
[ Di Rumah Rey ]
Ibu tidak banyak cerita tentang kepergiannya ke Jakarta selama tiga hari, meskipun beberapa pelanggan dan tetangga dekat menanyakan hal itu padanya. Baik ketika berpapasan di muka umum maupun menyempatkan diri berkunjung ke rumah.
Begitulah kehidupan di kampung, apalagi keluarga Rey tinggal di pinggir jalan dan padat penduduk dan usaha laundry Ibu sudah punya banyak pelanggan. Otomatis mereka bertanya alasan menutup usahanya itu ketika ditinggal pergi.
Ternyata ibu punya cara tersendiri untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu dengan caranya yang khas. Tidak usah banyak kata, cukup dengan sedikit fakta namun bisa terima oleh logika.
Sore itu, datang kurir yang membawa bingkai dengan ukuran yang cukup besar. Tanpa menunggu lagi, ibu segera minta bantuan pria itu untuk memasangkan bingkai yang dipesannya tiga hari lalu. Ibu sudah menyiapkan paku dan palu yang dibutuhkan sejak pagi di atas meja tamu.
"Geser sedikit. Lebih ke kanan ya!" Ibu mengarahkan pegawai photografi toko Anugrah yang memasang wedding photo dalam ukuran 60 x 50 cm di dinding ruang tamu yang menghadap ke pintu masuk utama.
Pintu yang selalu terbuka dan setiap pelanggan yang datang pasti akan melintasi pintu itu. Ya, ruang laundry ibu ada di samping kanan bangunan rumah berbatasan langsung dengan teras.
Pria muda yang diminta bantuannya oleh ibu untuk memasangkan bingkai berwarna gold itu sedang memasang paku untuk menggantung bingkai yang baru saja di antarkan ke rumah ini.
Ibu minta bantuan dia karena tidak ada orang di rumah itu yang bisa dimintai tolong.
"Pas, di situ saja. Tolong pakunya yang kokoh ya!" Ibu mengingatkan pria itu lagi.
"Sudah Bu. Sudah kuat ini. Wah makin elegan setelah di pasang," pria itu berdecak kagum.
"Itu foto nikahan anak saya. Di Jakarta," ujar ibu begitu bangga.
"Hebat, kayaknya mantu ibu orang berduit nih?" selidik pria itu.
"Iyalah. Anak saya cantik, kuliahan lagi. Wajar kalo dapet suami orang kaya," sahut ibu dengan sedikit sombong.
"Iya bu. Beruntung sekali ya!"
Tak lama pria itu pamit, ibu memberikan uang tips karena sudah membantu memasangkan foto itu sekalian.
"Wah, banyak sekali Bu. Terimakasih ya. Duh mertuanya orang kaya loyal sekali," pria itu memuji ibu setelah menerima uang 50 ribu dari ibu.
__ADS_1
Ibu hanya tersenyum, ada aura bahagia sekaligus bangga terpancar dari wajahnya.
Ayah yang baru keluar dari kamar berdecak kagum melihat photo putriya yang terpampang di dinding ruang tamu mereka.
"Subhanallah, anak kita cantik banget ya, Bu,"
"Iya,"
"Nasibnya begitu mujur, dia bisa kuliah di kampus ternama dan punya suami yang mapan," kata Ayah lagi.
Ibu tidak menanggapi ucapan itu, ia hanya mengangkat kedua bahunya dan segera berlalu dari ruang itu. Meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung memandangi photo anaknya dan melanjutkan pekerjaannya di ruang loundry.
Perhitungan ibu sangat jitu. Tidak butuh waktu yang lama, pernikahan putrinya dengan pria kaya menjadi perbincangan di sekitar rumah dan juga pelanggan-pelanggannya.
"Kok nikahin anak diem-diem aja si, Bu?" tanya salah satu tetangga Bu Laura.
"Rey baru mulai kuliah, jadi cuma akad nikah dan selametan tetangga sekitar dulu. Pestanya nanti setelah libur akhir semester. Yang penting sah dulu, menghindari zina," jelas ibu.
"Subhanallah, Rey beruntung banget ya. Belum lama kuliah di Jakarta sudah ketemu jodoh yang kaya raya,"
"Oh, suaminya masih kuliah atau sudah kerja?" tanya ibu-ibu itu makin penasaran.
