Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 62 Nasib Hana tak seindah yang dibayangkan


__ADS_3

Author POV


Udara dingin masih terasa di tubuh Ayyana, walau telah pakai baju tebal lengkap, ia berdecak riang melihat anak anak dengan orang tuanya bermain salju sambil bikin bola bola salju.


" Kamu pingin buat bola bola kayak gitu? paling besok Ayy kita bermain bersama biar seru, " ucap Raditya berjalan menggandeng tangan Ayyana yang pakai sarung tangan tebal.


" Gimana, yang lain siap besok mainan begitu? " tanya Raditya.


" Siap donk, mumpung lagi ada banyak salju di kota ini, cuman besok masih setebal ini enggak ya, " kata Hanifah.


" Semoga masih biar kita bisa bermain main kayak anak kecil itu, " ucap Marwah nyengir.


" Emang klo orang kayak kita yang enggak pernah lihat pemandangan kayak gini jadi keliatan banget kampungan ya," ucap Rosa nyengir juga.


" Iya tentulah, apalagi aku nich yang baru kesini, makanya terlihat paling beda sendiri, alias lebih norak dan banyak tertawa, " ucap Ayyana terkekeh, Raditya tanpa malu mengecup bibirnya, abis disaat Ayyana tertawa gigi gigi rapih putih terlihat menjadi tambah cantik.


" Mmmm, Pak Raditya jadi gemes nich lihat kamu Ayy," tabok Rosa, dan Raditya malah terus memeluk erat tubuh Ayyana.


Tentulah dia memprotes nya, karena tak terbiasa mengumbar kemesraan, padahal orang tua Rosa juga orang tua angkat Calla selalu mesra dihadapan mereka.


" Ayy, tuh belum kayak mereka lho Mas, kali lama lama bisa menerima perlakuanmu di depan kita, " ucap Hanifah, yang hatinya mulai tergerak untuk menerima desakan Hafid agar segera menikah.


" Mba, jam berapa Mas Hafid nyusul kesini, kok ya tidak bareng kemaren, " tanya Ayyana.


" Ini lagi naik kereta kesini, kan, dia pegawai yang sangat tanggung jawab," ucap adiknya Marwah tersenyum.


" Kali lembur biar dapat tambahan untuk biaya pernikahan, " ucap lirih Ayyana.


" Memang kamu adik yang sangat bijak, makanya Raditya lengket sama kamu, "ucap Hanifah lirih, tapi Raditya dengar maka iapun tertawa.


Para wanita di apartemen Raditya sibuk di dapur menyiapkan masakan untuk makan malam nanti, sedang para lelaki duduk duduk ngobrol di ruang tamu, apalagi Hafid calon suami Hanifah sudah datang, tambah ramai obrolan kosongnya.


Cuman Ayyana hatinya belum tenang sehubungan dengan Mr. Isaac, ingin ia meminta pada Raditya agar bertanya tentang istrinya itu, selalu saja ragu.


" Semoga saja bukan Hana istri Mr. Isaac, kalau toh Hana, ia bisa berbaik dengan ku, cuman aku harus tetap waspada abis hati orang siapa tahu, " batin Ayyana sambil membolak balik masakan.


Waktu terus merangkak maju, semua makanan sudah tertata rapih di meja makan, dari makanan Indonesia yang dimasak bersama juga makanan Eropa berupa roti, yang di beli dari toko roti terenak di kota ini.


Semakin dekat waktu kedatangan rombongan Mr. Isaac dada Ayyana tak karuan, tetapi kedua kakaknya tak mau jauh jauh dari Ayyana dan Raditya.


Sementara Raditya tidak tahu tentang kegalauan Ayyana serta kewaspadaan kedua kakaknya, karena Ayyana belum punya keberanian bicara yang belum tentu benar kalau Mr. Isaac beristri Hana.


" Rombongan Mr. Isaac sudah datang, " laporan mas Ferdy salah satu pengawal Mas Raditya.

__ADS_1


Semua bersiap menjemput di depan pintu ruang tamu, ternyata yang datang cuman 5 orang, dengan satu pengawal, dan dada Ayyana berdegub keras bahkan Rosa juga memekik setelah lihat wanita yang menuntun Mr. Isaac.


