
Ayyana POV
Aku menuruti permintaan Raditya untuk mengantar ke kantor, hanya hati diliputi kekhawatiran karena keluarga Raditya tahu perubahan sikapnya padaku, itulah maka aku dijauhkan darinya, tetapi sore ini ia meminta agar aku tetap melakukan pekerjaan mengantar serta menjemput dari rumah ke kantor, sedang aku tak berani menolak perintahnya, apalagi pekerjaan ini masih tetap dibayar, disamping juga hati ini merasakan damai pabila bersamanya.
" Mas, aku tak bisa nunggu, kan, pulang bisa bersama Darno, " pintaku, sebenarnya terasa perih di dada, tetapi aku harus menjaga keluarga Raditya terutama kedua orang tuanya yang telah mempercayakan sepenuhnya tentang keberlangsungan perusahaan pada Raditya.
" Aku hanya mau diantar sama kamu, Ayy, aku telah bertekad akan menghadapi langkah yang kuambil," jawabnya tegas, dada ini bergemuruh mendengar ucapannya, sementara aku ingin menyelesaikan studi.
" Mas, tahan dulu, studiku belum rampung, " pintaku bingung antara studi dan kerinduan pada Raditya apabila menjauh. Sementara kalau aku selalu menuruti permintaan Raditya untuk tetap mengantar jemput tidak diperkenankan oleh keluarganya.
" Pindah saja nanti ke kampus lain, " pintanya, dan aku tidak tahu yang akan ia lakukan apabila tetap nekad bersama ku.
" Apa bisa?" tanyaku.
" Paling daftar dari awal, dan siapa tahu mata kuliah yang kamu tempuh bisa diakui kelak, " jawabnya.
" Mas, aku tak mau melakukan ide gila, ingat Mas pada kedua orang tuamu, pikirkan dampaknya," kataku yang tak bisa pabila membuat Papi maupun Maminya Raditya menderita.
" Please Mas, aku hanya bisa mengantar ke pabrik saja, " kataku, lalu setelah mengantar sampai ke ruangnya aku buru buru menuju mobil untuk pulang ke apartemen, Raditya tidak bisa mencegahku.
" Ayy... " aku sempat menatapnya, terpancar kesedihan di wajahnya, dan ia hanya mencengkeram sandaran sofa di depannya. Tetapi aku tetap berlalu keluar dari ruang kerjanya, dengan hati perih.
Tubuh ini masuk ke mobil, lalu melajukan pelan keluar dari kawasan pabrik dengan hati sedih.
" Cinta harus diperjuangkan bukan hanya dirasakan, tetapi mampukah memperjuangkan cinta melalui jalan yang berpaku? " batinku dan dada terasa teriris iris pisau.
" Uuuh, aku kok jadi pesimis, apalagi klo lihat kebaikan Mami serta Papinya Raditya, aahh aku tak tega membuat mereka sakit, tentu rasa dosaku sampai terbawa mati, " gumanku kembali.
Keluar dari kawasan pabrik, sepanjang menyetir otak ini selalu jalan untuk menata hati, agar diri ini tidak egois yaitu aku harus menjauh dari Raditya terutama kalau pekerjaan merawatnya selesai sampai Raditya bisa berjalan tanpa bantuan alat penjangga.
Waktu telah menuju senja, panorama langit masih tetap menyemburat warna orange di ufuk barat, matahari mulai akan tenggelam ditelan bumi, sedang jalanan yang kulewati tak jua sepi, bahkan semakin ramai oleh berseliwernya kendaraan beroda, tetapi aku tetap menjalankan mobil dengan kecepatan standar saja, apalagi diri ini tidak dikejar kejar oleh tanggung jawab kuliah, sehingga tetap nyantai, paling dikejar waktu menjalankan kewajiban.
" Masih ada waktu banyak untuk Sholat Maghrib, apalagi tak terlalu jauh lokasi pabrik dengan apartemen, " batinku.
*
Dan sampai juga di apartemen, seperti biasa setelah memasukkan mobil di basement, kaki ini langsung di jejakkan ke apartemen.
