
Author POV
Siang hari di kota hujan tetap sejuk udaranya, kedua orang tua angkat Ayyana berjalan menuju pangkalan angkutan umum, untuk pulang ke kampung.
" Bu, kalau sudah nyampe rumah bisa ngasih berita di grup kita, jangan sekarang, foto foto kita sekalian di kirim, " ucap Pak Kasmanto, memang tadi saat di teras Bu Wulan sama di kantor kelurahan, meminta bantuan orang untuk men fotonya.
" Iya Pak, apakah bapak sama yang dipikirkan olehku, kalau Calla dibawa oleh Yeyen? " tanya Bu Kasmanto.
" Kalau memang dibawa kok ya mereka pindah jauh keluar pulau, kita saat itu juga tidak merasa keberatan, apalagi Yeyen satu satunya keluarga bundanya Ayyana, kan, tentu lebih berhak dia ketimbang kita, " ucap Pak Kasmanto.
" Jangan jangan Bu Yeyen menyerahkan Calla ke orang Belanda, sesuai yang ada di grup kita, " ucap Bu Kasmanto, dan tak lama kemudian angkutanpun datang, lalu selama di angkutan mereka tak lagi membicarakan tentang Yeyen maupun Calla.
" Kalau benar Yeyen menyerahkan Calla ke orang asing, begitu sangat tidak punya hati dia memisahkan dengan saudara, aku saat itu walau hidup pas pasan juga mau merawat, " batin Bu Kasmanto dalam diam, serta hati gusar.
" Semoga kalau benar Calla diadopsi oleh orang Belanda, hidupnya lebih baik bila dibanding dirawat olehku, " batin Bu Kasmanto kembali.
" Bu, jangan melamun, sudah nyampe, ayo turun, " ucap Pak Kasmanto sampai membuat istrinya terjengit dari jok angkutan, lalu gegas keluar turun dari angkutan dengan hati hati.
Keduanya telah berada di rumah, tak lama datang tetangga, dengan menanyakan hasil dari pencarian Bu Yeyen.
" Bu Kasmanto, aku kan, sering ngomong, klo Bu Yeyen saat itu yang menggendong Calla, dan aku ya tak curiga, abis ia masih kerabat, masak iya mau misahkan Ayy sama Calla, malah aku sempat nanya padanya, tentang Ayy, apakah mau dibawa sekalian, tetapi Bu Yeyen kala itu hanya diam, " cerita Bu Marli, tetangganya.
Hampir saja Bu Kasmanto berucap kalau Calla kemungkinan ada di negeri Belanda, tetapi ia sadar, akhirnya hanya tersenyum dengan menjawab ucapan lain.
" Bu, alamat Bu Yeyen bisa dilacak lho, pakai media kata anakku, kan, di era teknologi sekarang segalanya bisa ditemukan, " ucap Bu Merli kembali.
" Iya paling nanti aku kirim ke anak anak, biar mereka yang lebih paham, " jawab Bu Kasmanto datar.
Langit masih tetap kelabu, mereka ngobrol di teras belakang, sedang Pak Kasmanto mengontrol ikan serta tanaman sayur di kebun belakang rumah.
" Bu Kasmanto, sekarang tinggal metik buah dari keikhlasan merawat Ayyana, abis sudah banyak tanah yang bisa dibeli, apalagi majikan Ayy terlihat sayang padanya, kali lama lama diperistri, " seloroh Bu Marli tertawa, dan Bu Kasmanto hanya mengamini.
* Tetapi Ayyana sudah tidak lagi berada di rumah Raditya, ia kan, telah disuruh menenpati apartemen Maminya Raditya," batin Bu Kasmanto, matanya menuju ke suaminya yang sedang bekerja, dan di hati selalu timbul tanda tanya besar tentang kehidupan Ayyana di Ibukota, karena biasa pulang akhir pekan, tetapi selama hampir setengah tahun ini, baru 2 kali pulang kampung, itu juga selalu bersama Raditya.