" Hanaaa... " pekik lirih Rosa, matanya melebar, apalagi Ayyana seperti jantungnya mau copot melihat penampilan Hana yang elegant dengan salah satu pundaknya dijadikan pegangan oleh tangan Mr. Isaac.


Hana seolah belum menyadari wanita wanita yang ada di deretan pintu dikenalnya, ia tetap melangkah pelan mengimbangi langkah Mr. Isaac yang tertatih dengan dibantu tongkat.


" Hmmm, dari raut wajah Hana terlihat klo ia tak punya peran banyak dikeluarga Mr. Isaac," batin Ayyana.


" Atau tidak begitu mampu berkomunikasi bahasa Inggris, " batin Ayyana lagi.


" Benar itu si Hana, Ayy? " bisik Hanifah, Ayyana yang lagi menata hati mengangguk lesu.


" Ia kayak tertekan, lihat wajahnya walau pakai baju brand, tetapi tidak ada pancaran kebahagiaan," ucap Marwah.


" Paling ia hanya dijadikan simbolik sebagai istri Mr. Isaac," ucap Hanifah dengan posisi waspada.


" Lihat wajah Hana, kosmetiknya sangat tebal, seperti untuk menutupi sesuatu di wajahnya, " bisik Rosa, yang tidak punya keberanian menegurnya.


*


Hana POV


Seperti mimpi aku berada di negeri ini, hanya karena taktik Clara yang penuh dengan tipu daya, aku yang ingin hidupnya meningkat secara materi menerima tawaran Clara untuk menjadi istri seorang CEO muda cuman buta kedua matanya gegara kecelakaan.


Sering yang kulakukan selalu disalahkan oleh Isaac nama lelaki yang katanya mau menikahiku.


" Haii, besok aku diundang oleh mitra bisnis untuk makan malam, kamu harus berdandan yang cantik," tongkat untuk membantu berjalan ia tekankan ke mukaku, tidak bisa menghindar karena Mamanya memposisikan dibelakang ku. Wajahku kebiruan tentulah sangat sakit, makanya malam ini wajahku di kasih make up tebal dengan mendatangkan juru rias keluarga.


Tidak hanya kali ini saja aku menerima perlakuan kasar, tidak hanya oleh Isaac tetapi anggota keluarga yang lain.


Yang menyedihkan aku selalu melayani Isaac dengan perlakuan kasar, sampai tubuh sakit semua, seperti remuk tulang tulangnya. Dan aku tidak boleh mengeluh di hadapan keluarganya, jadi walau tubuh terasa sakit harus menunjukkan sehat.


Aku malam ini sangat kaget bertemu dengan Ayyana serta Rosa, cuman aku tidak punya keberanian untuk sekedar tersenyum kalau aku mengenalnya.


" Isaac, kenalin istri kamu ke istriku sama yang lainnya, " ucap lelaki yang mirip Pak Raihan, telah diberitahu bernama Raditya, dan aku mencoba untuk menerka tentang istri Pak Raditya.


" Apakah Ayyana? sebab dialah yang berada disebelah Raditya, apalagi tangan Raditya dilingkarkan ke tubuh Ayyana, " batinku.


" Kamu sudah lihat sendiri, ini wanita yang ku tukar dengan uang sangat banyak, cuman aku kecewa ternyata wanita yang disodorkan tidak masuk kriteria ku," ucap Isaac, hati ini sakit.


" Benar, ternyata teman nya itu membohongi kami, abis foto yang disodorkan bukan wanita ini, tetapi, aahhh, " Mamanya menatap lekat pada Ayyana lalu pada cewek yang mungkin masih duduk dibangku SMA yang mirip dengan Ayyana.


Ayyana sempat kulirik menggembungkan pipinya, aku percaya ia ingat peristiwa upaya penculikannya oleh kelompok ku atas ide dari Clara serta Silvi, aku dan yang lainnya karena pengaruh dari kedua cewek itu, seperti sekarang aku ini adalah korban Clara.

