
Setelah sarapan untuk yang kedua kalinya, mereka segera meninjau lokasi tambak yang merupakan bagian dari program kerja kelompok ini.
Dari beberapa informasi yang mereka himpunan, wilayah ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk pengembangan tambak mengingat banyak lahan kosong bekas penerbangan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Ikan gabus atau yang lebih dikenal masyarakat pulau Belitung dengan nama mengkawak menjadi ikan yang di kembang biakan di daerah ini karena ikan tersebut ternyata memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Ikan gabus mudah dibudidayakan dan kebutuhan pasar terhadap ikan ini pun juga terbilang sangat tinggi dengan nilai jual yang cukup mahal. Penduduk setempat juga banyak yang mengolah ikan ini menjadi berbagai kue dan hidangan khas mereka.
Potensi budidaya Ikan gabus ini terbuka untuk dikembangkan oleh masyarakat karena masih banyak lahan bekas galian tambang timah yang sudah bisa dihidupkan kembali namun belum dimanfaatkan dengan maksimal.
Masyarakat bisa menangkap peluang yang diberikan pemerintah setempat karena mereka belum siap dengan resiko yang bisa saja terjadi, jadi mereka masih mengandalkan ikan gabus hasil tangkapan dari alam yakni di sungai atau rawa.
"Kenapa masyarakat kurang berminat membuka tambak, Pak?" tanya Pandu.
"Mereka pesimis dengan hasil usaha mereka. Jika semua membudidayakan ikan, siapa yang mau beli?"
"Apa aparat desa sudah pernah meluruskan pendapat mereka?"
"Sering, bahkan sebagai contoh hasil tambak ini sudah punya penampung. Tapi ya itu tadi, mereka takut setelah mengeluarkan modal yang banyak ketika panen harganya turun,"
"Bisa jadi yang membuat mereka pesimis karena sarana dan prasarana menuju lokasi ini begitu minim. Akses jalan kalau hujan susah di lalui, jadi orang luar akan berpikir ulang untuk datang ke sini," ujar Alex menimpali.
"Bisa juga. Transportasi juga jadi point yang harus diperhitungkan dalam sebuah usaha," ujar pak Edi menambahkan.
Sejak beberapa tahun yang lalu, desa ini telah dipersiapkan sebagai daerah budidaya perikanan darat oleh pemerintah setempat. Namun perkembangan cukup lambat karena faktor tadi.
Daerah bekas galian tambang yang sudah mati selama hampir lima tahun ini menjadi alasan tepat untuk memulai usaha tambak dengan sistem jaring, tambak buatan di lahan kosong atau tambak terbuat dari terpal.
Guna mengatasi hal tersebut Maka budidaya menjadi pilihan mendapatkan komoditas dalam jumlah tak terbatas.
"Tambak ini dibuka dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Pilihannya ikan Gabus, karena saya melihat di sini banyak potensi yang dikembangkan penduduk setempat. Ikan bisa dibuat ikan asin atau kerupuk bahkan karena kita menuju pariwisata, bisa untuk kuliner," ujar Pak Edi. Mereka berjalan menelusuri tambak yang terbentang luas.
"Selama ini kita orang-orang sini hanya bisa mengharapkan dari alam. Untuk itulah, kita perlu bekerja sama dengan pihak luar agar mereka mampu menggerakkan masyarakat untuk mengembangkan usaha ini" ujarnya lagi.
"Jenis olahannya apa saja, Pak?"
"Selain kuliner daerah, ikan gabus dimanfaatkan oleh warga sini sebagai bahan kerupuk dan ikan asin. Paling banyak dibuat pempek dan otak-otak. Ada juha yang produksi abon. Harga jualnya tinggi loh,"
"Iya, ikan asin gabus memang mahal. Kalau kerupuk yang seperti apa, ya?" tanya Rara penasaran.
__ADS_1
"Ada kemplang, ada juga getas. Di toko oleh-oleh banyak di jual. Biasanya warga sini menitipkan/menjual hasil produksi di toko oleh-oleh yang ada di pasar atau di pusat kota,"
"Belum ada yang memasarkan produknya sendiri?" tanya Rey.
"Beberapa, itu juga yang mau menjualnya di pasar secara langsung,"
"Belum ada yang menjual secara online, ya?"