" Haii, si culun, apapun yang kamu lakukan kini aku selalu tahu, jadi kamu tak perlu kucing kucingan, " tangan berkuku panjang menarik hijabku sampai lepas. Aku saat ini tak mengira akan ada serangan dari wanita mantan istri Pak Raihan, sehingga aku kalah telak.
" Bu, tolong serahkan hijabku, dan jangan ganggu kehidupan ku, " sergahku, dan tangan yang masih kuat ini berusaha merebut hijab dari tangan Dania.
" Enak saja kamu panggil Bu, aku belum setua itu, dan kamu cium telapak kaki ini, maka akan kuberikan hijabnya, " tandasnya, kakinya ia angkat.
" Maaf Bu, aku tak sudi melakukannya, " serangku, lalu aku berlari menuju lift sambil menutupi muka dengan telapak tangan.
__ADS_1
Aku tak peduli ia mengejarku, serta para ibu bersama suami yang akan ke Mushola melihatku.
" Non, pakailah hijab ini, dan tak perlu khawatir kami akan siap menjaga keselamatanmu, " ucapan istri Hendra mengagetkan ku, lalu menerima hijab yang diulurkan olehnya, buru buru memakainya.
Selanjutnya tentang Dania, aku tidak tahu hanya samar ia di dekati sama Hendra, sedang istrinya menemani sampai aku masuk ke apartemen.
Drrrttt drrrttt
" Calla! " dada ini berdetak keras, saat lihat panggilan di layar ponsel.
" Halo Calla, aku sangat gembira kamu menelpon ku, " seruku berjingkrak.
" Ayy, apakah kamu sudah menghubungi Bu Yeyen? " tanyanya disana.
" Belum Lla, dari salah satu aparat desa belum memberi nomer ponselnya, " jawabku disini.
" Tolong segera agar memberi nomer ponselnya, aku sudah tak sabar ingin ketemu, sepertinya ia mengalami kesulitan ekonomi, aku sebagai anaknya ingin segera membantunya, " ucapnya disana, aku menjadi bingung dengan Calla yang lebih percaya Bi Yeyen adalah ibunya, dan sejauh ini aku tidak mau memaksakan untuk percaya padaku kalau Bu Yeyen bukanlah ibunya.
" Ayy, kamu hanya diam, ya sudah kututup saja telponnya, " aku tak mengiyakan, sedang ia sudah menyentuh di layar gambar telfon warna merah, dengan tanda di layar ku berbunyi.
Klek
Masih ada waktu untuk melaksanakan kewajiban, lalu aku buru buru mengambil air wudhu.
***
Cahaya mentari telah meredup, langit mulai menghitam, lalu terganti oleh lampu penerang baik di areal pabrik maupun jalanan yang semakin tambah padat oleh kendaraan beroda, sengaja aku pulang habis Magrib, dan terasa enggan kaki yang belum sempurna ini di jejakkan ke rumah sejak aku ada di kandungan Mami.
" No, besok pagi pagi aku dianter saja ke apartemen, " pintaku, Darno hanya menurut yang kupinta. Memang aku sudah bilang pada Ayy pengin sarapan pagi bersamanya, ia kayak ada rasa yang tidak bisa di kemukakan, hanya bola matanya melebar.
" Mas, atau aku antar ke pabrik saja, " pintanya tiba tiba, dan dia lalu menunduk melihat perubahan wajahku yang menunjukkan tak mau dibantah.
" Baaiik Mas... " tergagap ucapan berikut.
Aku semakin terpesona melihat perubahan wajahnya, ingin kusentuh pipinya yang halus, tetapi lagi lagi ku urungkan.
*
" Tuan, aku sudah siap masuk kedalam, " suara Darno mengagetkan dari flashback ku.
" Iiyaa No," aku berjalan disebelah Darno yang membawa tas kerjaku.
Langkah ku selalu pelan, walau hati selalu ada kerinduan yang sulit diraih, tetapi aku tetap semangat untuk bisa sembuh, dan merasa sudah tak sabar untuk secepatnya melepas sepatu maupun kruk sebagai alat bantu berjalan ku.
