Bukan Aku Yang Jadi Istrimu

Bukan Aku Yang Jadi Istrimu
Episode 22 Kiara pulang


__ADS_3

Author POV


Senja dengan langit di ufuk barat terlihat kekuningan, semburat sinarnya pun menembus pelataran rumah elite berlantai dua, Ayana hari ini pertama menikmati cahaya senja di rumah Raditya, karena biasanya ia berada di pabrik menunggu tuannya.


Ia bersama Liandra duduk di kursi taman, dengan mengajak Liandra menunjukkan panorama alam yang bagi Liandra baru saja diperhatikannya.


" Lihat Li, indah bukan warna langit di sebelah barat, " tangan Ay menunjuk ke atas.


" Cuman, potong potong Tante, abis ada yang ketutup gedung tinggi, " celoteh riang Liandra.


" Jadi bagus juga, abis sinar ke halaman Opa, menyemburat, tuh lihat semburatnya, " ucap Ay.


" Pelangikah tante Ay? " desaknya, Liandra turun dari pangkuan lalu berlari lari kecil sambil mengejar kupu kupu yang hinggap di bunga bunga bermekaran.


Mami serta Papi yang biasanya hanya menikmati taman dari kejauhan, melihat Liandra yang sudah ceria ikut menuju taman.


" Oma, Opa, langitnya bagus tuh, kayak pelangi, ada burung berwarna putih jumlahnya banyak yang lagi terbang," ucapan Liandra seperti bernyanyi, ia senja ini sangat lah riang sampai Papanya pulang tak dihiraukan, padahal biasanya berlari menyambut Papanya.


" Uuuufff, putri cantik Papa udah lupa nich sama Papa," celetuk Raihan menghampiri nya, Ayana dan Mami tersenyum lihat tra la la Tri li li Liandra di senja itu.


Raditya yang baru pulang juga minta turun di halaman bergabung dengan mereka, ikut tertawa terkekeh lihat keceriaan Liandra.


" Ponakan Oom yang cantik, sudah sembuh nich, " ucap Raditya dengan memposisikan berada di samping Ayana yang tak jauh dari Liandra demikian Raihan.


Hati Raditya saat turun dari mobil mencelos melihat bertiga seperti keluarga kecil yang berbahagia bermain main di taman.


" Iya Oom baru pulang kayak Papa, " celoteh Liandra riang.


Sementara Ayana hatinya bingung di hidupnya ada dua lelaki kakak adik lagi, yang sama sama tampan, dan ia sadar betul keduanya telah berubah sikap, tidak lagi dingin serta arogan padanya.


Keduanya setiap hari selalu berusaha mengambil hati Ayana, tetapi Ay hatinya lebih condong ke Raditya.


Ayana sambil menggandeng Liandra masuk ke dalam rumah, karena telah terdengar Adzan dari Mushola sebelah rumah Mertua.


Ayana tahu kalau tetap bertahan pada Raditya, akan berhadapan dengan masalah yang menguras air mata, bahkan bisa membahayakan dirinya, tetapi tidak semudah itu hati ini berpaling dari Raditya suami sementaranya. Dan baik Ayana maupun Raditya telah menyalahi kesepakatan, yang telah di katakan oleh Kiara di hari berikut, di hadapan Mami waktu keduanya telah menikah.


" Mas, juga kamu wanita culun, ingat pernikahan kalian hanya sementara, sampai batas kamu, bisa berjalan normal, apabila kalian menyalahi, aku tak segan bertindak tegas, dengan memutuskan kerja sama perusahaan serta menarik saham sahamnya, tentu stop bantuan dari Pradipa grup, " ucap Kiara dengan nada keras.


" Iya Kiara, Mami akan tetap menjagainya, toh Mami lakukan juga atas saranmu, agar pernikahan Raditya tetap dilangsungkan di hari itu, dan kamu menyuruh Mami untuk mencari pengantin pengganti wanita, karena kamu tidak bisa merawat Raditya, " ucap Mami kala itu panjang lebar.


Sementara kedua telapak tangan Ayana mengepal, hatinya terkoyak koyak mendengarnya.

__ADS_1


" Ok Mba, aku ikhlas merawatnya, dan berterima kasih karena Mba meninggikan statusku juga menghargaiku, dengan pernikahan ini, karena status ku menjadi syah di mata agama, sehingga aku merawat Mas Raditya hatinya tidak diliputi rasa takut dosa, " Ayana saat itu tak mau kalah juga, ia tidak punya rasa segan terutama pada Kiara.


" Hmmm, bedaku dengan Kiara cuman dari materi, jadi hanya faktor keberuntungan saja," batin Ayana dengan hati dongkol, lalu ia keluar dari kamar menuju teras samping kamar.


****


Keluarga Pradipa telah berada di depan meja makan, seperti biasa Ayana yang berstatus sebagai istri Raditya duduk tetap berada di sebelah kiri suami, dan Aliandra tak mau berjauhan dengan Ayana, dia selalu di suapi oleh Ayana.


" Ditya, besok jam 9.00 pagi kamu sudah berada di rumah Pradipa, " ucap Mami yang telah memberitahu Raditya bahwa besok ia menikah siri dengan Kiara.


Hati Ayana terluka, karena ia tahu kalau ucapan Maminya berhubungan dengan pernikahan Raditya sama Kiara, nasi dipiring yang ada didepannya membuat perut kenyang, cuman luka hatinya tak ingin ia perlihatkan, sehingga dengan tidak berselera ia paksa memakannya.


Sedang hati Raihan mulai berbinar, terlihat jelas pada sorot matanya, ia berharap Raditya beberapa bulan kedepan telah mengurus perceraian dengan Ayana.


