
"Drettt.. ...Drettt..." Hp Wibie yang ada di atas meja bergetar disertai bunyi panggilan yang begitu pelan. Diraihnya HP itu dengan malas. Pandangannya tetap tertuju pada layar kaca yang ada di depannya.
Jam dinding menunjuk ke angka 9.00. Semua penghuni rumah sedang berkumpul di ruang keluarga, mereka sedang nobar film Train to Busan yang lagi tegang-tegangnya.
Ibu Guru memanggil. Wibie bimbang antara mengangkat atau tidak.
"Kenapa dia menelpon jam segini?"
Ia memandang sesaat, kemudian meletakkan kembali HP itu di atas meja dan membiarkan hingga suara itu menghilang sendiri.
**Ilustrasi Tokoh Dhiza**
Masih dalam posisinya yang berbaring di sofa, pandangan kembali ke layar TV. Bu Fat juga ikut menyaksikan film yang lagi viral di sosmed, perempuan itu duduk di karpet ala-ala timur tengah yang terbentang di depan layar kaca.
Termasuk Rey dan Devara. Meskipun takut menghantuinya tatkala monster-monster itu menyerang sang jagoan, namun Devara masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Alhasil mukanya kerap ia sembunyikan di bawah lengan Rey.
Akhir-akhir ini, anak itu terlihat begitu akrab dengan Rey. Sejak tadi ia nempel saja dengan kakaknya itu. Terbaring di karpet dan menjadikan paha Rey sebagai alas kepalanya.
Wibie tersenyum, ia begitu bahagia mendapati anak kesayangannya itu kini sudah menunjukkan kedekatan dengan Rey.
"Sebuah awal yang baik," bisiknya dalam hati. Senyum terus mengembang di bibirnya.
"Drettt........Dretttt...."
Hp itu kembali bergetar. Karena getarannya cukup keras, semua yang ada di depan tv merasa terganggu dan mengalihkan pandangannya ke sumber bunyi, Wibie menjadi terusik.
Kali ini Wibie mengangkat panggilan itu dan menjawab suara dari seberang dengan nada yang begitu pelan.
__ADS_1
"Bie....! Ini aku, Dhiza!"
Tanpa salam perempuan itu langsung meneriakkan namanya. Hening.... Tidak ada suara lagi, mungkin ia menunggu reaksi dari Wibie.
"Iya. Aku bisa mengenali dari nomermu," sahut Wibie. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab karena tidak ada suara apapun dari seberang sementara sambungan telpon itu masih terhubung.
"Aku mengganggumu, ya?" tanyanya dengan begitu hati-hati
"Tidak. Aku lagi nonton film nih. Ngumpul sama keluarga," jelas Wibie lagi.
"Oh....maaf, aku mau ngomong sama Kinan dong. Please! Aku kangen banget sama dia," pinta Dhiza dengan nada memelas.
Mendengar nama itu, Wibie terdiam. ingatannya langsung terlempar pada peristiwa lima tahun silam. Saat perempuan itu, Kinan dan dirinya adalah tiga sahabat yang begitu akrab hingga tejadi Miss komunikasi dan akhirnya mereka hilang kontak.
"Bie?" panggil wanita itu lagi. Kali ini dengan suara yang berbeda. Sepertinya ia begitu ingin tau apa yang terjadi.
"Sebentar ya," Wibie memberi kode ke seberang bahwa ia butuh privacy.
Wibie beranjak dari tempat dimana ia merebahkan tubuhnya dan meninggalkan ruang itu. Ia menaiki anak tangga, menuju ke kamarnya.
"Mengapa? Ada apa?" tanya perempuan di seberang makin penasaran. Setelah cukup lama kehilangan kontak, Dhiza pikir segala permasalahannya dan Kinan selesai. Mereka berhasil mewujudkan impiannya bersama.
Wibie menarik nafas. Suaranya terdengar hingga ke sebrang. Kini nada bicaranya sudah mulai berat.
"Kami sudah tidak bersama lagi," suara itu begitu berat, nyaris bergetar.
