
[ Minggu pagi ]
Menjelang subuh yang cerah, Rey sudah mulai membuka mata. Ia tetap berbaring di kasur dan memejamkan matanya sebentar untuk berdoa agar diberikan kelancaran pada acaranya hari ini.
"Semoga Allah SWT memberikan kelancaran. Aamiin," doanya dalam hati
Setelah itu ia bangkit dari pembaringannya untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Ah, hari ini bener-bener syahdu bagi Reyna. Hari ini adalah ia akan melangsungkan akad nikah.
Sebentar lagi ia akan menjadi istri SAH Pak Wibie, laki-laki yang sudah sudah banyak membantunya. Ya, Rey akan dipersunting oleh lelakinya, seorang duda beranak satu yang berhasil mengubah jalan hidupnya.
Kak Nay yang tidur di sampingnya masih terlelap, ia memang tidak terbiasa bangun pagi. Apalagi Doni, adik laki-lakinya ini masih meringkuk di balik selimutnya. Mungkin ia kedinginan karena tidur di lantai hanya beralaskan kasur tambahan, sedangkan AC yang ada di kamar itu distel dengan suhu 18°.
Rey tidak ingin mengganggu keduanya, ia mengendap-endap menuju kamar mandi agar langkah kakinya tidak menggangu tidur kedua saudaranya itu.
Meskipun masih pagi, namun air yang berasal dari saluran PAM ini tidak dingin. Justru Rey serasa mandi air hangat karena cuaca Jakarta yang memang lagi cerah, cenderung panas.
Rey mengguyur seluruh tubuhnya agar bisa memberikan kesegaran pada kulitnya.
*****
Air mata Rey bercucuran disujud terakhirnya. Ia tak kuasa menahan bahagia juga haru yang berkecamuk di dadanya. Setelah berbagai fase hidup ia lalui, takdir menghendaki ia harus menikah dini. Diusia 19 tahun ia sudah menemukan jodohnya.
Ia memohon kepada Allah SWT agar bisa menjalani fungsinya sebagai istri, ibu dari Devara, asisten Pak Wibie sekaligus mahasiswa yang baru dua minggu ini gelar itu disandangnya.
Sampai di rumah induk, sudah ready penata rias yang dipesan Oma untuk mendadaninya. Seorang perempuan muda dengan tampilan yang elegan dan make up minimalis tersenyum ke arah Rey begitu ia masuk ke rumah itu.
"Calon pengantennya sudah siap," katanya dengan ramah.
Sebuah tas berbentuk kotak berisi make-up ia letakkan disamping sofa ruang keluarga, siap memoles Rey menjadi ratu sehari.
"Perkenalkan, ini Rey. Calon istrinya Wibie," Oma memperkenalkan Rey pada perempuan itu.
Rey segera mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu dan duduk di sampingnya.
"Beruntung banget Mas Wibie, bisa menemukan istri secantik ini Tante," perempuan itu memuji Rey kembali.
"Iya, Rey ini berasal dari daerah dimana Wibie sekarang bertugas. Rey saat ini sedang kuliah di Jakarta," ujar Oma lagi.
"Ayo kita mulai," ajaknya.
"Riasnya di kamar pengantin, ya. Sepertinya sudah selesai dibereskan," ajak ibu pada Rara dan Rey.
"Kamar pengantin?" tanya Rey dalam hati. Pak Wibie tidak pernah bilang kalau ia juga mempersiapkan kamar pengantin untuk mereka.
Rey mendongak ke arah lantai dua. Di sana ada dua ruang yang berjajar. Namun yang Rey ketahui hanya kamar Pak Wibie. Ruang yang senantiasa tertutup tidak tau untuk apa, karena Rey tidak pernah melihat isi ruangan itu.
Namun yang terbuka pintunya justru kamar yang selama ini ditempati oleh Pak Wibie. Apa mereka menjadikan kamar itu sebagai kamar pengantinnya?
Seneng dan excited banget melihat tata kamar Pak Wibie yang sudah di dekorasi dengan seprey dan bunga segar yang berwarna putih.
__ADS_1
Di kamar itu juga sudah tersedia meja rias dan peralatan mike-up yang tersusun rapi di laci meja. Entah kapan Pak Wibie membeli semua peralatan itu.
Rara meletakkan tas mike-up miliknya disamping meja rias. Rey duduk di kursi yang sudah disiapkan, berbalik arah dengan kaca.
Polesan pertama, Rara mulai memoles sambil mengucap bismillah. Hingga tidak terasa hampir sejam lebih di touch up.
Magicnya memang Mbak Rara memang luar biasa, Rey sama sekali tidak berasa udah dimake-up, make upnya ringan banget, bulu mata 4 lapis tidak berasa.
Setelah selesai, Rey berdiri dan membalikkan tubuhnya.
"I feel more beautiful dan cring banget," teriak Rey yang melihat dirinya sendiri di cermin rias.
Rey berdiri di depan kaca dan beberapa kali memutar tubuhnya. Tak henti-hentinya ia berdecak kagum melihat hasil riasan Mbak Rara yang mampu merubah penampilan dirinya hingga 180 derajat.
Bagaimana tidak? Rey yang telah mengenakan kebaya putih yang begitu anggun dengan padanan rok batik yang elegan.
"Bismillah Ya Allah. Lancarkan lah segalanya," bathin Rey dalam hati.
Akhirnya Rey keluar dan turun ke bawah setelah dijemput oleh perempuan yang baru kali ini ia lihat. Namun dari ekspresi, sepertinya ia sudah mengenal Rey lebih dekat.
