Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Mas Kawin


__ADS_3

Rey langsung nemplok di jok belakang ketika sudah sampai diparkirkan dan mendapatkan orang yang sejak tadi sudah menunggunya dengan sabar.


"Maaf ya, dosennya keluarnya agak lama. Sepertinya selain on time dia juga bertanggung jawab pada tugasnya," jelas Rey karena ia merasa tidak enak membiarkan Wibie sendirian di gigit nyamuk karena menunggunya.


"It ok, kita langsung aja ya. Terlalu lama ninggalin Ayah sama ibu juga ga enak," sahut Wibie. Setelah itu ia langsung menyalakan gas motornya dan meninggalkan kampus. Menebus jalanan yang masih padat oleh pengendara.


"Iya. Tokonya jauh ga dari sini?" tanya Rey


"Ga, Kita cari yang terdekat aja. Di sebrang jalan Sono ada toko mas yang gede kok. Pasti banyak pilihan di sana?" Ujar Wibie menjelaskan.


"Aku mah ikut aja," sahut Rey.


"Ayah sama ibu sudah makan belum, Pak?" tanya Rey dengan serius.


"Sudah, kita makan bareng tadi. Mereka suka dengan menu yang disajikan Bu Fat,"


"Syukurlah kalo begitu," Rey menghela nafas lega.


"Kenapa, kok narik nafas begitu?" tanya Wibie penasaran.


"Tadi ibu sempat marah sama aku, dia protes karena aku tidak mengindahkan tradisi pingitan layaknya orang yang akan menikah,"


"Oh, ibu juga bilang begitu padaku saat aku pamit mau menjeputmu," kata Wibie.


"Ibu marah, ga?" Tiba-tiba Rey jadi begitu takut. Ia khawatir jika ibunya akan memperlakukan Wibie seperti dirinya.


"Enggak, ibu cuma mengingat doang kok," sahut Wibie. Ia terpaksa berbohong karena ia tidak mau Rey tahu kalau ibunya itu cukup membuat jantungnya nyaris copot.


Rey mendapati Wibie yang terus memandangnya dari spion motor. Ia menjadi agak grogi dilihat seperti itu. Tak ayal lagi, tangannya langsung mencubit pinggang Wibie.


"Aduh," teriak Wibie kaget.


"Liat jalanan, fokus berkendara," ujar Rey sewot untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Lah, emang kenapa? Dari tadi juga fokus, kok," sahut Wibie pura-pura tidak mengerti dengan maksud perkataan Rey.


Rey mencubitnya lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Kontan saja membut Wibie jadi menggeliatkan tubuhnya untuk menghindari serangan itu.


"Iya...iya. Aku cuma mau mastiin kamu sudah pake helm dengan benar," teriak Wibie


"Alasan," cibir Rey.


"Abis aku kangen. Belum sempet ngobrol, udah berangkat kuliah aja," ujar Wibie beralasan.


Rey hanya tersenyum. Ia merasa bahagia sekali mendapati Wibie yang bertingkah seperti itu.


****


[ Di toko ]


Rey melihat begitu banyak perhiasan yang di gelar dalam beberapa etalase kaca. Mulai dari cincin, gelang, kalung, anting, liontin dan mas batangan. Dari model untuk bayi hingga dewasa. Begitu banyak variasi, motifnya juga beraneka rupa.


Memang baru kali ini Rey melihat langsung toko yang menjual perhiasan. Kemari saat membeli pelangkah untuk kak Nay terpaksa harus nitip Bu Fat karena mendadak ada costumer yang akan mengambil barang.


"Saya mau cari cincin kawin, mbak," kata Wibie ketika pegawai toko itu datang menghampiri mereka dan tersenyum ramah.

__ADS_1


"Oh, mari pak. Tempatnya ada di sini," wanita itu bergeser dari tempat ia berdiri menuju satu rak yang berisi cincin.


"Pilihlah, mana yang kau suka," ujar Wibie pada Rey.


Rey mengamati isi etalase itu dan menunjuk cincin cuple yang sederhana namun terlihat mewah karena untuk cincin wanitanya ada berlian yang menyala terang.


"Coba yang ini,"


Tak lama pelayan itu mengambilkan barang seperti yang ditunjuk oleh Rey. Rey memasang cincin itu pada jari manisnya, begitu juga pada Wibie.


"Sepertinya longgar," ujar Rey begitu cincin itu terpasang di harinya namun terlalu besar ukurannya.


"Coba saya lihat lingkar berapa," kata pelayan itu lagi.


"17, coba saya cari ukuran dibawah ya, mbak?"


"17 itu berapa berapa, ya?," tanya Rey penasaran.


"Size 17 itu ukuran 18,1 mbak. Kita pake ukuran Hong Kong. Ukuran umum untuk orang Indonesia," jelasnya.


"Kalau untuk bapaknya gimana?" tanya pelayan itu lagi.


"Pas. Yang ini aja kalau ada ukuran untuk ceweknya," ucap Wibie sembari memamerkan tangannya yang mengenakan cincin itu pada Rey dan pelayan toko.


