
Raihan POV
Setiap kali melihat adikku Raditya merangkak dari kursi roda ke kasur, kepala ku melengos dengan mata nanar, aku sangat iba dengan keadaannya, padahal dialah satu satunya adik yang ku andalkan untuk meneruskan usaha Papa, karena aku lebih memilih berkecimpung dibidang pendidikan ketimbang menggeluti bisnis, disamping itu Raditya lebih piawai, sedang aku hanya tahu tentang teorinya saja, untuk berkecimpung sebagai pelaku usaha kurang sukses.
Selama hampir satu bulan dengan kejadian naas Raditya, ia hanya mau dirawat oleh Mami, Papi juga aku, sehingga kami harus bergiliran merawatnya, padahal ia merencanakan pernikahan dengan Kiara.
Hari pernikahan adikkupun tiba yang dilaksanakan di rumah orangtuaku secara sederhana, hanya dihadiri keluarga, katanya pestanya nanti setelah Raditya sembuh.
Dan aku salut pada Kiara serta orang tua nya, mau menerima Raditya dalam keadaan cacat sebagai suami dan menantu.
Ingatanku pada Maminya Aliandra, wanita yang tega meninggalkan anak hanya mengejar materi dari pria lain.
Malam itu semua berkumpul di ruang tamu.
Raditya dengan kursi roda didorong ke ruang tamu oleh Mami, karena ia mintanya sama Mami, aku duduk di belakangnya.
Sekitar 7 menit Mami menuntun seorang perempuan yang sangat cantik dan setelah dirias aku tak mengenali sama sekali, dan aku masih berpikir itu Kiara.
" Kok wajah Kiara setelah dirias berubah, jadi kayak wanita yang berasal dari negara yang terkenal gudangnya wanita cantik," batinku.
Sementara Aliandra putriku tak puas puasnya menatap yang kuanggap Kiara, bahkan putriku menganggap sama.
" Pah, tante Kiara cantik sekali, " bisik Aliandra menggelayut di tubuhku, ia tahu karena ruangan hening hampir semua mata mengarah pada wajah calon istri Raditya, sedang Raditya tak menengok wanita yang telah duduk disampingnya, matanya fokus ke depan.
" Apakah Raditya merasa tidak enak hati dengan kondisi dirinya yang cacat, sehingga ia seperti abai pada Kiara? " pikirku.
Raditya disodori kertas, sepertinya bertuliskan nama panjang dirinya juga nama panjang Kiara, aku melihat Raditya berkali kali mendekatkan kertas itu, mungkin lagi menghafal namanya, biar saat ijab kabul tak keliru mengucap nama panjang calon istrinya.
Dan rata rata orang yang ada di belakang penghulu mengarahkan kamera ponselnya ke pengantin, aku tergerak juga untuk membidiknya, sehingga aku bangkit kedepan, tetapi Kiara yang sangat cantik hanya menunduk, ia tetap tidak mau menunjukkan wajahnya.
" Mungkin Kiara sangat sedih dan terpaksa dengan pernikahan ini, " pikir ku.
Semua diam karena acara akan dimulai, dan tak ada sambutan apapun, jadi langsung ke ijab kabul.
Dan aku terperangah bahkan sampai mengangkat bokongnya dari kursi yang diduduki, saat Raditya menyebut nama mempelai wanita yang sangat cantik bagai bidadari.
" Ayana Diandra Qamira!! mahasiswiku kah yang setiap kali ngasih kuliah selalu ku kerjain, karena cantik tetapi culun, " mataku tak berkedip menatap adikku Raditya, aku ingin bangkit dari kursi untuk mendekati Mami, tetapi gejolak ini tetap ditahan, akupun tak mau menunjukkan pada keluarga tentang kegundahan hati.
Mataku terus menatap adikku saat menyentuh punggung tangan putih berlukis henna, dan jari jarinya ku tatap, kalau itu jari lentik milik Ayana mahasiswi ku, juga saat ia mendorong kursi roda Raditya mengingatkanku pada saat ia maju lalu mencolok kabel ke laptop.
Dan Mami menatapku dengan tersenyum.
" Ini, aku percaya trik Mami, tetapi kok Mami tahu Ayana? " aku ingat setiap kali aku habis memberi mata kuliah di kelasnya, aku selalu cerita tentang Ayana.
Dan setengah bulan yang lalu Mami menanyakan tentang nama lengkap Ayana, kebetulan aku baru cerita tentang Ayana.
__ADS_1
Keluarga masih berkumpul tetapi pengantin baru itu menuju ke kamar tidak mau gabung dengan keluarga.
" Rai, istri Raditya membantu kita merawatnya," ucap Mami berbisik, karena keluarga belum pada pulang.
" Istri secantik itu, apa enggak kayak Maminya Aliandra? " aku khawatir juga.
" Aku sudah menyelidikinya, dia tidak mungkin kayak Kiara yang tidak mungkin mau merawatnya, bahkan Kiara mendukung Raditya dicarikan istri sementara untuk merawatnya, " cerita Mami, aku tidak mau lihat expresi wajahnya.
" Oh, jadi Ayana dijadikan istri sementara bagi Raditya, nanti kalau sudah bisa jalan mau nikah sama Kiara? " ucap ku.
" Rencana Raditya semula begitu, tak tahu nanti, " aku terperangah juga dengar penuturan Mami, sampai aku garuk garuk kepala yang tidak gatal.
" Mi, Ayana itu mahasiswi ku kan? " tanyaku, Mami mengiyakan.
" Besok, Raditya sudah mulai ngantor," ucap Mami.
