
Raditya POV
Udara malam yang dingin kubiarkan menusuk nusuk tubuhku di teras balik kamar.
Kegelisahan merasuk jiwa yang telah goyah oleh ketimpangan atas perlakuan dua wanita yang sedang mengisi hati, berkali kali aku meminta petunjuk pada Yang diAtas dengan kegundahan hati ini, dan selalu dia lah yang muncul di pelupuk mata juga hati.
" Mas, sudah malam, jangan banyak kena dingin tulangmu," suara lembut itu selalu saja terdengar di telinga saat aku hanya mampu duduk termenung dengan kegelisahannya.
Dengan sepatu kaki untuk membantu agar kakiku tidak full sebagai tumpuan tubuh, tanganku memegangi pundaknya berjalan ke kasur, aku duduk disisi kasur, iapun melepas sepatu lalu menyentuh kedua kakiku lembut.
Mataku tak ingin menyia nyiakan memandangi setiap jengkal tubuh dihadapanku terutama wajah cantik serta teduh yang telah membuat ku tidak mampu menahan deburan dada yang selalu bergemuruh dan berharap Ay saat ini menjatuhkan tubuh di dadaku, sehingga bisa memeluk erat tubuhnya.
" Ay, tolong letakan juga tanganmu di dadaku, " aku memberanikan diri memohonnya.
" Sakitkah dadamu Mas? " ia memang sudah kularang panggil aku tuan.
" Iya Ay, sakit dadaku, mendekatlah Ay, " mataku tak henti hentinya menatap wajahnya, serta manik matanya, tapi ia enggan dan tetap sibuk mengusap usap kakiku.
" Akankah kuulangi permintaannya? " gumanku.
" Ay, mendekatlah."
" Sudah Mas, aku ngantuk, katanya besok pengin dibuatkan nasi goreng," dia selalu bisa menolak yang kuinginkan dengan mengalihkan kata katanya.
Sejak aku tahu ternyata tidak ada warung makan di dekat kampus, dan yang selalu ia bawa untuk makan siangku merupakan masakannya, maka aku selalu minta dimasakan.
" Ay, kamu tidak takut sebagai istri tidak menuruti suami?" kataku, dan tak bosan bosan nya mata ini memandangi wajah cantik tak berpoles, ia tetap saja memijat lembut telapak kaki lalu mengelus elus betis ku dan kali ini Ay mau menuruti permintaan ku untuk meletakkan kedua kaki ini di pangkuannya.
" Mas, kenapa kamu?" aku tahu ia bingung jawabnya.
Dan setiap malam selama Kiara tidak datang Mami, Papi atau Mas Raihan selalu masuk kamar bahkan Aliandra tidur bersama Ayana, sehingga betapa sulitnya aku bisa berdua lama dengan Ayana.
Aku lelaki normal, dengan selalu bersentuhan tubuh dengan Ay, apalagi ia wanita idaman para lelaki, membuat hatiku sangat berat kalau melepasnya.
" Ditya, kamu sebentar lagi bisa berjalan," ucap Mami, matanya menatap tajam ke wajah Ayana, dan ia hanya mampu menunduk, sedang ulu hatiku terasa nyeri, pedih karena aku tahu arah kata kata Mami.
__ADS_1
" Ay, Aliandra mau tidur, biar Ditya bersama Mami, " pinta Mami, refleks tanganku memegang tangan Ay, rasanya tak rela wanita yang dengan sabar selama 5 bulan merawatku, harus turun dari kasur.
" Ditya, mulailah kamu mengurangi ketergantungan pada Ay, " tandas Mami, hati ini kayak ditusuk tusuk belati, perih, sakit.
Aku melepas genggaman tangan, sedang mata tak kedip memandang wanita ku ini turun dari kasur, tak kusadari mata ini berkaca kaca dengan membayangkan aku harus melepaskan Ay dari sisiku.
" Mami.... mengertilah aku, " ucap ku, mata Mami membelalak dengan tajam, aku melengos menahan kesedihan.
" Kamu, sayang sama Mas Raihan, kan, " ucap Mami lagi.
" Tolong Mi, jangan meminta ini, bukankah aku selalu mengalah untuk Mas Raihan? " ucapku.
Perusahaan Papi yang semakin maju, apalagi memiliki dua anak laki laki yang dikadang kadang akan meneruskannya, tetapi dengan tegas Mas Raihan menolak terjun ke dunia bisnis, alasannya ia lebih suka mengabdikan diri di bidang pendidikan, dan setelah aku yang mengelolanya, bagi hasil tak sepadan dengan tenaga yang ku keluarkan.
Mas Raihan yang tidak ikut mengelola mendapat hasil sama dengan ku yang pikiran serta tenaga lebih tercurahkan ke perusahaan, bahkan yang sangat menyedihkan saat masih bersama Mamanya Aliandra, aku harus memberi lebih demi menuruti gaya hidupnya yang sama dengan Kiara, kalau Kiara tidak masalah karena menggunakan uang sendiri, sampai aku terpaksa mengeluh tentang pengeluaran uang hanya untuk menuruti istri Mas Raihan.
" Ditya, Mas Raihan sangat mencintai Dania, kamu harus bisa mengembangkan kembali perusahaan ini, kerja sama dengan Pradipa Grup tidak boleh putus, dan sampai kapanpun kamu harus sabar menunggu Kiara, " Mami tahu Kiara selalu berkilah kalau diajak menikah, sehingga aku harus tetap menunggunya, sampai terjadi peristiwa naasku, dan atas desakan Kiara agar aku dirawat oleh orang lain dan Mami menemukan Ayana.
