Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 66 Calla menginjakkan kaki di Jakarta


__ADS_3

Calla POV


Mataku terbelalak melihat foto berwarna sangat jelas yang berhasil di afdruk sama Papa, masih saja belum bisa mengakui kalau itu keluargaku.


" Alena, itu foto foto bayi kamu, coba bandingkan saat kamu bayi di gendongan Mama, " ucap Papa.


" Beda Pa, " ceplosku.


" Iya donk, abis saat di gendongan Mama kan, kamu bayi gizi buruk, yang foto berempat bayi sehat, makanya imut banget kamu, nich kayak foto ini, " Mama menunjukkan foto baby aku yang sudah menggemaskan.


" Menurut kami, ada kejanggalan pada bu Yeyen, cuman kami dulu tidak paham bahasa mereka, abis yang penting bisa bawa kamu yang kurus kering, " ucap Mama, aku jadi mewek ingat bayi kurus di foto.


" Sebaiknya kamu test dna besok setelah ketemu Ayyana di Jakarta, kan, disana juga sudah lengkap sarana kesehatan, " desak Papa.


Aku menerawang jauh ke negeri timur asal ku dilahirkan, yang kata Mama negeri indah, yang tetap menghijau sepanjang tahun selain itu setiap hari bisa melihat matahari terbit maupun terbenam.


" Disana selalu bisa lihat sunrise dan sunset setiap hari, demikian orang setiap hari bisa melakukan aktivitas tanpa terkendala musim, " ucap Papa yang mulai kangen pada negeri yang pernah didatangi sampai menemukanku.


" Upps aku yang sejak tahu tentang diriku yang beda secara fisik dengan Papa, Mama, terjawab juga sekarang, " batinku.


" Alena, kamu tidak perlu kecewa apabila bukan anak dari bu Yeyen setelah mengetahui hasil test dna, terima kenyataan kalau kamu bersaudara dengan Ayyana, dan langkah berikut menuju ke makam orang tua kandungmu, " ucap Mama.


" Ma, aku tidak berharap bersaudara kandung dengan Ayyana, aku berharap kedua orang tuaku masih hidup yaitu bu Yeyen beserta suaminya, " aku menjadi sangat takut apabila bukan anak bu Yeyen, karena kerinduanku ingin membuat kedua orang tuaku bangga melihatku lebih sehat dari pada saat masih bayi.


" Ayo siap siap ngurus dokumen ke kantor imigrasi," pinta Papa.


" Kan, kita sudah punya paspor, masa berlakunya juga masih lama Pa, " maklum kami hidup yang berbatasan negara banyak berupa daratan, sehingga paspor jadi kebutuhan yang wajib dimiliki.


" Ada dokumen lain yang harus di penuhi, biar disana aman, " jawab Papa.


Kami akhirnya bertiga naik mobil menuju kantor imigrasi, mengurus dokumen lain yang diperlukan untuk menuju negara lain, juga aku disuruh pesan tiket pesawat lewat online.


Thing


Ada notifikasi dari bank.


" Ma, dikirim uang untuk beli tiket dari Ayyana, " kataku, karena tak lama kemudian ada chat dari Ayyana memberitahu tentang kiriman uang.


" Berarti Ayyana telah diberitahu oleh Raditya kalau kita akan ke Jakarta, " ucap Papa.

__ADS_1


Ayyana menjadi tidak mau banyak bicara dalam chat saja hanya kirim foto bukti kirim uang.


" Kali ia sudah tidak mau maksa aku agar mengakui sebagai kakaknya, " batinku.


Setelah urusan di kantor imigrasi selesai, aku pesan tiket online.


" Pesan tiket disuruh di klas bisnis, karena perjalanan 15 jaman di angkasa, sekalian pulangnya Alena, " ucap Papa yang katanya ada kiriman pesan dari Raditya.


Akupun menurut pesan Papa, lalu jari kecilku menyentuh pesan pada aplikasi yang terpasang di ponselku.


" Tak perlu banyak bawa pakaian, jadi hanya bawa koper cukup untuk bawa oleh oleh saja, " pinta Mama, maka esok harinya kami bertiga keliling toko beli coklat, keju serta souvenir lain yang katanya tidak ada di Jakarta.


