
Author POV
Awan gelap terus menyelimuti langit kota Jakarta, mobil yang disewa Clara tak lagi mengikuti mobil Ayyana, sopir mulai curiga pada Clara, dan ia tak mau terlibat masalah kriminal, akhirnya melambatkan mobil, memberi kesempatan pada mobil belakangnya, yang ternyata mobil Hendra.
Mobil Darno juga sudah berada di depan mobil Ayyana yang disetir Silvi, Darno selalu menutup jalan bila Silvi mau menyalip.
" No, jangan beri kesempatan pada Silvi untuk nyalip, " ucap Ferdian, sambil terus mengawasi live video call yang dilakukan oleh istri Hendra.
" Silvi sudah kesulitan menghadapi kita, " ucap Darno.
" Iya, lama lama mereka bisa terdesak, dan tak bisa membawa kabur Ayyana, " ucap Ferdian.
Dan para pengawal tidak ada yang tahu, akan dibawa kemana Ayyana.
" Mereka itu para mahasiswi yang hanya mengandalkan emosi," seloroh Darno.
" Betul, kok ya enggak mikir klo mereka nanti akan berurusan dengan hukum," ucap Ferdian kesal.
" Kali merasa anak anak orang kaya, kan, orang tuanya bisa membebaskannya, " ucap Darno, agak zigzag sehubungan mobil yang dikemudikan Silvi cari celah untuk menyalip.
Deeeerrr
Kilat di langit seperti membelah angkasa, hujan deras tak terbendung jatuh menerpa ke kaca mobil sebesar biji jagung, membuat para pengguna jalan menggerakkan penyapu kaca.
Sementara istri Hendra terpaksa mematikan ponsel, tetapi mata tetap waspada pada mobil di depannya.
" Mas, mobil Ayyana sudah terlihat bingung akan dibawa kemana, abis sudah kita pepet terus, " ucap istri Hendra.
Dan sengaja untuk mengatasi langkah Clara hanya diatasi oleh pengawal Ayyana serta pengawal Raditya saja, karena musuh dianggap berkekuatan kecil.
Sementara di dalam mobil Ayyana, mendapat ancaman terutama dari Clara.
" Hai, wanita rendah kamu bisa mati ditangan ku, " serang Clara, tangannya diletakkan ke leher Ayyana.
Mira melihat kekerasan yang dilakukan Clara, ingin mencoba mengingatkannya.
" Ra, tujuan awal kita akan dirubahkah? " karena tak berani mengingatkan Clara sehingga dari mulut Mira keluar kata kata itu dengan berbisik.
" Mira, kamu enggak usah ikut campur urusan ku! " bentak Clara.
" Cuman berusaha mengingatkan, chat dari relasimu, " seloroh Mira, sebab ia hanya tahunya Ayyana dijual bukan dianiaya.
__ADS_1
" Kamu, Mira lebih baik diam, ikutin caraku, " bentak Clara kesal. Mira seketika tutup mulut, dan dalam hati mulai muncul kesadaran, kalau menuruti cara Clara akan terjerat hukum.
" Kalian jangan takut, wanita ini tak ada artinya, bukankah sudah ku katakan berkali kali, apabila kita buang ke kali, siapa yang akan nyari, bukankah si culun ini wanita jembel, " ujar Clara sengit, terlihat mulutnya menyeringai kayak mau memangsa. Ayyana akhirnya mata dan mulutnya ditutup pakai lakban, sedang tangan diikat kencang, demikian kakinya, ia sengaja tak memberontak, kayak sudah pasrah pada perlakuan keempat cewek.
Hujan deras belum juga reda, semua kendaraan melambatkan kecepatannya, Silvi tidak tahu kalau mobil depan serta belakangnya adalah para bodyguard yang menjaga Ayyana, demikian Clara maupun lainnya.
Para pengawal akhirnya berembug untuk menghubungi pihak keamanan lalu memberitahukan titik lokasi keberadaan mereka, dan di lampu merah mobil Ayyana sudah tak bisa bergerak, karena telah dikepung oleh pihak berwajib.
