
Author POV
Halaman rumah Adiwangsa di padati oleh mobil mewah dari keluarga Pradipa juga Adiwangsa, mereka menghadiri pernikahan siri Raditya dan Kiara.
Kiara menghendaki menikah siri dulu, karena Raditya masih dalam pemulihan kedua kakinya.
Semalam sampai pagi Raditya kerepotan terutama saat menggunakan celana panjang, sementara Kiara tidak menolong sama sekali, ia hanya sibuk mengusap usap layar gawainya.
Dan Raditya tidak mau meminta bantuan padanya, ia tetap berjuang memakai sendiri.
" Mas, kok lambat sih, sudah ditunggu keluarga di ruang tamu, " ucap Kiara dengan nada keras.
" Kamu tahu kan, aku sudah tidak normal lagi, demi keselamatan tentu harus hati hati lah, " jawab Raditya santai saja.
Dan Raditya dengan dibantu kruk menuju ruang tamu, ia duduk pada kursi yang dulu pernah diduduki saat menikah resmi dengan Ayana.
Sempat memandangi tamu tamu yang hadir dan sempat tersenyum tipis, menyenyumi diri sendiri, karena dalam hitungan beberapa bulan ia harus mengucap ijab kabul kembali di depan penghulu yang sama, cuman sekarang tidak tercatat di dokumen negara.
Alasan Kiara belum mau nikah resmi, karena belum selesai kuliahnya, sehingga ia belum bisa melaksanakan kewajiban terutama merawat suami yang sangat dibutuhkan sekarang ini.
Dan ijab kabul pun diucapkan oleh Raditya, dengan diawali beberapa patah kata baik dari keluarga Kiara maupun Raditya.
Raihan ikut menyaksikan, ia ijin pulang dari kantor, dan duduk berdampingan dengan Aliandra serta Dania.
" Mas, awas lho kalau kamu sampai menikah dengan wanita culun itu, aku orang pertama yang menentangnya, " ucap Dania setelah acara selesai, tinggal menuju ke ruang makan.
" Ka kamu, jangan mengancamku, apa urusan mu? " jawab Raihan kesal.
" Karena aku tidak mau putriku punya ibu sambung, " ucapnya sengol.
" Kamu merasa lebih baik darinya? " jawab Raihan kesal.
" Tentu, sejelek jeleknya aku, tetapi akulah yang mengandung juga melahirkan, dengan pertaruhkan nyawaku, " ucap Dania kesal.
" Apa tugas seorang ibu hanya mengandung lalu melahirkan saja, sedang tanggung jawab paling besar yaitu mendidik, bagaimana, sudah kah kamu melakukan kewajiban itu ? " serang Raihan pedas, Dania hanya bungkam cuman hati nya sangat dongkol.
" Iihhh, kok bisa wanita culun, kampungan mempengaruhi seluruh keluarga disini, jangan jangan pakai aji pelet, " gumannya.
Sementara Ayana mengajak teman teman ke kamar kostnya, dan tak ada serangan dari Clara cs, karena Clara sedang kuliah, sementara teman Clara di kamar bawah, sudah mulai nyinyir ke Ayana, cuman dia tidak mempedulikannya.
" Vera lihat tuh si culun, tidak berani datang kesini sendiri, selalu bawa teman, " bibir Silvi dimiringkan.
__ADS_1
Berenam cepat cepat naik tangga menuju kamar Ayana.
" Ay, kamu cepat cepat ambil baju, serta barang yang bisa dibawa, " pinta Rosa.
" Lha, kamu mau pindah dimana Ay? " tanya Andina, kebetulan Mami telah berpesan kalau mau ambil barang di kamar kost dengan teman, sekalian supaya diajak ke apartemennya.
" Ay, kok enggak jawab sih, " desak Andina merengut.
" Aaanu.... eee, aku disuruh Mami menempati apartemen yang kosong, " jawab Ayana terbata.
" Jauh dari kampus? " tanya Rosa.
" Enggak kok Sa, satu flat dengan apartemen mu, " jawab Ayana menunduk.
" Bener Ay, lantainya sama? " desak Rosa.
" Enggak sama Sa, aku sendiri belum pernah kesana kok, ini nomor nya, "Ayana memberi tahu nomor apartemen pada Rosa.
" Itu di lantai 4, kalau aku kan, di lantai 5," ucap Rosa.
" Berarti bisa bareng berangkat dan pulang nya Ay, sama Rosa," ucap Bella.
" Teman teman kita banyak kok yang dibelikan disitu," ucap Bella.
" Sssttt, ada Clara, diam, kita cepetan ayo," ucap Lisa yang dari tadi hanya jadi pendengar.
" Ay, ada baju yang masih dibungkus plastik, " ucap Bella sambil tersenyum.
" Iya, bingung memakai nya, sering dikasih baju," jawab Ayana, nyengir.
Tidak begitu banyak barang barang Ayana, yang ada di kamar kost, paling yang di bawa cuman baju dengan modul juga kertas foto copy, maupun alat alat tulis, berupa pensil 2b, stip, tipex, bolpoin dan yang lain yang terdapat di tempat pensil.
Semua keluar kamar, Clara bersender disisi dinding dekat tangga turun disebelah kamarnya.