Menunggu hari keberangkatan ke Jakarta terasa sangat lama, padahal sejak pesan tiket hanya berjarak tiga hari, untung masih ada kursi tetapi aku terpisah agak jauh dari Papa serta Mama.


" Tidak mengapa, yang penting masih ada kursi, " kata Mama, cuman diraut wajahnya ada rasa kecewa.


" Ma, pulangnya bisa kok satu deret kursinya, " kataku, rasa syukur selalu ada dalam setiap langkahku karena hidup penuh kasih sayang juga tidak pernah kekurangan yang dibutuhkan, walau tidak bergelimpangan, beda kali dengan Ayyana sejak ikut Bibi harus berjuang agar bisa hidup layak, sampai ia selalu dibully karena tumbuh jadi cewek kampungan, seperti Hanifah serta Marwah, cuman keduanya tidak cantik kayak Ayyana sehingga tidak mengalami nasib seperti Ayyana, juga sekolah ditempat yang teman temannya secara fisik serta ekonomi setara, maka Hanifah serta Marwah tidak terkena pembullyan, beda dengan Ayyana kali karena otaknya cerdas ia dapat masuk ke sekolah yang bagus karena sekolah gratis, tetapi teman temannya dari klas menengah keatas, maka ia selalu tersisihkan.


Hanifah sampai menceritakan kalau Ayyana sempat akan di culik, tetapi pengawalnya tahu serta bisa menghadang membuat Ayyana yang mata serta mulut di plerter dengan lakban, dicabut paksa dan alis sama bulu mata tercabut.


Kelompok yang menculiknya diantaranya ialah istri Isaac yaitu Hana, yang dulu diundang makan malam oleh Raditya.


Aku sebenarnya iba dengan perlakuan beberapa teman yang tidak suka pada Ayyana, bahkan saat diberitahu Hanifah tangan ini mengepal untuk meninju Hana yang tertatih tatih menuntun Isaac yang buta.


Kulihat Papa lagi mengusap layar ponsel sambil tersenyum.


" Nich ada chat dari teman Raditya yaitu Isaac, menanyakan keberangkatan ke Jakarta, katanya supaya bareng saja, ia sekeluarga mau juga ke Jakarta, " ucap Papa.


" Ya sudah terlambat, kita kan sudah pesan pesawat, biar kita tetap berangkat sesuai rencana saja, " sahut Mama, aku mengiyakannya.


" Ma, diusahakan jangan dengan Isaac beserta keluarga, aku takut, abis saat makan malam bersama Raditya, orang tuanya mendekati terus padaku, juga sempat menunjukkan foto Ayyana yang mirip denganku, " kataku agak ketakutan, karena aku sudah dengar ceritanya tentang Hana sampai di jadikan simpanan Isaac, bulu kuduk jadi berdiri.


" Ngapain kamu takut pada Mama, Papanya Isaac, mereka baik kok, cuman dia dulu cerita padaku kalau dibohongi orang, ia mencarikan istri untuk Isaac, ternyata tidak sesuai yang di foto, katanya mirip kamu yang di foto, " ucap Mama, aku semakin ketakutan.


" Ma, aku belum mikir ke pernikahan, apalagi aku baru 17 tahun, " langsung saja otakku berasumsi ke pernikahan karena Mamanya Isaac sampai keceplosan padaku, agar mau bersama Isaac yang usianya beda 10 tahun dengan ku.


" Kamu kali enggak suka karena buta, dia tuh bisa sembuh kok, paling pengobatan satu tahun terus pulih lagi, bukankah ia lebih tampan dari Raditya, " kata Mama, tubuhku menjadi lemes seketika.


" Mama tega padaku? " tanyaku sedih, lalu aku lari ke kamar, menangis sejadinya.

__ADS_1


Mama mengikutiku dan meminta maaf.


" Mama tuh hanya bergurau Alena, " suara bariton Papa bergetar seperti menahan duka, akupun tidak mau menyakiti mereka maka aku bangkit dan keduanya kupeluk erat.


