
Tepat jam 21.00 WIB, Dhiza menghampiri Pras yang masih ngobrol dengan Wibie dan Ardi. Sembari menggendong Auriel sudah rewel, ia juga membawa botol susu anaknya.
"Mas, Auriel sudah mau tidur, nih. Kita pulang yuk? ajak Dhiza.
"Kenapa ga bobok di sini aja. Bareng teman-temannya tuh," ujar Ardi.
"Dia kalau mau tidur harus di ayun dulu. Ayunan hanya ada di rumah," sahut Pras.
"Walah, adek kecil ini kok manja sekali," Wibie mencubit pipi gempi milih Auriel yang masih berada di gendongan mamanya.
"Iya, tapi kalau sudah nyenyak kita pindahin ke kasur. Dia ga cari-cari ayunannya lagi meskipun terjaga. Maklum kebiasaan Mbaknya yang momong dulu. Jadi terbawa sampai sekarang," jelas Dhiza.
"Ok, anak cantik. Kita pulang yuk. Sini gendong Papa," Pras mengambil putrinya dari gendongan istrinya. Kemudian mereka segera pamit meninggalkan rumah tetangganya yang sudah dianggap seperti saudara sendiri.
"Ini ada puding dan asinan. Kali aja malam-malam kamu lapar. Pudingnya ibu yang bikin loh," Oma mengulurkan satu box berisi puding buah dan satu bungkus asinan pada Dhiza sebelum mereka keluar dari pintu samping.
"Wah, terimakasih Oma. Seger banget nih asinannya," seru Dhiza.
"Makan yang banyak agar anakmu tidak rewel. Bisa jadi air susumu kurang, Dhiza!"
"Iya, dia paling susah kalau disuruh makan sayur. Masakan sampai dibuang-buang," Pras langsung menimpali karena ini kesempatan ia mengumpulkan uneg-unegnya, mumpung ada Oma. Dhiza pasti tidak akan membantah apapun yang di katakan ibunya Wibie ini.
Dhiza mencubit pinggang suaminya, ia merasa jengkel karena Pras suka ngadu dengan Oma.
"Eh, jangan begitu. Suamimu benar. Tidak hanya untuk kesehatanmu tapi pikirkan juga kebutuhan ASI anakmu,"
"Iya, Oma. Nanti puding dan asinan ini aku abisin,"
"Terus aku ga dibagi," protes Pras.
"Kamu kan tidak lagi menyusui," sanggah Dhiza merasa menang.
__ADS_1
"Udah-udah.....buruan pulang. Anaknya sudah ga sabar mau di ayun," Oma segera mengusir keduanya yang mulai bersi tegang soal makanan.
"Jangan lupa. Besok pagi ikut sarapan di sini aja," teriak Oma sedikit keras karena Pras dan Dhiza sudah sampai di depan pintu rumahnya.
"Iya, Ma. Dengan senang hati," sahut Pras dengan sedikit mengerahkan suaranya agar bisa terdengar Oma yang sudah menutup kembali pintu pembatas kedua rumah itu.
******
Setelah Dhiza dan suaminya pulang, Oma meminta kedua anak dan menantu- menantunya untuk duduk bersama. Ada suatu yang ingin ia sampaikanlah dengan segera.
"Duduklah! Rey dan Ardi juga duduk di sini. Kita ngobrol-ngobrol santai," ajak Oma yang lebih dulu duduk di ruang keluarga. Ia mematikan Chanel TV yang tadi dibiarkan menyala agar semua fokus pada apa yang ingin di sampaikan.
"Ada apa, Bu? Sepertinya serius sekali?" tanya Wibie yang mengambil posisi di samping ibunya. Ia peluk wanita itu dan mendaratkan ciuman lembut di keningnya sebelum ia duduk dan bersandar pada bahu orang yang paling di kasihnya itu.
"Jangan terlalu serius, ini hanya pembicaraan antara ibu dan anak-anaknya saja. Bisa dikatakan penting bisa juga tidak,"
"Iya, Bu. Kami siap mendengarkan dengan baik," sahut Witha yang duduk di samping suaminya, di sisi Rey.
