Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 41 Liandra ikut ke Kantor Raditya


__ADS_3

Author POV


Ruang perkuliahan yang sejuk, oleh banyaknya pepohonan di depan kelas maupun belakang, membuat para mahasiswa tetap bersemangat mendengarkan ceramah Pak Raihan.


Apalagi sekarang tak lempeng saat berbicara, sudah sangat komunikatif, sehingga perkuliahan menjadi hidup.


Dua jam mengikuti kuliah Pak Raihan, terasa sangat cepat, karena tahu tahu telah usai.


" Ayy, habis jam ku, kamu enggak ada kuliah, kan, " ucap Pak Raihan setelah berada di depan kelas.


" Iya Pak, cuman aku mau pulang ke apartemen, Liandra aku ajak saja, " pinta Ayyana hati hati.


" Memang mauku begitu, biar nanti aku jemput di apartemen, " ucap Raihan, matanya tetap menatap wajah Ayyana, dan sebenarnya Ayy hatinya tak bergetar, cuman menjadi tak nyaman dengan sikap Pak Raihan.


" Pak, please, jangan mengharapkan yang lebih jauh padaku, karena hatiku lebih condong pada Raditya," guman Ayyana di hati, dan ia sambil menggandeng tangan mungil Liandra, untuk di bawa ke mobil bersama Rosa serta yang lain.


Sementara dengan ucapan Pak Raihan yang akan menjemput Liandra di apartemen, membuat hati Ayyana menjadi gelisah, karena ada Dania, sedang tentang Liandra ikut ke apartemen apabila Dania tahu, bagi Ayyana bisa diatasi, karena Dania tak dekat sama anaknya, tentu selain ia tidak mau mengajak juga Liandra tidak mau ikut, terkecuali kalau Dania punya maksud tertentu biasanya uang, maka akan memaksa mengajak Liandra, dan pernah dilakukan oleh Dania, saat Ayyana masih berada di rumah Raditya.


" Ayy, aku enggak ngikut ke apartemen kamu, turunin di jalan saja," pinta Andina, yang lain juga sama kecuali Rosa yang satu flat.


" Nanti aku juga mau ke apartemen sendiri Ayy, " ucap Rosa, yang berusaha mengerti pada Ayyana karena tadi pada dengar ucapan Pak Raihan akan menjemput Liandra ke apartemennya.


Tentunya teman yang lain tak ingin mengganggu kebersamaan Ayyana dengan Pak Raihan maupun Liandra.


" Sa, kok pada kayak gitu sih, mumpung masih pagi, aku mau masak, abis adik Pak Raihan minta di kirim nasi untuk makan siang dan makan malam, " jelas Ayyana. Memang teman yang lain sudah tahu kalau Ayyana merawat adik Pak Raihan, tetapi tak ada yang tahu kalau Ayyana dinikahkan dengan Raditya.


" Enggak lah Ayy, abis klo Pak Raihan datang kan, jadi tak enak hati, " seloroh Rosa apa adanya, dan teman yang lain mendukung ucapan Rosa, maka Ayyana tangannya refleks mencubit satu satu temannya.


" Wuus ada ada saja kalian, " ucap Ayy dengan kesal.


" Tante, kenapa sih nyakitin teman, jangan donk, sakit tahu, " ucap Liandra tangannya menarik baju Ayy.


" Abis, mereka suka pada geledek tante, " ceplos Ayyana lirih, ia sadar Liandra tak perlu ngerti tentang permasalahan orang dewasa.


" Ga apalah tante Ayy, Liandra suka kok, klo jadi Mamaku, " ceplos nya tertawa renyah.


" Tuh, Ayy, si kecil aja telah nerima kamu kok, sudahlah jangan banyak mikir, kasihan Pak Raihan, nanti jadi lapuk donk, " seloroh Rosa yang pabila ngomong tak di filter.


" Dah, pada masuk mobil, keburu mau masak, klo telat kirim bisa ngambek nih tuanku, " ucap Ayyana matanya dilebarkan, dan ia juga kesal dengan ledekan teman teman.


Ayyana menjalankan mobil, setelah semua masuk.