" Akhirnya hengkang dari kamar sebelah ku, kan, hahaha, hai kalian belum tahu ya kehidupan wanita culun ini, kalau kalian tahu akan mendukung ku, " Clara sambil teriak bicaranya, karena mereka cepat cepat turun dari tangga.
Berenam dengan naik dua mobil, menuju apartemen dekat kampus, tadi Ayana baca chat Mami, sudah ada bahan makanan di kulkas, juga cemilan supaya di makan, karena Mami tahu teman teman Ay sering bertandang ke kamar kostnya, sehingga telah menyediakan banyak cemilan, juga bahan mentah untuk di masak.
Sampai lah di basement lalu gegas berenam menuju lift untuk ke lantai 4 nomor 35, setelah Ayana membuka pintu pakai kartu akses, ia sebenarnya terkejut, perabotan telah lengkap, bahkan di meja tamu penuh dengan toples berisi cemilan kering, lalu meletakkan barang barang bawaan, yang tadi teman teman pada membantu membawakannya, Ayana masuk ke dapur yang menyatu dengan ruang makan.
" Masak yuk, " ajak Ayana, dan kebersamaan dengan teman teman membuat hati Ayana sedikit terhibur dari duka lara yang sedang di alami.
__ADS_1
" Ruangan bersih sekali," ucap Lisa.
" Iya kemaren Mba Marni yang bersih bersih, " ucap Ayana, ia ingat tadi Mami bilang apartemen telah dibersihin.
Masak telah selesai, beramai ramai makan bersama, yang sering dilakukan di kost, cuman kalau kuliah pulang pukul 12.00 selalu tergesa gesa, karena waktunya cuman satu jam saja.
" Ay, aku sekarang sudah pinter masak, katanya rasanya juga ok, " ucap Rosa, yang lain mengiyakan.
" Ay, kamu kayak enggak tidur semalam," celetuk Bella, ia dan teman teman sebenarnya kasihan pada Ay, yang lain pada bisa menikmati kebersamaan dalam sehari harinya, Ay harus bekerja membanting tulang, untuk bisa bergaya kayak teman yang lain.
Ay membaringkan tubuh di kasur empuk yang telah ia kasih sprei, dan yang membuat pada betah di apartemen ini karena semua ruangan terang oleh penyinaran matahari, jadi apartemen kayak rasa hotel bintang lima.
Sementara Raditya di rumah hanya kepikiran Ayana.
" Kemarin aku masih dibantu pakai sepatu juga celana panjang, dalam hitungan jam, aku harus melakukan sendiri, padahal masih kesulitan, " guman Raditya, matanya meredup, muncul buliran air di bola mata, ia sempat ngelirik ke arah Kiara yang tidak mempedulikannya.
" Mas, kamu masih perlu di bantu? si Ayana culun dimana dia? " ucap Kiara dengan dada mendongkol.
" Kenapa sih enggak bisa mandiri? " lanjutnya.
" Sudah ku katakan, ini masih dalam pemulihan, aku pengen tulang tumbuh yang bener, kalau di paksa bisa tumbuhnya tidak lurus, " jawab Raditya, kesal juga.
Raditya saat sehat selalu tergila gila pada Kiara, bahkan selalu siap siaga, tetapi disaat Raditya membutuhkan bantuan Kiara malah kayak cuci tangan.
Itulah maka ia dalam hitungan hari berubah 180°, hatinya berpaling pada wanita yang lebih peduli pada keadaannya.
Raditya, berusaha menyempatkan menghubungi Ayana siang ini, dengan kirim pesan, berkali kali di tengok tidak juga centang biru.
" Oh iya, sekarang Ayana sedang kuliah, sebenarnya aku pengen cah kangkung sama mendoan bikinan Ay, " pikirnya.
Drrt
Raditya membuka notifikasi dari pengawal yang disuruh untuk mengawal Ayana dari kejauhan, karena ia khawatir pada Clara cs yang tidak puas puas melukai Ayana.
" Waaooo, untung aku sudah siaga, emmm kasihan Ayana sudah yatim piatu sejak kecil, ada saja yang enggak suka padanya, aku berjanji akan selalu melindungi mu Ay, " batin Raditya, matanya mengembun.
" Kamu sekarang menjadi nomor satu di hatiku," batinnya lagi, ia lalu berjalan ke teras samping kamarnya, matanya tak berkedip menatap air mengalir dari dinding tembok yang dibawah nya dibuat kolam ikan. Ia ingin mendekat, ingin melihat kecerian ikan yang lari kesana kemari, mungkin saling bercanda sesamanya.
Kali ini ia hanya mampu melihat gerombolan ikan yang dipelihara dari kejauhan, tak bisa mendekat kayak yang sering dilakukan Ayana untuk mengajak bicara pada ikan warna warni di kolam.
" Ay, aku merindumu, " batin Raditya yang semakin kesiksa.
__ADS_1
Kiara di dalam kamar melihat Raditya yang lagi bengong menjadi sangat geram, dalam hati ia ingin membuat perhitungan pada Ayana, karena pada akhirnya dia menghancurkan impian untuk menyatukan perusahaan.
" Ayana, kamu sekarang kubiarkan menikmati kemewahan, " tangan Kiara mengepal.