
"Ngapain aja berdua di tengah pematang, mana panas begini lagi," oceh Dion begitu mereka sudah sampai kembali di pondok dekat gardu utama.
Alex yang membawa motor, di tengah Pras duduk dengan posisi yang agak terjepit sedangkan Rara ada di bagian belakang.
"Susah, Rey. Bonceng 3 begini jadi berat. Untung bukan kamu yang jemput," ujar Pandu.
"Disuruh lagi ga mau, ya udah angkut sekalian. Masa gua harus bolak-balik," elak Alex.
"Emang gua anjing yang suruh ngikut dari belakang. Sembarang aja," protes Pandu.
"Ha...ha....... Gua ga bilang begitu, Bang. Maksudnya elo lari ngikuti kita dari belakang,"
"Ogah. Kalo pagi atau sore sih oke. Ini mataharinya masih ada di ubun-ubun. Sengsara banget deh, gua,"
"Kalian malah enak-enakan menikmati sajian," protes Pandu lagi.
Tenggorokannya yang kering, membuat air liurnya menetes begitu melihat es timun yang segar dan pempek goreng.
"Nih, masih banyak. Buat yang abis pacaran deh semuanya,"
"Siapa yang pacaran. Kita cuma ngobrol-ngobrol doang kok," buru-buru Rara memberikan klarifikasi.
"Ga usah ngegas juga, Ra. Kalo bener juga ga apa-apa kok," ujar Dion lagi.
"Coba sini, gua cium tangannya,"
"Apaan, sih,"tangan Rara dengan sigap dikebaskan ke arah Dion.
"Bukan elo, tangan Pandu lah,"
"Udah, jangan keterlaluan begitu ih. Tar Rara ngambek baru tau rasa," Alex berusaha mengingatkan.
"Iya bos. Aku pengen negesin aja. Soalnya muka mereka pada berseri-seri ga kelihatan kalau lagi kecapean,"
"Udah, Dion masih ngeyel aja ih," Adel jadi gemes denger mulut lenyesnya Dion.
Pandu hanya diam mendengarkan candaan Dion. Ia tidak mau menimpali karena khawatir akan menambah kecurigaan teman-temannya. Ia takut Rara akan jadi bahan untuk di bully.
"Pempeknya enak banget, loh. Kuahnya itu nyusssss,"
"Udah abisin, kita mah udah kenyang,"
"Lah, jadi ini sisaan toh?" tanya Pandu.
"Salahnya sendiri. Napain mojok ga inget pulang," Dion berusaha menggoda temannya lagi.
"Nih, kita cuma disisain segini. Bagi dua, ya!" Pura-pura tidak mendengar ocehan Dion, Pandu malah berbagi pempek dengan Rara yang duduk menjaga jarak dengannya.
"Geseran, Napa. Nih piringnya," Pandu mengulurkan piring kecil yang sudah diisi dengan kuah pempek ke arah Rara.
"Jangan khawatir, Kak Ros masih goreng lagi kok. Omongan Dion mah ga usah di denger," Risya yang melihat Pandu berbagi pempek dengan Rara menjadi tidak tega.
"Ha...ha......," Tawa Dion begitu puas.
"Kelompok dua ngajak ketemuan. Mereka ada di pabrik terasi," Alex yang membuka Hp segera memberi informasi kepada temannya.
"Kita ke sana?" tanya Rey.
"Ga, mereka bilang kita suruh nunggu di kedai kuning,"
"Dimana itu?"
"Ga tau juga, tar kita tanya. Palingan juga masih di sekitar sini,"
"Buruan pamit, ga enak nih ngerepotin Kak Ros. Dari tadi bolak balik goreng pempek,"
"Kita bayar aja. Dia kan dagang, kasian nanti ga balik modal," sahut Rey.
"Ga keitung nih udah berapa yang kita makan," sahut Risya.
"Udah, biar aku yang bayar,"
"Wih, beda mah sama Bu bos on-line. Duitnya ga berseri. Kalo kita-kita mah masih ngandelin transferan dari emak," Seru Dion.
"Gantian, kali ini aku yang bayar. Besok-besok giliran yang lain," Rey menimpali.
"Ha...ha.....otak bisnisnya masih kebawa. Ga mau rugi," ejek Dion bercanda.
__ADS_1
"Iyalah, harus itu," Rey menjawab ledekan Dion dengan setengah mencibir.
*******
Yang dimaksud dengan Kedai Kuning itu ternyata pondokan yang ada di tepi pantai. Tempat wisata ala-ala kampung yang terdapat beberapa pondokan dengan menu kuliner daerah setempat dan aneka minuman. Yang paling spesial kelapa muda yang baru turun dari pohonnya langsung.
