Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 22 Orderan Fiktif


__ADS_3

Masih dibuat bingung oleh toko online yang diisengi orang, Rey juga dibuat repot oleh Fauzan yang sudah berkali-kali menghubunginya.


Pesanan yang di kirim ke salah satu pusat grosir terbesar di Jakarta itu belum juga sampai ke alamatnya.


"Maaf, Kak ganggu lagi. Ini aku sudah muter tiga kali di TKP, nama dan nomer kios yang tercantum dalam alamat tidak ditemui. Nomer kios di lantai 7 ini hanya sampai 120, mbak. Ga ada nomer 407," keluh Fauzan.


"Kamu sudah cek di los lainnya, barang kali orang itu salah tulis,"


"Los A dan B sudah justru nomer di sana lebih keci. Saya coba hubungi nomer telpon pemesan kok ga aktif,"


"Sebentar, Kakak coba hubungi dia lagi. Tunggu, ya," Rey meminta agar Fauzan bersabar. Ia akan menghubungi nomer yang dimaksud untuk konfirmasi alamatnya lagi.


Benar kata Fauzan, nomer itu tidak bisa di hubungi. Beberapa kali Rey melakukan panggilan, selalu nada sibuk yang di dengar.


"Kenapa, ya? Tadi pagi dia sudah telpon untuk memastikan bahwa barang dikirim hari ini. Bahkan ia minta secepatnya karena ada pelanggan yang sudah bikin janji akan mengambil barang jam sepuluh ini," pikir Rey dengan keras.


Rey terlihat mondar-mandir di ruang tamu dan terlihat sedang berusaha menghubungi seseorang melalui panggilan telpon.


Tidak putus asa, Rey kembali membuka pesan orang itu, membaca dengan teliti saat ia melakukan pemesanan. Begitu juga nomer telpon yang diberikan.


"Ada apa?" tanya Wibie yang tiba-tiba muncul dihadapannya sambil menggendong Nathan.


"Fauzan lagi anter barang namun alamat pemesan ga ditemukan. Ditelpon juga ga bisa. Aku coba hubungi dari HP ku juga belum ada hasil. Nada sibuk terus,"


"Kapan terakhir komunikasi sama dia,"


"Tadi pagi. Ia mau mastiin kalau barang sudah siap kirim dan mereka terima hari ini,"


"Sudah pernah order sebelumnya?"


"Belum?"


"Dia pesan lewat apa,"


"Jual Beli Laris,"


"Coba di cek lagi akunnya. Apa dia termasuk bagian dari yang sudah bikin testimoni palsu?"


Rey mengikuti saran suaminya. Ia buka tokonya yang ada di Jual Beli Laris kemudian mengecek bagian pemesanan.


"Bukan kok, aku cek dia belum berkomentar apapun di akun olnineku,"


"Oh,kalau ngecek akun itu sudah berapa kali transaksi di Jual Beli Laris bisa, ga?" tanya Wibie lagi.

__ADS_1


"Tar aku coba,"


Rey kembali mengutak atik hp dan mukanya terlihat putus asa.


"Tidak bisa, Mas. Cuma bisa liat aktifitas dia di toko kita. Kalau di PelangganKu bisa, sistemnya lebih canggih. Komentar dan riwayat belanja setiap akun bisa di buka oleh semua orang yang sudah download aplikasi itu,"


"Cerdas juga tuh, orang,"


"Maksudnya?" tanya Rey penasaran. Ia tidak faham dengan arah pembicaraan suaminya.


"Dia tau kalau aplikasi itu sangat melindungi akun penggunaannya, jadi dia order pakai yang ini. Aku curiga ini bagian dari kerjaan orang iseng itu,"


"Jadi?" teriak Rey histeris.


"Bisa jadi dia cuma isengin kamu. Orderan Fiktif,"


"Ya Allah. Siapa sih? Kok idupnya cuma buat nyusahin orang aja," keluh Rey begitu kesal.


"Suruh Fauzan nunggu barang 20 menit lagi, sembari menunggu jangan lupa untuk mencoba nelpon dia lagi. Kalau tidak terhubung juga, pulang aja,"Wibie memberi saran.