Hati Maminya melihat binar mata Raihan ikut merasakan gembira.


" Tante, sudah kenyang, " tiba tiba diantara bunyi bunyi denting sendok yang beradu dengan piring terdengar ucapan Liandra yang menggemaskan.


" Minum air putih dulu donk, Li cantik, " ucap Ayana dengan menyodorkan gelas berisi air putih.


Makan malam pun di akhiri, Ayana mengambilkan kruk untuk Raditya yang masih duduk.


" Oom, Lian bantu ya," celetuk nya, ia ikut memegang kruk, lalu mereka ngumpul di ruang tengah.


Hati Raditya semakin galau, dengan masalah yang dihadapi, ia menjadi pendiam.


" Ay," tidak tahu yang mau Raditya omongkan, terpenting ia telah memanggilnya dengan di dalam dada terasa sakit, perih.


" Mas, kenapa? " Ayana yang sedang menggandeng Aliandra mendekat.


" Aku ingin bicara empat mata, di teras kamar, "suara Raditya tercekat di kerongkongan.


" Mas, kan, supaya jemput non Kiara, nanti saja kalau sudah pulang dari bandara," kata Ayana, lalu masuk ke kamar Liandra, sedang Raditya hanya mampu mengusap jambul kepala yang sering jadi sasaran kebingungannya.


Mami mendekati Raditya.


" Ditya, Warto sudah menunggumu, dan jangan sampai Kiara menunggumu di bandara, muka Mami mau diletakkan dimana kalau sampai kamu terlambat menjemputnya? " ucapan Mami tak bisa di jeda, Raditya hanya bisa terdiam lalu melangkah ke halaman, dan Warto menjemputnya.


Keduanya telah berada di mobil, sampai di bandara mereka tidak saling bicara.


Hati Raditya selalu saja diliputi kegundahan, ia yang sudah jatuh cinta pada Ayana, membayangkan kesedihan apabila kelak harus melepaskan Ayana untuk menjadi istri Raihan.

__ADS_1


Sampai di bandara, Raditya tidak perlu menunggu karena mereka langsung ketemu.


Kiara memeluk erat tubuh Raditya yang berpegang pada kruk.


" Kiara, kamu tidak malu di jemput oleh laki laki yang berjalan harus bertopang pada sepatu dan kruk?" tanya Raditya getir.


" Kan, nantinya sembuh Mas,"ucap Kiara santai, ia tidak membawa koper, sehingga tidak terlalu repot oleh barang bawaan.


" Mas Warto, pulang saja ke rumah Mas Raditya, " pinta Kiara, maka Warto mengarahkan mobil ke jalan rumah Raditya.


" Kia, kamu ditunggu Mama mu," ucap Raditya, ia tahu Kiara ingin menyelidiki Ayana sambil nyinyirin, tidak mikir status dirinya sebagai cewek berpendidikan tinggi.


Kiara sudah merasa kalah telak dengan Ayana, tidak hanya kecantikannya, tetapi sikapnya yang membuat Raditya menjatuhkan hati padanya.


" Mas, kamu selalu menghalangi ku kalau pulang ke Jakarta untuk datang ke rumahmu, kamu tidak mau nyakitin hati Ayana, kan, " serang Kiara di mobil, ia tak peduli Warto mendengarnya.


" Hmmm, aku sudah tahu kalau kamu lebih membela Ayana dari pada aku, " Kiara memuncak geramnya, sampai di dalam hati ia akan buat perhitungan pada Ayana.


" Kiara, aku hanya khawatir saja ke kamu, kalau kalau emosi mu tidak bisa terkontrol, " ucap Raditya lirih, ia tentu tidak ingin Warto mendengarnya.


Jalanan yang tak pernah sepi dari kendaraan, walau malam telah larut, menjadikan kota teramai semakin hidup.


Warto mengendarai mobil tetap berkecepatan standar saja, apalagi ia mendengar pelampiasan kekesalan dari putri Sultan di dalam mobil, tentu berpengaruh pada tingkat emosinya, walau Warto berusaha menulikan telinga.


" Den Raditya, mau ikut ke garasi atau turun di depan teras ruang tamu?" setelah masuk halaman Warto menawarkan karena keluarga sedang berada di teras.


" Di garasi saja mas Warto, biar langsung menuju ruang tengah," jawab Raditya, karena ia terbiasa dengan Ayana turun di garasi.


" Turun di depan ruang tamu saja, kamu kan, biar di bantu sama wanita yang ku kontrak untuk merawatmu, si culun itu, " pedes kata kata Kiara, hati Raditya meradang cuman ia tahan karena ada orang lain yaitu Warto.


Warto menuruti tuan putrinya, pikirannya tak mau antara Kiara dan Raditya terjadi keributan.


Kiara turun lebih dulu dengan membanting pintu mobil, apalagi melihat Ayana menjemput Raditya dengan mengambilkan kruk.


" Hai, kamu sedang tebar pesona pada Raditya," tangan Ayana di tarik ke belakang, sehingga tubuh Ayana sempat sempoyongan.


" Kiara, kendalikan emosi mu, aku butuh bantuan nya!" ucap Raditya kesal.


" Ay, kamu mundur, sudah ku katakan, hindari masalah, " Raihan mendekat dan Ayana di gandeng tangan nya untuk masuk ke kamar Liandra.


Raditya hatinya memanas lihat Raihan menggandeng Ayana, lalu dengan loncatan cepat karena pakai kruk ia mengejar Ayana serta Raihan.

__ADS_1


" Mas, ingat, Ayana istri syah ku, tidak semudah untuk mengambilnya dariku, " gejolak hati Raditya lebih kuat sehingga ia tidak memikirkan reaksi dari Kiara.


__ADS_2