Ternyata dibawah sudah riuh, saudara-saudara pada ribet di sana sini, yang mau jadi penerima tamu, yang mau jaga makanan, dll. Ada juga yang nanya ini dan itu.
Rey melihat semuanya dengan senyum. Kata Oma, penganten ngga boleh ikutan pusing.
"Everything is gonna be alright, " senyum Rey lagi.
Tiba-tiba, rasanya jadi begitu campur aduk. Antara seneng, haru, malu, deg-degan dan semangat semua campur aduk.
Semua keluarga kumpul, temen-temen dan beberapa undangan yang sudah hadir matanya tertuju pada kedatangan Rey. Perasaan Rey tidak bisa dideskripsikan dengan dengan apapun pada saat itu.
Rey dibimbing untuk duduk didepan Ayah dan Ibu, mohon izin. Rey mulai berkata-kata, suaranya tiba-tiba menjadi terbata-bata menahan air mata. Diakhiri dengan cium tangan dan cium kedua pipi mereka.
Kemudian Rey duduk bersanding dengan Pak Wibie didepan penghulu dan Ayah, disamping kiri ada Om
Dedi dan kanan Pak Hj. Robby sebagai saksi.
Acara akadpun dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, diteruskan dengan penjelasan hak dan kewajiban suami istri dari Pak Muchtar selaku perwakilan dari KUA dan penghulu.
Dan tibalah Tante Rohmah yang sudah ada di belakang Rey mengerudungin pengantin ini dengan selendang putih, tanda ijab qobul akan segera dimulai.
Rey masih belum berani menatap mata Pak Wibie. Sejak tadi ia hanya tertunduk, dan sesekali melihat kedepan sambil terus istighfar.
"Kan, nunduk terus, ngga berani liat matanya," bisik Rey dalam hati. Ia sudah menduganya sejak memasuki ruang ini. Ia tidak ingin melihat ekspresi calon suaminya dengan dandanannya yang seperti ini.
Ayah dan Pak Wibie mulai berjabatan tangan, dan mulailah dibacakan ... (bismillah ya rahman ya rahim...)
Ijab Qobul
__ADS_1
“Ananda Wibie Prasetyo Bin Arman Suyudi, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Reyna Angra dengan mas kawin 100 gram logam mulia dibayar tunai..”
“Saya terima nikah dan kawinnya Reyna Anggra binti Rahman dengan mas kawin nya yang tersebut tunai”
SAH? SAH?
Barakallah....
"ALLAHUAKBAR" leganya hati Rey bukan main.
"Alhamdulillah ya Allah... lancar," bisik Rey dalam hati.
Setelah itu mereka disodori dokumen-dokumen, tanda tangan sana sini, dan diberi buku nikah.
"Aahh sudah BERSERTIFIKASI HALAL," jejingkrakan Rey dalem hati.
"Insyaallah tanda tangan sekali seumur hidup. Aamiin," lanjutnya lagi.
Selanjutnya bener-bener lega. Sudah cair suasananya. Kini Ayah dan ibunya serta Oma menangis bahagia. Akhirnya kami menjadi keluarga besar sekarang.
Pak penghulu memberikan buku nikah pada kedua mempelai. Rey berwana merah Dan Pak Wibie warna hijau.
"Nih, masing-masing saya kasih satu. Biar ga rebutan,"seloroh pak Penghulu yang dikuti tawa orang -orang yang ada di situ.
Masih dengan buku nikahnya masing-masing, Rey dan Wibie diminta untuk menghadap kamera. Jepret-jepret sana sini.
"smiiiilleeeeeee... " Seru kameramen.
Akhirnya Rey bisa berpose juga dibuku nikah. Seperti orang- orang yang sering ia lihat di media sosial miliknya.
Wibie kemudian memberikan mas kawinnya ke Rey. Untuk pertama kalinya Rey menerima tangan Wibie yang kini sudah resmi menjadi suaminya dan mencium tangan itu dengan lembut.
"Cium!" teriak undangan yang ada di situ.
Tanpa ragu Wibie nyosor. Rey juga terlihat pasrah hingga dengan lembut dan mesra suami Rey mencium jidadnya dilanjutkan dengan tuker cincin.
Beberapa pose juga diambil saat mereka tukar cincin hingga mamerin cincin cuople nya. Foto lagi dan lagi.
Selesai semua ritual dimeja akad, dilanjutkan dengan sungkeman. Karena kursi garuda dengan ukiran emas yang ada di ruang tamu itu siapkan sebagai pengganti pelaminan, akhirnya memanfaatkan bangku itu untuk sungkeman
Ayah dan ibu masing-masing mempelai sudah duduk dikursi masing-masing, Wibie dan Rey siap nyamperin mereka untuk bersimpuh dan minta maaf.
"Subhanallah," Rey bener-bener terharu, antara sedih, seneng, nge-blend.
Terlintas dibenak nya, belum bisa membahagiakan mereka.
"Semoga mereka akan lebih bahagia atas pernikahan ini dan bisa segera memberi cucu yang lucu-lucu buat mereka," bisik Rey lagi sambil bercucuran air mata.
Setelah itu, acara kembali foto bersama dan salaman dengan keluarga serta handai taulan yang turut menyaksikan akad nikah kami.
__ADS_1
Alhamdulillah semua bisa terlaksana dengan baik, lancar, khidmat, hangat, dan on time.