Kepulangan ku sampai petang tidak menjadi pertanyaan bagi kedua orang tua ku, karena sebelum peristiwa yang membuat kedua kaki ini patah, sudah terbiasa pulang sampai larut malam, bahkan terpaksa aku harus berada di pabrik sampai 24 jam.
__ADS_1
Masuk ke rumah besar, melihat Mas Raihan yang menatapku dengan pandangan mata menusuk di hati.
" Jangan jangan ia tahu klo sore tadi aku bersama Ayy, " dada ini berdesir bukan karena takut, tetapi kesal dengan cara Mas Raihan yang tak mau menegur sapa padaku, malahan ia terus melengos.
Akhirnya tak menghiraukan sikapnya, lalu masuk ke kamar untuk bersih diri dan istirahat.
" Mas, enak di kamu yang tinggal menikmati hasil kerjaku dengan bagian sama dengan ku, sementara aku setiap hari jungkir balik mengurus perusahaan," batinku, lalu tubuh ini ku rebahkan diatas kasur.
Dan terasa segar, otot ototpun kerasa mengendor.
Ceklek
Mata ini kuarahkan pada suara handel pintu kamar.
" Tya, ditunggu makan bersama, " pinta Mami mendekat ke kasur.
Aku tak ingin mengecewakan hati Mami, walau perut masih terasa kenyang, aku tetap menuruti ajakannya.
" Tya, belajarlah untuk menjauh dari Ayyana, klo kamu sayang keluarga terutama Mami, " ucapannya memunculkan debaran jantung.
Aku hanya diam, terus berjalan keluar kamar menuju ruang makan yang telah ditunggu keluarga.
Seperti biasa tak banyak aku bicara, yang lainpun sama sehingga hanya denting sendok beradu dengan piring yang terdengar.
Mas Raihan selalu menarik nafas dalam kayak menahan kesal di dada, dan aku mencebik bibir.
" Mas, kali ini aku tak mau mengalah padamu tentang Ayy, dia sampai kapan akan kuperjuangkan, walau banyak rintangan dan aku berharap keberuntungan akan berpihak padaku kali ini, " batinku. Kulirik kembali Mas Raihan, ia hanya mendengus.
" Mas, aku percaya Dania sedang berusaha untuk menghalangi kamu mendekati Ayy, " gumanku dihati, maka bagiku Dania bukanlah ancaman bagiku tetapi malah membantu ku untuk bisa bersama dengan Ayy.
Makan malam diakhiri, tetap dalam diam aku tertatih tatih menuju ruang keluarga sekedar duduk duduk bersama Papi serta Mami.
" Tya, kamu menempatkan Hendra di apartemen?" tandas Papi penuh keheranan.
" Iya Pi, selama aku mengenal Ayy, ia selalu di bully dan mengarah ke bully yang bisa mengancam jiwa, " kataku pelan.
" Atau kamu akan melanggar perjanjian tertulis? " sorot mata Papi tajam menunjam dada.
Aku lama terdiam, untuk mencari jawaban yang membuat kedua orang tua tak terluka.
" Aku tak bisa menjawab pertanyaan Papi, tetapi hanya berusaha yang dikatakan Papi terwujud, " jawabku pelan.
" Tya, klo itu terwujud maka hancurlah perusahaan kita, " ucap Mami menekan dada, melihat Mami aku tak tega, bahkan terasa berdosa.
" Mi, aku berusaha yang dibayangkan Mami tak terwujud, dan Mami tak perlu khawatir, perusahaan kita dalam beberapa bulan kedepan tak perlu kucuran dana kembali dari Pradipa Grup," kataku menguatkan hati Mami juga Papi, memang selama ini belum kuberi tahu tentang peningkatan saham di perusahaan yang ku kelola, apalagi selama aku tak bisa mengantor hampir satu bulan, pegawai pegawai ku yang bekerja penuh dedikasi tinggi, juga Adnan orang kepercayaan ku bisa membuat semakin maju.
__ADS_1
" Apa? benar katamu itu Tya? " Papi seolah tak percaya dengan yang kuucapkan.
" Berdoa saja Pi, " pintaku, lalu aku masuk kamar, karena berkali kali menguap.