Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 31 Rumah Tinggal


__ADS_3

Usai makan, dilanjut dengan foto-foto sebagai dokumentasi dan bahan laporan kerja, semua mahasiswa kumpul sesuai dengan kelompoknya. Kini mereka harus berpisah, siap ke desa tujuannya masing-masing.


"Angkotnya sudah sampai, ayo kelompok mana yang mau berangkat duluan?" tanya Pak Hendra begitu melihat satu angkutan masuk ke halaman kantor camat.


"Kelompok dua aja duluan, lokasinya kan agak jauhan," sahut Alex menimpali.


"Ayo, kelompok dua. Naik duluan. Jangan lupa barang-barangnya," ujar Pak Hendra lagi


Teta, Pandu, Melly, dan teman-teman yang lainnya segera masuk ke angkot yang siap membawa mereka ke desa Sindang Bungo.


"Aku di depan, ya," Teta yang lebih dulu duduk di samping sopir baru minta izin pada temannya. Ia beralasan tidak bisa naik kendaraan jika posisi duduknya harus menyamping.


"Silahkan, siapa aja ga masalah. Deket ini, kok," Pandu dengan bijak menimpali.


Alex yang menghampiri angkot mereka, dengan langkah santai berdiri di samping Teta. Ia ingin minta maaf atas sikap tadi pada teman satu kelasnya itu.


"Dari sini cuma 45 menit kok. Ga terlalu jauh. Di sini udaranya masih segar, jadi nyaman - nyaman aja berkendara pakai angkutan apapun," ujarnya asal bunyi.


"Nanti aku juga akan kunjungan ke sana. Kita juga harus selalu koordinasi," lanjutnya lagi.


Teta hanya diam, dia tidak menimpali ucapan Alex satu patah katapun. Pandangannya lurus ke depan sembari memeluk tas ransel yang berisi perlengkapan pribadinya.


"Angkot kalian juga udah Dateng tuh," seru Pandu yang ingin mencairkan situasi antara Teta dan Alex.


"Iya, aku mau siap-siap. Sukses ya" Alex segera menepuk pundak Pandu yang duduk di sisi pintu angkot.


Pak Hendra hanya melepaskan mereka hingga di kecamatan, ia harus segera kembali ke Jakarta karena banyak tugas yang harus diselesaikannya menjelang berlangsunya mid semester. Belum lagi ada beberapa mahasiswa bimbingan skripsi yang sudah tidak sabar menunggu revisi darinya agar bisa ikut wisuda tahun ini.


"Kalian hati-hati, ya. Tetap koordinasi dan kerjasama. Jaga nama baik kampus," pesannya pada anggota kelompok satu yang sudah siap di dalam angkot.


"Baik, Pak. Terimakasih," sahut mereka serentak.


"Mungkin tiga atau empat hari ke depan, Pak Gun juga akan meninjau lokasi,"

__ADS_1


"Duerrrr.......," mendengar Pak Hendra menyebut nama Pak Gun, Rey serasa mendengar suara petir di siang bolong.


"Iya, Pak. Kapanpun ia sempat, kami dengan senang hati menunggu," sahut Alex


"Iya, selalu koordinator pembimbing lapangan, sudah menjadi tugas beliau keliling lokasi untuk meninjau kerja mahasiswanya selama KKN. Jangan sungkan-sungkan, jika ada keluhan atau apapun sampaikan saja pada Pak Gun. Kita semua tugasnya memberikan pendampingan pada kalian,"


"Suap, Pak. Terimakasih," sahut Alex dan dikuti yang lainnya. Mereka berpisah di pelataran kantor Camat.


*******


"Satu kamar untuk cowok karena kami hanya bertiga. Nah dua kamar lagi untuk kalian. Terserahlah berbagi sana, jangan pada berantem" canda Alex begitu mereka sudah sampai di rumah penduduk yang menjadi tempat tinggal mereka 10 hari ke depan.