"Sepertinya belum karena akses kurir yang mau menjemput ke sini lumayan susah,"
"Nah, dicatet itu. Nanti kita bahas pada pertemuan lanjutan dengan pemuda yang ada di desa ini," Alex mengingatkan teman-temannya.
"Program kerja yang sudah kita susun diantara adalah menggerakkan penduduk usia produktif, terutama pemuda desa untuk mengembangkan usaha online agar hasil produksi daerah lebih dikenal oleh masyarakat luas, Pak,"
"Bagus juga itu, Nak. Pemuda sini rata-rata berpendidikan menengah. Kalau ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka enggan pulang ke kampung lagi begitu selesai kuliah. Mereka yang ada di kampung juga rata-rata menggunakan media sosial, namun masih sebatas untuk kesenangan belaka. Jika program itu berhasil berarti akan ada peluang usaha baru bagi penduduk di sini"
"Kami akan usahakan. Bagaimana caranya agar dalam 10 hari kerja ini bisa menghasilkan produk," Alex berusaha meyakinkan Pak Edi yang begitu berharap agar ada perubahan baru di lingkungannya.
"Terimakasih, Nak. Semoga usaha kalian semua bisa memberikan perubahan yang berarti bagi desa ini,"
"Aamiin,"
"Oh, ya. Luar biasa. Bapak ikut seneng jika kalian mau berbagi iimu pada kami,"
"Tentu, pak. Kami juga merasa senang jika ilmu yang tidak seberapa ini bisa membantu sesama untuk membuka peluang yang baru," sahut Rey sembari mengembangkan senyumnya.
Mereka terus saja membahas program-program yang akan dikembangkan sembari mengamati para pegawai tambak menyelesaikan tugasnya masing-masing.
"Panas,beat.... Kenapa ga kepikiran bawa pelindung," gumam Rara yang terus berjalan di sisi Pandu. Tubuhnya mulai berkeringat, mukanya terlihat lelah dan pucat.
"Sabar aja, mau gimana lagi. Sudah separo perjalanan,"
"Kita berteduh dulu, yuk. Udah pegel nih dengkul,"
"Kita? Bisa bikin ribut ih. Minta temenin anak cewek aja," elak Pandu. Ia merasa tidak enak jika harus memenuhi keinginan Rara.
"Hem.....gitu aja ga mau. Beneran ini. Udah lemes banget aku," Rara merasa sudah tidak kuat lagi meneruskan perjalanan, namun ia tidak berani minta izin pada Alex karena ketua kelompoknya itu masih begitu semangat menggali informasi dari pengelola tambak.
"Izinin dong!" Rengek Rara.
__ADS_1
"Kenapa harus aku?"
"Kamu kan dituakan di sini. Alex pasti ga bisa nolak kalau kamu yang izin,"
"Hemmm dituakan atau memang ketuaan?"
"Aku ga bilang kamu tua," sahut Rara dengan wajah sedihnya.
Pandu hanya diam, ia terus melangkah di sisi Rara mengikuti teman-teman yang lainnya. Sesekali ia melirik gadis yang mulai tertatih itu, hatinya mulai tersentuh.
"Sepertinya dia memang sudah tidak kuat," bisiknya dalam hati.
Pandu merapatkan langkahnya di sisi Alex, setengah berbisik ia menyampaikan apa yang diinginkan Rara.
"Istirahat aja dulu. Temani Bang, jangan biarin sendiri. Kita melihat pembibitan dulu, setelah itu balik lagi. Ga lama kok," sahut Alex di luar dugaan Pandu.
"Rara kenapa?" tanya Rey.
"Ga kuat jalan. Kecapean katanya" sahut Alex sembari mengangkat kedua bahunya dan mengangkat kedua alisnya.
"Iya, mukanya udah pucat gitu," Risya menimpali.
"Biarkan Pandu yang nemenin. Kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi selesai kok. Dia sepertinya cuma capek, Bu dokter,"
"Ha..ha...iya. Aku ngomong begitu karena Rara sudah basah sama keringat mukanya, bukan cari alasan biar bisa nemenin dia. Parno, ih...," Risya menonjok pelan bahu Alex karena ia sepat berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Syukurlah kalo begitu. Aku kita kau juga cari alasan yang sama," sahutnya dengan senyum simpul.
******
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊
__ADS_1