
Ayana POV
Siang hari saat aku bersama teman teman di apartemen ini, tak terasakan sepi, tetapi di kala pulang kuliah sore ini, kerasa hidup ku sendiri di bangunan apartemen se mewah ini.
Tiba tiba kerinduan, pada bibi, paman yang di kampung juga saudara saudara ku, yang di UK, mengetuk ngetuk hati, sampai tubuh menggelosor ke lantai bawah sisi bed, lalu menyender disisi kasur dengan kepala ditengadahkan keatas, menatap kosong setiap sudut langit langit kamar, kamar apartemen yang berjendela kaca full yang menghadap ke barat, sehingga pabila malam telah tiba, bisa memandang kota Jakarta dari kamar dengan ketinggian kira kira 12 m, yang di hiasi ribuan lampu kota, membuat kota yang tidak pernah mati semakin semarak.
Cuman sore yang hampir senja, aku masih tertarik memandang langit langit kamar dengan mata semakin panas, otakku mulai menggila oleh bayangan Raditya yang sedang beradu kehangatan dengan gelora asmara yang membara bersama Kiara.
Aku sakit, sakit sekali, ya sakit menusuk nusuk hati, sampai air mata ini mulai meluncur dari bola mata, sampai meleleh masuk telinga, segera ku angkat kepala melap air mata, dan tubuh terasa penat, lelah juga, akhirnya akupun meringkuk di lantai yang bersih kinclong.
" Aku minta jauhkan hati ini dari keputusasaan, singkirkan bayangan yang menyakitkan di hati," mulutku terus berkomat kamit memohon pada Tuhan, agar aku tetap kuat juga tegar.
Akupun sadar kalau terus menerus menangis tentu bisa depresi serta kacau, dan aku akan menjadi bahan tertawaan Kiara atau orang orang yang tidak menyenangi.
Aku bangkit dari ringkukan di lantai lalu mendekat ke jendela kaca yang lebar, mata kutatapkan ke langit ufuk barat melihat sinar senja keemasan mentari yang mulai membenamkan diri, dengan tiupan angin senja yang kencang di balik jendela kaca, dan aku menghembuskan nafas ke kaca jendela, muncul bayangan embun melingkar kecil di kaca di depan ku, lalu jemari tangan menyentuh embun itu.
Cukup lama kunikmati warna keemasan di langit, aku mulai mundur untuk mengambil tissue di nakas, mataku menatap ponsel yang berkedip kedip, tanda ada panggilan video.
" Ooohhh, mas Raditya, angkat, tidak, angkat, tidak, angkat... " hati yang rindu dari ribuan kerinduan, membuat hati ini memihak untuk mengangkat gawai, padahal aku berniat menghapus semua bayangan wajahnya dari mata juga hati.
" Ay, " wajah sendu terlihat jelas menghias di layar gawai di tangan ku, dada berdegub degub kencang, sulit ku netralisir.
" Mas, " mataku basah kembali, karena terharu.
"Aku...." ia tidak mau menerus kan kata kata yang membuat hati ini semakin membuncah.
" Kenapa mas, baik baik kah kamu Mas, " bayangan ku ia selalu mengalami kesulitan melepas atau memakai celana panjang juga sepatu untuk membantu berdiri juga berjalan.
" Aku sakit, sakit disini," tangan nya menekan nekan dada, dengan mata bertambah sendu, sebenarnya aku melebihi darinya, tetapi mulut ini terkunci untuk bicara itu, karena aku merasa tidak patut untuk mengatakannya.
Aku sadar diri bila berada didepannya, kalau aku tidak layak untuk berbicara isi hati di depannya.
" Aku akan menyusul mu Ay....," ponsel lalu dimatikan, aku percaya ada Kiara atau orang lain yang mendekat, karena ia tidak ingin diketahui orang, ia berusaha melindungi ku, otak ini tetap berpikiran positif pada lelaki yang berstatus sebagai suami ku.
Dapat vidcall dari mas Raditya menjadi obat hati yang lagi sedih mendalam. Seperti tersiram es hati ini, menjadikan aku bersemangat dan tidak terus terusan, meruntukki nasib yang belum beruntung.
__ADS_1
Aku yang belum mandi sejak pulang kuliah karena hanya bisa termangu mangu, kini seperti punya enerji berlebih untuk melakukan berbagai hal, diantaranya mengelap furniture disetiap ruangan, sprei yang awut awutan dibetulkan biar rapih lalu menyapu, belum sempat mengepel sayup sayup terdengar Adzan Maghrib, sehingga buru buru aku ke kamar mandi, yang hanya butuh waktu 10 menit selesai, dengan mengguyur tubuh dengan air hangat terasa syaraf syaraf tubuh yang kenceng menjadi mengendor.
Setelah menunaikan kewajiban, menuju ruang makan, tadi siang masih ada sisa masakan bisa untuk makan malam.
" Emm, nasinya masih banyak, juga lauknya," pikirku, lalu aku menghubungi Rosa semoga ia belum makan, biar cepet habis.
" Ay, dibikin nasi goreng saja, aku turun nich, aku pengen nasi goreng, " pesan dari Rosa, yang lima menit kemudian telah mengetuk pintu apartemen.
