Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 15 Kiara datang


__ADS_3

Ayana POV


Langit senja kekuningan di ufuk barat, burung burung pipit beterbangan lalu hinggap di dahan pohon sawo yang ada di taman balik kamar Raditya, aku hanya saja tak mau mengganggu kemesraan Raditya dengan Kiara setelah menyerahkan pakaian pada Raditya, lama lama keluar menuju taman duduk di gasebo, lalu menengadahkan kepala, bulan sabit di langit masih seperti tadi malam, menertawakan diriku yang bodoh bahkan tak berdaya untuk lari, karena hanya ingin studi di kampus terkenal di kota ini bisa selesai.


Aku tetap terpengaruh oleh permintaan bernada ancaman Kiara, agar Raditya menghubungi Pak Raihan supaya tidak betah di kampus, biar mengundurkan diri.


" Ay.... " aku sempat terkejut dengan panggilan Raditya duduk dikursi roda dipintu kamar menuju teras dengan masih bertelanjang dada, apalagi banyak tanda merahnya.


" Pakaikan celana panjang! " suruhnya dengan lantang, aku buru buru berlari masuk ke kamar dengan mendorong kursi rodanya, tubuhku terjengit melihat Kiara sedang memunguti pakaiannya di lantai dengan hanya menutupi dirinya pakai handuk.


" Hai, kamu heran melihat yang kami lakukan, gadis culun! " jarinya menonyorku kasar, aku tidak bisa menghindar karena sedang memasukkan celana panjang ke kaki Raditya.


" Hahaha, kamu itu hanya di jadikan perawat untuk mas Raditya, " tandasnya, aku sendiri bosan dengan kata kata sama yang selalu dilontarkan.


" Maaf, mba, aku juga tahu diri disini, dan aku menghargai keluarga Mas Raditya, walau hanya dijadikan perawat tetapi mereka tidak merendahkanku karena dinikahkan," tidak memiliki rasa takut, aku membalas olokan nya yang memuakkan, disamping itu Raditya telah buat aturan, kalau memanggil tuan hanya berdua saja.


Dan aku tak peduli dengan sikap arogan Raditya yang hampir ia tumpahkan padaku.


" Kamu.... " tangannya telah diangkat untuk menamparku, tetapi ia letakkan kembali di pangkuannya.


" Ay, kamu seharusnya jangan melawan," ucap Raditya kenceng, aku diam saja, sementara tangan tetap sibuk memasukkan kaki satu persatu ke celana, lalu mendorong kursi roda dirapatkan ke kasur, dengan kedua tangan dan lutut ia jadikan tumpuan, tubuhnya memposisikan dengan menungging, aku baru menaikan celana panjangnya.


" Wanita kaya yang masih sibuk berdandan di depan cermin, tak mungkin mau melakukan perkerjaan ini, hanya mengambil celana di dekatnya saja tidak mau, " gumanku.


Aku selesai mendandani, lalu mendorong ke dekat wanita yang lagi bersolek.


Sementara tubuh sudah terasa sangat lengket, sehingga menuju kamar mandi, dengan membawa baju gamis yang masih baru, di kasih tadi malam sama Maminya Raditya.


Aku tetap bilang ke Raditya mau mandi, walau ia hanya mencebikan bibirnya tipis.


Sebenarnya tersinggung oleh perlakuan kedua orang itu.


Aku tahu tugasku sekedar merawat, tetapi siapa orangnya yang tidak sakit hati, karena telinga selalu mendengar kata kata menohok, sedang para ART di rumah ini tidak ada yang mendapat perlakuan sepertiku, contohnya di bentak bentak, diancam, mereka diperlakukan lebih manusiawi tetapi aku? Mengingatnya membuat dada menjadi sesak serta ingin aku lari dari rumah ini, tetapi tidak mungkin dibiarkan lepas, bahkan membayangkan orang orang yang mengelilingi Raditya akan menyeret untuk dikembalikan lagi kesini.


Dan kalau aku melarikan diri, satu satunya hanya bu Widya, cuman ia juga akan menjadikan ku sebagai perawat Celin.


****


Author POV

__ADS_1


Keluarga telah berkumpul di ruang tengah, tinggal menunggu Raditya dengan dua orang wanitanya.


Thok thok


Pintu kamar Raditya di ketuk Mami, lalu Raditya menjalankan kursi untuk membuka pintu, pintunya sejak Kiara masuk dikunci dari dalam.


" Ayoo sudah ditunggu, mana Ay? " tanya Mami, Aliandra ikut masuk kamar, matanya celingukan mencari Ayana.


" Oom mana tante Ayana? " tanya Aliandra, lalu ia lari ke pintu yang menuju teras.


" Lagi mandi, " jawab Raditya, ia berlari lagi ke arah pintu kamar mandi dengan menungguinya.


Ceklek ceklek


Pintu dibuka, Ayana menggunakan baju gamis, terlihat sangat anggun, sedang wajah tanpa make up pun tetap terlihat cantik.


" Tante, cantik deh," sanjung gadis kecil menggelayut manja, dan Raditya melirik sepintas, ia pun dalam hati mengakui kalau Ayana cantik, tetapi hatinya masih untuk Kiara, sehingga ia hanya menganggap Ayana sebagai perawat.


Dan Ayana juga tetap tahu diri, ia merasa tidak sepadan dengan Raditya.


' Tante kok bengong sih, " ucap Aliandra kembali, Ayana tersenyum dengan celotehannya lalu mengelus pucuk kepalanya lembut.


" Oom siapa yang merawat, kalau malam hari ingin ke kamar mandi? " jawab Omanya.


" Atau Lian yang ikut tidur disini, nemani Oom sama Tante, " pintanya.