"Hu.....kayak anak kecil yang Ono aja ngambekan," sahut Melly


"Hus...," Rey segera mengingatkan temannya itu agar tidak kebablasan membahas Teta lagi.


Melly tersenyum kecut, begitu juga dengan Alex dan teman-teman yang lainnya.


"Alhamdulillah kita dapet tempat yang bagus. Kamarnya lega jika ditempati 3 atau 4 orang,"


"Iya, ga masalah. Bisa gantian biar semua ngerasain sakit pinggang,"


"Ha...ha....,"


"Sssttttt....... pelan-pelan. Tar yang punya rumah denger," lagi-lagi Rey mengingatkan temannya yang membahas soal kondisi rumah singgah mereka.


"Ok, kita beresin dulu barang-barang ke kamar. Baiknya sih pakaian tetap di tas saja karena lemarinya juga kecil,"


Tanpa harus bersih tegang, 7 cewek itu membagi diri ke kamar masing-masing. Mereka memang harus bersyukur dapet tempat yang bisa dikatakan cukup layak untuk ukuran tempat tinggal di kampung.


Mereka diterima oleh keluarga Pak Haji Rahmat di rumahnya yang besar namun sepi penghuni. Anak-anak mereka sedang menuntut ilmu keluar daerah. Meskipun mereka harus berbagi kamar mandi, namun tidak jadi masalah. Di dekat rumah ada kali, kaum laki-laki bisa mandi, cuci, dan kakus di kali bersama warga lainnya.


"Kamar mandi hanya untuk mandi dan buang air, cuci baju di kali supaya tidak terlalu lama ngantri,"

__ADS_1


Rara mengingatkan teman-temannya.


"Repot juga kalo pagi. Kamar mandi cuma satu yang make 7 orang. Iya kalo kaum lakinya mau ngalah, mandi di sungai. Kalau yang tidak terbiasa,"


"Harus mau. Lebih baik mereka yang mandi di kali daripada kita. Masa kita harus pake kemben, gosok-gosok badan di tonton orang. Hi.......," Risya menutup matanya seketika itu juga. Ia tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi.


"Enak-enak berendam, kemben melorot ke bawa arus. Ssreeemmmm," teriaknya lagi.


"Apaan, sih. Berisik banget kalian ini," teriak Rafa dari kamar sebelah.


"Ha...ha......," tidak ada jawaban dari kamar cewek. Mereka malah tertawa kompak. Antara lucu dan serem semuanya jadi satu.


Kamar yang mereka tempati berjajar ke samping layaknya bedengan. Di depan kamar ada ruang yang begitu luas. Ada tv tabung dengan ukuran yang cukup besar dan satu kursi panjang yang terbuat dari bambu.


Antara ruang yang mereka tempati terdapat dinding pembatas, di bagian dalam ada satu kamar yang di tempati pasangan suami istri pemilik rumah, dapur dan kamar mandi.


Di depan TV juga digelar karpet ukuran besar sebagai tempat untuk santai saat nonton tayangan televisi. Saat mereka datang, tuan rumah menyambut kedatangan mereka di ruang itu lengkap dengan sajikan kopi panas dan pempek yang masih hangat. Ada juga buah pisang dan jambu air yang mereka siapkan dalam wadah yang besar.


Rafa, Alex, dan Dion yang sudah membawa barang pribadinya ke kamar segera kembali ke ruang depan. Sambil menunggu teman-teman yang lainnya, mereka menghabiskan pempek yang masih tersisa. Sementara yang punya rumah pamit karena harus kembali ke tempat kerja.


"Enak juga kalo setiap hari begini. Yang punya rumah ramah dan loyal. Bisa gendut nih kita," ujar Rafa yanf memaksakan berbicara meskipun mulutnya penuh dengan makanan.


"Sepertinya kita akan memanjakan lidah kita dengan pempek selama di sini. Enak banget. Ikannya berasa banget," ujarnya lagi.


Alex dan Dion tidak menimpali, mereka berdua memilih makan buah dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


******


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR

__ADS_1


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊


__ADS_2