" Yang nganter Pak Said kan, Mi? "
" Raditya minta diantar Ayana," Mami cerita tentang kepiawaian Ayana.
" Aku, percayakan penuh pada Ayana. "
Rumah sudah sepi, keluarga satu persatu undur diri, Aliandra juga minta bobo.
Ceklek
Aku mendengar lirih suara handel pintu di buka, seorang wanita dengan pakai baju baby doll celingukan membawa piring.
Saat balik ia melihat keatas, lalu dengan langkah cepat menghindar dari tatapanku, ia masuk kamar Raditya.
****
Ayana POV
Baby gede ku sudah rapih juga tampan pagi ini, tinggal aku yang membersihkan tubuh, sempat pesan agar nunggu kalau mau pindah ke kursi roda, disalah artikan aku memerintah dia.
" Uuufff melebihi Pak Raihan galaknya, " cepat cepat kakiku melangkah ke kamar mandi, takut dapat gertakan lagi.
" Ay.... " mulai manggil dia, aku masih diam saja abis sedang pakai celana strit panjang yang dipadu baju atasan tunik peplum.
" Aaahh, pas sekali di tubuhku, bentuk tubuh sedikit terlihat," aku bercermin di kamar mandi, dan merasa tidak mengubah keseharianku secara drastis.
" Ay.... " panggilnya lagi, dengan langkah seribu aku membuka pintu kamar mandi.
" Iya tuan," dia tetap dingin, matanya tak mau melihat ku.
__ADS_1
" Cepat, sudah ditunggu sarapan, ini sudah agak siang, " aku membantu memindahkan ke kursi roda, setelah itu ku bawa ia ke teras balik kamar sambil berjemur dibawah sinar matahari pagi yang hangat.
Ia menggerak gerakan kedua kakinya.
Thok thok, aku yang telah membersihkan muka dengan memberi cream dan bedak tipis, membuka pintu.
" Eeemmm, gadis cantik, namanya siapa, sayang? " aku membungkuk lalu mengecup ubun ubun nya, wangi sampo baby.
" Aliandra, tante cantik namanya Ayana? " aku mengiyakan, ia mendekati Raditya yang ada di teras.
Saat aku mau menutup pintu, mataku berpapasan dengan dosen dingin nan lempeng, ia hanya melotot kearah ku.
" Uuufff, aku masuk sarang serigala nich," kutekan jidat cukup keras, untuk menunjukkan kalau ini bukan mimpi.
" Oom, tante Ay cantik banget ya, kenapa bukan jadi Mamaku saja, " celoteh lucu Aliandra, bibir ku sempat mengerucut.
" Boleh kok, jadi Mama kamu," jawab Raditya, aku tak mempedulikan ucapan Raditya, dan pagi ini lebih fokus ke persiapan mengantar Tuannya ke kantor, juga menuju ke kampus, yang harus mampir dulu ke kost.
Aku membawa Raditya ke ruang makan yang sudah ditunggu keluarga, tak lupa aku mengambilkan nasi beserta lauk dan si kecil Aliandra minta disuapi.
Tak nyaman satu meja bersama Pak Raihan, sempat tanganku gemeteran, ku lirik Raditya bibirnya menyebik.
" Iihhh, dua lelaki kok sama sama nyebelin," batinku kesal.
" Ay, kamu nganter suami, mau nyetir sendiri? "aku mengangguk sedikit ragu, walau aku sering disuruh nganter Celin muter muter di Bogor, juga melewati jalan nanjak, selain itu hampir setiap akhir pekan setelah kelas 12, menemani Nyonya Widya bersama Celin ke Jakarta atau ke Bandung hanya sekedar berwisata kuliner maupun menginap di hotel berbintang untuk nemani Celin, dan tentunya aku yang nyetir, cuman aku tak pernah dibelikan baju baru sama Nyonya Widya, hanya di kasih uang, mungkin karena bibi tidak membolehkan aku pakai baju yang bagus, ketakutan bibi sama paman pada anak perempuan terutama aku terlalu berlebihan.
" Banyak anak perempuan yang cantik tak punya hati cantik, " kuulang nasehat bibi, yang telah tertanam di hati.
Pukul 7.00 aku telah mendorong kursi roda ke halaman.
" Nich, kunci mobil nya, " ucap Raditya, mobil sedan mewah yang telah terparkir di halaman depan.
Kursi roda ku dekatkan ke pintu depan yang telah ku buka, Raditya merangkak pakai dua tangan dengan bertumpu pada dua lutut kakinya, lalu aku menarik kursi roda, dan membantu dengan melingkarkan kedua tanganku ke pinggangnya agar ia bisa duduk, baru aku melempit kursi roda untuk di letakan di bagasi.
Mami, Papi juga Pak Raihan serta Aliandra hanya melihat kami dari dekat.
" Nduk, nanti di kantor ada Pak Adnan, sehingga kamu tak khawatir mikir suamimu saat kuliah, " pesan Mami, aku mencium punggung tangannya.
" Iiyya Nyo.... Mami, aku hanya sampai jam 12.00 kok, " kataku.
Menyetir pertama pakai mobil Raditya sempat sedikit grogi, tetapi akhirnya bisa tenang kembali karena aku pernah nyetir juga mobil mewah punya Nyonya Widya dan punya Rosa setiap hari karena Rosa setiap pagi mampir ke kost ku, walau jarak cuman 1 km atau kalau Rosa pengin berlibur ke kampung ku akhir pekan.
" Tuan, habis aku nganter ke kantor, lalu mau mampir ke kost," pamit ku, karena aku belum bawa laptop serta alat tulis yang lain, Raditya mengiyakan.
" Nanti makan siang di luar saja," ucapnya.
__ADS_1