" Ok, tunggu sebentar ya. Saya cari dulu,"


Perempuan yang berusia sekitar 27 tahun itu mempersilahkan Rey dan Wibie duduk dan memberikan air mineral untuk mereka berdua.


"Silahkan, sembari menunggu,"


"Wah, dari sekian yang terpajang disini rupanya mereka juga masih punya stok di ruang yang lain. Ck..ck...ck.." bisik Rey begitu kagum.


"Rey, kau belum minta mas kawin, loh. Kamu maunya apa?" tanya Wibie. Rey yang sejak tadi mengamati seisi toko itu dengan mimik kekagumannya.


"Terserah saja," Rey menjawab sambil mengangkat kedua bahunya.


"Ga bisa begitu. Mas kawin itu permintaan mempelai pada calon suaminya," sela Wibie


"Ditanyanya dadakan, aku juga bingung," Rey membela diri.


"Maaf, semua serba terburu-buru. Aku hampir tidak punya waktu untuk mempersiapkan semuanya,"


Wibie mengelus pundak Rey. Ia begitu faham atas perasaan calon istrinya ini


"Tidak. Bukan begitu maksudku. Aku ga masalah kok dengan keputusan kita yang menikah dadakan. Aku cuma bingung aja mau minta apa" buru-buru Rey mengoreksi ucapan sebelumnya.


"Sekalian saja pilih disini?" Wibie mencoba menawarkan solusi.


"Aku ga suka pake perhiasan,"


"Tapi cincin yang sudah terpasang jangan pernah dilepas ya," pinta Wibie


"Iya, yang itu beda. Aku akan memakainya setiap saat. Karena ada kekuatanmu yang mengalir melalui jari-jariku," jawab Rey sambil menahan tawa.


"Gombal," sahut Wibie. Ia merasa kalau Rey saat itu sedang menggodanya.

__ADS_1


"Jika tidak mau perhiasan, kau bisa pilih logam mulia kok," ujar Wibie lagi. Kali ini dengan nada serius.


"Boleh, daripada kita harus mencarinya ke tempat lain. Kan semakin lama kita meninggalkan Ayah dan ibu," Rey berasalan.


"Jangan merasa terpaksa gitu, dong. Tapi kamu suka kan kalo aku kasih mas kawin mas Wibie yang mulia," balas Wibie menggoda Rey.


Rey tersenyum malu. Gombalan dibayar kontan oleh Wibie saat itu juga


"Mas murni nomer dua, yang utama mah mas yang berlesung pipi," Rey berseloroh


"Hadew, aku ***** juga nih," Seketika itu juga Wibie mendekatkan kepalanya ke arah Rey.


Rey dengan tangkasnya menghindar, ia sudah memprediksi reaksi yang akan terjadi atas candaannya itu.


"Eh,ada ga ukurannya?" tanya Rey ketika melihat pelayanan tadi sudah ada di anak tangga terakhir.


Perempuan yang masih bermake-up tebal pada jam segini, memberikan senyum termanisnya pada Rey.


"Ada, rezekinya memang bagus. Satu model kita cuma bikin 2 pcs. Kebetulan ini baru kelar dibuat sore tadi. Jadi barangnya masih ada,"


"Ah, si mbak bisaan aja. Kalau saya pilih yang model lain pasti ngomong begitu lagi," canda Rey.


"Beneran kok," jawab pelayan itu singkat dengan nada serius.


Pelayan toko itu menyerahkan cincin yang baru saja ia tukar , ternyata cincin itu pas di jari kanan Rey.


"Mbak, ada paket mas kawin mas murni?" ada Pak.


"Kami menyediakan kemasan mulai dari 5 gram hingga 100gram. Jika diatas 20gram biasa kemasannya gratis" ujar pelayan itu menjelaskan.


"Saya minta yang 100 gram,"


"Ada pak, ini contohnya. Kalau yang 100 gram saya ambil dulu ke atas,"


Setelah mengambil contoh kontak perhiasan yang telah dikemas sedemikian rupa menjadi bingkisan mas kawin, perempuan itu mohon diri untuk mengambil barang yang di maksud.


"Sebentar ya, Pak. Saya naik dulu ke atas,"


Tampa menunggu jawaban dari sepasang calon pengantin yang sedang mengamati kotak perhiasan, pelayan itu segera melangkah menuju tangga.


"Yang ini juga ga apa, 25 cukup,"


"Udah, 25 mintanya, 75 bonos dari aku," Jawab Wibie.


 


***Ilustrasi Mas Kawin Logam Mulia Untuk Rey***


 



Akhirnya mereka memutuskan mas murni 100 gram sebagai mas kawin yang diberikan Wibie pada Rey. Setelah menyelesaikan transaksinya cincin kawin berikut mas kawinnya, mereka segera pulang. Rey begitu khawatir dengan perasaan ibunya.


Takut jika ibunya beranggapan dia dan calon suaminya ini mengacuhkan keluarganya yang jauh-jauh datang dari Lahat hanya untuk menikahkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2