Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 8 Kedatangan Tamu tak di kenal


__ADS_3

Ayana POV


Hembusan angin malam terasa di kulit saat aku dengan rasa khawatir tentang bibi dan paman di kampung sedang kesakitan, hati yang sedih sejak mata kuliah Pak Raihan belum bisa hilang ditambah dengan pemikiran ku tentang keadaan keluarga di kampung, mata terus saja berair sampai ku biarkan membanjiri pipi halus ku.


" Tuuuaan, kenapaa aku dibawa ke rumah besar?" bayangan bibi dan paman beralih dari sakit ke penyekapan di rumah besar.


" Sudah diam kamu! " bentak si perempuan di sebelah supir, dan aku di turunkan di halaman depan ruang tamu yang telah berkumpul puluhan orang.


Dengan hanya pakai baju daster pendek sehingga kaki ku terlihat, sedang lengan tangan tertutup hijab lebar, aku di paksa masuk ke kamar, dan tak lama datang beberapa wanita cantik membawa koper besar.


Aku di suruh duduk di kursi depan cermin, lalu di rias.


Setelah aku berbusana kain kebaya yang tembus pandang sampai kulit kedua lengan terlihat, dan kerudung panjang menjuntai dari kepala sampai ke kaki, aku di suruh keluar dengan di gandeng tangannya oleh perias, lalu di bawa ke ruang tengah, semua orang memandangku, sempat seorang wanita paruh baya memandang takjub padaku dengan menyeletuk,


" Namanya Ayana, cantik sekali, tentu Raditya mau menerima perjodohan ini," ucapnya, lalu ia mendekatiku dan meraih tanganku, ia mengelus punggung tanganku yang telah di lukis indah dengan Henna, aku yang masih bingung dengan semua ini hanya mampu diam, bahkan lidah tak bisa digerakkan, serasa kaku, hanya di dalam dada berkecamuk dengan berbagai tanya, yang tak mampu terjawab.


Wanita itu berjalan, aku yang menjadi perhatian orang mungkin keluarga, hanya mampu menunduk lesu, yang lain telah berkumpul di ruang sebelah seperti nya ruang tamu yang kulihat saat aku baru datang, cuman aku tak lewat ruang itu.


Telingaku mendengar suara kursi beroda berderit lirih di dorong, sementara aku tetap saja menunduk, karena tidak punya keberanian menoleh atau melihatnya.


Dan kursi roda itu melewati ku lalu di bawa ke ruang depan, masih saja aku tak berani melihatnya.


Aku di gandeng oleh wanita yang tadi di panggil Ningrum, lalu di bawa ke ruang yang cukup luas tetapi lebih luas ruang tengah, dan aku disuruh duduk disebelah lelaki yang duduk di kursi roda.


Tiba tiba suara lelaki di depan ku mengagetkan jantung sehingga membuat tubuh berjengit, sedang disebelah ku suara lelaki menjawab dengan nada mantap dan tegas.


Lalu semua menjawab syaah, dengan tetap ada wali sesuai aturan, karena aku tak punya ayah juga saudara, hanya paman Karwanto, itu juga tak terlihat.


Seluruh tubuh gemeteran dengan jantung serasa mau terlepas, bahkan tubuh ini menjadi ringan seolah melesat jauh dari orang orang yang berada di ruang ini.


Lalu dalam duduk menunduk punggung telapak tangan berlukis Henna disentuh lembut seseorang, aku tersadar dari diam, dan mataku bersibobok dengan lelaki sebelah kanan ku.


" Diiaaa, Pak Raihan kah? tetapi ia bernama Raditya Hirawan, " batin ku berteriak keras.


" Dorong kursi ku, " pinta nya, aku yang sejak kecil dilatih kerja dan peduli pada orang yang membutuhkan bantuan, tanpa dia mengulangi permintaannya, aku berdiri lalu bergerak menuju belakang kursi rodanya, dan kedua tanganku memegang stang pendorong.


" Masuk ke dalam De," suara nya lembut.


Pelan tangan menekannya, dalam diam melewati orang orang yang menatap ku tak berkedip.


" Raditya, cari istri dimana? secantik ini," seorang wanita menghampiri ku lalu pipiku di cubit lembut.


" Ningrum, bukankah Raditya kekasih Kiara? atau dia meninggalkan nya karena Raditya tak bisa berjalan?" wanita yang tak tahu namanya bertanya pada wanita yang mungkin ibunya Raditya, dan wanita yang di panggil Ningrum, saat aku baru keluar dari kamar habis dirias mengelus punggung tanganku.


" Aku pengin makan, tolong di bawa ke ruang makan," aku menurutinya, dengan dipandu olehnya sampai juga ke ruang makan, yang penuh dengan berbagai macam hidangan nusantara, bahkan ada makanan khas kampungku.

__ADS_1


" Tuuaaann, mau lauk apa? " tanya ku terbata dengan mengambil piring sangat hati hati, aku tahu diri sebagai orang kampung kalau kalau keliru nanti menjadi bahan tertawaan.


" Lauknya itu saja De," tangan nya menunjuk lauk yang diingini.


" Segini Tuan," kataku.


" Uuuhhh, jangan panggil tuan, panggil aku mas, kalau ada orang yang dengar malu donk, " pintanya.


" Iiiya Tu.... Mas," terasa aneh dan kelu lidah ini berucap.


" Dibawa ke kamar, " sambil mendorong kursi tangan satu membawa piring, agak repot tetapi aku telah terbiasa sehingga tak mengeluh.


