Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 71 Ayyana dan Calla telah tahu wafatnya kedua orang tuanya


__ADS_3

Author POV


Pertanyaan terus menghantui otak kepala Calla tentang sikap Bu Yeyen beserta suaminya.


" Akankah perkiraan ku tentang Bu Yeyen benar? klo setidaknya suaminya atau dirinya tahu tentang sebab musabab kedua orang tuaku wafat, " pikirnya.


Ia setiap hari selalu telfon maupun chat dengan Ayyana, selain kangen kangenan juga membahas tentang perkembangan pencarian kerabat Ayahnya.


" Ayy, kali selidiki juga tentang Bu Yeyen beserta suami, aku berpikir kalau mereka tahu peristiwa wafatnya orang tua kita, " pesan from Calla.


" Tapi enggak baik kita berprasangka, sebaiknya kita tak putus asa mendekati mereka, dengan cara chat atau telfon, kalau kamu berlibur ke Jakarta sempatkan bareng menengoknya, abaikan sikap mereka pada kita siapa tahu mereka akan berbicara tentang sikapnya itu, " pesan from Ayyana.


" Cuman aku selalu minta bantuan Pak atau Bu Setyo klo menghubunginya tetapi tidak mau mengangkat, malah ini nomerku di blokir, padahal aku setiap hari chat atau telpon, supaya cerita tentang Ibu serta Ayah, " pesan from Calla, lalu ia meneruskan chat bi Yeyen juga rekaman telfonannya pada Ayyana.


" Calla, Bi Yeyen kentara banget klo marah hanya karena kamu ingin di ceritain tentang ibu, " pesan from Ayyana.


Bi Yeyen serta suami merasa terganggu oleh desakan Calla, gegara Bi Yeyen pernah bilang, kedua orang tuanya wafat karena terbunuh, yaitu ada unsur kesengajaan dari seseorang yang menyetir mobil, di jalan yang biasa dilewati pulang ke kontrakan di kampung depan rumahnya Pak Kasmanto.


Sementara kedua orang itu berusaha mengingat ingat, peristiwa awal awal ada seseorang yang tidak dikenal menyambangi rumah orang tuanya di Bogor, dan ia serta suaminya yang bekerja di pabrik sama dengan Alimah juga Dylan, tanpa curiga pada orang itu.


Orang itu kalau datang menemui Yeyen serta suaminya selalu bawa tas plastik besar, berganti ganti isinya, kadang beras sedikitnya 25 kg, lalu pada kunjungan akhir pekan kemudian berupa kebutuhan bulanan, baik berupa bahan untuk bersih tubuh sampai bahan bahan untuk masak, akibatnya nyaris selama setahun mengenal orang itu, yang mengaku bernama Firman tidak pernah belanja kebutuhan sehari hari.


Yeyen begitu juga suaminya, tidak tahu Firman yang dikenalnya tanpa sengaja di stasiun Bogor, saat habis pulang dari kerja bersama Dylan juga istrinya.


Yeyen yang sedang tidak fokus ditabrak sepeda motornya di dekat ruang parkir, sampai barang belanjaan berjatuhan.


Sejak itu Firman setiap akhir pekan berkunjung ke rumah orang tua Yeyen untuk menyambung silaturahmi, oleh karenanya Yeyen dan suaminya tak mau melapor polisi.


Selang waktu sebulan sebelum peristiwa naas Dylan bersama Alimah, Firman dalam kunjungannya selalu menanyakan tentang kedua orang tua Ayyana, tanpa berpikir panjang apalagi Firman juga sudah sangat baik hubungannya, menceritakan tentang Dylan serta memberi alamat, Yeyen beserta suami tidak curiga dengan kebaikan Firman, maklumlah mereka orang apa adanya, yang tidak memikirkan tentang kebaikan Firman di belakangnya ada maksud tertentu.

__ADS_1


Hari hari Yeyen sama suami tetap berangkat kerja ke Jakarta, setiap haripun selalu bersama baik berangkat maupun pulang dengan naik kereta, yang kerjanya kebetulan selalu di siang hari.