" Ayy, awas ada Clara, ia kayak sengaja dengan temannya jalan di tengah, mending pelan pelan dibelakangnya saja, " ucap Andina.


" Dia telah tahu kamu mau lewat lho Ayy, makanya nekad berjalan ditengah jalan, atau pengin bunuh diri kali, " seloroh Lisa.


Dari arah berlawanan ada mobil lewat, maka Clara cs kena semprot.


" Haii, kamu sudah bosan hidup? beri jalan pada kami donk! " bentak mahasiswa yang bawa mobil setelah jendela kaca di buka.

__ADS_1


" Dasar cewek tak punya aturan, kamu tahu kan, pejalan kaki sudah dibuatkan jalan!" serangnya kembali.


Ternyata Clara cs masih tetap betah hidup, mereka dengan wajah malu berlari menuju ke tepi, jalan yang dikhususkan untuk pejalan kaki, maka Ayy bisa lewat tanpa perlu menegur para cewek reseh.


Sementara Clara yang telah tahu kalau Ayyana terangkat hidupnya, semakin gemas serta kesal, ia di dukung temannya ingin tetap membully Ayyana.


" Ra, kamu nyantai donk, si culun tuh hanya jadi pembantu kok, dia kan, hanya disuruh untuk nunggu apartemen majikannya, " hibur Silvi, ia juga ikut geram lihat Ayy menyetir mobil mewah, apalagi telah dengar kalau Pak Raihan tertarik pada Ayyana. Padahal Silvi sudah sejak mahasiswi baru tertarik pada Pak Raihan.


Sementara Ayyana telah dihubungi Paman Kasmanto, yang sedang menunggu di basement dengan juragannya, dan hati Ayy sangat gembira, maka saat sampai apartemen, mengajak Paman serta juragan supaya naik ke atas, tetapi tidak mau, karena masih ada pekerjaan di kampung.


" Paman minum dulu, akan kubuatkan kopi, " pinta Ayyana memelas, akhirnya Paman serta juragannya menerima ajakannya.


Sekitar duapuluh menit Paman Kasmanto serta juragannya istirahat di apartemen Ayyana.


" Ayy, kamu disini harus bisa jaga diri ya, aku kok khawatir kamu ada yang memusuhi," ucap Paman lirih saat di dalam, ia tadi sempat ketemu di basement dengan Dania, lalu ia bicara kalau Ayyana menetap di apartemen karena jadi simpanan lelaki hidung belang.


Dan Paman dengan hati yang tak nyaman terus pulang.


Sementara karena masih pagi maka Ayyana belum siap siap ke dapur, ia bermain main dulu sama Liandra, ternyata membuat kegusaran hati bisa hilang.


" Te, Ayah jam berapa datang kesini? " tanya Liandra, ia pengin kayak anak kecil lainnya yang dilihatnya saat di mall, bersama kedua orang tuanya.


" Kali agak siang," jawab Ayy lalu memeluk tubuh gempalnya.


" Hmmm, aku tahu yang kamu rasakan Li, karena aku mengalami yang lebih sedih daripada kamu, aku harus kehilangan kedua orang tua," gumannya.


Matanya berkabut ingat peristiwa tragis yang harus kehilangan orang yang sangat dicintai, lalu disusul kehilangan adiknya Calla, nyaris hidupnya dibayang bayangi oleh luka, sampai ia yang tadinya gadis kecil periang, menjadi pendiam, tetapi berkat keluarga Paman Kasmanto, ia bisa sedikit demi sedikit menghilangkan duka hatinya.


" Tante mau masak dulu ya, kamu ingin ikut bantu Liandra, " kata Ayy.


" Mau, mau... " jawab nya riang.


Berdua menuju ke dapur dan Ayy mengeluarkan bahan yang akan di masak dari kulkas, juga masak nasi.


Berdua sibuk di dapur, Liandra sangat riang bisa bantu memasak, walau hanya sekedar pegang sayuran, sehingga Ayy bisa menyingkirkan ucapan Paman.


Satu jam masak telah selesai, Ayyana telah menyiapkan nasi di box.