"Aku mau dong, manis banget airnya kalo baru turun," begitu sampai di tempat, Rey yang mboncengin Risya segera turun dari motor langsung memesan kelapa muda.
"Rey, ini. Sudah dipesenin," Alex ternyata sudah lebih dulu nongkrong. Ia duduk menikmati kelapa muda yang sudah dipesannya.
Di pondok dengan ukuran yang paling luas sudah menunggu kelompok 2. Baru ada Alex dan Adel yang menemani mereka.
Rey dan Risya segera bergabung dengan mereka, ia duduk persis di samping Alex karena sisi yang lain sudah ditempati lebih dulu oleh yang lain.
"Sudah siap minum nih, cukup buat kita semua," Alex menyodorkan satu buah kelapa muda yang telah di buka yang dilengkapi sedotan dan sendok.
"Terimakasih. Nih,buat kamu," Rey memberikan satu dari kelapa itu pada Risya.
"Manis banget," seru Risya yang lebih dulu menyedot air kelapa itu.
"Iya,beda dengan kelapa muda yang kita beli di Jakarta. Ini kan baru turun dari pohonnya," Rey menimpali.
"Jadi boleh ya, Lex? Malem ini aja," suara Teta terdengar setengah merengek.
"Bilang aja nih sama yang punya kamar. Kalo aku mah terserah kalian," sahut Alex sembari menunjuk ke arah Risya dan Rey.
"Kenapa?" tanya Risya dan Rey nyaris bersamaan.
"Teta minta nginep di tempat kita,"
"Oh," sahut Rey dan Risya bersamaan lagi.
"Gimana? Boleh ga?"
"Emang kenapa?" tanya Risya menyelidik.
"Ditempat kita ga ada WC, MCK diluar atau di kal,"
"Oh, di kita kamar mandi juga cuma satu. Cewek-cewek mandi di rumah itu juga bareng 2 sampe 3 orang. Kalau cowoknya ke kali," jelas Risya.
"Kalo aku terserah aja. Elo mau tidur di kita juga ga masalah. Gimana Rey, Del?"
"Bentar ya, aku mau VC dulu," Rey ijin pada teman-temannya sembari bergeser dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat itu.
Tak lama terlihat Rey tampak sedang bicara dengan seseorang. Sesekali ia tertawa, melambaikan tangan. Alex mengamati Rey dari sudut matanya, tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
"Boleh, ga?" Tanya Teta lagi butuh penegasan.
"Aku si ok, aja. Tapi kamu juga harus ijin yang lain. Noh Mereka baru sampe," Risya menunjuk ke arah datangnya motor yang di kendarai oleh teman yang lainnya.
"Pandu," panggil Rey
"Nih, liat kita lagi di pantai. Minum kelapa yang baru turun dari pohon,"
"Hay, gimana di sana bro?" Pandu melambaikan tangan pada seseorang yang ada di layar hp Rey. Cukup lama mereka basa basi hingga juga mengatakan kameranya ke arah Rafa dan Mely.
"Siapa?" tanya Rafa begitu Pandu sudah duduk di pondok.
"Pras, biasa bayangan Rey. Kangen kali tuh anak. Biasanya kemana-mana nempel aja tuh berdua,"
"Oh, dasar. Baru juga sehari udah VC segala. Tuh anak kenapa ga ikut kesini aja sekalian,"
"Dia ga bisa full di lapangan. Maklum baru dipromosiin jadi kepala cabang,"
"Hebat, dong,"
Pandu hanya mengangkat kedua bahunya, ia mengambil satu kelapa untuk Rara dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
Karena semua sudah kumpul, Teta melanjutkan topik yang belum selesai. Dia kembali bertanya setelah ada cewek-cewek dari kelompok 1 lainnya. Kali ini ia puas karena tidak satupun dari mereka yang menolak jika Teta tidur bersama mereka.
"Terus kalo mau kunjungan dan gabung temen yang lain gimana?" Alex yang sejak tadi pasang kuping mendengar pembicaraan Rey dan Pras mulai angkat bicara.
"Anterin, lah,"
"Sama siapa?" Alex mengedarkan pandangannya ke arah Pandu dan Dion.
"Kamu, lah," todong Teta pada Alex.
__ADS_1
"Ngerepotin! Kita kalo pagi ada jadwal mancing. Kalo bisa bawa motor sendiri silahkan pindah, kalo ga bisa jangan bikin repot orang!" tegas Alex.