" Ide yang bagus Lian, mulai nanti malem ya kamu temani dia, " tandas Kiara bersemangat, ia sangat khawatir pada Raditya kalau sampai jatuh hati pada Ayana.


Kiara sebenarnya sangat kecewa karena yang dinikahkan dengan Raditya memiliki kecantikan alami, padahal ia di beritahu Raditya akan dinikahkan dengan gadis culun, tetapi kenyataan lebih cantik dia ketimbang dirinya.


" Mi, katanya dia culun, " bisik Kiara gusar hatinya, sebab ia sangat menyayangi Raditya, walau ada Dio cinta pertamanya, tetapi Kiara akan sakit hati, apabila Raditya sampai membagi hatinya.


Kiara menjadi sangat menyesal, seharusnya pernikahan kemaren dengannya, hanya karena ia keberatan dengan kondisi Raditya, sehingga ia mengikhlaskan kekasihnya dinikahkan dengan Ayana, apalagi ia percaya bahwa pernikahan yang dilakukan cuman sementara saja.


" Mas, aku menjadi khawatir pada kamu, dengan selalu bersamanya, apalagi dia selalu melingkarkan tangan kepinggang saat memundurkan bokong kamu di kursi roda, " bisik Kiara lirih, membuat orang orang yang ada dikamar tidak mendengar.


Raditya hanya mencium kening Kiara.


" Berdoa yang baik baik, "dan dalam hati Raditya kalau ia sampai kelak hatinya terpikat pada Ayana berharap Kiara mau menerimanya, bukankah laki laki boleh mendua, mentiga atau mengempat.

__ADS_1


Ayana mengambil tas kosmetik di meja depan cermin juga hijab slup, lalu membawa ke teras depan kamar dengan menggandeng Aliandra.


" Tante kenapa enggak merias didepan cermin? " celoteh Aliandra manja.


" Banyak orang didalam, enggak etis," jawab Ayana, bibirnya menyungging senyuman.


" Tante, kalau Lian punya Mama kayak kamu, suka banget deh, juga biar Papa bisa tersenyum," selorohnya, Ayana sambil membersihkan muka pakai kapas yang telah dikasih cairan pembersih, tertawa lirih.


" Iya deh serius, nanti Lian bilang sama Papa, " desak Lian, Raditya di dalam kamar mendengar celotehan ponakannya, dalam hati tertawa dengan kelucuannya.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ayana untuk mematut diri, karena semua serba simpel, lalu mengajak Aliandra masuk ke kamar dan menutup pintu dengan menguncinya.


" Ayoo, tante mau dorong kursi Oom, " ajaknya, tangan pegang stang kursi diikuti oleh tangan mungil Lian.


Ayana sebenarnya sangat iba pada gadis kecil yang tidak mendapat kasih sayang dari seorang Mama.


Kiara selalu tak suka pada Ayana apalagi setelah berdandan walau sederhana tetap bisa merubah menjadi tambah cantik, makanya ia memegangi telapak tangan Raditya, sementara Ayana mendorong telah sampai ke pintu, Kiara serta Maminya tetap ngobrol akrab, tak tanggap untuk membantu membuka pintu atau memang sengaja pada Ayana karena menganggap perawat juga pembantu.


Keluarga sudah berkumpul, ada Oma, Opa dari Raditya juga adik adik Mami maupun Papi di ruang depan kamar Raditya.


Aliandra lari ke Papa nya dengan berbisik bisik dan matanya melirik Ayana, Raihan meraih tubuhnya lalu menciumi pipi chubby putri cantiknya.


Ayana duduk di kursi belakang Raditya sedang Kiara disebelah kirinya sambil keduanya berpegangan tangan.


" Punya istri harusnya seimbang, kalau secara ekonomi kayak bumi dengan langit ya menjadi miring jalannya," seloroh Omanya Raditya.


" Kalau hanya sebagai perawat tidak masalah, kayak Raditya, " jawab tantenya.


" Tetapi perawat cantik, apa Raditya nantinya enggak terpikat, " timpal tante yang lain.


" Kan, cuman menikah sementara, kalau Raditya sudah bisa jalan lalu di cerai, " ucap Oma.


Ayana sangat tersinggung hatinya dengan pembicaraan mereka yang lebih berfokus padanya, bahkan dadanya kayak tersumbat, sehingga kerasa sesak nafasnya, walau ia tetap bersabar untuk tetap berada dibelakang kursi rodanya.


Sementara hati Kiara sangat tersanjung dengan perkataan keluarga besar Raditya.


Ruang tengah dengan interior yang sangat mewah, beratap tinggi, ada tangga untuk menuju kamar atas yang bisa dilihat sangat jelas dari bawah, belum berbagai jenis makanan yang tersaji di meja, dan Ayana melihat semua kemewahan didepan mata hatinya menjadi ciut, apalagi kata demi kata yang dilontarkan mereka bertujuan memojokkannya, hatinya sangatlah lara, ia ingin sekali keluar dari ruang ini, lari ke teras dekat ruang ini, dengan menumpahkan kekesalannya pada bunga bunga anggrek yang bermekaran atau lari ke dapur bergabung dengan para ART, karena ia layaknya di rumah ini berada di dapur.


" Kalau posisi ku bekerja disini seperti mereka tentu akan lebih mendapat perlakuan manusiawi, ketimbang menjadi perawat tetapi dinikahkan dengan majikannya," guman Ayana sedih.

__ADS_1


Bahkan ia membandingkan dengan keluarga Rosa yang sama sama kaya dengan keluarga ini, tetapi mereka memperlakukan baik baik saja pada Ayana.


__ADS_2