
Author POV
Hati Ayyana berdesir kencang saat ditatap Raditya.
" Mas, sekalian makan ya, " ucap Ayyana bergetar.
" Iya Oom, kita makan bareng, " ucap Liandra.
Memang atas permintaan Liandra, untuk makan siang bareng di kantor Raditya, makanya Ayyana bawa 3 box.
" Ok," karena Raditya menjalankan kursi roda, maka Ayyana dengan sigap menuju stang kursi roda untuk mendorong menuju sofa.
" Mas, mau duduk di sofa? " tanya Ayyana pelan, Raditya mengangguk lalu kedua tangan ia angkat kemudian Ayyana melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Raditya, untuk membantu duduk di sofa, dada berdebar debar, juga Raditya sampai nafas selalu ditarik dalam untuk mengurangi kegugupannya. Tetapi Raditya sempat mencium ubun ubun Ayyana lembut yang biasa dilakukan olehnya kalau Ayyana melakukan hal yang sama.
" Kamu duduk disebelah ku Ayy, " pinta Raditya, setelah menyiapkan sajian makan siangnya. Ayyana agak kikuk untuk menuruti permintaan Raditya, tetapi tatapan matanya, tak ingin dibantah, maka Ayyana dengan jantung berdesir kencang meletakkan bookoong disebelah kiri Raditya, sedang Liandra ada disebelah Ayyana.
Sebenarnya saat Ayyana ada di rumah besar kalau makan bersama selalu ada disebelah Raditya, cuman saat itu merasakan tak ada perlakuan khusus, walau Ayyana tak nyaman terutama takut salah, karena tak pernah makan bersama dengan keluarga klas atas.
Bertiga makan siang di ruang kerja Raditya, cuman fungsinya tak hanya sebagai ruang kerja saja tetapi berfungsi serba guna.
" Ayy, aku mau ke kamar mandi, " pintar Raditya setelah selesai makan.
Ayyana mendorong kursi roda dibawa masuk ke kamar mandi.
" Mau kemana Ayy? " tanya Raditya saat tahu Ayyana mau keluar dari kamar mandi.
" Nunggu di luar Mas," ucap Ayyana berkeringat dingin.
" Tungguin disini sambil megangin kursi rodanya, " pinta tegas Raditya, maka Ayyana tidak bisa menolak, ia merasa pekerjaan ini masih dibayar.
Raditya berusaha berdiri, sedang Ayyana memegang kencang kursi roda, lalu Raditya melakukan hajat kecilnya, sedang Ayyana memalingkan muka, ia tak mau melihat yang belum pernah dilihatnya.
" Mas, sudah bisa melakukan sendiri, kan, selama aku sudah di apartemen? " tanya Ayyana hati hati.
" Cuman lamban Ayy, enggak seperti kalau ada kamu kayak tadi," jawab Raditya setelah duduk di kursi roda yang akan didorong keluar.
" Iya, kan, harus hati hati Mas," ucap Ayyana lirih, sebenarnya ia sangatlah iba pada kondisi suami dadakannya ini.
" Ayy, aku nanti pulang larut malam, kali klo lelah sekali aku mau tidur di apartemen kamu, " ucap Raditya lirih, ia juga tak ingin Liandra dengar, abis anak sekecil ini terlalu jujur, bisa jadi cerita sama Mami.
" Hmmm, aaa... " Ayyana belum selesai ngomong yang sempat terbata telah dipotong oleh Raditya.
" Kamu enggak suka bila aku tidur di apartemen mu," tandas Raditya dengan sorot mata tajam menusuk jantung.
" Aaakuu, aanuu menjaga hati Papi sama Mami kamu Mas, " ucapnya tergagap.
" Kan, aku cuman jadi istri sementara sampai kamu sembuh, " ucapnya lagi.
" Itu tak berlaku buatku, Ayy, " selama ini Raditya yang masih sangat sulit untuk bicara yang ada di hati, maka siang ini diruang dengan udara sejuk oleh ac, bisa mengungkapkannya.
__ADS_1
" Maksudnya, Mas? " tanya Ayyana.