" Atau Ayyana telah dijadikan istri tuan Raditya yang cacat itu? ah tidak mungkin abis dia sekarang berada di apartemen, " bu Kasmanto membuang jauh jauh pikiran yang membuat resah di hati.
Langit yang menghitam, lalu hujanpun tiba, Bu Marli yang ikut bengong mohon pamit.
*
Hari terus berganti, akhir pekan yang ditunggu tunggu oleh dua bersaudara yaitu Marwah serta Hanifah tiba, kedua telah siap menuju ke Belanda dengan naik pesawat.
__ADS_1
Setelah sampai langsung menuju pusat kota yang disepakati, pakai kereta api.
Mereka telah menghubungi Calla, baik Calla maupun Hanifah, Marwah belum berkirim foto, mereka hanya berpatokan pada foto, video pada aplikasi di media global.
" Mba, semoga yang mengaku Calla menepati janji, " ucap Marwah, mereka telah beberapa kali dibohongi orang yang mengaku Calla, atau bahkan ada orang yang bilang kenal dengan Calla, dan ujung ujungnya meminta imbalan terutama sebelum mengadakan pertemuan, minta dikirim uang sedikit nya 10 juta, demikian Calla beserta orang tua angkatnya, ada orang yang mengaku Bu Yeyen, dan ingin bertemu tetapi tidak punya dana, maka minta dikirim sejumlah uang.
Dari pengalaman itu maka mereka menjadi sangat selektif bahkan hati hati untuk melangkah.
" De, tetapi hatiku kerasa ini Calla beneran, abis beda dengan yang lain, kita tak dimintai kirim uang, " ucap Hanifah.
" Iya juga mba, cuman kita tetap harus hati hati, siapa tahu saat ketemu kita terhipnotis lalu tanpa sadar menyerahkan yang kita miliki, " ucap panjang Marwah.
Kedua kakak beradik telah sampai ditempat yang dijanjikan, kedua nya yang belum pernah datang ke negeri yang pernah menjadi penjajah negaranya, hanya berpatokan pada petunjuk media.
Duduk di kursi taman cukup lama dengan hanya saling chat dengan Calla yang katanya bersama kedua orang tua angkat sedang menuju ke tempat mereka menunggu dengan menggunakan sepeda bertiga.
" Mba, kayaknya mereka itu, yang sedang memarkir sepedanya bertiga, mereka persis kan, seperti foto foto di medianya, aku percaya dia itu Calla, abis mirip juga sama Ayy, " ucap Marwah bersemangat, demikian Hanifah, akhirnya dengan hati tak bisa terbentung keduanya berlari mendekati Calla beserta kedua orang tua angkatnya.
" Calla, " ucap Hanifah bersamaan dengan Marwah lirih. Calla sebenarnya mendengar panggilannya, cuman ia masih menganggap namanya Alena, sehingga tidak menanggapinya.
Akhirnya berlima saling bertatapan setelah berhadap hadapan.
Lalu Hanifah punya ide untuk menelpon nomor ponsel Calla.
" Calla, kami tidak sabar ingin menemuimu, sehingga setelah tahu kalau kalian berada di tempat sepeda, terus berlari kesini, " ucap Hanifah, wajahnya ceria dengan senyuman di bibir, dan ia benar benar percaya kalau cewek dihadapannya adalah Calla.
Calla beserta kedua orang tuanya tetap masih hati hati.
" Ok, gimana kalau kita ke taman? " tanya Marwah hati hati, ia tahu sikap Calla belum percaya padanya.
Berjalan berlima menuju ke taman dalam diam, cuman Hanifah menvidcall kebersamaan ini dengan Ayyana.
" Ayy, aku sangat percaya kalau cewek ini Calla, dia mirip kamu kok, " vidcall Hanifah.
Sementara Ayyana terus tak mau kedip matanya melihat wajah Calla.
" Mba, tolong deh, aku ingin ngomong sama Calla, " pinta Ayy tak sabar, hatinya diliputi kegembiraan tidak terkira, sampai air matanya mengucur deras saking senangnya, adiknya bisa ketemu, karena ia juga percaya 100℅ cewek bersama kedua saudara angkatnya adalah Calla, adiknya.
