Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Menjemput Devara


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, Rey mulai beraktivitas sebagai asisten Pak Wibie. Mulai dari memantau hasil kerja para penjahit dan jumlah produksi setiap harinya hingga menangani administrasi dan keuangan.


Jam kerjanya lebih banyak di toko karena semua konsumen mengambil barang di sana. Namun, setiap harinya juga harus menyempatkan diri ke pabrik yang letaknya sekitar 500 meter dari rumah Pak Wibie. Jam kerjanya sesuai dengan karyawan pada umumnya, mulai pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore.


Usai kerja, Rey lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di kamar. Tidak berasa, sudah hampir dua bulan ia menjadi bagian dari penghuni rumah pak Wibie. Selama di sini, Rey belum pernah melihat wanita yang diperkenalkan sebagai istrinya.


Jika Pak Wibie tidak di tempat, rumah itu hanya dihuni oleh Bu Fat, asisten rumah tangga mereka. Sesekali Rey menghampiri wanita separuh baya itu jika ia merasa butuh teman untuk bicara. Sebaliknya, wanita itu juga sering menemani Rey di toko jika merasa jenuh sendirian di rumah yang besar itu.


Jika pak Wibie sedang off, situasinya menjadi berbeda. Devara yang sehari-harinya tinggal bersama Omanya akan datang dan menginap di rumah ini. Ia datang diantar oleh ibunya Pak Wibie dan akan dijemput jika Pak Wibie akan kembali lagi ke Sumatra. Dari hasil pengamatan Rey, siklus kerja pak Wibie dua minggu on dan satu minggu off.


Rey sudah mempunyai uang yang lebih dari cukup untuk biaya hidup di Jakarta. Makan, minum dan tempat tinggal serba gratis. Hidupnya sudah mulai enak. Keadaan ini membuat Rey jadi ingat akan sesuatu.


Tujuan utamanya ketika ia kabur dari rumah. Meninggalkan keluarga juga kekasih pilihan ibunya. Keinginannha untuk melanjutkan kuliah tiba-tiba muncul kembali.


"Besok aku akan membicarakan nya pada Pak Wibie. Semoga ia mengizinkan ku untuk bekerja sambil kuliah," bisik Rey dalam hati. Ia begitu berharap Wibie menyetujuinya.


Meskipun ia juga sedikit ragu karena terlalu sering terhadap pria beranak satu itu tapi Rey yakin, Pak Wibie akan meluruskan keinginannya yang satu ini.


******


Jika libur, Rey sedikit malas beranjak dari kamarnya. Seperti hari ini, dia menghabiskan waktu dengan menyaksikan tayangan berita pagi dari atas tempat tidurnya. Rey tahu jika minggu ini Pak Wibie off namun ia tidak tahu jika orang yang ditunggu-tunggunya itu sudah ada di rumah.


"Temani aku sarapan,"


satu chat masuk dari Pak Wibie. Rey tidak pernah menghubunginya, jika bukan dia yang memulai.


Rey tidak menjawab ajakan itu. Justru Rey balik bertanya, ada dimana dia sekarang?

__ADS_1


"Aku sudah ada di rumah. Aku tunggu di meja makan, ya!" perintahnya


Rey bangkit dari tempat tidurnya sembari merapikan pakaiannya. Kemudian ia segera turun ke bawah. Memenuhi ajakan pak Wibie yang ingin menikmati sarapan dengannya.


Benar saja, begitu Rey masuk rumah itu, ia melihat pak Wibie sudah menunggunya. Di meja itu sudah tersaji sarapan dan secangkir minuman hangat untuknya. Rey tidak melihat Bu Fat. Mungkin wanita itu sedang berbelanja ke pasar.


"Duduklah. Ayo kita sarapan dulu," ajak pak Wibie begitu Rey sudah ada di ruang makan.


Rey duduk di bangku yang paling dekat dengannya. Di depan pak Wibie.