"Sudah kerja bu. Di perusahaan tambang. Tugasnya di sini. Tuh yang di daerah Merapi,"
"Hah, kok bisa? Mereka ketemu dimana?"
"Rey ngekos di rumah pria itu. Itulah jodoh, kadang ada aja pelantaranya," ujar ibu.
"Subhanallah, saya terharu. Semoga samawa ya, Bu. Saya ikut seneng, mantunya ibu ternyata pria tajir melintir,"
"Saya ga pernah mikir berapa gaji suaminya Rey. Yang penting mereka suka sama suka, sebagai orang tua kita hanya bisa merestui pernikahan mereka,"
"Subhanallah, ibu luar biasa sekali," ujar ibu itu sambil berdecak kagum dengan sikap ibu Laura yang begitu bijak.
__ADS_1
"Saya cukup bersyukur Bu, satu anak sudah jadi tanggung jawab suaminya. Tinggal mikirin Nay," kali ini wajah ibu mulai sendu.
"Coba aja minta bantuan sama suaminya Rey. Di perusahaan tambang itu kan mayoritas pekerjaannya laki-laki semua. Barangkali ada yang single dan berjodoh dengan kakak iparnya. Duh andai saya punya anak perawan, saya carikan suami pegawai pertambangan Bu. Gaji mereka satu bulan ga habis buat makan kita setahun. Apalagi dalam setahun mereka dihitungnya 17 kali gaji,"
"Masa sih,Bu? Kok ibu bisa tau sejauh itu. Saya mah ga pernah tanya sama Rey berapa penghasilan suaminya. Pamalik," seru ibu.
"Serius ini Bu. Ponakan Pak Warto RT sebelah juga kerja di perusahaan tambang. Padahal itu perusahaan lokal, mobilnya saja seharga 600jt, istri dan anaknya masing dibeliin mobil juga. Rumahnya itu yang paling megah di RT.9. Apalagi suami Rey yang di perusahaan pertambangan asing. Bayaran dihitung dolar kali ya?"
Ibu tidak melanjutkan pembicaraan itu lagi. Pikirannya kini sudah mulai teracuni dengan rupiah yang di dapat oleh anak mantunya itu.
"Hemm aku belum tanya sama Rey, berapa gaji suaminya. Belum lagi hasil dari usaha konveksinya itu," pikir ibu dalam hati.
"Nanti pestanya pasti megah ya, Bu. Di hotel yang baru itu. Undangannya kan teman kerja suaminya?"
"Belum dipikirkan sampai ke sana. Itu terserah Rey dan suaminya. Saya mah ngikut saja,"
"Ibu menang orang yang bijak. Selamat ya Bu. Ibu sudah beruntung sekali punya anak dan menantu yang hebat,"
"Iya, Terimakasih,"
"Oh, ya. Berapa totalnya, sama badcover yang kenaren?"
"Yang ini 3kg totalnya 21.000 ditambah badcover 15.000 jadi semuanya 36.000,"
Setelah mengetahui jumlah yang harus dibayar, si ibu mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
Sembari menunggu kembalian, ia memandangi foto Rey yang terpampang di ruang tamu. Photo Rey dan Wibie yang sudah mengenakan cincin kawin dan memamerkan buku bukan mereka.
Ibu itu tersenyum kagum, sampai-sampai ia tidak mendengar Bu Laura memanggilnya untuk memberikan uang kembalian.
"Eh, maaf. Saya terpesona banget dengan photo itu. Mereka pasangan yang sangat serasi," ujarnya berdecak kagum.
"Terimakasih Bu, saya pamit dulu," ujarnya lagi setelah menerima uang dan membawa kantong yang berisi baju bersih
__ADS_1
Bu Laura menatap kepergian tetangganya itu dengan senyum yang penuh kebanggaan. Triknya sudah membuahkan hasil. Satu persatu-satu orang memuji dirinya yang mendapat menantu kaya. Kini status sosialnya otomatis akan naik kembali.
Lambat laun orang akan memandangnya sebagai keluarga terhormat seperti dulu. Kala suaminya masih bekerja dan punya penghasilan tetap setiap bulannya.