Clara dibantu teman lain cepat cepat membuka ikatan di tangan serta kaki, demikian lakban untuk penutup mata serta mulut di buka paksa, membuat Ayyana menjerit kesakitan. Lakban penutup mata dibuka dengan paksa membuat alis serta bulu mata tercabut.
Kulit sekitar alis serta bola mata memerah, perasaan Ayyana kerasa ada yang luka, karena kulit jadi perih bahkan sampai keluar air mata, bukan karena menangis tetapi efek dari ketariknya bulu mata maupun alis.
" Aku selalu jadi sasaran perundungan, sampai setua ini, ya Allah, " ia hanya mampu mengadu pada yang di Atas.
" Ya Allah berilah Clara serta temannya kelembutan hati, dan aku akan selalu memaafkan segala perlakuannya padaku, " do'a nya di mobil.
Keempat anak yang akan membawa Ayyana, tak menyadari kalau di dalam mobil ada cctv, kebetulan tempatnya menyelip yang sulit di lihat oleh orang lain, yang langsung bisa terekam ke ponsel juga.
" Buka pintunya, " seru salah seorang petugas dengan menggunakan jas hujan menembus derasnya hujan.
Keempat cewek di dalam mobil yang pandai berakting menata hati.
" Clara, lembutkanlah hatimu, insyaallah Tuhan memanfaatkan kalian, yang selama ini selalu merundungku, " ucap Ayyana, sambil menahan sakit yang masih terasa di kelopak mata maupun sekitarnya.
" Kamu sudah berani ngomong ya, " dengan mengeluarkan tenaga sekuatnya Clara mencoba menampar muka Ayyana, hanya Ayyana telah waspada, dengan ilmu bela diri dari kegiatan ekskul sejak SMP bisa ia manfaatkan hanya untuk menjaga diri saja, sebab sejak SMP, ia sudah mulai di bully teman.
Tangan Clara yang menghantam sekuat tenaga tidak mengenai sasaran, tetapi menghantam sandaran kursi mobil, jelas jelas telapak tangan menjadi panas, karena memerah.
" Ra, kendalikan amarahmu, kita sudah dikepung aparat, " ucap Mira, ia yang selama di mobil selalu mengingatkan sikap Clara.
" Uuuh, beruntung banget Dara sama Sarah tidak ikut, tamat sudah riwayat ku, " batin Hana, demikian pula hati Mira menjadi menciut saat melihat para aparat mengelilingi mobil Ayyana, ia meneteskan air mata teringat kedua orang tua di kampung yang sangat bangga punya anak bisa kuliah di kampus terkenal, tetapi ternyata disini terseret kasus yang mengarah ke penganiayaan, hanya karena selalu kerayu oleh omongan Clara dan Silvi.
" Ingat, kamu harus membela kami, kalau sampai kami di jebloskan ke penjara, tak segan segan untuk menghancurkanmu, " serang Clara kembali dengan mata melotot, sampai mau copot dari kelopaknya. Clara akan minta bantuan orang tuanya untuk menggunakan jasa preman.
Pintu mobil telah dibuka oleh Silvi. Dan salah satu Polisi ditengah derasnya hujan, mengatasi macetnya lalu lintas di sekitar lampu merah.
" Pak, ini ada apa? " tanya Ayyana, yang berusaha menutupi perlakuan Clara cs.
" Kamu yang namanya Ayyana? kami akan melindungi dari tindakan yang dilakukan oleh keempat temanmu ini," ucap aparat tegas.
" Terima kasih Pak, cuman saya sehat sehat saja kok, " jawab Ayyana berusaha menata hati dari gejolak kekesalan pada empat anak di dalam mobil, yang mulai menciut hatinya.
__ADS_1
Sementara istri Hendra telah keluar juga dari mobil, dengan menggunakan mantel, langsung memegang tangan Ayyana yang posisinya sudah berpindah yaitu duduk di kursi belakang pinggir pintu mobil, dan Mba Nina istri Pak Hendra memandangi wajah Ayyana bagian sekitar kulit mata.