"Almarhum Ayah meninggalkan rumah ini dengan kondisi bangunan yang masih sama seperti dulu, ada juga lahan yang sekarang sudah didirikan rumah Wibie dengan uang hasil kerjanya sendiri. Selain itu kita masih mempunyai usaha konveksi yang bisa menghidupi keluarga kita hingga saat ini. Kalian tahu, kan? Sejak Ayah meninggalkan kita semua, usaha itu dikelola sepenuhnya oleh Wibie dan sekarang diteruskan oleh istrinya,"
Sumua yang mendengar ucapan Oma hanya diam. Belum bisa menangkap kemana arah pembicaraan orang tua mereka? Baik Wibie mau Witha sebagai anak kandungnya hanya bisa menunggu hingga Oma menyelesaikan penjelasannya.
"Sekarang kalian sudah punya pekerjaan dan hidup dengan layak. Masing-masing juga sudah punya pasangan dan keluarga kecil yang bahagia. Ibu mau kalian tetap seperti ini, rukun dengan saudara dan menjaga tali silaturahmi meskipun kelak ibu sudah tidak bersama kalian lagi. Untuk itu, demi menjaga keharmonisan keluarga kita dan menunaikan amanat dari almarhum ayah, ada baiknya jika kita bicarakan masalah pembagian waris saat ini juga,"
"Ibu, tidak harus seperti itu. Aku dan Witha akan tetap seperti ini walaupun tidak ada bagi - bagi waris seperti yang ibu ungkapan tadi," Wibie menyela pembicaraan ibu karena menurut dia terlalu dini untuk membahas soal itu.
"Iya, Bu. Tidak usah terlalu serius. Aku dan Mas Wibie tidak mempermasalahkan hal itu, kok," sahut Witha.
"Tidak, Nak. Tidak boleh seperti itu. Dalam ajaran agama kita, warisan orang tua harus di bagi sesuai hak anak-anaknya agar tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari. Yang utamanya seperti yang sudah ibu ungkapan-ungkapkan sebelumnya. Ibu ingin agar kita tetap harmonis dan menjaga silaturahmi,"
"Jika itu sudah menjadi keputusan ibu, kami ikut saja," sahut Witha.
__ADS_1
Wibie hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Ia memandang wajah ibunya dengan seksama, khawatir jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibunya karena tiba-tiba membicarakan soal warisan.
"Kamu tidak usah melihat ibu seperti itu, ibu masih sehat. Belum akan mati," protes Ibu karena Wibie tidak henti-hentinya memandangnya.
"Bukan itu, Bu. Aku khawatir ibu akan menikah lagi dan mau menempati rumah ini bersama suami ibu yang baru. Makanya ibu memanggil kami semua,"
"Kurang asem. Usia ibu sudah 48 tahun. Mana kepikiran mau menikah lagi, kalau niat ke sana sudah dari dulu," protes ibu.
"Ha...ha....," Semua tertawa terbahak-bahak.
Mereka tahu, meskipun usia ibu mendekati kepala lima, namun ibu mereka terlihat lebih muda dari usianya. Kulitnya wajahnya kencang dan bersih. Bentuk tubuhnya juga masih seperti remaja 18 tahun. Perawakan ibu yang mungil membuatnya tampak awet muda sepanjang masa.
"Ibu lanjutkan, ya. Jangan potong pembicaraan ibu sebelum selesai bicara,"
"Iya," sahut Wibie dan Witha bersamaan sambil menahan senyum di bibir mereka. Sedangkan Rey dan Ardi hanya diam, mereka ikut menyimak apa yang akan disampaikan oleh ibu selanjutnya.
"Ayahmu dulu berpesan, rumah yang ibu tempati sekarang ini diperuntukkan untuk Witha. Lahan yang Wibie tempati itu juga sudah disiapkan Ayah untuk putra kesayangannya. Jadi kalian jangan membanding-bandingkan jika rumah ini nilainya lebih mahal dari lahan yang di tempati Wibie atau sebaliknya. Jika ada lebih atau kurangnya dari yang kalian dapat, mohon diiklaskan agar kami bisa hidup tenang,"
"Bu...,"
"Eit.....ibu bilang tidak ada yang boleh memotong pembicaraan," buru-buru ibu mengangkat telunjuknya dan menempatkan di depan wajahnya. Peringatan pada Wibie yang sudah berusaha untuk memotong pembicaraannya.
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊
__ADS_1