" Yen, kamu kenal sama orang ini? " saat berangkat Alimah menunjukan foto di ponsel model baru. Yeyen sempat diam sambil mengamati ponsel yang lebih bagus dari pada miliknya, yang hanya bisa untuk SMS sama telpon.


" Kok tak respon kamu Yen, abis orang ini katanya sering berkunjung ke rumah mu dan ia yang nabrak kamu saat di parkiran motor, " desak Alimah yang tahu kalau Yeyen lebih konsen pada ponselnya dan akhirnya Alimah cerita tentang ponsel bekas pemberian bos Handoko ke Dylan, oleh suaminya diberikan padanya karena dia belum punya ponsel.


" Iiiyaa aaku mengenalnya, " dengan tergagap Yeyen menjawab.


" Yen, kamu hati hati pada orang ini lho, jangan terlena kebaikannya, karena tidak tahu maksud kebaikan yang diberikan orang ini pada kamu, " nasehat Alimah yang sudah tidak nyaman pada orang yang diberi tahu oleh Yeyen bernama Firman, karena hampir setiap hari beberapa hari ini selalu menelpon Dylan dengan ancaman nyawa.


" Teh, aku dah ngenal Firman selama setahun ini kok, dan selama ini dia tidak sejahat yang kamu kira, " ucap Yeyen menunjukkan rasa tidak sukanya pada Alimah.


" Firman hari Minggu datang ke kontrakan ku, katanya habis ke rumah mu, saat itu aku sempat memotretnya tanpa sepengetahuan dia, abis aku curiga pada gerak geriknya, bagaimanapun aku harus selalu waspada, karena kamu tahu pernikahanku ditentang keras oleh keluarga mas Dylan, " cerita panjang Alimah, dan tanpa menyadari kereta sampai di stasiun yang dituju di Jakarta,.


Semua penumpang yang akan ke pabrik berbondong bondong turun dari kereta untuk naik angkot maupun bus kota.


Jam terus bergerak maju, para pekerja pabrik telah keluar karena jam kerja telah selesai, dan Yeyen tak menyadari bahwa sore itu ialah hari terakhir ia beserta suami ketemu serta berbincang dengan Alimah dan Dylan, karena saat malam hari, ia akan menuju pembaringan di beri kabar kalau Alimah dengan Dylan wafat kecelakaan waktu pulang kerja.


Saat itu ia tidak bilang ke keluarga Kaswanto untuk pulang, ia dengan keterbatasan ekonomi hanya mampu menggendong Calla, dan Ayyana terpaksa ia tinggal di kontrakan, ia percaya Ayyana yang sudah mengerti akan ikut ke keluarga Kasmanto.


Hampir satu pekan sejak wafatnya Alimah dengan suami, Yeyen tidak menengok Ayyana, apalagi setiap hari selalu dapat telfon yang bernada ancaman.


Ia yang hanya buruh pabrik dengan gaji cukup untuk hidup keluarga, apalagi banyak yang harus di tanggung, membuat Calla kurang asupan gizi, iapun tak mampu beli susu.


" Yen, si Firman sejak Alimah wafat sudah lebih sepekan ini tidak datang, jangan jangan ia yang selalu menelpon kita dengan nada ancaman, " ucap suaminya bergetar, ada rasa ketakutan terpancar di wajahnya.


" Yen, kita tinggalkan kota ini saja, terasa kurang aman kita disini, " desak suaminya yang selalu dapat telfon bernada mengancam.


" Mana bisa, kita tak punya uang, " jawab Yeyen gemetaran.

__ADS_1


" Dah, Terima saja tawaran Dian klo Calla mau di adopsi Nyonya Belanda, " desak suaminya wajahnya memucat dengan bibir bergerak gerak.


Dan Nyonya Cornelia beserta suaminya yang telah jatuh cinta pada baby Calla, maka saat Yeyen meminta tambahan uang langsung disanggupi.


Kedua orang tua Yeyen tidak tahu tentang alasan Yeyen pindah ke luar Jawa, tahunya ikut transmigrasi.


