Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Pasien Khusus


__ADS_3

Pagi ini, Rey membantu Wibie membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Meski tangan kanannya sudah bisa digerakkan, namun ia masih memerlukan bantuan untuk menggosok bagian tubuhnya terutama punggung dan kaki.


Wibie belum bisa membungkukkan badannya secara maksimal.


“Belum lahiran, udah mandiin bayi duluan” canda Rey sembari menahan senyumnya.


“Mungkin aku sewa perawat aja kali ya? Khusus mandiin dan membantu pakai baju. Perawatnya yang masih muda dan cantik!” balas Wibie tak mau kalah.


“Hemm gitu aja langsung baper,”


“Lagian aku disamain dengan bayi. Tega banget!” Wibie mulai merajuk.


“Kidding sayang. Lucu aja sih, mandiin bayi tua mah bikin salah tinggah”


“Kan aku gak ngapa-ngapain. Kamunya aja yang gratil”


Rey tertawa terbahak melihat ekpresi suaminya yang begitu kesal padanya. Ia memang tidak bisa menahan diri untuk tidak usil. Lonceng milik suaminya yang bergelantungan sebentar-sebentar ia sentil dengan ujung jarinya. Mungkin karena kondisi fisik suaminya yang memang sedang tidak sehat dan pengaruh air yang dingin membuat benda itu semangkin menciut dan malu-malu.


“Awas saja kau, kalau aku sudah sehat aku akan balas dendam,” ancam Wibie lagi. Rey tidak mennggapi gumaman suaminya, ia terus mengosok bagian punggung Wibie dengan spon halus yang sudah diberi sabun cair.


“Kakinya gosok sendiri, aku kan ga bisa jongkok,” ujar Rey setelah ia selesai menggosok tubuh suaminya pada bagian punggung dan sekitarnya.


Wibie juga baru berpikir, dengan perut buncitnya Rey juga akan kesusaahan untu jonggok. Sama seperti dirinya.


“Repot juga ya?” seru Wibie.


“Sebentar, aku ambil bangku dulu, biar bisa untuk menopang kakimu” Rey segera meninggalkan kamar mandi tanpa menunggu persetujuan dari suaminya.


“Ah, kenapa pintunya dibiarkan terbuka?” gerutu Wibie sembari merambati dinding bergerak ke arah pintu untuk menutupnya.


Belum juga memegang daun pintu itu, Rey sudah muncul dengan menenteng bangku plastik.


“Sebentar doang kok, pake ditutup segala”.


“Kalau ada yang lihat aku kan malu, emang ini di kamar kita,” protes Wibie atas sikap istrinya yang begitu sembrono. Mungkin ia lupa kalau saat ini mereka sedang menggunakan kamar mandi yang ada di lantai bawah, kamar mandi umum yang biasa digunakan oleh semua penghuni rumah.


“He..he…Maaf! Aku lupa,” sahut Rey dengan sedikit malu.


“Nih, topangkan kakinya di atas kursi. Yang kanan dulu biar aku gosok-gosok. Jangan lupa pegangan, nanti jatuh,” ujarnya begitu sabar.


Wibie mengikuti petunjuk yang yang diminta oleh Rey, dengan halus dan sabar Rey mengosok kedua kaki itu hingga ke sela-sela jarinya secara bergantian.

__ADS_1


Setelah semuanya beres, Wibie membasuh tubuhnya dengan menyalakan shower.


Rey kembali keluar untuk mengembalikan bangku plastik yang diambilnya dari dapur. Tak lama ia muncul lagi dan siap mengeringkan tubuh suaminya dengan handuk yang sudah ia siapkan terlebih dahulu.


“Maaf Ya, bikin repot kamu!” Wibie menyeka keringat yang mulai membasahi kening istrinya.


“Ga repot,kok. Itung-itung latihan mandiin bayi,” sahut Rey sekenanya.


“Sekali lagi kau samakan aku dengan bayi, awas Ya”


“Hem, pake ngancam. Kayak bisa ngapain aja?”


Merasa diledek terus menerus oleh Rey, kali ini Wibie tidak tinggal diam. Ia raih pinggang Rey yang sedang mengeringkan rambutnya. Kini perutnya sudah merapat dengan tubuh Wibie yang tidak mengenakan apapun.


“Apa mau dieksekusi di sini?” tantang Wibie yang membuat muka Rey memerah seketika itu juga.