Lalu lelaki mana yang dalam keadaan seperti ku di rawat penuh keikhlasan oleh wanita kayak Ayana apalagi telah dinikahkan berpikir untuk meninggalkannya bahkan melepaskannya.
Sekuat apapun pertahanan yang kumiliki, akhirnya aku jebol juga.
" Ditya, Ayana besok sudah tidak perlu mengantar mu lagi ke kantor, kamu bisa sama Darto, di kantor, kan, sudah tidak kayak masih di kursi roda, " kata Mami.
" Mi, aku masih butuh bantuan Ayana, " dengan ucapan Mami, di dalam sana terasa tersayat sayat pisau runcing, perih, aku tidak merelakan kalau Ayana menjauh dariku.
Tetapi aku bisa apa? apapun kata Mami sangatlah sulit untukku menjawab " tidak" walau batin tersiksa.
Sebodoh inikah aku, yang hanya mampu diam terpaku, berharap ada keberuntungan berpihak padaku, tanpa aku bisa memperjuangkan yang telah menjadi milikku.
" Ay, akankah di hatimu memiliki rasa sepertiku, rasa yang sulit dijabarkan dengan kata kata atau bahkan bisa diurai dengan berbagai untaian kalimat indah? " batinku.
Malam ini berharap keajaiban berpihak padaku, Ayana kembali tidur di kamar ini, walau hanya di kursi kayu panjang, tetapi disaat aku membuka mata dapat melihat tubuh yang berbalut baju baby doll atau yang membujur di kursi dipan dengan tertutup rapat oleh selimut, seperti saat saat aku masih tergantung pada kursi roda.
" Raditya, tulang kakimu memang belumlah kuat untuk berjalan tegak tanpa bantuan, tetapi hati dan pikiranmu bisa berjalan untuk memperjuangkan wanita yang telah menjadi hakmu," selalu saja aku hanya mampu bermonolog di hati, serta memendam perasaan ngilu di hati, sehingga berkali kali aku harus menghembuskan nafas keras, sampai terbatuk.
__ADS_1
" Ay, Aliandra sudah tidurkah, aku buatkan minuman teh hangat, dan aku mau meneruskan pekerjaan," pesan ku terkirim.
Dan setiap malam hanya cara ini yang kulakukan, sekedar untuk bisa melihat dari dekat serta mencium bau harum tubuhnya.
Wajahku berbinar setelah muncul centang dua warna biru, juga tulisan mengetik ditengah atas.
Tak butuh waktu lama, Ay masuk kamar dengan membawa segelas besar minuman teh hangat, yang di letakan di meja kerja lalu mendekati ku, untuk memasukan sepatu pada kedua kaki.
Kutatap matanya, seperti habis menangis.
Saat Ay melingkarkan kedua tangan ke pinggangku, kebiasaan yang selalu kulakukan ialah menundukkan untuk mencium pucuk kepalanya.
" Mas.... " Ay menengadah dengan bibir menyunggingkan senyuman dan mengeratkan kedua tangannya, aku tak pernah menyia nyiakan ini, tangan yang selalu ku lingkarkannyapun semakin dieratkan sehingga tubuh kami selalu nempel.
Mata berembun dan merasakan kaos oblongku basah sampai tembus ke dada.
Mana aku mampu melepas perempuan yang selama 5 bulan ini dengan sabar membantu agar kakiku bisa kembali normal, tanpa lelah, bahkan saat ia dalam keadaan mengantuk di malam hari tetap saja bangun.
Hati ini lebih memilih wanita kaya hati dari pada kaya materi, walau aku harus berebut dengan Mas Raihan yang lebih banyak pendukungnya, terutama Kiara serta Mami.
" Kamu menikah dengan Ayana atas dukungan ku Mas, tetapi itu menikah sementara," tandas Kiara beberapa bulan lalu dengan ancaman akan memutus kerja sama antara Pradipa Grup dengan Adi wangsa Grup serta mencabut saham sahamnya demikian pula bantuan akan ditarik.
Dilema buatku, sementara aku dituntut dengan kondisi kakiku belum bisa berjalan harus memajukan perusahaan keluarga.
Itulah aku selalu mengharap ada keajaiban agar tetap bisa bersama wanita yang lagi kupeluk erat ini, sampai aku tak mendengar panggilan Mami yang tidur di kursi panjang.
" Jangan lepasin aku Ay, " pintaku memelas, karena tangan yang dilingkarkan ke pinggang ku mulai mengendor.
" Mas, tehnya keburu dingin, bukan kah pagi pagi kamu ingin dibuat kan nasi goreng, " punggung ku ia elus lembut, debaran debaran dadaku semakin bergemuruh, dan aku sangat menikmati gerakan tangan tulusnya.
" Ay, Aliandra ditinggal sendiri!" Ay terperanjat sampai ia melepas kedua tangan yang melingkar ditubuhku.
" Duuhh dada ini perih, " keluhku di hati.
" Ditya yang nuntun Mami saja, kamu tungguin Aliandra! " tandas Mami ke Ay.
__ADS_1
" Mi, aku selalu merepotkan mu.... " belum selesai ucapan ku dipotong oleh Mami.
" Makanya nurut sama Mami, apa pengin perusahaan Papimu hancur, bisa jadi jembel kita, " ucap Mami kenceng, dan Ay tak terlihat lagi di kamar ini.