Hari berganti, yang ditunggupun tiba, aku dengan kedua orang tua angkat menuju ke Bandara terbesar, dengan menggunakan kereta api.


Untuk pertama kali menuju negara kelahiranku, walau aku sudah melihat lewat aplikasi tentang kota Jakarta demikian tentang Bogor.


" Cuman kamu nanti jangan ngerajuk Alena, disana panas, kalau lagi tidak hujan, " ujar Mama yang pernah datang sampai Bali.


Setelah berada di pesawat aku duduk jauh dari kedua orang tua, dan naik pesawat klas bisnis baru merasakannya, karena biasanya hanya klas ekonomi, terutama kalau pergi ke UK, sedang bila ke negara lain cukup naik kereta api.


Perjalanan yang lama tetapi nyaman membuat tak begitu penat setelah sampai di Bandara Jakarta. Di pintu keluar sudah dijemput oleh Ayyana yang nyetir sendiri, tanpa ditemani Raditya.


Pekerjaan Raditya tidak bisa ditinggalkan maka ia tidak bisa menemani.


" Gimana perasaan kamu Alena pertama kali menginjakkan kaki ke kota terbesar di Indonesia? " tanya Ayyana setelah berada di mobil dan aku duduk disampingnya.


" Seperti yang kulihat di video, penuh dengan mobil di jalanan, " jawabku, kagum juga dengan Ayyana yang terampil menyetir di jalan yang sangat padat, sementara aku hatinya selalu berdebar debar, apalagi Ayyana yang menjalankan mobil dengan sedang saja selalu di selip oleh mobil mobil di belakang, kadang jarak dengan mobil sangat tipis.


" Uuuff, sport jantung beneran nich aku Ayy, abis mereka pada tak sabaran nyetirnya, " celetukku dengan kesal.


" Begitulah disini Calla, cuman sudah biasa tentu bukan masalah, " ucap Papanya.


" Klo sudah beberapa hari disini, akan terbiasa lihat pemandangan yang beda dengan disana, " ucap Mama.


Ayyana membawa kami ke apartemen mewah. Dan dari jendela kaca di kamar apartemen aku bisa melihat kesibukan Jakarta.


" Ayy, kamu hanya berdua dengan Raditya di apartemen sebesar ini? " tanyaku, yang diantar ke kamar khusus untuk aku, sedang Papa sama Mama di kamar sebelah, tentu sangat nyaman menginap di apartemen Ayyana, abis kayak di hotel bintang.


Kami disuruh bersih diri, lalu langsung istirahat, rasanya ingin rebahan, walau di pesawat bisa rebahan, cuman tetap tidak merasa bebas.


" Ayy, kami istirahat dulu, makannya nanti, " terdengar suara Mama saat Ayyana mengajak makan siang.


" Waah keburu dingin, " jawab Ayyana terdengar lirih dari kamarku. Dan sejauh ini aku masih belum bisa menerima dia sebagai kakak kandung, klo kerabat bisa karena bu Yeyen masih berkerabat dengan ibunya Ayyana, walau foto foto yang di afdruk oleh Papa, yang baby mirip denganku, setelah tubuhku berisi pada saat baby.


Ada suara orang bersepatu berada di ruang tengah, aku hafal ia adalah Raditya yang lagi berbincang mesra dengan Ayyana.


" Kamu nyetirnya hati hati kan, " suara bariton penuh kekhawatiran terdengar lirih, aku mendekat ke lubang kunci pintu, dan mata inipun pengin melihatnya.

__ADS_1


" Mmm, Raditya sedang mengelus perut rata Ayyana, kali ia sedang hamil, " batinku dan hati ini merasa iba karena Ayyana nyetir sendiri saat menjemput kami dari Bandara menuju apartemen ini yang cukup jauh.


Aku ikut bahagia apabila didalam perut Ayyana telah ada benih dari hasil perkawinan dengan Raditya, dan aku berpikir, kalau demikian lebih baik bila mau jalan jalan, mending pakai supir saja sebab bisa membahayakan kandungannya.


__ADS_2