" Kok, bisa alis serta bulu mata rontok semua, dan kayak dicabut secara paksa, " batin Nina yang merasa bersalah karena lengah mengawalnya.
" Non, keempat cewek itu naik mobilku sama mobilnya Pak Darno, " pinta Nina, yang sudah berembug dengan para aparat, serta berucap banyak terimakasih atas bantuannya, sehingga bisa menghentikan tindakan Clara cs, tetapi Ayyana meminta agar keempat anak itu kasusnya tidak dimajukan ke jalur hukum.
" Non, tolong rekaman di dalam mobil dikirim ke ponsel kami, " bisik Nina ditelinga Ayyana, dengan hati dongkol melihat keempat cewek yang sudah kayak cacing kepanasan.
Ayyana masih bungkam, walau dalam hati mau juga kirim rekamannya, tetapi harus pikir panjang juga, sebab Ayyana juga tak tega menghancurkan masa depan Clara cs, ia hanya berdoa agar keempatnya bisa di lembutkan hatinya.
Kilat menyambar membelah angkasa, semua telah bubar, Ayyana menyetir mobil menuju apartemen yang tetap ada pengawalan Hendra beserta istrinya yang tak jauh dari mobil Ayyana, sambil membawa Mira dan Silvi, setelah oleh pihak aparat di geledah tasnya, lalu benda tajam berupa pisau runcing disita, kemudian Clara cs diantar dua mobil ke kostnya.
Sepanjang perjalanan baik yang di mobil Darno maupun mobil Hendra diam dan sengaja para pengawal tak mau ngajak bicara pada para cewek reseh itu.
Maghrib telah tiba, terdengar adzan di Mushola apartemen yang terletak di lantai bawah di lokasi basement, Ayyana yang sudah memarkirkan mobil, buru buru melangkah setengah berlari menuju lift.
Ia ingin melihat kondisi alis serta bulu matanya.
" Kalau sampai bulu mataku habis, satu satunya pake bulu mata palsu, klo alis bisa dilukis pake pensil alis, " batin Ayyana, hatinya sebenarnya sangat kesal, tetapi ia berusaha belajar tidak mendendam, ia hanya selalu berharap Clara cs berubah baik padanya, yaitu tidak lagi melakukan perundungan maupun tindakan lain, yang bisa mencelakainya, maupun mereka sendiri, karena akan berurusan dengan masalah hukum.
Drrrt
" Ayy, makan malam dikirim habis Isya, " pesan dari Raditya.
Ayyana yang sedang berkaca di cermin sehabis melaksanakan kewajiban, mendengar getar ponsel segera mengambil lalu dibaca.
" Iya Mas, cuman nasinya dianter Pak Hendra, abis hujan deras sama petir Mas, aku takut keluar, " bales Ayyana, yang bisa untuk alasan.
Memang sejauh ini para pengawal tidak menceritakan kejadian tindakan Clara pada Raditya. Apalagi Ayyana telah melarang mereka untuk tidak cerita pada Raditya.
" Pak serta Bu Nina, aku hanya ingin kesembuhan Pak Raditya secepatnya, sehingga hal yang tak penting ini jangan di ceritakan padanya," pesan Ayyana tadi saat mereka membawa Clara cs.
Ayyana segera menuju dapur, tinggal memasak lauk, karena nasinya masih cukup.
Selesai memasak lauk, lalu menata di dus, terus menghubungi Nina untuk mengambilnya.
Saat Nina ambil nasi, maka mendesak Ayyana agar rekaman CCTV di mobilnya dikirim ke Nina.
" Bu, nantilah dulu, aku masih belum mau buka rekaman itu, atau sebaiknya diabaikan saja," ucap Ayyana, menarik nafas dalam.
" Non, kok jadi anak baik banget sih, mereka akan bangga lho, klo Non Ayyana tak melawan, " ucap Nina mendengus.
__ADS_1