Dan dengan di pandu juga, aku bisa membawa lelaki yang mirip Pak Raihan, ke kamar bawah yang sangat luas juga mewah dengan bed size paling besar.


" Ay, aku diangkat, mau duduk di kasur, " piring kuletakkan di nakas lalu mengangkat bokongnya, setelah mendekatkan kursi roda di kasur, kedua kakinya ku luruskan.


" Tuan, aku suapin? " ia mengangguk lemah, di dalam kamar ia tidak memprotes panggilan tuan.


Dalam hati aku ingin menanyakan semua ini pada Raditya, tetapi sekarang tentu bukan waktu yang tepat, sehingga aku lebih baik menuruti pada kemauannya terlebih dahulu.


" Jas ku dilepas dulu," tangan ku mendekat ke kancing lalu melepasnya, ia menggerakkan tangan untuk melepas sendiri, aku hanya membantu mengambil dari belakang, kuletakkan ke hanger sesuai petunjuknya.


Aku masih menggunakan kebaya dengan make up tebal, saat menyuapi nasi sesendok demi sesendok ke mulut nya.


Sebenarnya hatiku miris melihat wajah di depan ku yang begitu dekat, karena mirip dengan Pak Raihan, membuat luka hati yang selalu ditorehkan oleh Pak Raihan membayang di depan mataku.


" Oohh ia kakak ku, dia ikut menyaksikan di ruang tamu, " kata nya, sambil mengunyah.


Wajah ku memanas dengan jantung berdebar debar keras.


" Tuuaaann, kenapa kamu menikahiku? " mulai berani aku menanyakan ini.


" Habis kamu menyuapiku, tentu aku mau cerita padamu, sekarang kamu jangan ngomong terus," batinku tersentak dengan jawabannya yang mulai mirip Pak Raihan nadanya.


Seketika aku diam, sampai suapan terakhir.


Thok thok thok


Aku mengangkat bokong menuju arah ketukan.


" Ay, ini baju untuk ganti kamu," setelah aku membuka pintu, bu Ningrum menyodorkan paper bag.


" Kamu, belum makan? " tanya nya kemudian.


" Sudah bu, di kost tadi pagi aku masak, " jawab ku menunduk.

__ADS_1


" Disini kan, kamu belum makan, aku ambilin ya, " pinta nya terus berlalu, aku menolak karena perut terasa kenyang dengan lakonku malam ini.


Sambil melihat punggung bu Ningrum berlalu dari kamar Raditya.


" Uuhhh, aku benar benar tak beruntung malam ini, karena aku tak bisa lepas dari si dosen Raihan," keluhku.


Aku membanting paper bag ke sofa.


Bleg


Sampai isi paper bag keluar di sofa, mata yang sama dengan Pak Raihan, bahkan lebih menusuk matanya Raditya memelototiku, tetapi aku belum punya rasa takut padanya, karena aku menganggap Raditya lelaki lemah yang butuh bantuanku.


" Kamu marah sama Mami ku, beliau orang nomor satu buatku, tahu kamu! " bentaknya.


" Aaahhh, dia mulai membentakku, atau ini balas dendam nya Pak Raihan padaku, agar aku merawat adiknya yang lumpuh? " pertanyaan demi pertanyaan terus merasuki seluruh hatiku.


Thok thok thok


Pintu di ketuk kembali dari luar, aku masih mendengar orang sedang berbincang sambil menikmati makan malam.


" Bu Ningrum, aaaku merepotkan saja," kataku, tentunya tak enak hati rasanya.


" Panggil aku Mama, karena kamu sudah jadi menantuku," katanya, lalu beliau berlalu, aku masih saja memandangi punggung nya.


" Ay, kursi roda didekatkan, aku mau ke kamar mandi, juga ambilkan piyama untuk tidur, " pinta Raditya, aku meletakkan piring nasi di nakas lalu mendorong kursi roda, ia selalu memberi petunjuk, tentang letak piyama di almari.


Sambil mendorong kursi roda ke kamar mandi yang luas juga, aku di beri tahu tugas tugas merawatnya setiap hari.


" Tetapi aku kuliah Tuan," jawabku.


" Iya, besok berangkat sekalian denganku, bukan kah kamu bisa nyupir?" jawab nya.


" Iiyaa bisa Tuan, dulu di kampung punya tetangga, yang punya villa di dekat rumah bibi, dan punya anak yang kaya Tuan, juga minta nya diantar kemanapun harus denganku, lalu sejak klas 10 aku disuruh latihan nyupir pakai mobil Nyonya Widya," cerita ku panjang tanpa diminta, kali ia bising dengan pengakuan ku.


" Eeemmm, berarti aku tak perlu pakai supir," jawabnya.


" Tuan, aku kan, kuliah nya sering pagi, " jawabku.


" Nganter aku dulu ke kantor, lalu kamu ke kampus, " ucapnya.


" Kantor nya dimana Tuan?" tanya ku.


" Enggak jauh sama kampusmu," tandas nya.


Aku melepas baju yang melekat ditubuh nya satu per satu, saat menarik celana panjang nya dengan hati hati mataku membelalak lebar.

__ADS_1


" Oohh Tuan.... " aku tak mampu menerus kan kata kata, melihat kedua kaki Raditya, hati ku tersentuh, sehingga aku berjanji dalam hati akan merawat nya dengan penuh kesabaran, seperti ke anak Nyonya Widya selain kakinya lumpuh juga tidak bisa bicara, dan sampai sekarang aku hanya bisa di akhir pekan bermain sama Celin, terutama kalau pulang kampung.


Walau Celin selalu menunggu ku setiap hari.


__ADS_2