" Eee, aku tak menganggap kamu sebagai istri sementara, " jelas Raditya, menatap lekat penuh kelembutan pada wajah cantik alami disampingnya. Ayyana tersipu, serta dada berdesir kencang membuat telapak tangan menjadi basah oleh keringat dingin.
Kalau tak ada anak kecil disebelah Ayyana, tentu Raditya akan merengkuh tubuh Ayyana, ia hanya meletakkan tangan kiri ke pundak Ayyana.
" Temani aku disisa hidup ini Ayy, " bisik Raditya ditelinga Ayyana lembut. Walau telinga ketutup hijab tetapi Ayyana merasakan getar tubuhnya, juga terasa tubuh ini jadi panas dingin dengan perlakuan Raditya. Dan Raditya tahu diamnya Ayyana setuju dengan permintaannya, maka tidak menuntut jawaban.
Sudah cukup lama berada di ruang Raditya, makan siang pun telah selesai, maka Ayyana segera membersihkan meja dari sisa sisa makanan, serta membuang box ke tempat sampah.
" Mas, aku pamit, sebentar lagi mau kuliah, " ucap Ayyana berbohong.
" Kamu, kan, kuliahnya pukul 15.00, udah temenin aku disini, " pinta tegas Raditya.
" Malah mengganggu kerja, Mas, " jawabnya pelan, iapun tak berani menatap kedua bola mata hitam tajam milik Raditya.
" Hmmm, orang orang disini tak ada yang membantah kata kataku, cuman Ayyana, walau ucapannya sangatlah hati hati. Memang beda sih sama Kiara, kalau dia lebih cenderung bernada memerintah.
" Oom, Ayah bentar lagi mau menjemput Liandra, juga mau makan siang di apartemen, " jelas Liandra polos. Ayyana terkejut dengan ucapan Liandra, sampai hati tidaklah nyaman, apalagi sorot mata tajam Raditya menatap menghujam sampai ke ulu hati.
Sementara Raditya juga kaget, sampai mengangkat bookoong dari tempat duduknya, dan wajahnya berubah memerah, hatinya menjadi gusar, cuman ia menutupi di depan Liandra.
" Hmmm, kalau begitu Oom juga ngikut ke apartemen ya, " ucap Raditya sendu.
" Bener Oom mau ikut? yuuk cepetan, keburu Ayah datang, " ajak Liandra menarik tangan Raditya yang berada di kursi roda, dan tidak membuat tubuh Raditya bergeser, karena tarikannya pelan.
Sementara hati Ayyana menjadi gusar, pikirannya pada peristiwa pertengkaran malam itu sampai keduanya saling tonjok, dan membayangkan peristiwa itu tubuh Ayyana menjadi panas dingin.
" Kamu di dalam mau bersenang senang? " menusuk mata Raditya, nadanya juga ketus.
" Oom marah, makanya ikut donk, " pinta Liandra yang dengar suara Raditya penuh kekesalan.
" Ok, Oom siap berangkat, dah tante supaya ngangkat tubuh Oom, " pinta Raditya, matanya sendu, terasa perih di dada.
Saat Ayyana merengkuh pinggang Raditya, maka ia membungkukkan kepala lalu mengecup ujung kepala Ayyana lembut.
" Ayy, tak akan kubiarkan kamu bersama Raihan, selamanya aku akan berjuang agar tetap bersamamu, " guman. Raditya dihati.
" Mas, aku berharap di apartemen tak terjadi peristiwa kayak malam itu, tahan ya emosi kamu, " batin Ayyana.
Bertiga telah berada di mobil, lalu Ayyana menjalankan pelan keluar dari tempat parkir menuju jalan yang tak pernah sepi kendaraan.
Mulut Ayyana sepanjang menuju apartemen tidak bisa membuka, hatinya sangat gelisah, tetapi ia tetap konsentrasi menyetir, sesekali tangannya diusapkan ke kepala yang ketutup hijab.
" Tak perlu gelisah kamu Ayy, atau Mas Raihan sering datang ke apartemen? " tanya Raditya kesal.
" Mas, klo ia sering ke apartemen tentu Pak Hendra beserta istri ngelaporin donk ke kamu, " jelas Ayyana. Batin Raditya membenarkan ucapan Ayyana, tetapi ia tak mau mengutarakannya, ia merasa gengsi.