Ingin tubuh Ayyana terbang menyusulnya.
" Mba, please, ponsel nya dikasihkan Calla, aku pengin bicara, " tandasnya lagi di vidcall.
__ADS_1
" Bentar, kalau udah duduk di kursi taman, sabar ya, adikku yang cantik, oh iya Ayy, nada bicara Calla juga mirip kamu lho, " ucap Hanifah disini.
" Mba, liburan semester aku pengin menemuinya di negeri Belanda, " ucap Ayy, disana.
Hanifah sudah diberi tahu kalau majikan Ayyana sayang padanya, sehingga bisa punya uang untuk pergi pulang menyusulnya ke Eropa.
" Ciyyyyy, yang punya majikan baik," goda Hanifah disini.
Sementara Calla yang bahasa Indonesia masih dalam tahap belajar, tentu belum paham betul vidcall Hanifah dengan Ayyana, cuman ia sempat menatap lama wajah Ayyana, bahkan Mami angkatnya juga melihat wajah Ayyana di ponsel Hanifah yang sengaja di perlihatkan pada mereka.
" Lena, dia mirip sama kamu, suaranya juga, kali kamu saling sapa," pinta Mami.
" Iya Mi, nanti kalau sudah berada di taman, " jawab Calla atau Alena, yaitu nama yang diberikan oleh kedua orang tua angkatnya.
" Alena, ia tentu bisa bahasa Inggris, kayak Marwah sama Hanifah," ucap Papinya.
Lalu Alena pun tanya sama Marwah yang tidak terlalu sibuk dengan ponsel nya, tentang Ayyana, dan Ayyana bisa berbahasa Inggris.
Sampai lah di taman, lalu Calla menerima ponsel Hanifah yang masih aktif menvidcall Ayyana.
Wajah semringah terpancar pada Ayyana yang sangat percaya kalau di depan layar ponsel adiknya, yang puluhan tahun telah menghilang.
Agar dari pihak Ayyana serta Calla percaya bersaudara, di rencanakan test DNA, sedangkan akte kelahiran Calla, oleh Calla masih belum di kirim ke Ayyana, ia masih tetap waspada, artinya belum mau percaya bahwa Ayyana kakak perempuannya, karena yang ia tahu dari orang tua angkatnya kalau ibunya adalah Bu Yeyen, ia anak satu satunya.
" Aku, hanya ingin cari orang tua kandung, terutama Bu Yeyen," ucap Calla.
Dan Hanifah cerita tentang Bu Yeyen berdasarkan data kependudukan, kalau sudah tidak berada di Bogor, lalu oleh Hanifah di kirim alamat Bu Yeyen sekarang, karena setelah Bu Kasmanto diberi tahu tentang keberadaan Bu Yeyen, Ayyana mencari alamat di map, kebetulan kelurahannya bisa di hubungi lewat telpon, sebab tidak berada di daerah terpencil.
" Ini nomor ponsel kepala desa, Bu Yeyen menetap, " ucap Marwah, dengan menekan kode kirim.
" Cuman tak bisa bahasa Inggris, " tandas Hanifah tersenyum.
Sudah cukup lama berlima berbincang di taman, maka Hanifah mengajak makan di rumah makan khas makanan Indonesia.
" Mba, biarin aku yang bayar, nich udah ku kirim ke rekening milikmu, sama tolong ada yang dikasihkan ke Calla," pesan Ayyana dari apartemen.
Hanifah tidak menolak pemberian Ayyana.
" Habis makan, yuukk jalan jalan ke tempat wisata disini, " ajak Marwah, dan disetujui oleh semua.
Sedang bagi Hanifah maupun Marwah yang baru pertama kali menginjakkan kaki disini, akan dimanfaatkan untuk menikmati negeri yang banyak kanal.
__ADS_1
Sementara Calla siap dengan permintaan Ayyana, kalau perlu test DNA.