" Li, ke kantor nya Oom Raditya, nganter nasi untuk makan siang, " ajak Ayyana.


" Kenapa enggak makan di apartemen sekalian sama Ayah, " jawabnya tanpa beban.


" Oom sangat sibuk, sampai enggak bisa makan bareng sama keluarga, " jawab Ayyana, Liandra mengangguk angguk, mencoba mengerti pekerjaan Oomnya.


" Nanti di pabrik Liandra akan tahu kesibukan Oom Raditya, " Ayyana memberi pengertian kembali pada anak sekecil ini, yang belum mau sekolah untuk bermain dengan teman teman sebayanya. Seperti nya Liandra masih nyaman sama orang dewasa.


Ayyana dan Liandra keluar, di depan pintu telah di hadang oleh Dania, sementara Hendra serta istrinya juga ikut keluar dari apartemen di depannya, keduanya hanya mengawasi, apalagi mereka tahu kalau Dania adalah ibunya Liandra.


Cuman Dania masih belum bisa mengontrol emosi, apalagi melihat keakraban putrinya dengan Ayyana, hatinya terbakar.

__ADS_1


" Haii, kamu menculik anakku, " serang Dania dengan geramnya.


" Bunda, kok bilang gitu sama tante, enggak kok, tante enggak nyulik aku, " celoteh Liandra.


Ayyana hanya diam dengan berusaha mempertahankan makanan yang dibawa, karena Dania kakinya diayunkan pada makanan yang ditenteng Ayy.


" Bunda, jangan nakal, nanti Liandra bilangin ke Oom, biar bunda dimarahi Oom, " ucap panjang Liandra.


Memang Liandra pinter bicara, dalam hati Ayyana tersenyum dengan kata katanya yang lebih membelanya.


" Non, biar aku yang ngatasi mba Dania," ucap istri Hendra, maka Ayyana sama Liandra turun menuju basement.


" Tante, klo Ayah datang, ketemu sama bunda ya, " ucap Liandra setelah duduk di kursi mobil sebelah Ayyana.


" Iya Li, Bundamu itu sayang banget sama Ayah juga ke kamu, " ucap Ayyana, terus melajukan pelan mobilnya menuju kantor Raditya.


" Tapi Bunda suka marah marah, sama Liandra, jadi males sama bunda, " ucap polos Liandra.


" Makanya harus nurut sama Bunda," kata Ayyana pelan. Liandra diam, ia menatap jalan di depannya yang tetap padat, dan Liandra tahu situasi jalan sehingga diam, ia tahu kalau banyak omong akan menggangu konsentrasi Ayyana.


" Li, tuh pabriknya Oom Raditya, kita mau masuk pintu gerbang, " ucap Ayyana.


" Waaoo, cepet sampainya, " ucapnya riang.


" Iya, habis apartemen tante sama pabrik Oom dekat, " ucap Ayyana.


Keduanya turun dari mobil, setelah mobil di parkir di tempat parkir mobil.


Ayyana tangan kiri menggandeng Liandra sedang tangan kanan bawa tas plastik.


" Oom enggak kelihatan, " celoteh Liandra.


" Lagi sibuk kerja, " jawab Ayyana.


Sampai di depan ruang Raditya, Pak Adnan yang telah tahu kedatangannya, mendekati.


" Masuk saja Mba Ayyana, hmmm Liandra ikut, " ucap Pak Adnan tersenyum ke Liandra.


" Oom Adnan, apa Oom Raditya lagi sibuk? " tanya Liandra.


" Barusan istirahat, tuh sudah ditunggu, " ucap Pak Adnan, tangannya membukakan pintu.


" Oom, " panggil Liandra girang.


Raditya yang duduk di kursi roda melajukan kursinya.


" Oom, kaget ya, Liandra ikut tante? " tanyanya.


" Enggak donk, kan, sudah diberi tahu sama tante Ayy, " mata Raditya menatap penuh sayang pada Ayyana lalu ke Liandra.

__ADS_1


Dan Liandra pun cerita kalau tadi ikut bantu masak.


__ADS_2