
Keluar dari ruang ujian , Rey duduk di salah satu bangku yang ada di koridor kampus itu. Ia terlihat sedang menghubungi seseorang, tak lama kemudian ia berbicara cukup serius melalui sambungan telepon tersebut.
Terlihat beberapa kali ia tersenyum dan mengatakan, "iya, Pak".
Meskipun sudah lima semester ia kuliah di kampus ini, namun baru kali ini ia menginjakan kakinya di gedung ini, tempat kuliah anak-anak reguler. Jadi tidak aneh jika beberapa orang yang melintas di hadapannya atau yang sedang duduk tak jauh darinya tidak mengenal Rey. Ia layaknya orang asing di situ.
Setelah menyelesaikan pembicaraannya, ia kembali bangkit dari tempat duduknya. Terlihat ia celingak-celinguk mencari lift terdekat, namun karena hanya anak tangga yang ditemuinya, akhirnya ia meninggalkan tempat itu dengan menuruni anak tangga yang sepi. Hanya satu dua orang saja yang kebetulan berpapasan dengannya, baik hendak naik maupun turun.
"Cuma tiga lantai. Itung-itung olahraga," bisik Rey dalam hati sembari melangkah dengan teratur. Tidak terburu, namun juga tidak begitu santai.
Rey tidak sadar jika sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasinya dengan jarak yang tidak begitu jauh. Begitu ia turun, orang itu juga mengikuti Rey dari belakang dengan tetap menjaga jarak.
"Lex, sendirian aja. Mau kemana?" tanya seorang cewek yang menaiki anak tangga. Pertanyaan itu sepertinya ditujukan pada orang yang di belakang Rey. Untuk itu Rey tetap meneruskan langkahnya tanpa menengok ke belakang.
"Parkiran," jawab pria itu singkat.
"Tumben lewat sini, biasanya juga kamu markir kendaraan di BEM?"
"Eh....anu....aku ada ketemu sama anak Industri di bawah," jawabnya gugup. Ia melupakan sesuatu jika selama ini penghuni kampus sudah hafal jika ia selalu parkir di BEM, tempat dimana ia menghabiskan waktunya di luar jam kuliah.
"Udah, dulu ya. Aku buru-buru nih, nanti kita ngobrol di markas aja," pria itu buru-buru menghentikan pembicaraan ketika sang cewek terlihat ingin ngobrol dengannya.
"Ok, jangan lupa sore ada rapat," teriak cewek itu mengingatkan.
"Siap,"
Pria itu seperti kehilangan jejak, setelah beberapa saat menyapu pandangan, ia melihat orang yang sedang diikutinya itu menuju ke arah parkir mobil.
"Syukurlah, aku tidak kehilangan jejaknya. Ternyata dia masih ada di parkiran," pria itu bicara pada dirinya sendiri. Ia cukup lega mendapati apa yang di cari masih ada di sekitar tempatnya berdiri.
Lama pria itu berdiri di sisi pintu, untuk menghilangkan kecurigaan orang bahwa ia sedang mengamati sesuatu, pria itu pura-pura mengetik di ponsel yang ada di tangannya dan sesekali melakukan panggilan telpon.
Sementara itu, Rey yang sudah ada diparkiran membuka kap mobilnya dan mengambil dua baju yang akan di bawanya ke Pak Gun. Dosennya itu sudah menunggu di ruangan. Rey segera menuju gedung C dimana ruang Pak Gun dan dosen akuntansi lainnya berkantor.
Rey dengan menenteng sample pakaian dan masih dengan tas ransel yang bergantung di pundaknya kembali menelusuri koridor menuju lift yang ada di gedung C. Langkahnya terburu-buru hingga ia tidak sadar jika ada pria yang terus mengikuti dengan jarak yang teramat dekat dengannya.
"Lex, mau kemana?" terdengar suara pria yang menegur seseorang yang berjalan di belakang Rey.
"Ketemu PA," jawab pria itu singkat.
__ADS_1
"Konsultasi?"