“Yang sakit itu lahirnya, bathinnya mah masih kuat dan sehat,” ujar Wibie menyerigai.


Rey melempar handuk yang ada ditangannya ke bahu Wibie, kemudian meninggalkan kamar mandi. Kini Wibie yang merasa menang, ia tertawa sejadi-jadinya melihat Rey kabur kea rah kamar.


“Bajunya udah aku siapin, pake sendiri,” teriak Rey.


Tidak ada sahutan. Wibie tersenyum tipis. Ia mengenakan handuk yang dilemparkan istrinya itu kemudian meninggalkan kamar mandi dengan langkah tertatih.


Kini kondisinya sudah mulai membaik, ia sudah bisa berjalan tanpa alat bantu lagi. Penyanggah lehernya juga sudah mulai di lepas.


Meski belum maksimal lehernya itu sudah bisa untuk menengok kanan kiri hingga menunduk ke bawah.


Semua lambat laun segera membaik, hanya butuh kesabaran dan iklas untuk menjalani, semua akan bisa pulih kembali.


*****


WIbie duduk di samping tempat tidur dan memandangi tumpukan baju yang sudah disiapkan Rey untuknya. Baju dinas harian lengkap, kaos oblong warna putih, CD dan celana pendek.


Baru saja ia akan memanggil Rey, tiba-tiba istrinya sudah muncul di ruang itu. Ia melihat kearah Wibie dengan tersenyum.


“Buruan, bantuin. Jangan diliatin aja. Bentar lagi trapisnya dateng”.


Rey mendekat ke arah Wibie, ia mengabil CD suaminya dan membantu mengenakannya. Begitu juaga dengan celana pendek dan kaos oblongnya.


“Berapa kali terapi agar bisa pulih kembali?”

__ADS_1


“Kata Pak Somat sih tergantung kondisinya. Saat ditelepon kemaren ia bilang sepertinya ga parah, Cuma liat aja nanti. Kan dia belum lihat dengan jelas. Kenapa, kamu sudah capek?” Tanya Wibie lembut pada istrinya.


“Enggak, baru juga 3 hari merawatmu kok bilang capek. Aku ingin Mas cepet sembuh. Sebentar lagi aku kan mau lahiran, biar bisa gendong anak kita,” sahut Rey penuh harap.


“Insya Allah, saat kau lahiran aku sudah bisa menggendongmu ke rumah sakit,” canda Wibie.


Rey tersenyum. Ia tenggelamkan kepalanya dalam pangkuan suaminya dan membiarkan pria itu mengelus-elus rambutnya.


“Satu bulan lagi, ya?”


“Semoga semuanya sudah membaik setelah dibantu dengan terapi,” seru Wibie lagi.


“Rey, mandi sono. Sudah jam segini kau belum juga mandi. Apa ga gerah?”


“Tar ajalah, Males. Aku ngantuk”


“Jangan tidur jam segini. Ga bagus buat kesehatan. Lebih baik jalan-jalan di depan biar kena sinar matahari pagi dan keringetan,”


“Udah jalan-jalan juga. Tadi pas Mas handukan,”


“itu mah masih kurang. Kau harus bayak bergerak dan sering-sering jongkok biar lahirannya lancar,”


“Males ah, kan sudah ikut senam hamil ini, sudah cukup” Rey memberi alasaan.


“Ga boleh begitu. Tetep harus banyak gerak. Besok pagi kita rutinkan jalan pagi ya, sekaligus aku juga mau melatih otot kakiku,”


“Iya,”


“Kok jawabnya berat begitu?”


“Iya,” ulangnya kali ini dengan volume suara yang yang diperbesar.


Keduanya beranjak dari kamar setelah terdengar suara orang membunyikan bel dari arah pintu gerbang.


Terdengar Bu Fat berlari ke arah datangnya suara dan tak lama ia mengantarkan seorang pria lengkap dengan alat terapi dalam tas yang beukuran besar.


Bu Fat mempersilahkan orang itu duduk di sofa ruang keluarga dan kembali ke dapur untuk membuatkannya minuman.


Dalam seminggu, Wibie menjalani terapi sebanyak 3 kali. Betul kata Pak Somat, cidera tulang yang dideritanya tidak begitu berat.


Hanya buruh waktu dua minggu saja, Wibie sudah pulih, fungsi organ tubuhnya sempat cidera kini sudah normal kembali.

__ADS_1


__ADS_2