Sampai juga ke basement.
__ADS_1
" Tante, tuh mobil Ayah dibelakang kita, " seloroh Liandra girang.
Hati Ayyana tidak karuan, bingung menghadapi permasalahan ini, sampai telapak tangan semakin dingin, juga gemetaran.
Ia hanya berdoa, semoga kedua orang lelaki yang dihadapi ini para lelaki dewasa, dan tetap menjaga persaudaraan.
Terdengar dengusan Raditya sampai ke telinga Ayyana, dan tangan kekarnya meraih jemari Ayyana yang masih berada di lingkaran stir, lalu Raditya meremas lembut telapak tangannya, membuat Ayyana sedikit rileks.
" Ayy, aku berharap kamu tetap bersama ku, " tiba tiba Raditya mampu berucap lirih, dan mata keduanya beradu, dengan mulut terkunci.
Tak kuasa Ayyana untuk menata getaran hati, bola matanya pun berkabut, membuat pandangan menjadi kabur.
" Tante, ayo turun, " teriak Liandra, mengagetkan kedua orang yang lagi bergejolak hatinya.
Dengan hati hati Ayyana turun, lalu membuka pintu disebelah Raditya serta membantunya keluar.
Sementara Raihan yang telah memarkirkan mobil dibelakangnya, terkejut melihat pemandangan di depannya, ia sangat kesal, kedua tangan mengepal kencang dan ia sampai belum mau turun dari mobil.
" Ayah, ayo buka pintunya, " teriak Liandra menepuk nepuk pintu mobil dekat setir Ayahnya.
Tangan Raihan memencet remote lalu membuka pintu.
" Aku harus bersikap dewasa, apalagi ini diluar, tentu aku tetap menjaga hati, apa kata orang, dua saudara saling berantem gegara Ayyana? " batin Raihan, kakinya ia jejakan di lantai basement, kemudian mengangkat tubuh kecil putrinya yang menjadi semangat hidupnya, dan diciumilah pipi gempalnya.
" Emmm putri Ayah, bau enak, tentu sudah makan ya, " celoteh Raihan.
" Iya Mas, tadi makan di kantor ku, " ucap Raditya yang dengar pertanyaan Raihan.
*
Bertiga berjalan pelan untuk mengimbangi jalannya Raditya, sedang Liandra ada di gendongan Ayahnya untuk menuju ke apartemen, dan betapa kaget mereka bertiga, saat berada di lift ketemu dengan Dania yang berniat keluar, tetapi ia tidak jadi keluar, setelah ketemu Raihan di dalam lemari besi.
Raihan bungkam demikian Liandra hanya melirik wajah ibunya yang tak pernah memperhatikannya.
Raditya memberi kesempatan pada Dania dengan cara mepet ke Ayyana lalu tangan ia remaskan pada jemari Ayyana.
" Liandra, tuh Bunda, oh ya mau ke lantai berapa Mba? " tanya Raditya basa basi.
" Mau ke lantai 6, abis aku tahu klo putriku dibawa Ayyana, " jawab Dania pura pura peduli pada putrinya.
" Mas, kamu belum makan siang, kan? " tanya Dania pada Raihan. Yang ditanya tak mau menjawab, perut kerasa jadi kenyang, dan dadapun sesak, selain hati kecewa oleh kebersamaan Raditya dengan Ayyana juga pada Dania yang selalu menghalangi Raihan apabila dekat dengan cewek.
Lift terhenti di lantai 6, maka semua keluar, sedang Hendra beserta istri telah bersiap berada di depan pintu apartemennya.
Dan semua masuk ke dalam apartemen yang ditempati Ayyana, lalu Ayyana menyiapkan makan siang buat Pak Raihan.
" Mba, sekalian makan sama Pak Raihan, " pinta Ayyana hati hati.
Bibir Dania mencebik dengan mata melotot tajam pada Ayyana.
__ADS_1
" Kamu kasih racun untuk ku, " bisik Dania di telinga Ayyana.
" Aku tak ingin buat masalah Mba, " jawabnya enteng.