" Sudah bikin bumbu Ay? " tanya Rosa, aku mengiyakan.
Setengah jam kami berdua bersenda gurau sambil menikmati nasi goreng, lalu Rosa pulang ke apartemen.
Aku sendirian lagi, tapi tidak apalah, aku berusaha menyemangati diri sendiri, toh Rosa juga sendirian di apartemen atasku.
Kembali semua kubersihkan, lantai di pel.
Masuk kamar sengaja tirai lebar tidak kututup dulu, biar aku bisa lihat kerlip kerlip lampu kota dari ketinggian sekitar 12 m, juga langit gelap tertutup awan, tentu lampu tidak dihidupkan.
Merebahkan tubuh sebentar sambil membuka ponsel.
" Ada kiriman pesan lagi dari mas Raditya.
Ternyata mas Raditya mengirim dua pengawal untuk menjagaiku.
Hati ini serasa berbinar binar dengan perhatian mas Raditya padaku, walau selama aku merawatnya, ia tidak pernah membicarakan tentang isi hatinya, cuman ia selalu mengecup pucuk kepala ku, disaat sedang membantu mengangkat tubuhnya dengan berpegang pada pinggang.
Kadang aku mendongakan kepala, lalu saling tersenyum lembut, dan hanya saling diam cuman berbicara lewat mata saja.
Lama lama mata lelah dan tanpa menyadari matapun terlelap dengan tubuh tertutup selimut sampai leher.
Tengah malam dari kaca jendela di kagetkan oleh kilatan memanjang berulang, mata mengejap lalu bangkit dari kasur super empuk, kayak kasur nya Liandra.
Aku menggeser tubuh ke sisi ranjang dekat jendela, lalu menurunkan kedua kaki dan melangkah menuju jendela.
Di luar petir menyambar nyambar dengan diiringi suara gemuruh yang kayak sejajar dengan kamar, lama hujan deras dimuntahkan dari langit.
__ADS_1
Cepat tangan menarik tirai yang masih terbuka lebar, lalu di kegelapan kamar dengan ukuran 4 × 6 m, agak tertatih tatih menuju saklar listrik untuk menyalakannya, walau ruang tengah sudah nyala.
Sepi sendiri dengan apartemen berkamar tidur 3, besar besar lagi ukuran nya, kecuali kamar tidur tamu hanya berukuran 4 × 3 m.
Tengah malam yang hanya diiringi oleh derasnya hujan juga suara geledek menggelegar, aku buat mie instan, yang tersedia di laci kitchen set bawah, dengan ku buat se istimewa mungkin, biar lidah berasa nikmat, karena lidah terasa mati rasa, sementara perut menjerit jerit minta diisi.
Lagi lagi aku manggil Rosa, yang bangun tidur karena dengar suara menggelegar.
" Tinggal makan aku kan?" tanyanya setelah ku buka pintu apartemennya.
" Iya tuh, di mangkok yang ada di meja makan, " jawab ku.
Dan jus buah yang masih ada di kulkas aku tuang ke gelas.
Aku ikut semangat lihat Rosa makan dengan lahap.
" Sa, tidur disini sekalian, besok kan libur, kita bisa bangun semau kita, " ajakku. Rosa mengiyakan sambil minta pagi pagi bikin nasi goreng lagi.
" Ok, siap buat tuan putri, " ucapku, kami tertawa terkekeh diantara suara hujan deras.
" Jangan langsung tidur lho, tahu tahu kita mengembang ke samping, " ucap Rosa, kami menuju alat kebugaran di ruang tengah.
Sungguh aku tidak bermimpi hidup di apartemen se mewah ini, cuman aku tentu tetap memposisikan diri hanya sebagai orang yang ditugasi untuk merawatnya, jadi sama sekali tidak punya perasaan kalau apartemen ini milikku.
Keringat bercucuran di sekujur badan, setelah kering kami masuk kamar lalu tidur dan aku benar benar merasakan lelah.
Terdengar suara Adzan Subuh, aku bangun demikian Rosa untuk menunaikan kewajiban, dengan segenap keikhlasan aku bersujud untuk berserah diri, dan entah mengapa setelah berserah diri, hati yang terluka seperti mendapat obat.
Kami berdua merebahkan tubuh kembali di kasur.
" Hidupku seperti di negeri dongeng, anak yatim piatu yang hanya di tolong oleh orang miskin, bisa hidup kayak tuan putri, setara dengan Rosa yang kini sedang tidur disebelah ku," gumanku, dengan mata yang tidak bisa ditahan lagi.
Semburat sinar pagi menerpa jendela kaca besar di kamar masuk lewat celah tirai, aku menggeliat lalu membuka mata pelan pelan, dan mengusap punggung Rosa.
" Sa, pagi pagi penghuni apartemen pada senam klo akhir pekan?" tanyaku, karena mendengar sayup sayup suara musik pengiring senam.
__ADS_1
" Iya, ayuk kita ikut, " pintanya, aku bikin teh hangat, dan berdua makan cemilan.
Lalu setelah aku pakai training naik ke kamar Rosa, karena ia mau ganti training juga.