__ADS_1


Aku jatuh ke orang bernama Isaac yang buta tetapi perlakuannya padaku tidak manusiawi, ia seorang psikopat.


Setiap hari aku harus melayani dengan dicekik lehernya, di tampar bahkan pernah diijak injak tubuhnya, aku tidak bisa menghindar walau ia buta tetapi keluarganya ikut membantu Isaac.


Ini murni karena Clara yang membohongi Isaac, tetapi yang menjadi sasaran tentulah aku, Isaac dan keluarganya sangat kecewa karena yang akan dijadikan istri seharusnya adalah Ayyana, dan akhirnya aku tahu kelicikan Clara, saat menculik Ayyana rencananya akan dibawa ke sebuah gudang, lalu di siksa, cuman usaha penculikannya gagal.


" Isaac istri kamu tidak memalukan kok, juga ikhlas merawatmu, " ucap tuan Raditya yang disambut tawa oleh Isaac.


Sempat terpikir dihati untuk minta tolong agar aku bisa terbebas dari Isaac beserta keluarganya, terutama pada Raditya, tapi aku pesimis karena ia kan, temannya sejak masih muda.


Selama ngumpul bareng di apartemen Raditya aku tidak bisa jauh dari Isaac, sehingga aku tak bisa ngobrol sama Ayyana serta Rosa.


*


Ayyana POV


Aku menatap lekat wajah Hana, cuman ia tetap mulutnya terkunci.


Awalnya aku akan minta bantuan Raditya agar pengawalan di perketat, tetapi ku urungkan setelah melihat Hana kayak wanita yang tidak berdaya.


" Mba, Hana seperti tidak bahagia bersuamikan Mr. Isaac, sehingga aku percaya ia tidak akan mengintimidasi ku, " bisik lirih pada Mba Hanifah.


" Ayy, bisa saja itu siasat, setelah kamu lengah baru ditusuk dari belakang, pokoknya kita tetap waspada, " tandas Mba Hanifah lirih.


" Iya Mba, tapi bukankah yang ngasih cendera mata padaku Maminya, " kataku.


" Rasain si Hana dapat balasan akibat selalu membully mu, " ucap Marwah lirih.


" Mba, cuman aku menghendaki Hana baik baik saja, syukur sesuai dengan angannya bisa meningkat ekonominya kayak aku," ucapku lirih.


" Iya juga, berdoa saja Ayy, cuman filing ku sama kayak kamu Ayy, ia tertekan bersuamikan Mr. Isaac yang tampan tetapi buta, " bisik Marwah.


Dan malam telah larut, acara makan malam telah selesai, tamu tamu semua pulang, sehingga kami tinggal berlima.


" Ayy, biarkan kami bertiga tidur di sofa ruang tamu, kamu sana menyusul Mr. Raditya, " suruh Hanifah dengan nyengir.


" Mba, makanya jangan menunda nunda untuk nikah, tuh kasihan Mas Hafid yang sudah desak terus, " selorohku lalu masuk ke kamar nyusul Raditya yang sudah ganti baju pakai piyama.


Kubersihkan wajah dari make up yang nempel, lalu menyusul Raditya di tempat tidur setelah aku pakai piyama juga.


" Mas, aku ngantuk juga capek banget tubuhnya," seolah aku tahu yang diinginkan oleh Raditya tak lain obat pengantar tidur, maka aku memberitahu lebih dulu terus tubuh yang penat ini ku rebahkan di sebelah kirinya, masuk ke dalam selimutnya, dengan memiringkan tubuh menghadapnya, karena rasa kantuk tak bisa dicegah akhirnya tidak ingat apapun.


Pagi menyapa

__ADS_1


Kabut menutup cahaya matahari, sehingga diluar masih gelap serta dingin dengan salju sepertinya mulai menebal, karena di dalam ruangan tetap hangat, Raditya yang telah bangun lebih dulu lalu terdengar di ruang tamu saudara saudara ku telah bangun juga. Maka Raditya mengajak untuk melakukan kewajiban bersama di ruang tamu, yang diimami oleh Hafid.


__ADS_2