"Fokus sama tujuan kita ke sini. Bagaimana elo bisa koordinasi dengan teman lainnya jika nginep sama kita. Lagian tar malem kita ada rapat virtual sama IT, mau bahas tampilan web. Kalau mau nginep jangan sekarang," tambah Alex lagi dengan nada yang cukup keras.
"Tadi ngizinin, sekarang bikin alesan," Teta ngedumel sendiri.
"Terserah kau saja. Yang penting jangan merepotkan orang dan tanggung jawab sama tugas masing-masing,"
"Udah, ga usah di bahas lagi. Sabar aja, Ta. Tinggal 8 hari lagi kok. Kalo dibuat Enjoy malah waktu berasa cepat," hibur Pandu.
"Ga usah ikut campur kalo ga bisa kasih solusi,"
"Oh iya, ya. Maaf," buru-buru Pandu minta maaf dan diam. Ia baru sadar bagaimana keras kepalanya wanita yang dia ajak bicara ini.
"Harusnya bawa pancing, Lex. Noh liat sebelah sono. Pada berbaris nungguin hasil," Pandu menunjuk pada sekelompok pria yang sedang mancing di pinggir sungai itu.
"Di sini enak banget ya? Mancing bentaran aja dapet ikannya lumayan buat lauk satu rumah," seru Rafa.
"Ikut mancing juga?" tanya Alex pada Rafa.
"Enggak, pancingannya ga ada. Lagian pada males juga, abis subuh balik ke kamar masing-masing,"
"Ya, sayang banget. Lumayan buat hiburan. Abis mancing langsung mandi," pamer Pandu.
"Tar beli pancingan lah, kita nyobain," ajak Rafa pada Jepri dan Hanif, teman satu kelompoknya.
"Boleh, di pasar yang kita lewati tadi banyak yang jual pancing. Bareng toko burung itu loh," sahut Jefri.
"Ok, sekarang kita turun dulu. Penasaran sama air di sini," ajak Rafa pada teman-temannya. Ia jadi tergoda ingin membasahi kaki melihat sebagian anak cewek sudah lebih dulu duduk di bebatuan pinggir pantai.
Satu persatu dari mereka meninggalkan pondok. Tinggal Alex dan Pandu yang masih duduk di situ.
"Ga ikutan turun?" tanya Rey yang baru saja selesai VC dan duduk di pondok itu.
"Males, tar juga mau mancing lagi," jawab Alex. Kini ia malah berbaring di pondok itu karena sudah tidak ada orang di sana.
"Pras dapet dimana?" tanya Alex.
"Di Banten, dia cuma bisa Sabtu Minggu. Tapi hari ini kebetulan lagi kunjungan. Kan wajib satu kali hadir di hari kerja,"
"Dia itu kayaknya udah nyandu sana kamu, Rey. Ga ketemu sehari aja udah blingsatan," ejek Pandu.
"Ya begitulah. Itu temen pertama aku di kampus. Kebetulan lagi istrinya itu masih keluarga suamiku. Rumahnya bersebelahan dengan rumah mertuaku,"
"Glek," Pandu dan Alex saling berpandangan.
"Kamu sudah punya suami, Rey. Kapan bukanya?" tanya Pandu bingung.
Rey hanya tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan Pandu. Dengan santainya ia menyedot air kelapa miliknya yang belum sempat di minum.
"Ah bohong kali, Lo. Ga percaya gua kalo elo da nikah,"
"Beberan. Aku sudah punya dua anak,"
"Lah....drama. Kebanyakan nonton sinetron nih anak. Halunya ga ketulungan,"
"Ga percaya ya sudah," sahut Rey begitu santai.
Saat itu juga, Rey menangkap Alex yang memandanginya begitu lekat. Tak ada pertanyaan yang keluar dari mulut pria itu. Ia seolah mencari jawaban atas kegundahan hatinya dari ekpresi wanita yang ada di hadapannya ini.
Alex begitu menahan perih, ribuan jarum seolah menusuk-nusuk seluruh tubuhnya.
"Aku merasa kehilangan," bisiknya pelan. Lirih sekali. Hanya dirinya yang bisa mendengar keluhnya itu.
"Kehilangan? Bagaimana bisa? Aku sendiri tidak pernah memilikinya?" lanjutkan lagi.
"Kenapa baru sekarang kita dipertemukan oleh takdir? Kenapa tidak dari dulu, saat semuanya mungkin bisa lebih mudah untuk dijalani?" Pekik Alex dalam hati.
******
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
__ADS_1
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