" Yen, pokoknya kita tutup mulut tentang kematian Alimah sama Dylan, demi keselamatan keluarga, klo kita disana sudah maju, keluarga kita boyong, dari pada disini tidak aman, " ucap suaminya kembali.


Dan selang tiga bulan wafatnya Dylan ibunya Laksana wafat karena serangan jantung, sedang Ayahnya langsung stroke, 8 tahun kematian istrinya stroke yang membuat hanya mampu duduk di kursi roda, juga tak mampu bicara, Bapaknya Laksana pun menyusul istrinya wafat.


*


Pak Setyo yang dimintai bantuan oleh Calla agar mencari cara untuk mengorek sebab Bu Yeyen serta suaminya sikapnya berbeda pada Calla serta Ayyana, memberi kabar kalau Bu Yeyen akan meninggalkan kampung, tetapi berkat pendekatan yang dilakukan oleh orang orang Raditya maka Bu Yeyen masih menunda kepindahannya.


" Bi, aku tahu alasan kamu sekeluarga mau pindah, Bibi sekeluarga justru lebih terlindungi pabila tetap berada di kampung ini, kalau kalian enggak bersalah jangan takut, kita kan, hidup di negara hukum," tandas Raditya yang sengaja datang ke kampung setelah satu bulan kepulangan Calla ke Belanda.


" Bener Bi, kata Mas Raditya, ceritakan saja tentang yang menjadi beban Bibi serta Paman, selama kalian tidak ikut bersekongkol tidak mungkin akan di seret ke penjara, " desak Ayyana, lalu keduanya menangis pilu serta bersumpah tentang wafatnya kedua orang tua Ayyana jujur tidak ikut terlibat.


" Kami hanya sekedar kenal dengan orang yang bernama Firman, paling kesalahan kami memberi informasi baik berupa alamat kontrakan juga nomer ponselnya, selebihnya aku tidak tahu kalau lelaki itu suruhan seseorang untuk menghabisi nyawa orang tuamu, " cerita Yeyen serta suaminya dengan tangis pilu, setelah menceritakan semua kejadian sejak di tabrak oleh Firman.


" Kalau aku sempat cerita di telpon Calla bahwa orang tuanya dibunuh, itu murni karena rasa berdosa kami, yang tak mampu maju ke jalur hukum, " ucap Yeyen sambil tetap menangis.


Ayyana yang sedang hamil kira kira 2 bulan, setelah mendengar cerita bi Yeyen selama menginap di rumah kampung bi Yeyen, terus pulang ke Jakarta.


" Ayy, kamu tak perlu takut dengan Oom Laksana, kami sekeluarga akan melindungi kamu, juga Calla di Belanda selalu di jaga oleh para pengawal Isaac, " ucap Raditya yang telah diberi kabar oleh Isaac agar mempercayakannya pada perlindungan ke Calla.


Sementara Laksana sudah tahu kalau anak anak Dylan telah besar, dan sudah di beri tahu oleh Faisal tentang Ayyana serta Calla.


" Sana, sebaiknya kamu berbaik saja pada mereka, insyaallah mereka tidak akan menuntut pada kamu, sepertinya mereka sudah ikhlas kok, yang penting perusahaan di bagi dua, yang di Tanggerang kamu balik nama saja ke Ayyana serta Calla, toh kamu tetap dapat bagian paling banyak, " nasehat Faisal pelan dan menyentuh hati Laksana, bahkan Laksana setelah di pertemukan dengan Ayyana serta Calla yang sengaja datang atas undangan Ayyana, ia sangat menyesal, karena dialah yang membuat kedua anak itu harus terpisah.

__ADS_1


Dan bertahun tahun Laksana hidup dengan rasa bersalah, sebab awalnya ia tak bermaksud membuat Dylan beserta istrinya wafat, hanya Firman lah yang gegabah menabraknya.


" Kalau ancaman yang dilakukan oleh Firman, itu juga di luar rencana kami maksudnya aku serta Ayah Ibu, hanya menghendaki Dylan meninggalkan Alimah, dengan rencana Dylan akan di paksa ikut ke mobil yang disediakan," cerita Laksana dengan wajah pucat.


__ADS_2