya aku kan?" tanya ku, keduanya mengangguk.


Kami berpisah di luar gerbang, masuk ke mobil masing masing.


" Aku selalu saja jadi bahan fitnahan," sakit di dada dengar kata kata Clara dan cewek di kamar bawah.


Selamat pagi pesona kampusku.


" Tante Ay.... " suara cempreng yang baru ku kenal tadi pagi berlari memanggilku.


" Hai, Aliandra! " tangan ku lebarkan lalu membungkuk dan menakupkan dua tanganku ke tubuhnya lalu menciuminya.


Sementara Papanya cuman memelototi wajahku dengan sorot mata tak suka, dan Rosa serta yang lainnya ikut gemes sama Aliandra.


" Putrinya Pak Raihan? " tanya Andina.


" Iya Tante, udah tante, bye, " gadis kecil itu berlari menyusul ayahnya yang masih menunggui.


" Kok, dia seperti akrab denganmu Ay, ahh jangan jangan Papanya itu terpesona denganmu," seloroh Lisa sambil tertawa, sedang Rosa malah cemberut.

__ADS_1


__ADS_2