Nasi goreng dan telor ceplok, menu yang disiapkan Bu Fat untuk sarapan pagi ini. Rey segera mengambil piring yang sudah ada di meja itu dan mengambil dua centong nasi beserta satu telor ceplok kemudian menyodorkannya pada pak Wibie. Pria itu menerima dengan senyum yang mengembang dan ucapan terimakasih. Rey juga mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


"Hari ini kita akan ke rumah mama. Menjemput Devara kemudian temani aku membeli keperluan sekolahnya. Kau tidak ada rencana mau pergi, kan" Entah itu sebuah permintaan atau perintah, namun nada suaranya yang begitu datar.


Rey tidak menjawab, karena ia masih menunggu pria itu melanjutkan kata-katanya yang terpotong. Suapan pertama masuk ke mulutnya dan ia mengunyahnya dengan pelan.


"Devara tahun ini mau masuk Play grup, dia sudah sangat ingin sekolah," lanjutnya lagi.


"Baik,Pak," jawab Rey dengan singkat.


Meskipun sudah lama bekerja dengan pak Wibie, komunikasi mereka hanya sebatas pekerjaan. Laporan yang Rey kirim setiap hari melalui pesan WA hanya dibaca oleh Pak Wibie, jarang ia tanggapi.


Pada saat bertemu langsung, pak Wibie lebih banyak bercerita tentang suatu hal, kecuali yang satu itu. Misteri siapa nama Devara atau istri Pak Wibie. Belum ada yang memberi informasi pada Rey. Rey juga tidak ingin mencari informasi tentang itu.


"Berangkat jam berapa, Pak?" Tanya Rey sebelum ia menyuap kembali makanan yang sudah ada di ujung bibirnya.


"Setelah ini," jawab pria itu singkat.

__ADS_1


Rey menyeringai. Ia baru sadar jika pak Wibie sudah rapi sepagi ini. Ia jadi malu sendiri dengan keadaannya yang masih mengenakan baju yang ia pakai untuk tidur semalam.


Agaknya Pak Wibie bisa menangkap apa yang ada dipikiran Rey. Seketika itu juga ia berujar, sembari melihat Rey dengan mimik yang faham akan keadaan gadis itu.


"Kau bisa mandi dulu. Ga usah buru-buru,"


"Iya, Pak," Sahut Rey sembari menganggukkan kepalanya pelan.


*********


Sejurus kemudian, Rey sudah muncul di hadapan Wibie dengan pakaian yang rapi. Wibie yang sejak tadi sudah siap, segera memasuki lexus hitamnya dan duduk di belakang kemudi. Tak lupa ia juga membuka pintu samping agar Rey duduk di sampingnya.


Mereka meninggalkan rumah itu diiringi senyum dan lambaian tangan Bu Fat.


"Pak, ada ga kuliah yang jadwalnya hanya hari Sabtu dan Minggu saja?" tanya Rey memberanikan diri ketika mobil yang mereka kendarai sudah melesat di jalan raya yang lumayan legang. Dalam hati Rey berharap, pak Wibie tidak tau jika ia mengajukan pertanyaan ini hanya basa-basi saja.


Rey bukan anak yang bodoh, ia tau pasti banyak yang kampus yang membuka perkuliahan di hari Sabtuabtu dan Minggu.


Wibie tidak segera menjawab, ia melirik gadis yang ada di sampingnya itu kemudian menyunggingkan senyum khasnya.


"Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?" sahutnya dan balik bertanya.


"Kau ini. Carilah pertanyaan yang sedikit smart. Aku yakin kau tidak benar-benar ingin bertanya akan hal itu, kan?" senyum meledeknya kembali mengembang.


"Iya, pak. He..he...," Rey begitu malu karena pikiran dapat dengan mudah terbaca oleh pak Wibie.


"Aku tau, keinginanmu untuk kuliah masih tetap menggebu. Untuk itu, aku sudah mencari beberapa referensi kampus untukmu,"

__ADS_1


Suatu tanggapan yang tak terduga itu membuat Rey hampir saja melompat dari tempat duduknya. Ia begitu senang, rupanya pak Wibie masih ingat betul apa yang menjadi tujuan hidupnya.


"Di jok belakang ada beberapa brosur kampus yang ada di wilayah Jakarta Timur. Ambillah, kau bisa memilih jurusan yang kau minati!"


__ADS_2