"Maaf, Bie. Aku tidak tau tentang itu. Maaf, ya!" perempuan itu berulang-ulang meminta maaf karena sudah mengingatkan sesuatu yang melukai Wibie
"Iya. Kau sudah terlanjur mengingat kan tentang itu. Tak apa. Mungkin sudah waktunya kau mengetahui semua yang terjadi," lanjut Wibie. Kini suaranya sudah terdengar mulai tenang
Wibie menceritakan semua yang ia alami dalam membina rumah tangga dengan Kinan. Dhiza memang sudah tidak pernah menghubunginya lagi ketika mereka berdua memutuskan untuk menikah. Ia menghilang setelah hadir di resepsi pernikahan mereka.
****
__ADS_1
Wibie dan Dhiza sudah berteman sejak kecil. Karena orang tuanya memutuskan untuk bercerai, Dhiza diasuh oleh neneknya yang tinggal di sebelah rumah Wibie. Mulai dari sekolah dasar hingga SMA mereka selalu satu sekolah. Berangkat dan pulang sekolah selalu bersama. Mereka sudah layaknya saudara.
Kadangkala, seharian penuh Dhiza berada di rumah Wibie. Ia juga cukup dekat dengan adik perempuan Wibie satu-satunya, yang hanya terpaut usia 2 tahun dengannya. Jika sudah mengurung diri di kamar, mereka berdua tidak mau diganggu siapapun. Hanya suara tertawa mereka yang lepas terdengar seisi rumah.
Begitu kuliah mereka memilih universitas yang berbeda. Dhiza memilih jurusan pendidikan di salah satu universitas negeri di Jakarta sedangkan Wibie mengambil tehnik pertambangan di Yogyakarta. Meskipun begitu, keduanya masih intens berkomunikasi. Bahkan jika libur kuliah, Wibie juga masih kerap menghabiskan waktu bersama Dhiza dan adiknya. Mereka ngemall, nonton, bahkan merencanakan liburan bertiga. Tidak heran jika semua teman Dhiza kenal siapa Wibie, begitu juga sebaliknya.
Di kampusnya, Wibie cukup dekat dengan Kinan. Teman satu jurusan di tehnik pertambangan. Kinan gadis yang cerdas dan tekun belajar. Ia selalu ingin selalu unggul dibanding teman-teman lainnya. Setiap semester, ia selalu mendapatkan IPK tertinggi.
Tidak ada yang mampu mengalahkan kemampuan akademis gadis itu. Kinan gadis yang cantik, cerdas, dan tegas dalam bersikap. Ia dikenal sebagai kembang kampus, khususnya fakultas teknik pertambangan.
Karena mereka sering belajar bersama, tumbuh rasa saling membutuhkan diantara keduanya. Dhiza mengetahui semua itu karena Wibie selalu curhat pada sahabatnya itu. Wibie suka minta pendapat pada Dhiza jika ada sikap atau perilaku Kinan yang susah untuk ia mengerti. Terutama utusan hati. Bahkan Kinan dan Dhiza kerap terlibat obrolan via WA atau saling berbalas komentar di sosmed. Bisa dibilang Dhiza dan Kinan sahabat sejati di dunia maya.
"Maaf, Bie. Aku sudah membuat luka itu menganga lagi," Dhiza merasa menyesal sudah memulai pembicaraan itu. Nada suaranya begitu prihatin atas apa yang dialami sahabatnya itu.
"Never mine," sahut Wibie pelan.
"Kenapa engkau menghilang setelah hari itu? Semua sosmed dan kontakmu tak ada yang bisa kunjungi. Bahkan nenekmu juga tidak mengetahui nomer kontakmu yang baru?" Tanya Wibie. Ia menghujani perempuan itu dengan sejuta pertanyaan.
Tak ada jawaban. Wibie dengan sabar menunggu penjelasan dari seberang, namun perempuan itu tak kunjung memberi alasan.
"Sudah malam, Bie. Tiba-tiba aku ngantuk. Kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi, kan?"
Dhiza tidak menjawab pertanyaan Wibie, ia justru memberi alasan yang lain.
"Ok. Kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau . Aku kan tidak pernah memutuskan silaturahmi denganmu" sindir Wibie dengan halus.
Dhiza hanya menghela napas. Suaranya terdengar jelas oleh Wibie. Ia mematikan sambungan telponnya setelah mengucapkan salam.
**Ilustrasi Tokoh Kinan**
__ADS_1