
"Luruskan kakinya," Pandu dengan sabar membantu Rara yang telah menyandarkan tubuhnya di bawah pohon coklat nan rindang itu.
"Sepatunya juga dicopot dulu," tanpa harus menunggu izin, Pandu sudah mencopot alas kaki gadis itu.
"Besok-besok pake sepatu yang menyerap keringat. Kalo sepatu model begini kena keringat malah makin ga nyaman buat jalan. Licin. KKN di kampung kok kayak mau shopping di mall," oceh Pandu.
Rara tidak menghiraukan ocehan Pandu. Tubuhnya yang bersandar di pohon tergulai lemas, sesekali ia memejamkan matanya. Menikmati sejuknya terpaan angin yang menyapu wajahnya.
"Tadi minta ditemenin, begitu keinginan sudah tertuju aku malah dicueki," gerutu Pandu. Setelah meluruskan kaki dan mencopot sepatu Rara, kini ia juga ikut bersandar di pohon. Duduk di samping Rara.
"Ini sejuk banget, tau. Anginnya seger banget," gumam Rara.
"Aku haus," seru Rara dengan wajah polosnya.
"Ga bawa minum?"
"Enggak,"
"Apa isi tasmu?"
"Kosmetik dan Hp," jawabnya begitu jujur.
"Trus mau cari dimana? Ini sudah terlalu jauh loh kalau mau ke depan lagi," sahut Pandu yang mulai putus asa. Ia merasa Rara begitu manja, tidak seperti biasanya.
"Ya....ga tau. Aku kan cuma bilang kalau haus. Kalau ada yang mau cariin minum Alhamdulillah, ga ada ya ga masalah,"
Pandu membuka tas punggungnya. Ia mengeluarkan tambler yang berisi air mineral. Masih penuh. Sepertinya belum ia minum sama sekali.
"Mau, ini belum aku minum kok. Cuma botolnya belum di cuci sejak kemarin. He...he....,"
Rara mengulurkan tangannya ke arah Pandu. Ia menerima tawaran itu meskipun dengan wajah yang cemberut.
"Sini,"
Rara membuka tutup botol dan menciumnya sesaat. Setelah dirasa tidak ada bau yang aneh, ia meneguk air seperti onta yang tidak minum satu seminggu.
"Pake diendus-endus segala. Emang bau, apa?" protes Pandu yang mulai tersinggung oleh Rara.
"Sisain," dengan sigap Pandu merebut botolnya yang hampir kosong. Namun karena Rara tidak siap dengan tarikan itu, akhirnya air minum yang sudah ada di mulutnya muncrat kemana-mana. Muka Pandu juga basah kena semburan.
"Maaf," buru-buru Rara mengelap wajah Pandu yang basah dengan kedua tangannya.
"Aku kaget," ujarnya lagi masih dengan nada penuh rasa bersalah.
Pandu membiarkan Rara mengeringkan wajahnya dengan kedua tangannya. Kini posisi mereka sudah berhadapan, bahkan jarak mereka begitu dekat. Pandu bisa merasakan nafas Rara yang mulai tidak beraturan dan mukanya yang bersemu merah karena Pandu terus menatapnya dengan intens.
"Kok diem aja? Tadi aja sok-sokan genit," goda Pandu.
"Malu," Rara membalikkan tubuhnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hemmm kayak anak kecil aja,"
"Emang masih kecil,"
"Lah, berapa usiamu?" tanya Pandu yang kini sudah menyandarkan kepalanya di pohon.
" Mau 22,"
"Sudah punya pacar?"
"Belum,"
"Ga ada yang mau?"
"Ih..... ngeselin. Dikira aku ga laku ya?"
"Bisa jadi, usia segitu belum ada pasangan,"
"Aku ga mau pacaran. Bikin pusing,"
"Trus?" tanya Pandu penasaran.
"Ya begitu aja. Ga ada terusannya,"
__ADS_1
"Berarti aku ga ada kesempatan, dong?"
"Kecuali untuk Mas Pandu," Kali ini langsung menyembunyikan wajahnya di balik pundak Pandu. Ia tak sanggup melihat Pandu yang langsung mengalihkan pandangannya ke arahnya.
"Hemm....," guman Pandu sembari mengelus kepala Rara dengan tangan kirinya. Seyum kemenangan mengembang dari bibirnya yang tipis.
"Jangan berbalik," rengek Rara yang merasakan Pandu menggeser tubuhnya, bergerak menghadap ke arahnya.
"Aku kan sudah tua, emang kamu ga malu jalan sama pria yang sudah berumur,"
Rara menggelengkan kepalanya, kepalanya masih disembunyikan di balik pundak Pandu.
"Ada orang tuh, menuju kemari. Tar mereka menganggap kita sedang mesum kalau posisimu seperti itu terus,"
Rara buru-buru mengangkat wajahnya, ia mengedarkan pandangannya ke hamparan tambak terbuka itu namun tidak melihat siapapun yang melintas.
"Tapi boong," seru Pandu begitu Rara sadar tidak menemukan siapapun.
Kontan saja, Rara memukul Pandu berkali-kali karena pria itu sudah berhasil membohonginya.
"Makin merah aja tuh muka," goda Pandu lagi.
Rara mengangkat tangannya, belum sempat bogem itu mendarat kembali di tubuh Pandu, pria itu sudah lebih dulu menangkap kepalan tangan itu.