"Ga, cuma mau tanda tangan pengajuan judul?" jawabnya singkat. Tentu saja ia terpaksa berbohong karena hingga saat ini ia belum ada niat untuk memukai skripsinya, jadi akal-akalan saja jika mau konsultasi.
"Oh, udah mulai nyusun"
"Nyoba-nyoba aja. Mumpung lagi mood,"
"Oh, sukses ya. Aku ke sini dulu. Mau ke kantin. Laper,"
"Ok,"
Rey bisa mendengar pembicaraan mereka namun ia tidak ingin mengetahui keberadaan orang yang sejak tadi di sapa "Lex" itu. Entah suatu kebetulan atau kesengajaan, yang pasti Rey bisa mengingat bahwa nama itu juga di sebut seseorang ketika ia menuruni anak tangga beberapa waktu yang lalu.
Tiba di depan lift, kebetulan pintu langsung terbuka. Beberapa mahasiswa keluar dan Rey langsung menerobos masuk. Meskipun tujuannya akan turun namun tak apa, daripada harus menunggu lebih lama lagi.
Ketika pintu akan tertutup, seorang pria ikut masuk. Rey menggeser posisinya karena kapasitas lift hanya untuk 6-7 orang sedangkan yang ada di dalam ada 5 orang. Rey mengambil posisi yang paling pojok karena ia akan menuju lantai yang paling atas.
"Hey, " tegur seseorang sembari menepuk bahu Rey.
Rey tersenyum, rupanya pria yang baru masuk tadi adalah orang yang duduk di sampingnya ketika ujian kewiraan
"Ruang Pak Gun?"
"Oh, saya juga mau ke lantai 7. Mau nemuin PA," pria itu memberi tahu tujuannya.
"Kak, nanti sore ada rapat ya?" tanya mahasiswa yang sebelum sudah ada di lift pada pria yang baru saja masuk.
"Iya, sore. Usai sholat kita mulai, ya" sahut pria itu.
"Iya, saya ijin agak telat kalau begitu. Ada kuliah jam 2,"
"It ok, santai aja," pria itu menimpali.
"Kita duluan ya?" Cewek itu pamit pada lawan bicaranya, diikuti keempat teman yang lainnya. Kini hanya Rey dan pria itu yang tertinggal di lift.
"Mau konsultasi," tanya pria itu lagi pada Rey.
"Enggak, ada urusan bisnis kecil-kecilan," jawab Rey sembari mengangkat sampel pakaian yang di jinjingnya pada pria itu.
__ADS_1
"Oh, buka usaha konveksi," tanya pria itu sembari mengamati barang yang ada di tangan Rey.
"Iya, kecil-kecilan,"
"Baju safety, ya?
"Iya,"
"Oh, boleh juga. Bisa minta no telponnya," ujar pria itu lagi. Meskipun ia belum yakin akan menggunakan no hp itu untuk kepentingan bisnis, yang penting ia bisa mendapatkan nomer hp cewek yang sejak tadi diikutinya.
"Sini," ujar Rey
"Apa?"
"Hp-mu"
"Oh, iya. Pria itu mengambil hp dari saku kemejanya dan menyerahkannya pada Rey. Rey mengetik deretan angka pada daftar kontak lalu menyimpannya dan menyerahkan kembali hp itu pada pemiliknya.
"Reyna," pria itu mengeja nama yang ditulis Rey pada daftar kontaknya.
Rey tersenyum dan hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama dari itu, pintu lif terbuka. Mereka sudah sampai ke tujuan.
"Oh, ya. Alex. Alex Mahardika. Maaf aku lupa memperkenalkan diri," pria itu mengulurkan tangannya ke arah Rey sebelum mereka berpisah.
Rey tersenyum dan menyambut uluran tangan pria itu.
"Reyna Anggra. Cukup panggil aku Rey saja,"
"Ok, senang bertemu denganmu. Sukses ya," pria itu tampak senang karena sambutan Rey yang begitu ramah.
Sebelum berpisah, keduanya sempat melemparkan senyum dan melambaikan tangan. Rey berjalan ke arah kiri sementara pria itu sebaiknya.
Happy reading all, tetep saja Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan Hb
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
__ADS_1
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