"Oh, ya. Jangan lupa Fauzan suruh ambil foto dia dan barang yang di pesan di TKP, buat bukti jika kita memang sudah benar-benar sudah sampai lokasi. Siapa tau memang order beneran dan tidak bisa dihubungi karena gangguan. Fotonya pake camera timestamp free biar lebih akurat,"


"Ita, Mas. Aku hubungi Fauzan dulu,"


Setelah 20 menit menunggu, ia juga sudah berkali-kali menghubunginya nomer ponselnya namun tidak bisa terhubung dan sudah ada perintah dari bosnya agar pulang lagi membawa 100pcs baju yang sudah di packing, Fauzan pulang. Dengan bersusah payah ia menggotong paket di tengah kerumunan pengunjung yang sudah mulai padat.


Sebelum ia meninggalkan parkiran, ia juga masih berusaha menghubungi pemesanan barang yang dimaksud. Hasilnya nihil. Orang itu tetap saja tidak bisa dihubungi.


Ia melapor pada Rey jika ia sudah dalam perjalanan kembali. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 berarti sudah tiga jam ia melakukan perkejaan yang tidak ada hasilnya ini.


Baru juga setengah perjalanan menuju ke Glodok, Fauzan mendapatkan panggilan telpon dari Rey


"Iya, Kak," sahutnya sambil tetap mengendalikan kemudi mobil box yang dibawanya.


"Kamu sudah sampai mana?"


"Menuju Glodok. Anter pesenan Toko Anugrah. Ada apa, Kak?"


"Pemesan yang tadi barusan menghubungi, kenapa barangnya belum sampai. Kakak sudah ceritakan semuanya dan kirim foto kamu ke lokasi melalui pesan WA. Dia bilang sudah bener di los itu, posisinya yang paling ujung, toilet,"


Fauzan berpikir sejenak sebelum ia bicara lagi pada Rey.


"Tadi aku sudah bertanya ke beberapa orang di sana, juga petugas keamanan di los itu. Tidak ada satupun dari mereka yang tau toko itu dan nomernya juga tidak ada di lantai itu,"

__ADS_1


"Toko Anugrah minta dianter jam berapa?" tanya Rey lagi.


"Dia sih ga bilang harus jam berapa, cuma kalau hari sabtu tutup setengah hari,"


"Berarti kalau balik lagi ga sempet ya?"


"Iya kak,"


Cukup lama Rey diam. Dia bingung bagaimana solusinya. Jika ia mendahulukan pemesan misterius ini dengan pertimbangan untuk menjaga kepercayaan calon konsumen baru namun bisa mengabaikan toko kepercayaan Anugrah yang sudah lama menjadi langganan mereka.


"Kak," panggil Fauzan lagi karena cukup lama ia menunggu keputusan dari Rey sedangkan mobil yang di belakangnya cukup berisik karena ia mengemudikan kendaraannya cukup pelan.


Fausan akhirnya ambil jalur pelan dan menghentikan mobilnya di sisi jalan yang cukup legang. Ia terpaksa harus menunggu instruksi selanjutnya. Balik lagi atau melanjutkan perjalanan.


"Ya, Kak," sahut Fauzan ketika Rey mulai bicara lagi.


"Kita balik lagi, kakak sudah menghubungi toko anugrah dan dia ga keberatan jika agak terlambat sedikit. Sayang! Ini pelanggan baru, jangan sampai dia kecewa,"


"Oke, saya balik lagi ya. Mudah-mudahan kali ini ada hasil.


"Maaf, ya. Kamu jadi repot,"


"Ga apa Kak, susah jadi tugas saya,"


"Terimakasih, Fauzan. Semangat!"


"Semangat!" Teriak Fauzan tak kalah semangatnya. Ia putar balik mobilnya dan kembali lagi ke tempat sebelumnya.


Setengah jam kemudian, Fauzan memberi kabar pada Rey jika ia sudah di los itu kembali dan tidak ada toko itu di pojokan deket toilet. Ia juga sudah berkali-kali telpon, nomernya tidak aktif.


Rey menerima kabar itu dengan pasrah sekaligus sedih, saat Fauzan sudah di TKP nomer itu kembali sibuk. Tidak bisa dihubungi.


Akhirnya ia minta Fauzan meninggalkan tempat itu dan langsung ke Glodok.


"Sepertinya Mas Wibie benar, ini adalah orderan Fiktif," keluhnya putus asa.


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏

__ADS_1


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊


__ADS_2