"Kamu makin cantik kalo lagi malu,"
"Apaan, sih,"
"Jadi kita jadian, nih ceritanya?" tanya Pandu ingin meyakinkan apa yang baru saja dialami.
"Iya," sahut Rara dikuti anggukan kepalanya dengan pelan.
"Hemmm......,"
"Kenapa?" tanya Rara bingung.
"Begini aja aku senengnya minta ampun, apalagi kalo bisa kasih bonus," kata Pandu. Pandangannya lurus kedepan.
"Bonus? Maksudnya apa?" tanya Rara pura-pura lugu.
"Boleh apaan?" tanya Rara. Suaranya mulai bergetar, wajahnya juga mulai memerah.
"Ini aja," Pandu menunjuk pipi kiri Rara sembari memboyongkan bibirnya.
"Enggak,"
"Enggak nolak?"
"Enggak. Malu kalo ketauan orang,"
"Tapi sebenarnya mau kan?"
Rara tidak menjawab, tapi ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang makin merah merona.
"Tadi pagi aku liat kau begitu takjub saat melihatku di kali. Iya kan? Jangan boong, loh,"
Lagi-lagi Rara hanya diam. Apa yang dikatakan Pandu menang benar. Rara tidak menyangka jika Pandu begitu keren saat bertelanjang dada. Entah kagum atau memang bawaan pikiran dewasa, dada Rara bergemuruh, jantungnya berdetak kencang, dan aliran darah mendadak begitu deras kala itu.
"Kamu keren,"
"Tadi nyebutnya, Mas. Sekarang kok panggil kamu," protes Pandu.
"Iya, Mas Pandu keren sekali,"
"Anak manis. Aku suka dipanggil begitu. Usiaku lebih tua 5 tahun darimu. Jangan panggil kamu, ya. Kualat loh,"
"Tapi malu kalo kedengaran yang lain,"
"Malu kalo kita udah jadian,"
"Malu, Mas. Aku kan belum pernah pacaran. Jadi malu aja,"
"Ya sudah. Jangan dipaksain. Nanti juga terbiasa. Terimakasih,ya?"
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Sudah membuatku tidak jomblo lagi.
"Aku juga. Seneng bisa punya pacar," Rara tersenyum merekah. Ia kini bisa sedikit lega, dadanya tidak begitu sesak lagi sejak melihat puluhan stempel membekas di tubuh Rey. Jika sudah begini, sebentar lagi ia juga bisa membuat tanda yang sama dengan Mas Pandu.
"Kok senyum-senyum sendiri. Mbayangi apa?"
"Enggak. Seneng aja," sahut Rara bohong. Ia tidak mungkin bicara jujur pada Pandu. Bisa-bisa penilaian laki-laki itu padanya bisa yang enggak-enggak.
"Enggak mikir jorok, kan?" selidik Pandu.
"Enggak, lah,"
"He...he......Kamu lucu, Ra,"
Sejenak kedua diam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pandu begitu bahagia, bisa mendapatkan surprise dalam situasi begini. Tanpa diduga-duga, ada bidadari yang menawarkan cinta padanya.
Rara juga tak kalah gembira. Impiannya untuk mendapatkan pasangan yang lebih tua darinya bisa terwujud bahkan bisa dengan mudah di dapatkannya pada situasi yang tidak terduga. Ia tidak perduli jika dianggap agresif oleh Pandu, yang jelas sejak pembekalan KKN beberapa Minggu yang lalu, Rara memang sudah mencuri-curi pandang pada pria dengan pembawaan yang begitu tenang ini. Sosok pria yang sangat diingini oleh Rara untuk menemani hari-harinya.
"Ting...Ting.....," suara pesan WA masuk.
Pandu membuka hp yang disimpan di saku celananya. Ternyata ada pesan yang dikirim Rey via japri. Malas mengetik pesan, Pandu akhirnya melakukan panggilan WA.
"Di mana? kok ga ada di gardu depan?" tanya Rey
"Masih di tempat tadi, mang kenapa?"
"kita sudah ada di didepan nih, buruan!"
"Kirain bakal lewat sini lagi. makanya aku tungguin,"
"Gak. ternyata begitu di pembibitan, posisinya sudah ada di dekat gerbang,"
"Lah, gua sampe jamuran nungguin,"
"buruan,"
"Jemput, lah. terlalu jauh mau jalan ke depan. kaki Rara masih lecet, nih,"
Pandu mengubah panggilannya menjadi VC dan menengarahkan kameranya ke arah Rara masih duduk di sampingnya. Telapak kaki gadis itu memang masih terlihat merah.
"iya,deh. tunggu aja. aku jemput,"
"Ma kasih ya,"
Rey tidak membalas ucapan Pandu karena ia segera menutup telpon dan beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah parkiran motor.
"Mau ke mana?" tanya Alex melihat e jalan terburu-buru.
"Jemput Pandu sama Rara,"
"Dimana?"
"Tempat yang tadi,"
"Aku aja yang jemput. Jalannnya sempit, bisa-bisa kau nyebur tambak sama motormu,"
"bisa kok, pelan-pelan,"
"Udah aku aja, motor ini juga lebih gede,"
"Ya udah. terimakasih," Rey hanya bisa tersenyum melihat Alex yang sudah duduk di atas motornya dan siap menjemput kedua temannya itu di tempat mereka berpisah tadi.
******
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
__ADS_1
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